The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kekecewaan yang tak kuinginkan







"Fay, aku tau masalah mu dengan keluarga Gilbert."


Falery menoleh, dirinya menunduk dengan perasaan pasrah. Apa yang diketahui oleh orang lain terhadapnya bagai rahasia publik yang mungkin tak dapat disembunyikan lagi.


"Malam itu" ucapnya terhenti seketika.


"Kau tak perlu cemas, bagaimanapun keadaannya, aku percaya kau takkan melakukannya."


Falery tersenyum kecil, dirinya tau saat ini yang dapat mendengar suara hatinya hanya Alfian meskipun sebelumnya mereka mempunyai kesalahpahaman.


Alfian melirik berkas yang dibawa oleh Falery. Dirinya tau apa yang ingin dilakukan oleh gadis itu saat ini, mengingat yang terjadi dalam keluarganya, ingin rasanya ia melindungi Falery disaat ia mulai rapuh.


"Aku bisa membantumu Fay, jangan pernah ragu untuk datang padaku."


Falery tersenyum, dirinya merasa tenang meski rasanya jauh dari keluarga.


"Terimakasih atas kebaikan mu Al, tapi aku rasa aku bisa mengandalkan diriku sendiri."


"Aku yakin artis dan penyanyi kota Florida ini akan naik daun lagi nanti."


Falery terkekeh, dirinya melirik Alfian yang kali ini mulai terbiasa dengannya setelah sebelumnya ia merasa kaku pada gadis itu.


"Alfian, aku tidak ingin menjadi entertainment lagi, aku ingin lebih bermanfaat kepada manusia.. kali ini aku sudah memutuskan, untuk keluar dari dunia hiburan, aku ingin fokus menjadi dokter."


Falery tampak berjalan cepat keluar dari cafe usai makan siang bersama Alfian.


"Hey Fay, tunggu aku!" Falery tertawa ditengah keramaian, tak dipedulikannya orang-orang yang menatap mereka berdua. Falery terus melangkah sambil sesekali menatap belakang pada Alfian yang terus mengejarnya.


"Dasar, anak tak tau diri, sudah ditraktir makan malah kabur."


Dakkkk...


Tak disangka gadis itu begitu ceroboh, dirinya menabarak seseorang yang lebih tinggi darinya. Falery mundur beberapa langkah, matanya terpejam, tak disangka tubuhnya hampir terjatuh namun tangan kekar dihadapannya merengkuhnya.


"Falery?" gumam Alfian yang kali ini menatap khawatir pada gadis yang jauh dari kakinya berdiri. Alfian menghentikan suaranya yang hendak berteriak kala melihat Yasya yang kini meraih tubuh Falery.


"Aw" Yasya menatap kedua bola mata indah itu, dan dibalas oleh Falery yang kini menelan salivanya. Gadis itu tertegun dengan perasaannya yang campur aduk menjadi satu.


'Yasya' batinnya tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.


"Hati-hati Falery!" Yasya menarik tubuh gadis itu, membuat Falery menggaruk tengkuknya. Sebuah semburat merah terpancar dipipi cantiknya.


"Terimakasih.." Yasya tersenyum dirinya melihat sosok pria yang ia kenal. Pria yang berdiri tak jauh dari mereka berdiri.


"Kau bersamanya?" Falery mendongak dengan menghilangkan senyuman merah dipipinya.


"Hanya makan siang saja"


Hosh....


"Hay Sya" tegur Alfian pada Yasya yang kali ini tersenyum padanya.


"Kalian berkencan?" Falery dan Alfian menggeleng, mereka saling bertatapan.


"Iryasya...." suara itu suara yang sangat tak asing oleh Falery. Gadis itu menoleh dengan Yasya dan juga Alfian yang ikut memandangi gadis yang kini berhambur memeluk lengan Yasya dengan erat.


Falery membulatkan matanya, hatinya bergetar dengan seribu pertanyaan menghantui fikirannya.


"Falery..."


"Sarah..."


"Kalian juga saling kenal?" tanya Sarah yang menunjuk Yasya dan Falery. Falery menatap kedua orang dihadapannya dengan mengernyit bingung. Ada rasa cemburu kala melirik tangan Sarah yang bergelayutan pada kengan Yasya.


"Um, Falery duli adalah model di perusahaan Forest, dia pernah bekerja dengan ku."


"Wow... benarkah Fay?" Falery hanya mengangguk dengan senyuman palsu yang ia buat. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali saat dirinya mulai jengah dengan pandangannya pada lengan mereka yang saling bertautan.


"Dunia begitu sempit ya, ternyata kau sudah kenal dengan Yasya. Sebelumnya aku minta maaf padamu tidak memberitahukan hal ini."


Falery mulai berkaca-kaca, wajahnya murung dengan menunduk tanpa mau menatap siapapun.


