The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Sehari sebelum



Kamu udah buat kesalahan Sya main-main sama Falery, kamu yang harusnya ngejar-ngejar aku dan minta maaf buat mohon' batin Reyna yang kini tersenyum dengan sinis.


Reyna tak memperdulikan apa yang terjadi, ia tetap saja melangkah meski ia tau Yasya berada dibelakangnya.


Reyna melangkahkan kakinya, ia kini sudah berada diambang pintu apartemen, dengan kasar Yasya menarik lengan gadis itu.


Plakkk.


Satu tamparan keras mendarat di pipi Reyna, Reyna masih tak bergeming, ia merasakan sakit dan panas menjalar di pipinya, gadis itu tiba-tiba tersadar. Tatapannya kecewa menatap Yasya yang kini masih kesal terhadapnya.


"Sya, kamu nampar aku?" tatapan itu kini berubah menjadi Reyna kembali, ia menatap pakaian yang ia kenakan saat itu, serta gitar yang ia bawa dipunggungnya. Rasanya itu bukan dirinya, namun ia tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku, aku kenapa Sya? dan kenapa kamu nampar aku? aku salah apa?" tanya gadis itu dengan suara seraknya dan matanya yang berkaca-kaca. Ia semakin tak mengerti, Reyna melepaskan gitarnya dan membantingnya ke lantai.


Gadis itu tak bisa mengendalikan apa yang terjadi padanya. Ia menangis dengan suaranya yang tersedu-sedu, sedangkan Yasya kini mulai mencoba untuk menenangkan dirinya. Reyna menjatuhkan tubuhnya dalam rengkuhan Yasya. Ia mengacak rambutnya frustasi, tak tau apa yang harus ia lakukan.


"Sayang, maafin aku, aku nggak sengaja Rey maaf" kata Yasya seraya memeluk gadis itu dengan erat. Yasya kini bisa merasakan kesedihan Reyna yang begitu dalam, ia bahkan menitikkan air matanya mengingat betapa bingungnya gadis itu saat ini.


'Maafin aku sayang, aku nggak bisa cerita ke kamu' kata Yasya dalam batinnya seraya mengecup puncak kepala gadis itu dengan lembut.


***


"Sayang, inget ya besok aku jemput jam 7, kamu siap-siap. Masalah hari ini jangan difikirin, semoga hari besok bisa berjalan dengan lancar ya" kata Yasya yang kini tengah menemani Reyna masuk kedalam kamarnya. Reyna hanya mengangguk meski ia seperti tak sadar dengan apa yang ia rasakan.


Hari sudah semakin senja dan Yasya kini harus kembali kerumahnya mengingat ia harus mempersiapkan apa yang akan ia laksanakan besok. Hari bahagia mereka yang akan di mulai. Namun kebimbangan selalu saja menerpa dirinya kala memikirkan sesuatu yang terjadi padanya.


Yasya kini berpamitan pulang, meski gadis itu hanya bis membalasnya dengan senyuman. Ia hanya berharap agar besok harinya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja.


"Sayang, jaga diri kamu baik-baik ya, aku taruh gaun kamu di lemari, ingat besok harus dandan yang cantik ya" seru Yasya seraya mengecup bibir gadis itu sekilas.


Reyna hanya bisa tersenyum pasrah, ia juga berharap demikian. Sementara itu Yasya kini meninggalkan Reyna sendirian, sebenarnya pria itu begitu khawatir dengan Reyna, tapi ia harus menjauhinya saat ini mengingat keadaan Reyna yang tidak memungkinkan untuknya.


Ingatannya kembali kala ia memeluk Reyna dakam dekapannya, Reyna mengatakan sesuatu yang membuat hatinya semakin tak bisa tenang.


"Sya, aku takut Sya, tiap malam aku selalu denger orang teriak. Tapi itu kaya mimpi Sya, berasa nyata, dia bilang mati, dendam, benci, amarah."


Begitu kiranya Reyna mengatakan hal itu pada Yasya kala gadis itu ketakutan. Yasya tak bisa berkata apa-apa lagi, ia juga tidak bisa melakukan apapun meski ingin. Ia ingin mengatakannya pada Reyna dan bertanya langsung padanya, namun ia takut hal itu malah tambah membuat Reyna tak percaya padanya.


