
"Senang bertemu dengan mu tuan Ferdiansyah" Alfian menunduk hormat pada Yasya yang kali ini enggan menghilangkan guratan senyum dipipinya. Seperti sesuatu yang tersiratkan dari tatapan Yasya.
"Nona Gilbert dan tuan Mahesa semoga kalian menikmati malam yang indah ini... saya harus pergi dulu" kata Yasya membuat Falery mulai tak nyaman, entah mengapa kehadiran Yasya seperti pelengkap dalam hatinya, ketika dirinya hendak pergi, rasanya hati Falery seperti tak rela dan tercekat oleh perasaannya sendiri.
"Tuan Irya...." panggil Falery, pria itu melemparkan pandangannya pada Falery yang kini melangkah maju mendekati dirinya.
"Ada apa Fay?" tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.
Falery merasa ada yang aneh, dirinya memutar bola matanya, mengedarkan pandangannya. Dirinya nampak kikuk dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Sayang... kau kenapa?" perkataan dari Alfian beserta tepukan ringan di pundaknya membuat gadis itu menggeleng.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengatakan sesuatu hal pada tuan Iryasya."
"Kalau begitu katakanlah" ucapan Alfian dibalas gelengan lagi oleh Falery yang membuat Yasya tambah tersenyum puas.
"Aku ingin bicara empat mata denganmu, apa kau ada waktu?" tanya gadis itu dengan harapan dimatanya.
"Tentu saja."
***
Pandangan gadis itu menerpa, mengelilingi seluruh kota Florida dari atas gedung hotel berbintang lima yang kali ini sengaja disewa untuk pesta perayaan kantor Forest.
Meski hawa dingin bagai selimut baginya, namun Falery masih bisa menahan dinginnya malam tanpa berbalut mantel hangat yang biasa ia kenakan.
"Aku tau apa yang ingin kau katakan" ujar seorang pria tepat dibelakang gadis itu, membuat Falery membalikkan tubuhnya.
"Aku akan menunggumu ingat Fay, betapa kita pernah berbagi cinta dan kebahagiaan bersama walau tak saling mengungkapkan."
Falery masih bungkam, dirinya enggan mengatakan sesuatu meski ingin. Berulang kali gadis itu membohongi hatinya untuk tetap melawan namun kali ini ia berada di satu titik dimana Yasya berada dihadapannya.
"Falery, percaya atau tidak kau dan aku pernah bersama..." Yasya memberikan jeda pada kalimatnya, dirinya memejamkan matanya dan membukanya kembali.
"Aku...." lanjutnya dengan kata-katanya yang terhenti saat Falery mengangkat telapak tangannya untuk menghentikan Yasya berbicara.
"Maaf... jangan katakan lagi... saat ini, aku tidak perduli dengan masa lalu ku, aku hanya mencintai dia Yasya."
Yasya mengerutkan keningnya seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Falery padanya. Harapan yang selama ini ia tanam oleh luluhnya gadis dihadapannya kini seolah musnah tanpa tujuan yang berarti.
Yasya melangkah pergi, menjauh dari Falery yang kini mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menumpahkan segalanya, namun ia tak berdaya. Ada Alfian yang selalu mencintai dia, Alfian yang menyelamatkan nyawanya dari kehidupan yang membuatnya hampir tak bernyawa.
Gadis itu menitikkan air mata, perih oleh perasaannya sendiri.
"Maafkan aku Yasya... aku pun tak mengerti tentang semua ini, hatiku juga ikut sakit" isak Falery dalam keheningan membuatnya tersakiti oleh sifatnya sendiri.
***
"Yasya...." suara itu menggema, membuat langkah kaki Yasya berhenti seketika. Pria itu membalikkan tubuhnya, menghadap Alfian yang kali ini menatapnya datar.
"Apa yang kau mau Alfian? sudah puas kau ambil Reynaku?" Alfian berdecak, dirinya melipat kedua tangannya kedalam saku dan mendekati Yasya yang kali ini menatapnya tajam.
"Heh... Yasya, kau fikir hanya karena wajah mereka sama, maka kau akan menganggap Falery adalah Reyna? ckck... kau bodoh Sya."
Yasya menarik kerah Alfian, dirinya seakan tak sabar ingin memukul mantan sahabatnya itu dengan tinjuannya.
"Apa maksudmu....?!" kata Yasya dengan emosinya yang menggebu.
"Aku tak akan memberitahu keberadaan Reyna jika kau selalu bersikap seperti ini" ujarnya membuat Yasya melemparkan tubuh pria itu.
"Katakan dimana dia?!" suara Yasya meninggi dengan darahnya yang mendidih.
"Sebelum aku mengisahkan sebuah cerita, ada baiknya jika kita berbagi kisah sambil minum sesuatu... bukankah begitu tuan presdir yang terhormat."
