
Makan siang tiba, kini Reyhan sengaja mengajak Kanaya untuk makan di cafe langganan keluarganya. Meskipun terkesan mahal dan isi dompet Reyhan kink tak sama seperti dulu lagi, tapi sekali-kali ia ingin mengajak Kanaya kesana.
Reyhan memarkirkan motornya tepat didepan cafe tersebut, disusul dengan Kanaya yang kini mencoba melepaskan helm yang ia kenakan.
"Kak, tempatnya bagus banget, aku baru tau ini loh ad tempat sebagus ini" ujar gadis itu seraya berdecak kagum akan interior cafe yang mirip-mirip gaya barat tersebut.
"Masa sih? ini tempat langganan keluarga aku loh, aku harap kamu suka" seru Reyhan yang kini tangannya perlahan menyelinap menggenggam jemari Kanaya membuat gadis itu tersipu dan memalingkan wajahnya yang kini tengah merona.
Reyhan menarik tangan gadis itu untuk masuk, membuat Kanaya tersenyum dan mengikuti langkah Reyhan yang kini dengan tanpa malu menggandeng jemarinya. Hatinya semakin berdebar tak karuan, pipinya memanas dengan senyum indah terpancar di wajah cantiknya.
"Kita keatas yuk" ajak Reyhan, Kanaya hanya mengangguk, ia mengikuti langkah Reyhan yang kini menaiki tangga untuk menuju lantai dua cafe tersebut.
Setelah memesan makanan mereka berdua berbincang ringan seraya bercanda gurau. Kali ini Kanaya bisa melihat dengan jelas guratas senyuman dipipi pria dihadapannya, pandangannya yang dulunya tegas kini seakan menghangat.
"Oh ya kak, gimana kabar om?" pertanyaan itu membuat Reyhan yang menyesap kopi tersenyum seraya menatap lurus mata Kanaya yang kini tiba-tiba membulat. Rupanya dia malu akan tatapan Reyhan yang tiba-tiba seperti hendak menjebak dirinya. Kanaya hanya bisa memalingkan wajahnya, sedang Reyhan terkekeh tanpa bersuara.
"Papa baik kok, semenjak perusahaan kami bangkrut aku dan papa cuma bisa hidup sederhana aja. Ya mungkin sekali-kali makan enak kalau pas awal-awal bulan" kata Reyhan membuat mata Kanaya kini membulat sempurna dengan pandangannya yang tak menyangka. Ia bahkan baru mengetahui jika pria dihadapannya ini baru saja terjatuh sejatuh-jatuhnya. Ia bahkan sebelumnya tak berani menanyakan bagaimana pria itu bisa bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Syakieb.
"Kak, maafin aku, aku nggak bermaksud buat kakak" kata Kanaya yang kini perkataannya terpotong karena jemari Reyhan tiba-tiba saja menyentuh tangannya. Gadis itu terkejut, namun ia juga merasa senang ketika pria dihadapannya tersenyum padanya.
"Nggak apa-apa, ada baiknya juga perusahaan kami bangkrut. Aku dan papa jadi makin deket. Karena semenjak aku jadi pimpinan perusahaan, kami kaya orang asing. Malahan aku sama papa bersyukur banget, karena masalah ini, kami jadi orang yang lebih semangat lagi. Dan yang lebih nggak nyangka lagi, aku bisa ketemu sama kamu."
Sejenak gadis itu terdiam, ia tersenyum dengan rona diwajahnya. Rasa kagum pada Reyhan kini seperti bertambah saja rasanya, pria yang tampan, tak mudah menyerah, dan pastinya dirinya sekarang bukan Reyhan yang dulu lagi.
Setelah menunggu beberapa saat kini akhirnya pelayanan telah datang membawakan pesanan untuk mereka. Seraya berbincang-bincang ringan Kanaya sesekali mencuri pandang pada Reyhan yang beberapa kali memberikan gurauan padanya.
"Emang kamu sama Edwin kalo ketemu selalu berantem ya? kok di tempat kerja kalian kaya musuh gitu" ujar Reyhan membuat Kanaya mengecurutkan bibirnya. Reyhan yang melihat ekspresi gadis dihadapannya hanya bisa terkekeh geli.
"Dia itu kakak sepupu paling ngeselin, kak Rey jangan terlalu deket-deket dia deh, nanti ngeselinnya nular lagi" kata Kanaya seraya masih mengunyah kentang goreng di mulutnya.
"Contohnya kaya gini" seru Reyhan seraya mengoleskan mayonaise tepat dihidung gadis itu membuat Kanaya terperanjat dan membelalakkan matanya menatap Reyhan yang kini tengah tertawa.
