
'Kak Reyhan!'
Kanaya cepat-cepat menggeleng, ia tersenyum pada Angga seraya mengangguk.
"Ga, aku mau istirahat dulu ya, ini udah malam pasti mama tadi juga nungguin kamu. Maaf ya" ujar Kanaya membuat tatapan Angga berubah menjadi sedikit kecewa.
Sama halnya dengan Kanaya yang kini merasa tak bisa berfikir apa-apa. Yang ia fikirkan saat ini hanyalah Reyhan, bukan orang lain. Mungkin Kanaya bodoh, tapi ia tak ingin membohongi perasaannya lagi.
"Tapi Nay, bukan berarti kamu nolak aku kan?" pertanyaan itu membuat Kanaya terdiam sejenak. Kalau dipikir-pikir lagi, tidak ada salahnya untuk menjalani kisah cintanya bersama dengan Angga. Apalagi dari dulu Kanaya sudah mengenal Angga dengan baik, hanya saja ia belum siap membuka hatinya. Karena hatinya kini sudah dimiliki, Kanaya harus menghapusnya sebelum ia membuka lembaran baru. Lagipula Reyhan juga tidak lagi mengharapkan dirinya, untuk apa berharap pada sesuatu yang tak pasti.
"Aku butuh waktu Ga" kata Kanaya membuat Angga menyunggingkan senyumnya. Itu berarti masih ada kesempatan baginya untuk memiliki hati dan juga raga Kanaya.
"Makasih Nay kamu udah ngasih aku kesempatan, aku bakal nunggu kamu" ujar Angga yang kini menyentuh jemari Kanaya dengan lembut.
Setelah Angga pergi, Kanaya merasa sedikit lega. Ia tau perasaannya tak bisa dibohongi, hanya Reyhan yang selalu berada dihatinya bukan Angga ataupun orang lain. Kanaya membuka korden yang berada disamping ranjangnya, ia menatap langit yang kini semakin larut, tenggelam dalam kegelapan bersama bertabur bintang.
"Kenapa kak Reyhan nggak jenguk aku? apa aku nggak segitu pentingnya buat kakak. Kalo aja kakak ada buat aku hari ini, aku pasti bakal nolak Angga" gumam pelan Kanaya seraya menghapus jejak air matanya.
Ia menatap arah jalanan yang kini terlihat sebuah motor besar. Seorang laki-laki tengah menyelinap dan pergi begitu saja. Cahaya temaram membuat Kanaya tak bisa fokus melihat siapa gerangan yang tengah singgah dari rumahnya.
"Nay, kamu belum tidur?" suara itu membuat Kanaya tersentak, ternyata mama kini masuk dan menyentuh pundaknya. Buru-buru Kanaya menghapus jejak air matanya, ia membuang jauh perasaannya yang muram itu.
"Mama, emm Kanaya belum ngantuk ma" kata Kanaya seraya tersenyum masih dengan menatap bintang diatas sana.
"Gimana Angga? udah lama lo kalian nggak ketemu, makin ganteng kan anaknya" ujar mama membuat Kanaya hanya tertawa. Bisa saja Mamanya ini, namanya juga laki-laki, apalagi Angga tipikal penduduk gaya Inggris.
"Apaan sih ma, biasa aja kok" kata Kanaya membuat Mamanya menyenggol lengan putrinya yang tampak tersenyum itu.
"Angga itu anaknya pinter loh, dia baru datang aja dari Inggris udah banyak yang nawarin kerja" puji mama membuat Kanaya hanya bisa menghela nafas. Gadis itu kemudian melangkah mundur dan duduk disisi ranjang seraya menatap Mamanya yang masih mengagumi sosok sahabat kecilnya itu.
"Cuma gitu? kamu emang nggak tertarik sama Angga?" pertanyaan itu seolah membuat fikiran Kanaya telmi. Ia masih tak dapat menyaring maksud Mamanya yang memang sudah jelas nencomblangkan dirinya dengan Angga.
"Angga itu sahabat aku ma, jangan hanya karena kita udah lama nggak ketemu terus sekali ketemu terus bakalan jatuh cinta gitu" Kanaya berfikir sejenak. Memang benar apa yang dia katakan, mana mungkin sudah lama tidak bertemu dan pertemuan satu kali membuat dua insan saling jatuh cinta.
Ia baru terfikir apa yang diutarakan Angga padanya tadi. Pernyataan cinta Angga padanya begitu tiba-tiba membuat fikiran Kanaya mulai berjalan dengan normal.
"Aduh sayang, tapi kayanya Angga suka deh sama kamu, lagian kamu belum punya pacar kan? apa salahnya kalo sama angga?" Kanaya sempat terdiam. Ia juga, dia masih jomblo sampai saat ini, kalaupun Mamanya tau dia sering mematahkan hati para lelaki yang hendak memacarinya pastinya bakal diomeli habis-habisan.
"Tapi Kanaya masih mau bebas ma, Kanaya masih pengen nikmati masa muda dulu" kata Kanaya yang kini membuat alasan asal agar Mamanya berhenti untuk mencomblangkan dirinya dengan Angga.
"Oke, nggak apa-apa kalo kamu masih pengen bebas, cuma mama mau kasih tau kamu satu hal. Mama sama papa udah punya keputusan buat jodohin kamu sama Angga, dan orangtuanya Angga juga setuju kok" perkataan Mama membuat jantung Kanaya berdetak kencang. Apa yang mama bilang tadi? 'perjodohan?' lelucon macam apa ini? bagaimana orangtuanya tak memberitahu bahkan meminta pendapat pada Kanaya dulu.
"Ma, ini jaman apaan sih? emang masih ada ya jodoh-jodohan kaya gitu, Kanaya juga pengen cari calon sendiri ma, masa mau dijodohin sih, papa juga nggak minta persetujuan aku dulu" kata Kanaya yang memang kini sebal.
Tidak mungkin sudah secepat itu dalam taraf perjodohan. Padahal dia baru saja memberikan jeda waktu untuk berfikir, tapi kenapa sepertinya Kanaya yang terjebak dalam situasi seperti ini.
"Udahlah, kamu cari cowok aja nggak bisa, lagian nggak ada yang kurang kok dari Angga, ganteng mapan lagi. Kalo kamu bisa cari cowok mama sama papa pasti pertimbangkan, tapi tipe-tipe kaya kamu itu kalo nggak dijodohin lama-lama jadi prawan tua loh"
"Amit-amit, mama kok ngomongnya gitu sih sama anak sendiri" kata Kanaya yang memang kesal karena ucapan dari mamanya.
"Sayang, kamu itu cantik, mama bisa liat kok kalau Angga tertarik sama kamu, dia anaknya baik, sopan lagi. Mama sama papa juga suka sama dia, udahlah yang namanya cinta pasti bakalan kamu rasain kok kalau kalian udah jalanin" ujar mama membuat Kanaya tak bisa berkata-kata.
Apa yang dikatakan mamanya memang benar, tidak ada salahnya untuk menerima Angga. Tapi Kanaya masih ragu, ia tidak mudah menerima orang begitu saja, apalagi hatinya.
Kanaya menghela nafasnya kala Mama mengecup puncak kepalanya dan kemudian pergi dari kamarnya. Fikirannya masih melayang mengingat hari-harinya bersama dengan Reyhan. Apa benar seharusnya ia mundur saja? lagipula Reyhan juga tidak ada etikat sama sekali untuk mendekati Kanaya. Mungkin dirinya saja yang baper dengan perkataan Reyhan yang begitu manis.