
Ting tong.
Suara bel membangunkan diri Reyna yang kini tengah tertidur dibawah lantai. Ia bahkan tak mengingat apapun selain dirinya yang mengusir Michael dengan karakter Falery dalam dirinya.
Kepalanya begitu berat, ia kini bahkan tak sadar akan dirinya yang tertidur dengan baju yang masih sama dengan kemarin. Ia melihat sekeliling dan betapa terkejutnya Reyna kala melihat keberadaannya yang masih berada diruang tamu. Gadis itu berulang kali memijit pelipisnya kala suara bel pintu membuat gadis itu mengerjapkan matanya seraya bangkit.
Ia membuka pintu itu perlahan dan dilihatnya Yasya dengan sebuah plester membalut keningnya. Yasya kini bahkan tampak gusar melihat keadaan Reyna yang begitu kacau dengan wajahnya yang sedikit pucat.
"Sya, maaf aku baru bangun tidur" ujarnya seraya mempersilahkan pria itu untuk masuk kedalam apartemennya.
"Kamu kenapa sayang, kamu sakit? kok dari kemaren nggak ganti baju?" pertanyaan itu membuat Reyna tersenyum seraya menggeleng. Ia tak ingin membuat Yasya khawatir padanya, apalagi menjelang hari pertunangannya. Ia bahkan berencana menceritakan perihal Michael setelah semuanya berjalan dengan sempurna.
"Kemarin aku sampai rumah cuma kecapean aja sayang, terus habis itu aku langsung ketiduran" kata Reyna yang kini mengajak Yasya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu yakin? atau kita kerumah sakit aja?" Reyna menggeleng, ia masih saja bisa tersenyum dengan wajahnya yang terlihat kusut itu.
"Kalo gitu aku mau mandi dulu, kamu tunggu disini ya, kalo mau makan di kulkas ada makanan, tinggal di angetin aja" ujar Reyna yang kini hendak bangkit dan membuat Yasya mengangguk. Yasya mengelus rambut Reyna dengan lembut.
"Lain kali nggak boleh kecapean lagi ya, aku nggak pengen kamu kaya gini sayang" kata Yasya penuh kelembutan membuat Reyna mengangguk patuh seraya bangkit dan menuju kamar mandi.
Yasya kini hanya bisa bernafas dengan lega, hal yang terjadi padanya kemarin menggugah hatinya untuk tetap hati-hati dimanapun tempatnya. Pria itu menatap arah dapur yang membuatnya tertari menuju tempat itu.
Karena bi Ina lah ia menjadi semangat untuk belajar memasak meski Reyna sangat handal dalam hal tersebut. Ia juga ingin membuat gadisnya kagum padanya, bukan hanya pekerja keras, tapi ia juga ingin menunjukkan sisi lembut dan juga serba bisa dari seorang Iryasya.
Perlahan Yasya mengeluarkan beberapa telur dan potongan keju dari dalam kulkas, ia juga memotong daun bawang dan juga seledri untuk kemudian dicampurkan kedalam adonan telur dan sedikit garam serta kaldu dan merica bubuk. Yasya perlahan menyalakan kompor listrik dihadapan, tak lupa ia juga mempersiapkan teflon untuk menggoreng omelet ala Iryasya, setelah panas ia ia memasukkan adonan telur kedalam telfon dengan minyak sedikit yang ia tuang tadi. Tak lupa potongan keju yang dudah ia persiapkan ia tuangkan kedalamnya. Setelah setengah matang Yasya baru melipatnya sedikit agar keju tersebut tertutup dan meleleh didalamnya.
"Kamu masak Sya?" pertanyaan itu membuat Yasya membalikkan tubuhnya, ia menatap Reyna yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk kimono yang biasanya ia pakai.