"Yasya adalah tunangan ku."


Falery tersentak, bagai petir yang menyambar diatas ubun-ubunnya. Gadis itu mencoba menahan air mata yang hendak menetes. Hatinya bergetar, rasanya begitu amat sakit dengan tenggorokan yang tercekat.


"Tu... tunangan?" kata gadis itu tak menyangka.


"Fay...." suara itu membangunkan Falery, menatap Alfian yang kali ini menatap iba padanya dan raut wajah prihatin.


"Siapa dia?" pertanyaan Sarah membuat Falery tersenyum dan memandang Alfian dengan tenang.


"Falery?" panggilan dari Alfian bahkan seperti angin berlalu baginya.


"Dia juga tunangan ku, namanya Alfian."


"Ohhh yang waktu itu melamarmu ya? romantis sekali, kau juga belum memperkenalkan dia padaku."


Yasya menatap Falery, jujur dirinya merasa sakit melihat kedekatannya dengan Alfian, namun apa yang harus ia lakukan, Falery adalah tunangan sahabatnya, dan dirinya juga telah mempunyai Sarah.


"Apa yang kau katakan Fay?" bisik Alfian tepat ditelinga Falery membuat gadis itu dengan segera menarik lengan Alfian untuk pergi dari sana.


"Um aku sebenarnya tadi ada urusan dengan Alfian. Mungkin lain kali ya Sarah, maaf aku harus segera pergi. Ayo Al" ajak gadis itu seraya menarik lengan Alfian.


"Tapi Fay" tak dipedulikannya panggilan Sarah padanya, ia terus menarik lengan Alfian untuk menjauh dari sana.


Tangis Falery pecah, air matanya tak dapat dibendung lagi. Sahabatnya adalah tunangan orang yang sangat ia cintai, bagaimana mungkin? ia sama sekali tidak bisa berfikir tentang semua yang terjadi. Rasanya hatinya hancur kali ini, begitu sakit dan perih, kenyataan yang ia impikan kini telah musnah ditelan waktu yang membuatnya terlambat untuk kesekian kali.


"Fay..." panggil Alfian tak digubris olehnya.


"Hiks...." Falery terus melangkah dengan langkah cepat tanpa memperdulikan Alfian yang berada dibelakangnya. Pria itu mencoba mensejajarkan langkahnya meskipun Falery mencoba menghindar.


"Fay, dengarkan aku!" Alfian menarik lengan Falery dan memeluknya. Gadis itu menangis sejadi-jadinya dipelukan Alfian. Semuanya yang ia rasakan ia tumpahkan begitu saja.


"Hiks, kenapa Al? apa aku memang ditakdirkan untuk bernasib seperti ini?! aku gagal Al... aku gagal."


Alfian menghembuskan nafasnya, mata pria itu ikut berkaca-kaca melihat betapa sakitnya perasaan Falery saat ini. Gadis dalam pelukannya saat ini masih terisak meninggalkan air mata dipipinya.


"Kau harus tenang Fay... tenang okay!" Alfian mencoba menenangkan Falery, dirinya menangkup wajah gadis itu membelai lembut bekas air mata yang berlinang.


"Mafkan aku Falery, aku benar-benar menyesal."


"Apa maksudmu?" tanya gadis itu dengan fikirannya yang penuh tanda tanya.


"Fay, aku mohon setelah aku menceritakan segalanya, kau jangan pernah membenciku ya?" Falery mundur beberapa langkah, dirinya melepas telapak tangan Alfian dan menatapnya dengan tatapan bertanya.


***


"Jadi, Falery adalah sahabat mu?" suara merdu dari pria yang begitu lembut itu membuat Sarah semakin mencintai Yasya. Gadis itu mempererat pelukan dilengannya dengan senyuman yang tak pernah lepas dipipinya. Bersama dengan Yasya berjalan beriringan ditengah keramaian membuat beberapa orang akan iri pada pasangan itu.


"Iya, dia adalah sahabat seperti saudara bagiku."


Yasya mengangguk dengan tatapan sayu. Mata gadis itu bulat dengan bibir tipis dan juga hidung bangir. Yasya masih membayangkan betapa indah ciptaan Tuhan jika gadis itu adalah Reyna yang dulu pernah ada dalam hidupnya.


Kali ini ia yang harus bangkit dengan bayangan masa lalu, ia harusnya bersyukur dijodohkan dengan Sarah yang notabennya adalah anak dari sahabat ayahnya dengan begitu ia bisa setiap saat mengunjungi kota ini dimana Reyna di semayamkan.


'Reyna maafkan aku, maafkan aku yang mengkhianati mu. Tapi cintaku tetap sama Reyna, kau adalah cintaku sampai aku mati meskipun raga ini bukanlah milikmu taoi hatiku hanya untukmu sayang' batin pria itu dengan gusar.