Yasya kini membanting setirnya, ia menghentikan mobil tepat di sebuah ruko yang tutup karena hari menjelang petang. Pria itu mengumpat kesal seraya mengusap wajahnya kasar.


***


Sementara itu Reyna yang baru saja memejamkan matanya tiba-tiba terbangun dengan tatapannya yang tajam. Ia menghempaskan selimutnya seraya duduk ditepi ranjang sambil menatap pantulan wajahnya di cermin tepat dihadapannya.


"Cih, lemah!" ujarnya seraya mendekat kearah cermin tersebut seraya memperhatikan wajahnya yang begitu cantik.


"Kita lihat nanti Reyna, siapa yang bakal menang, aku atau kamu" kata gadis itu seraya memegang sebuah gunting yang berada di tepi meja rias. Gadis itu perlahan menyayat tangannya sendiri, dan tiba-tiba saja suaranya terdengar merintih tatkala darah segar menetes diatas lantai.


"Ahh, aku kenapa?!" ujarnya seraya menatap cermin di hadapannya, ia berulangkali melirik lengannya dan wajah yang memantulkan dirinya. Ia tak tau apa yang terjadi, dan lagi-lagi ia menemukan dirinya merasakan sakit ia selalu sadar dengan apa yang selanjutnya ia lakukan.


Reyna buru-buru mencari kotak obat, ia segera mengobati lukanya yang tampak baru saja tersayat oleh benda tajam. Reyna segera membalut lengannya, dan untung saja yang terluka bukan pembuluh nadinya. Gadis itu masih tak mengerti, ia berulangkali memijit pelipisnya seraya berfikir tentang pesta esok hari.


Reyna berjalan keluar, ia mengambil sebuah botol ait minum untuk di teguknya beberapa kali. Pandangannya menatap pintu yang menghubungkan dengan udara luar membuat gadis itu tergugah untuk melangkah.


Reyna membuka pintu tersebut, ia menatap langit yang penuh dengan bintang, matanya juga melirik pemandangan dibawahnya, hiruk pikuk kota yang seakan tak pernah istirahat dalam sejarahnya.


Reyna hanya bisa menikmati hawa tersebut dengan nyaman. Ia kali ini sadar betul, fikirannya seperti relaks dan ia duduk di kursi balkon seraya tersenyum hangat.


Meskipun ia tak tau apa yang terjadi, dan ia tak menyadarinya, namun Reyna seperti tak ingin terlelap malam ini. Ia takut akan kesadarannya yang hilang dan tiba-tiba berada di suatu tempat yang asing baginya. Jujur itu suatu hal yang aneh dan baru ia jalani beberapa hari ini.


Harapannya hanya satu, ia ingin acaranya berlangsung dengan sempurna karena itu mimpinya. Tiba-tiba saja suara ponsel yang berada di saku celananya berdering, ia tak ingat bahwa ponsel itu berada disana. Buru-buru ia mengangkat panggilan itu dengan cepat.


"Halo Rey" suara familiar itu membuat Reyna tersenyum.


"Halo Al, gimana keadaan rumah sakit?" pertanyaan itu membuat pria disebrang sana yang tengah menikmati teh kini beralih duduk diruang baca seraya mengisyaratkan sesuatu pada Clara yang kini duduk dihadapannya.


"Baik kok Rey, oh ya kata temen-temen kamu yang bagian UGD mereka nggak bisa datang ke acara kamu, soalnya beberapa hari ini pasien banyak yang datang" ujar Alfian membuat Reyna hanya mengangguk seraya menghela nafasnya.


"Nggak apa-apa kok Al, aku bisa ngerti. Tapi kamu besok bisa datang kan?" pertanyaan itu membuat Alfian tampak tertegun seketika, ia terdiam sejenak seraya berfikir.


"Aku nggak bisa janji Rey, soalnya aku harus nemenin istri aku buat cek up, bentar lagi mau melahirkan soalnya" kata Alfian sedikit menyesal, hal itu membuat


Reyna sedikit kecewa dibuatnya.


"Maaf ya, tapi aku janji kok selesai acara aku pasti bakal main buat ketemu kalian lagi. Nanti aku juga bakal ajak Clara juga kok."


"Nggak apa-apa kok Al, semoga lancar ya Clara sampai lahiran."