
Langkah Zayn kini memasuki rumahnya dengan senyuman dan pipi merah merona diwajahnya. Pria itu berjalan santai seraya memainkan kunci mobilnya kedalam rumah yang besar itu.
"Widihh tumben pulang senyum-senyum sendiri" ujar Reyhan tiba-tiba yang keluar dari arah dapur seraya menyesap kopinya dan datang menghampiri Zayn yang kini duduk di sofa.
Zayn tau, pasti sebentar lagi Reyhan akan mengintrogasi dirinya setelah ini. Pria itu sebenarnya ingin menceritakan Luna pada saudaranya satu itu. Tapi ia ragu dengan perasaannya, ia juga belum tau apa yang Luna fikirkan terhadapnya.
"Apaan sih lo! nggak usah resek deh" kata Zayn seraya menyembunyikan wajahnya yang kian memerah.
"Papa mau jodohin lo katanya" tiba-tiba senyuman yang tadinya mengembang kini seolah berubah menjadi bulatan mata tak menyangka dari Zayn. Baru juga merasakan senang, sekarang papanya malah membuat gara-gara.
Zayn buru-buru bangkit, ia melangkah untuk menuju kamarnya.
"Eh lo kenapa Zayn?" tak digubrisnya Reyhan yang kini memanggil namanya berulangkali. Langkah Zayn tegas dengan rahangnya yang mengeras. Bahkan Reyhan juga tak pernah melihat Zayn yang seperti itu. Apa baru saja Zayn menemukan wanita dan pulang-pulang langsung mendapat kabar seperti itu hingga membuatnya tak suka?. Reyhan menggeleng, ia hanya bisa semoga semuanya baik-baik saja saat ini.
Zayn masuk kedalam kamarnya yang gelap, ia menyalakan saklar lampu dan segera melangkahkan kakinya menuju ranjang. Pikirannya berkecamuk saat ini, ia mengacak rambutnya seraya meraih ponsel yang berada di sakunya.
Ia menatap kontak dilayar ponselnya yang tertera nama Luna disana. Matanya terpejam beberapa saat, ragu ingin menelfon atau besok saja.
Reyhan juga takkan membiarkan papanya menjodohkannya begitu saja. Walau ia belum mempunyai calon, tapi ia juga punya pilihan sendiri.
Dihempaskan nya ponsel yang ia bawa diatas kasur. Tak sengaja Zayn saking gelisahnya memencet tombol panggil.
Pria itu segera masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya melalui shower. Suara gemericik air bahkan sampai membuat ia tak mendengar dering telfon yang dari tadi berdering.
***
Luna menghela nafasnya, ia membolak-balikkan tubuhnya seraya menggigit bibir bawahnya menunggu panggilan dari sebrang sana. Sudah kesekian kalinya Luna menelfon Zayn yang tadinya sempat menelfon dirinya. Namun saking tidak ada jawaban Luna akhirnya mematikannya dan menelfon ulang.
Helaan nafas dari gadis dengan piyama terusan yang ia kenakan itu kini berakhir dengan dirinya yang membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"*Kita pacaran yuk?!"
Luna menggigit bibir bawahnya, terlihat pipinya yang kian merona akibat mengingat apa yang dikatakan Zayn padanya. Tidak mungkin kan Luna menyukai Zayn dengan kurun waktu sesingkat itu?. Zayn juga begitu, mereka padahal baru mengenal dan dia mengajak untuk jadian.
Sebenarnya Luna mau-mau saja pacaran dengan Zayn. Tapi jujur hatinya tidak semudah itu, ia hanya takut dengan papanya. Ia tidak pernah pacaran sebelumnya, dan hanya mengenal hubungan setelah menikah karena semenjak kakak Luna menikah mamanya selalu menceritakan padanya apa-apa saja yang harus dilakukan seorang wanita ketika sudah berumah tangga.
Dering ponsel Luna membuat gadis itu membulatkan matanya. Ia buru-buru mengambil ponsel, namun dugaannya salah. Luna kira itu adalah panggilan dari Zayn.
"Halo ma" suara lemah Luna membuat mama di sebrang sana mengernyit.
"Ada apa Luna? kok kayanya kamu lemes banget? sakit ya nak? nggak enak badan? kurang tidur atau?-"
"Mama, aku nggak apa-apa kok, cuma tumben aja mama malam-malam gini telfon" ujar gadis itu menenangkan mamanya yang begitu protektif padanya. Maklum saja, Luna adalah anak gadis bungsu. Luna juga adalah anak Mamanya yang paling mandiri daripada saudara yang lain. Dia saja tinggal jauh dari keluarga.
"Syukur deh kalau kamu baik-baik saja, mama kangen nih sama kamu, papa udah telfon sama kamu belum?" tanya mama membuat Luna tersenyum dibuatnya. Sejujurnya ia juga rindu terhadap mamanya, ia rindu akan mamanya yang selalu menyisir rambut panjangnya setiap sore hari. Ia juga rindu akan obrolan papanya yang begitu hangat. Namun apa mau dikata, ia juga ingin hidup mandiri tanpa bergantung dari kedua orang tuanya.
"Sudah kok ma, aku juga kangen sama mama. Bulan depan aku bakal pulang kok, mama tenang aja" kata Luna seraya memainkan boneka disampingnya.
"Bagus dong! mama seneng banget, kamu kalo pulang jangan sebulan sekali dong sayang. Apalagi sebentar lagi kamu bakal nikah lo, mama pasti bakal kangen banget. Udah jarang pulang, sekali pulang diambil orang" kelu mama membuat Luna mengerutkan keningnya. Luna menarik nafasnya dalam-dalam, matanya seolah berkaca dan mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun urung.
Bahkan mamanya masih menunggu Luna untuk bicara. Luna takut, ia takut mamanya akan kecewa akan perasaannya yang tak ingin dijodohkan.
"Ma-" Luna terdiam sejenak, ia menyentuh keningnya seraya memejamkan matanya sejenak. Hatinya merasa bimbang kembali saat ini.
"Kenapa Luna? kamu ada masalah ya?" Luna menatap langit-langit kamarnya seraya menggigit jari untuk menghilangkan kegugupannya saat ini.
"Nggak ada ma, tapi aku-" Luna menghentikan kalimatnya sejenak. Lidahnya kelu saat ini. Bahkan disebrang sana wanita paruh baya itu mengernyit akan perkataan Luna yang seolah ragu untuk mengatakan sesuatu.
"Kenapa sayang? ngomong aja" ujar mama membuat Luna menunduk lesu seraya menggeleng.
"Ma, aku-!"