
"Jangan lupa Reyhan, karena kalian juga Reyna jadi seperti ini" perkataan Yasya membuat Reyhan terdiam. Yasya kini hanya bisa menghela nafasnya, ia kembali menatap Reyhan dengan frustasi.
"Kamu sudah salah faham, boleh aku bicara dengan kamu tentang Reyna. Aku akan ceritain semuanya, tapi aku mohon kita keluar sebentar."
Reyhan kini terpaksa bangkit, ia melepaskan jemari Reyna yang menggantung ditangannya. Mungkin sulit baginya untuk meninggalkan Reyna dalam masa-masa seperti ini, tapi memang itu yang harus ia lakukan. Ia juga ingin meminta kejelasan pada Yasya tentang apa yang terjadi pada adiknya.
Reyhan menatap mata gadis itu yang masih terlelap, ia meninggalkan Reyna untuk menyusul Yasya kekuar dari sana karena takut mengganggu istirahat adiknya.
Belum sempat Reyhan sampai di ambang pintu, Reyna perlahan menggerakkan jemarinya, matanya terbuka menatap sosok Reyhan yang kini keluar dari ruangan tersebut.
"A, abang" ujarnya pelan dan terlelap kembali dalam mimpinya.
***
"Apa?! jadi waktu itu Reyna bener-bener meninggal? dan dia sekarang sakit mental?" kata Reyhan seraya menatap Yasya tak percaya.
Pria itu baru saja mengatakan segalanya, tanpa ada kekurangan apapun. Reyhan adalah kakak kandung Reyna, sudah sewajarnya ia mengerti tentang kondisi adiknya saat ini. Ia hanya ingin tiada lagi kesalahpahaman diantara mereka maupun dengan dirinya.
"Sekarang kamu tau kan kenapa Reyna melukai dirinya sendiri saat operasi tadi? itu semua demi papanya. Jiwa Falery hampir muncul jika Reyna tidak melukai dirinya sendiri."
Reyhan menarik nafasnya dalam-dalam, ternyata begitu banyak kepahitan yang Reyna alami selama ini. Termasuk karena perbuatannya sendiri dan Reynaldi. Ia bahkan tak menyangka ada keluarga yang begitu baik pada Reyna, dan itu semua karena Zayn. Jika bukan karena Zayn mungkin kini ia tak dapat lagi melihat bagaimana adiknya sembuh.
Pria itu kini bangkit, ia mengacak rambutnya seraya menahan tubuhnya dengan tangan kanan sebagai tumpuannya pada tembok dihadapannya. Ia masih merasakan betapa menderitanya Reyna ketika sikapnya dulu pada gadis itu sungguh keterlaluan.
Namun tiba-tiba saja ia terperanjat kala langkah kaki seorang wanita dengan lelaki dibelakangnya kini mendekat. Yasya menatap wanita itu yang diikuti Zayn dibelakangnya, Reyhan menghela nafasnya, ia memalingkan muka kala Ajeng kini berdiri tepat dihadapannya.
Plakkk.
Satu tamparan jeras mendarat di pipi mulus Reyhan membuat pria itu terdiam. Pipinya terasa panas dan semakin memerah.
"Mom, apa yang mom lakukan" ujar Zayn yang kini menarik Ajeng yang masih menatap Reyhan dengan tatapan kebencian. Ajeng kini hanya bisa menghela nafas kasar seraya menahan air matanya yang hampir tumpah karenanya.
"Biarin mommy Zayn, biar mommy yang hukum dia! dia yang buat Reyna kaya gini Zayn, mommy nggak terima anak mommy diginiin. Dulu mommy marah saat tau Reyna hampir meninggal gara-gara dia dan papanya, saat itu mommy mau bikin perhitungan sama mereka. Tapi kamu hentikan mommy nak! kenapa?! bahkan tamparan ini belum cukup jika dibandingkan perbuatan jahanam mereka terhadap Reyna" kata-kata Ajeng keluar begitu saja karena amarahnya. Sedang Reyhan hanya bisa menunduk merenungkan apa yang dikatakan Ajeng barusan.
