
Sudah satu bulan berlalu tapi Reyna masih belum datang bulan juga. Wanita itu kini menatap pantulan tubuhnya di cermin. Ia meraih testpack yang berada diatas meja riasnya. Sebenarnya Reyna sendiri tidak yakin, tapi ia hanya iseng-iseng saja.
Bahkan jika wanita lain ada di posisinya pastilah jantung mereka akan berdetak kencang, gugup, ataupun gusar dengan apa hasilnya nanti. Tapi Reyna tidak, ia begitu santai. Kebetulan sebentar lagi Yasya juga akan pulang dari kantornya. Jika Reyna benar-benar positif, maka itu akan menjadi hadiah terindah untuk sang suami ketika tiba di rumah nanti.
Reyna melangkah menuju kamar mandi, dengan langkah santainya Reyna bersiap untuk menggunakan testpack yang ia beli tanpa memberitahu pada suaminya.
Setelah selesai Reyna kini hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Ia terperanjat kala suara Yasya yang tiba-tiba memanggilnya dan masuk kedalam kamar mandi, tepat dimana wanita itu kini buru-buru menyembunyikan benda itu dibalik tubuhnya.
"Sayang, dari tadi aku panggil kok nggak jawab-jawab?" tanya Yasya yang kini berhambur mendekat dengan pakaian kerjanya yang masih lengkap melekat ditubuhnya.
Sedangkan Reyna, ia hanya mampu menghindar saat ini. Sialnya, ia juga belum sempat melihat hasil testpack yang baru saja ia gunakan.
"Ak-aku aku nggak denger. Maaf ya" ucap Reyna seraya menahan kegugupannya yang kian bertambah saja saat pandangan Yasya mulai menelisik. Menyelidiki setiap gerakan Reyna yang begitu mencurigakan dan terlihat tertangkap basah seperti melakukan kesalahan.
"Kamu kenapa? yang kamu sembunyiin itu apa? coba sini aku mau lihat"
"Bukan apa-apa kok" kata Reyna seraya menelan ludahnya saat Yasya mulai mendekat dan memeluk pinggang Reyna, membuat Reyna hanya mampu membulatkan matanya seraya terkejut saat Yasya merebut testpack dari tangannya.
"Yasya!"
"Apa ini Rey? kamu?" pandangan Yasya yang semula mengernyit kini tiba-tiba terhenti dengan rona merah serta senyuman mengembang diwajahnya.
"Kamu hamil Rey? Ya Tuhan! kamu kok nggak ngasih tau aku sih?" Yasya buru-buru menggendong Reyna, ia kemudian membawanya keluar kamar, membuat Reyna tersentak serta berteriak kencang karena ulah dari suaminya yang mengejutkan untuknya.
"Ahhh Yasya!"
"Aku seneng banget Rey, makasih ya istriku. Ini adalah hadiah terindah buat aku" kata Yasya seraya mengecup puncak kepala Reyna yang masih berada didalam gendongannya. Pun sama dengan Reyna, senyuman manis mengembang terpancar indah diwajah cantiknya. Ia sendiri tak menyangka jika alat testpack itu menunjukkan garis dua.
"Aku juga nggak nyangka sayang, sebelumnya aku mau ngasih kamu kejutan, tapi sekarang malah kita yang dikejutkan" ungkap Reyna penuh semangat seraya mencium bibir Yasya membuat pria itu membalasnya dengan lembut.
***
Zayn membenci situasi ini, ia beralih meraih ponsel yang berada didekatnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa Luna akan baik-baik saja.
Tak lama ia menunggu panggilan itu, kini akhirnya tersambung juga.
"Halo Zayn" suara lemah itu terdengar seperti kepasrahan dibaliknya. Membuat Zayn buru-buru bangkit dan mengusap kasar wajahnya.
"Gimana kabar kamu Lun? kamu-"
"Mulai sekarang kita nggak perlu berhubungan lagi Zayn. Aku nggak mau buat kamu repot lagi. Nggak seharusnya mama aku ngomong kasar ke kamu" Zayn menghela nafasnya. Entah mengapa rasa sesak itu semakin dalam menusuk hati Zayn yang apling dalam saat Luna semakin membuka suaranya.
"Luna-"
"Zayn, aku nggak mau kejadian kemarin keulang lagi. Aku udah mikirin ini matang-matang. Baik aku sama kamu udah berusaha, pada akhirnya aku yang harus nerima perjodohan ini terjadi" suara Luna yang terdengar lembut tadi kini berubah menjadi suara sumbang yang membuat Zayn tambah tak tega lagi.
"Maafin aku Zayn udah libatin kamu, mulai sekarang kita nggak perlu ketemu lagi. Kamu bisa cari pacar pura-pura kamu setelah ini buat bantuin kamu"
"Lun-Luna dengerin aku dul-" belum sempat Zayn menyelesaikan kata-katanya sambungan telepon itu ditutup sepihak oleh gadis disebrang sana.
Gadis yang tengah menangis sesenggukan seraya memeluk lututnya didalam kamar besar miliknya. Luna memukul kepalanya sendiri. Betapa bodohnya ia ketika membawa Zayn kemari. Bahkan Luna tidak memikirkan konsekuensi yang akan terjadi.
Luna tidak ingin mamanya selalu menghina Zayn. Dia pria baik, pemikiran mama Luna yang terlalu berpikir sepihak itu membuatnya harus terpaksa memutuskan hubungannya dengan Zayn.
Zayn semakin tidak bisa berfikir lagi, jalannya sudah buntu. Apalagi Luna sudah tidak mau mengangkat panggilannya sedari tadi. Seperti Luna kali ini tengah menangis. Terdengar dari suara sumbanganya tadi.
Kalau begini caranya, maka tidak ada yang bisa Zayn katakan lagi pada orangtuanya. Apa Zayn harus pasrah juga? pasrah ketika orangtuanya akan menjodohkannya dengan wanita pilihan mereka?.
"Zayn, mommy sama papa angkat kamu udah datang itu" teriak Oma dari luar kamar Zayn, membuat pria itu membulatkan matanya seraya menepuk jidatnya sendiri dan mengumpat.