"Cuma omelette kok, buat calon istri tercinta" seketika Reyna blushing dibuatnya. Ia tak tau lagi harus berkata apa, Yasya sangat penuh kejutan baginya. Pria hebat bagi Reyna yang serba bisa. Gadis itu melangkah mendekat dengan senyumnya, ia dengan cepat mengecup pipi Yasya yang kini mulai menghangat dibuatnya.
"Makasih Yasya" ujarnya seraya duduk di kursi makan untuk menikmati sarapannya dari Yasya sendiri. Kini Yasya beralih duduk untuk menemani Reyna, ditatapnya gadis itu dengan senyuman andalannya dan juga matanya yang menyiratkan sebuah perasaan mendalam.
"Kamu nggak makan?" tanya gadis itu yang kini memakan satu suapan dari omelet yang dimasak oleh pria itu.
"Ini enak banget Sya, kamu belajar dari mana?" pertanyaan itu membuat Yasya menggaruk tengkuknya.
"Aku belajar dari bi Ina, gimana? aku baru pertama kali ini masak sendiri" perkataan Yasya mendapat jempol dari gadis dihadapannya. Dengan lahap Reyna menyantap omelette tersebut dengan nikmat.
"Enak Yasya, kamu nggak mau coba?" pertanyaan itu membuat Yasya penasaran seketika, ia meraih sendok yang masih berada ditangan gadis itu membuat bibirnya tampak mengerucut. Kemudian dengan lahap Yasya menyuapkan omelet tersebut kedalam mulutnya.
"Ternyata enak juga ya" ujarnya seraya menyuap lagi dan lagi membuat Reyna kesal dan menarik piring tersebut.
"Enak aja, ini makanan aku Sya."
"Itu kan yang buat juga aku Rey, dikit aja."
"Nggak boleh" begitulah Yasya dan Reyna, pagi yang cerah mereka perdebatkan hanya karena sepotong omelette. Namun baik Reyna maupun Yasya menganggap bal itu sebagai hiburan semata.
Akhirnya dengan gesit Reyna meraih omelet tersebut dengan sekali gigit membuat Yasya mengerucut sebal. Hal itu tak membuat Reyna menyerah, gadis itu mencubit pipi Yasya dengan gemas seraya mencium bibirnya sekilas membuat pria tersebut menatap wajah Reyna yang tiba-tiba menjulurkan lidahnya.
"Wah, mau main-main sama aku ya kamu" kata Yasya yang kini mulai menatap gadis itu dengan jahil. Yasya menggelitiki perut Reyna, membuat gadis itu memohon ampun beberapa kali sampai masuk kedalam kamarnya.
"Sya, ampun Sya hahaha" ujarnya seraya tak bisa menahan tawa, sedang kini Yasya mulai menggelitik perut Reyna hingga membabi-buta hingga membuat gadis itu berguling di kasur miliknya.
Tiba-tiba saja tatapan mereka bertemu, Yasya juga menghentikan kejahilannya. Posisi Reyna kini tepat berada dibawah pria itu, dengan dua tangannya yang menahan tubuhnya hingga mereka dapat menikmati tatapan mata tersebut.
"Aku sayang sama kamu Rey, kamu cantik" kata Yasya membuat Reyna mengalungkan tangannya dileher Yasya, hal itu membuat Yasya semakin tergoda untuk menghimpit Reyna.
Ia bahkan mencium bibir gadis itu dengan ganas. Tiba-tiba saja Reyna mendorong tubuh pria itu membuat Yasya menatap Reyna sedikit kesal. Reyna hanya bisa menahan tawanya seraya menyembunyikan wajah merahnya.
"Nikahin aku Sya, aku bakal kasih cinta buat kamu" ujar Reyna membuat Yasya menggelitiki perut Reyna lagi membuat gadis itu tertawa terbahak-bahak.
"Oh kamu mau ikut-ikutan ngomong kaya gitu ya, awas ya hem."
"Sya, hahaha ampun sayang ampun" ujar Reyna yang berteriak kencang seraya tertawa menahan geli yang ia rasakan lewat tingkah jahil Yasya.