
Hari semakin menggelap, bahkan semburat jingga yang sebelumnya terlihat kini sudah tertutupi oleh langit hitam yang memang menunjukkan malam. Gadis dengan hak tinggi itu kini berdiri, ia menghela nafasnya seraya menahan matanya yang kian memanas.
Kanaya melangkahkan kakinya, kini sudah hampir jam tujuh malam, tapi yang diharapkan tak kunjung datang. Suara petir tiba-tiba saja menyambar, tak dipedulikannya angin yang menerpa kulit halusnya. Ia lebih memilih untuk berjalan daripada naik kendaraan.
Meskipun perjalanan dari rumah Kanaya sampai kantornya memakan waktu hanya dua puluh menit, tapi bisa sampai satu jam jika ia nekat untuk berjalan. Kanaya tak perduli lagi, ia meremas anak rambutnya dengan kuat seraya menunduk. Sudah sangat lama ia menunggu seseorang sampai ayahnya yang hendak menjemputnya ia tahan. Karena ia sudah berjanji, terlebih Reyhan hendak mengatakan sesuatu hal yang penting padanya.
Bagi Kanaya ini sudah cukup, cukup mengerti bahwa dirinya tak lebih berarti daripada Novi. Kanaya tak bisa membendung perasannya, bersama dengan rintik hujan yang awalnya hanya gerimis, kini berubah menjadi deras dan membasahi tubuhnya.
Ia masih bertahan untuk berjalan melewati trotoar dan jalanan malam yang memang selalu macet. Tangisan yang awalnya ia tahan kini pecah bersama dengan hujan. Setidaknya ada rintik yang menemaninya dan juga menutupi kesedihannya.
Kanaya berjalan ditempat penyebrangan, pemandangan kota nampak indah meski hujan dengan beberapa bangunan tinggi yang menyala, banyak sekali lampu dan juga kendaraan dibawahnya.
Sejenak lengang memberikan dia nafas untuk tersenyum. Kanaya hanya ingin sendirian dulu, sambil memeluk tubuhnya yang menggigil gadis itu mengusap lembut jemarinya yang putih dan bergetar. Untung tempat itu sepi, kadang semakin larut tempat itu menjadi tongkrongan bagi beberapa berandalan.
Kanaya melangkahkan kakinya lagi, ia tak ingin berlama-lama berada disana. Ia bergegas untuk berjalan semakin cepat, sampai ia masuk disebuah kompleks perumahan. Sudah hampir satu jam ia berjalan, meskipun ia tak mungkin mengatakannya pada Papa maupun Mamanya, tapi ia sudah mempersiapkan alasan untuk terhindar dari interogasi orang tuanya.
Kanaya membuka pintu pagarnya, ia masuk tanpa permisi karena memang takut untuk ketauan.
"Sayang, kamu baru pulang?" suara familiar itu membuat Kanaya yang memeluk tubuhnya seraya berjalan cepat kini mendadak langkahnya terhenti. Ia tersentak ketika melihat sang ibu yang tiba-tiba mendekat dan hendak menyentuh dahinya.
"Nay, kamu kok hujan-hujanan sih, nanti kalo sakit gimana? tadi papa mau jemput kenapa kamu juga nolak?" pertanyaan itu hanya mendapat gelengan dari gadis yang kini terlihat bibirnya yang semakin membiru itu.
"Nggak apa-apa kok ma, tadi aku memang ada janji sama temen ku dan kebetulan kami makan didepan kompleks aja kok, karena hujan jadi basah deh" ujar Kanaya seraya meyakinkan ibunya yang kini mengerutkan dahi.
"Sayang, kamu kan bisa telfon mama, pasti tadi mama jemput kok kalo cuma didepan situ, kalo kamu sakit gimana? badan kamu juga anget" seru Mama yang kini tampak khawatir dengan dahinya yang semakin berkerut itu.
"Nggak apa-apa kok ma, nanti Naya keramas terus tidur pasti baikan. Naya ke kamar dulu ya ma" perkataan Kanaya membuat Mamanya mengangguk lemah. Meskipun gadis itu sudah tumbuh dewasa, tapi tetap saja. Orangtua mana yang tidak khawatir jika anaknya datang dengan keadaan basah kuyup dan wajah yang memucat.
