The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Mall



Seminggu berlalu, kini Reyna keluar dari dalam mobil bersama dengan Yasya. Rumah megah yang kini dihadapannya adalah persembahan dari Yasya untuknya. Kelak Yasya ingin menikmati hari-hari bersama keluarga kecilnya.


Reyna menggandeng lengan pria disampingnya, pria yang kini sudah sah menjadi suami untuknya. Selama seminggu ini, bulan madu dari malam pertama yang paling indah dan paling istimewa untuknya. Belum lagi bulan madu ke Eropa yang pernah Yasya janjikan Padanya. Kira-kira apa yang pria itu rencanakan? pikiran Reyna melayang membuat Yasya tersenyum menatapnya.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya pria itu dengan pandangannya yang merendah menatap Reyna yang kini mendongak dan mencoba untuk menciumnya.


"Aku cuma penasaran, nanti kamu mau bawa aku bulan madu yang kedua mau siapin apa?" tutur Reyna membuat pria itu buru-buru menggendong istrinya itu ala bridal style. Mata Reyna membelalak, untung saja rumah ini masih belum ada pembantunya jadi mereka masih bisa bermesraan berdua.


Reyna memukul dada bidang Yasya yang kini mencoba mengangkat gadis itu masuk.


"Sayang, lepasin!" Reyna memberontak, namun akhirnya Yasya menurunkan Reyna tepat diatas sofa. Ia menciumi bibir Reyna dengan gemas dan turun tepat dileher jenjangnya. Reyna hanya bisa mendesah, memang Reyna akui Yasya bisa begitu bergairah jika bermain di ranjang. Bahkan Reyna sampai kuwalahan dan tak jarang pinggangnya sering sakit akibat permainan suaminya itu.


Namun belum sempat Yasya melepaskan kaosnya, ponsel Reyna tiba-tiba berdering membuat Reyna mendorong tubuh Yasya. Reyna buru-buru mengangkat panggilan dari dalam tasnya, ia sedikit melirik Yasya yang kini tampak kesal karena juniornya terlihat sudah ingin dipuaskan. Reyna terkekeh, ia melirik Yasya seraya menjulurkan lidahnya.


"Halo, pa" suara disebrang sana membuat Reyna menutup mulutnya tak percaya. Ia tersenyum senang mendengar kabar menggembirakan dari sang kakak yang sebentar lagi akan menyusul dirinya dalam melepaskan masa lajang.


"Apa pa?! bang Rey mau nikah? sebulan lagi?! senengnya" ujar Reyna seraya tersenyum senang menatap pria yang kini menaikkan sebelah alisnya padanya. Apa? Reyhan sebentar lagi akan menikah? mendadak sedikit lega pada Yasya karena saingannya itu sudah akan laku. Kalau dia masih lajang, entah apa yang akan dilakukannya setelah Yasya kembali kerumah mertuanya dan menyandang status sebagai adik iparnya.


Yah setidaknya ada titik kelemahan dari Reyhan untuk tidak mengganggunya terus.


"Iya iya pa, ini Reyna udah sampe kok dirumah Yasya. Iya nanti pasti Reyna sampein kok" Reyna buru-buru mematikan ponselnya, ia tersenyum pada Yasya yang kini mengangkat dagunya seolah bertanya 'kenapa?'.


"Salam papa buat kamu Sya" sambungnya membuat Yasya mengangguk seraya bangkit dan menarik lengan Reyna, membuat gadis itu berteriak.


Mereka melanjutkan aktivitas pagi dengan percintaan yang luar biasa. Reyna jadi ingat akan perkataan Yasya sebelum menikah, bahwa dirinya akan memuaskan perasaan dan juga menyalurkan seluruh cintanya untuknya. Mengingat hal itu, Reyna jadi mengulang kembali masa-masa dimana pertama kali mereka dekat dulu.


***


"Kak Reyhan, aku mau itu!" tunjuk Kanaya yang kini tengah menggandeng lengan Reyhan. Mereka kini tengah berada di mall, mempersiapkan pernikahan dari awal adalah rencana Reyhan.