"Ih kak Reyhan, kok ngeselin banget sih, awas ya" Kanaya tertawa kecil seraya membalas perbuatan Reyhan yang baru saja menjahilinya.
***
Meskipun tempatnya lumayan jauh dari perkotaan, tapi tak membuat niat pria pudar untuk mengajak gadis yang kini berjalan beriringan dengannya.
"Kamu tau nggak, dulu waktu keluarga aku masih utuh, Mama, Papa, Reyna kami selalu datang ketempat ini waktu weekend. Tempat ini bikin aku kangen sama Reyna dan Mama, sayangnya Papa udah nggak mau lagi aku ajak kesini" kata Reyhan dengan menatap bunga-bunga yang bermekaran disamping kolam.
Sambil berjalan Kanaya menatap lekat wajah Reyhan yang penuh dengan senyuman meskipun didalam matanya tersirat rasa penyesalan yang mendalam. Sebelumnya ia tak pernah tau masalah apa yang terjadi pada keluarga Reyna. Namun mendengar semuanya dari Reyhan, angin semilir yang menyentuh kulitnya merasakan kerinduan pada sahabatnya satu itu.
Ia tau perasaan Reyhan, penyesalan yang dialami ayah dan anak karena telah melakukan kesalahan besar yang sama sekali tak pernah mereka sengaja sedikitpun.
"Kak, aku tau perasaan kakak. Aku sama kehilangannya seperti kakak, setelah Reyna meninggal aku nggak mau lagi sahabatan sama siapapun, jujur aku trauma, nggak ada lagi orang sebaik dan setegar Reyna" kata Kanaya yang kini beralih duduk di kursi panjang mengikuti instruksi Reyhan yang duduk duluan disana.
Reyhan menghembuskan nafas lelahnya, jika saja Kanaya tau Reyna belum meninggal. Dia pasti sangat bahagia, seperti saat pertama kali dirinya mengetahui kebenarannya. Tapi Reyhan hanya bisa bungkam dan menenangkan hati gadis disampingnya yang dulunya pernah ada untuk Reyna.
"Kamu udah jadi sahabat terbaik buat adik aku, makasih ya" kata Reyhan seraya menepuk pelan puncak kepala Kanaya, membuat gadis itu tersipu. Mereka saling menatap satu sama lain, rasa hangat menyelimuti hati Kanaya yang paling dalam. Reyhan memang begitu tampan, pantas saja banyak sekali gadis dikantornya yang mengagumi sosoknya yang profesional dan gagah.
"Kanaya" panggil Reyhan membuat gadis itu tersenyum dan mengangguk. Rasanya detak jantungnya semakin lama semakin tak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Ia bahkan bisa menebak betapa merahnya rona diwajahnya yang semakin lama semakin memanas saja. Reyhan masih terdiam, dengan jeda kata-katanya yang hendak ia ucapkan. Reyhan menelan salivanya tatkala mulutnya hendak melanjutkan suaranya yang masih terkunci oleh tatapan mata keduanya.
'Apa kak Rey mau?'
Pikir Kanaya yang kini beralih menunduk, membuat Reyhan menggeleng cepat dan tersenyum lembut.
"Kalau mau ngomong, ngomong aja kak" sambung Kanaya membuat Reyhan menoleh dengan tatapannya yang mengarah pada Kanaya dengan pandangannya yang begitu serius.
"Kalau kamu nggak ada sahabat buat dijadiin temen curhat, atau tempat buat kamu bersandar kaya Reyna. Aku akan selalu ada buat kamu, anggap aku pengganti Reyna" perkataan Reyhan membuat senyum manis di bibir Kanaya membulat. Ekspresinya berubah seketika kala Reyhan mengatakan hal demikian.
"Sa, sahabat?" ulang Kanaya yang kini menelan ludahnya dan menatap kemantapan hati Reyhan yang mengangguk tulus padanya.
"Iya kak, makasih"
Ternyata Reyhan hanya menganggap Kanaya sebagai sahabatnya. Jadi arti dari semua ini adalah Reyhan hanya ingin menggantikan Reyna saja. Sebagai peran sahabat dalam kehidupannya.
Mungkin rasanya tidak akan sesakit ini jika saja Kanaya tak terlanjur mencintai pria yang kini tengah tersenyum menikmati pemandangan dihadapannya. Bahkan setiap saat, setiap detik Kanaya selalu memikirkan pria ini. Apalah arti kedekatan mereka yang hanya dianggap sebagai teman dekat, bukan seseorang yang spesial.
Kanaya mengusap lembut air matanya yang hendak menetes, ia tak ingin Reyhan melihatnya. Setidaknya ia tak ingin terlihat menyedihkan didepan Reyhan.