Kanaya sebenarnya paham apa yang dirasakan orangtuanya. Tapi dirinya sendiri memilih untuk bungkam dan menyimpan perasaannya sendiri. Gadis itu memasuki kamarnya, ia bergegas untuk mandi lalu kemudian merebahkan tubuhnya.
Rasanya tubuhnya lemah sekali, sejak siang ia juga belum makan. Meskipun suara diperutnya sudah minta untuk diisi ditambah lagi jalan dari kantor menuju rumahnya, tapi rasanya ia masih enggan untuk makan. Fikirannya masih kalut dengan Reyhan, Kanaya mengambil selimutnya dan segera memejamkan matanya untuk segera terlelap mengingat kepalanya begitu pening, ia memutuskan untuk istirahat lebih awal karena tubuhnya semakin lama semakin menggigil.
"Kak, Rey-han" gumamnya setelah itu matanya terpejam.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu sama sekali tak bisa membangunkannya. Kanaya masih terbaring dengan matanya yang tertutup, bahkan ia ingin sekali bangkit dan membuka matanya. Entah mengapa seluruh tubuhnya tak berdaya.
"Sayang, ini udah siang nak, kamu mau berangkat jam berapa? Naya, bangun" suara Mama begitu keras disertai ketukan pintu, namun Kanaya tak kunjung bangkit. Hal itu membuat sang ibu tak bisa berfikir jernih, ia membuka pintu tersebut yang memang tidak dikunci oleh Kanaya.
"Nay" suara Mama mendadak terhenti, tatapannya membelalak dan segera menghampiri tubuh Kanaya yang terlihat lemah diatas ranjangnya.
"Nay, bangun sayang kamu kenapa?" kata sang ibu seraya terisak sambil mengguncangkan tubuh Kanaya dengan hebat. Namun sayangnya Kanaya tidak merespon sama sekali.
"Pa! papa! Kanaya pa!" suara Mama tampak semakin keras seraya berteriak memanggil Papa. Tak butuh waktu lama pria paruh baya itu langsung masuk dengan wajahnya yang sama khawatirnya dengan raut wajah sang ibu yang kini terisak seraya menyentuh kening putrinya yang begitu panas.
"Kanaya? sayang kamu kenapa nak? ma, ini anak kita kenapa ma? kenapa dia nggak mau bangun?" kata sang ayah seraya memegang pergelangan Kanaya yang tampak tak bertenaga.
Mama tampak masih menangis, ia menyentuh dadanya yang terasa bergetar ketakutan melihat putri semata wayangnya tak bergerak sedari tadi.
"Mama juga nggak tau pa, tapi Kanaya demam, suhu badannya tinggi. Mama takut pa, tadi malam Kanaya pulang kehujanan" suara mama tampak serak. Hal itu membuat Papa khawatir setengah mati dan membelalak tak percaya.
"Apa?! ma, kita harus bawa Kanaya kerumah sakit sekarang."
***
Suara ketikan keyboard Edwin terhenti tatkala suara ponsel membuyarkan konsentrasinya. Pria itu segera mengangkat panggilan dan matanya membelalak.
"Apa tan?! iya-iya, nanti Edwin bantu kok, yaudah semoga Kanaya cepet sembuh ya tan, nanti pulang kerja Edwin jenguk Kanaya" ujarnya seraya menutup telfon.
Suara Edwin yang begitu khawatir itu membuat Reyhan mendorong kursinya dan menatap teman satunya itu dengan pandangannya yang sama. Sejujurnya sedari pagi Reyhan ingin bertanya perihal Kanaya, bahkan dari tadi malam telfonnya juga tak kunjung diangkat oleh gadis itu.
"Kanaya kenpa Win?" suara itu membuat Edwin yang semula menggaruk kepalanya kini menatap Reyhan yang tampak penasaran.
"Naya sakit, kemarin dia pulang malem hujan-hujanan katanya. Heran deh gue, udah tau punya penyakit Hirpertermia masih aja nekat main ujan, emang nggak ada mainan lain apa?" ujar Edwin yang kini begitu kesal. Lain halnya dengan Reyhan yang tiba-tiba saja membulatkan matanya tak percaya.