Reyhan menggeleng kala mengetahui apa yang diinginkan gadisnya, permen kapas berwarna pink yang menggantung disisi kiri mereka membuat Reyhan terkekeh. Biasanya wanita lain pasti akan meminta sepatu mahal, tas atau barang bermerek lainnya, tapi berbeda dengan Kanaya. Gadis manja yang minta dibelikan boneka kecil dan souvernir imut yang tentunya adalah barang sederhana namun mampu membuatnya bahagia.


"Nanti gigi kamu ompong lo kalo suka makan yang manis-manis" mendadak mata Kanaya membulat akibat perkataan dari Reyhan yang kini terkekeh padanya. Reyhan ini benar-benar menyebalkan sekali, padahal dulu ketika ada yang hendak mendekatinya si pria selalu memberikan gombalan terhadapnya. Namun berbeda dengan Reyhan, kadang sifatnya manis, kadang dia juga mengesalkan seperti saat ini.


"Sayang, jangan marah dong, aku kan cuma bercanda" tutur Reyhan membuat Kanaya masih membuang muka meski kini tangan Reyhan beralih menggenggam jemari gadis itu dengan lembut.


Pacar Reyhan satu ini memang sangat manja, tapi dengan sifatnya satu ini membuat dirinya tambah mencintai Kanaya. Kini Reyhan bahkan menarik dagu gadisnya, ia menyentuh wajah Kanaya didepan umum, membuat mata gadis itu membulat. Bagaimana tidak, ditempat umum seperti ini mereka bahkan bermesraan.


"Kak Reyhan!" Kanaya mencubit ringan perut pria itu membuat lamunannya buyar. Tatapan yang tadinya intens kini berubah menjadi senyum jahil darinya.


"Malu tau diliatin orang" Kanaya mengedarkan pandangannya, tiba-tiba saja matanya membulat kala dua temannya yaitu Luna dan Cindy tengah bercengkerama seraya berjalan berdua sambil membawa tote bag ditangan keduanya.


"Kak, itu ada temen ku, kesana yuk!" ajak gadis itu membuat Reyhan memutar bola matanya malas.


***


"Jadi lo mau dijodohin Lun?! serius?!!" tanya Kanaya sekali lagi seraya meletakkan jus strawberry miliknya di meja.


Setelah tadi mereka berbincang ringan, akhirnya mereka berempat termasuk Reyhan yang kini membawakan nampan berupa ayam crispy dan kentang goreng beralih duduk disebuah restoran dalam mall tersebut. Reyhan sedikit terkejut akibat perkataan Kanaya barusan, karena suaranya yang cempreng itu ia keluarkan pada sahabatnya.


Coba saja, mereka berbincang berdua, pasti Kanaya menunjukkan sifat manjanya itu. Memang perempuan kalau bertemu dengan sesama selalu heboh begitu.


"Iya nih, rencananya bulan depan gue mau pulang. Nih bawain oleh-oleh buat mama" kata Luna dengan pandangannya yang muram. Cindy dan Kanaya memang tidak mengalami hal serupa, tapi jika membayangkan menjadi Luna. Entah apa yang akan mereka lakukan.


"Kenapa lo nggak nolak aja?"


"Lo nggak tau aja Nay, papa mamanya Luna itu dari dulu nggak nerima cowok pilihan anak mereka. Bahkan sampek sekarang nih kakak-kakak Luna aja pasrah pas dijodohin" seru Cindy yang kini menyerobot kentang goreng di atas nampan yang baru saja diletakkan oleh Reyhan tanpa permisi.


Memang nasib cowok kalau kumpul dengan cewek-cewek hanya bisa menunduk seraya memainkan ponsel. Mau menyimak juga tidak penting untuknya, mau nimbrung ia juga tak tau permasalahannya dan yang paling mengesalkan kini dirinya bagai kacung saja yang dari tadi disuruhi oleh Kanaya.


Memang salahnya juga membuat Kanaya kesal, hingga gadis disampingnya ini akhirnya balas dendam.


"Aduh udah deh! gue itu lagi nggak moody tau. Sebenarnya gue mau bilang aja kalau gue ada gandengan biar papa nggak jadi jodohin gue, tapi gue takut" lanjut Luna membuat kedua sahabatnya itu menghembuskan nafas lelah.