Yasya hanya diam kala Alfian mulai memeluk pundaknya dan menariknya kesuatu tempat, dimana hanya mereka berdua saja.
Disebuah taman hotel jauh dari keramaian.
"Zayn?" lanjutnya
"Iya Zayn, jadi kau harus tau Yasya, Zayn mengadopsi Reyna karena dirinya sangat mirip dengan Falery, adiknya sendiri."
"Lalu dimana Reyna??" ucap pria itu sambil bangkit mendekat pada Alfian yang kali ini mulai menatapnya sayu.
Hati Yasya seakan perih oleh setiap kata-kata yang diucapkan Alfian padanya, dirinya ingin tidak percaya, namun dirinya menemukan sendiri keadaan Reyna terakhir kalinya saat gadis itu tak bernyawa tepat dihadapannya.
"Yasya... kau harus tabah, Reyna telah pergi... dia tenang dialam sana, Falery yang sesungguhnya adalah Falery Gilbert yang sebenarnya. Sedangkan Reyna, dia memang telah pergi untuk selamanya dihari itu... Bukankah kau lihat seperti apa Falery dan Reyna, mereka adalah gadis yang berbeda."
"PEMBOHONG! Reyna tidak mungkin pergi! dia Reynaku... Reynaku tidak mungkin meninggalkan ku begitu saja."
Tangis Yasya pecah begitu saja bersamaan dengan perasaannya yang gundah dan hancur. Pria itu mengacak rambutnya, terlihat wajahnya memerah beserta linangan air mata.
"Aku tidak berbohong padamu sya... jika kau tidak percaya, datanglah ketempat pemakaman umum, Reyna dimakamkan disana."
Yasya tak dapat berkata apapun, dirinya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Alfian padanya.
"Sya, aku juga nggak nyangka jika wajah mereka sama, sejak pertama aku bertemu Falery kukira dirinya adalah Reyna, tapi aku salah, dia adalah Falery Gilbert."
Yasya segera bangkit dan memundurkan tubuhnya, menjauhi Alfian yang kali ini masih menatapnya sayu.
"Jika kau berbohong padaku Alfian, maka... beribu-ribu maaf darimu takkan bisa membuat ku untuk mengampuni dirimu."
Yasya segera pergi dari tempatnya berdiri, dirinya menjauhi Alfian dan memasuki ruang VIP yang telah ia pesan.
Pria itu menarik ponsel yang berada di sakunya dan menelfon seseorang yang berada disebrang sana.
"Peter!" panggilnya dengan emosinya yang sedikit mulai tenang
"Bos kabar terbaru bos... kami menemukan kuburan Reyna Malik."
"Apa kau bilang?."
"Iya bos, menurut informasi yang kami dapat, Reyna telah meninggal lima tahun lalu."
.
"Jangan bermain-main dengan ku Peter!" kata Yasya dengan suaranya yang meninggi.
"Aku bersumpah demi nama Tuhan Yesus, aku melihat batu nisannya sendiri. Aku punya bukti kuat jika itu adalah orang yang kau cari."
Yasya mendengus kasar, dirinya mematikan ponsel itu dan membantingnya keras hingga terpental entah kemana. Rasa hancur pada kenyataan yang ia terima membuatnya semakin sakit dan sakit.
"AAaaaaaarrrrghh... REYNAAA!!!!!!!"
***
"APA? dad, kau mengizinkan Alfian datang ke acara pesta dengan pria itu?" Thomas hanya mengangguk sambil terus mengunyah makan malam yang ia nikmati malam itu bersama dengan Ajeng disampingnya.
"Zayn, kau ini kenapa nak... lagipula Falery adalah tunangan dia, itu sah-sah saja bukan?" ucapan Ajeng diberi anggukan oleh Thomas yang kali ini tengah menelan sisa-sisa ayam yang ia habiskan.
"Mommy betul... kau jangan terlalu over protective pada adikmu itu, jangan sampai kejadian ini seperti apa yang dialami oleh Alan, dia sampai lupa pada keluarga kecilnya.. ingat nak, Falery sudah dewasa."
"Mom... dad... huhhhh... mungkin harusnya aku katakan ini sebelumnya, tapi maaf, aku menentang hubungan Alfian dan Falery" ucap Zayn seraya bangkit membuat kedua orang tuanya saling bertatapan heran satu sama lain.
"Tapi kenapa Zayn?" tanya Ajeng dengan menaikkan sebelah alisnya n
"Mom... Alfian tidak pantas menjadi bagian dari keluarga ini, dia tidak cocok dengan Falery, aku mengatakan ini tentu ada alasannya. Omong-omong aku sudah selesai dengan apa yang ingin aku katakan, selamat malam."