Semuanya memang benar, ini semua karena dirinya dan Reynaldi. Jika saja dulu mereka mencari bukti-bukti yang ada, Reyna takkan mengalami hal-hal seperti ini. Apalagi karena Reynaldi lah Reyna pernah menghadapi kematian yang hampir merenggut hidupnya.
"Reyna anak mommy, anak mommy sayang. Maafin mommy nggak bisa jagain kamu nak" ujar wanita itu seraya menangis. Kini Yasya tidak bisa melakukan apa-apa, ia hanya menatap kasihan pada Reyhan yang kini masih terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca.
Yasya menepuk pundak Reyhan, ia mengajaknya untuk bangkit. Sedang Ajeng menerobos masuk untuk melihat persis bagaimana keadaan putrinya.
Zayn menghela nafasnya, ia sebenarnya prihatin dengan kondisi Reyhan yang sekarang. Ia seperti tak berdaya dan tak punya harapan lagi terlebih kini fikirannya melayang entah kemana.
Zayn menepuk pundak Reyhan dan berusaha tersenyum padanya meskipun dihatinya merasakan bagaimana perihnya hati Reyhan saat ini.
"Maafin mommy gue Rey, mommy gue cuma emosi sesaat. Dia terlalu sayang sama Reyna" kata Zayn yang kini menatap manik mata Reyhan yang tampak masih berkaca seperti sebelumnya.
Pria itu mengangguk, ia menatap Zayn dengan senyum dan mencoba untuk menegarkan hatinya.
"Gue ngerti kok, tolong jagain adek gue ya. Gue dan papa nggak akan ganggu kalian lagi" perkataan Reyhan membuat Yasya dan Zayn mengerutkan dahi mereka. Termasuk Zayn yang kini tak mengerti dengan apa yang dikatakan Reyhan padanya.
"Maksud lo apa Rey?" pertanyaan itu membuat Reyhan mendongak, ia sedikit melirik kearah Zayn yang kini menatap tegas dirinya.
"Gue udah tau semuanya dari Yasya, gue tau apa yang dialami Reyna selama ini. Mungkin kalo pun Reyna gue ajak pulang mungkin dia nggak akan sebahagia ketika kumpul sama keluarga lo. Apalagi dia punya kepribadian ganda, dia mungkin udah nggak mau ketemu gue apalagi papa. Jadi gue mohon sama lo, jagain adik gue ya" perkataan itu membuat Zayn hendak mengatakan sesuatu, namun Reyhan menggeleng seraya melangkah, ketika ia sudah tepat berada disamping Zayn, pria itu menepuk pundaknya dan membisikkan sesuatu padanya.
"Makasih karena buat gue, tau kalau Reyna masih hidup itu udah cukup. Selama dia bahagia, gue janji nggak akan ganggu dia" ujar Reyhan yang kini melangkah pergi.
Zyan membalikkan tubuhnya, ia menatap punggung Reyhan yang semakin lama semakin menjauh dan menghilang. Sedangkan kini Reyhan hanya bisa berlari. Ia menahan tangisnya sedari tadi. Sesampainya di lorong yang sepi, ia menyembunyikan tubuhnya dan kerapuhannya.
Matanya yang semula memerah kini mengeluarkan air mata yang begitu deras. Reyhan menjatuhkan tubuhnya sendiri, ia berjongkok seraya mengacak rambutnya yang semakin berantakan.
Rasanya begitu sakit harus terpaksa menjauh dari orang yang ia sayangi. Awalnya ia begitu bahagia, karena dengan kesembuhan Reynaldi ia jadi tau kebenaran yang terjadi beserta keadaan Reyna yang ternyata masih hidup.
Ingin sekali ia melihat bagaimana reaksi bahagia papanya yang mendengar itu semua. Namun harapan dan juga keinginannya harus pupus karena kenyataan dan juga hal yang harus ia terima.
Setidaknya, ia tau bahwa sekarang Reyna masih ada di dunia ini meskipun raganya tidak bersamanya. Ia hanya berharap semoga Reyna selalu bahagia dengan orang-orang yang benar-benar menyayanginya.
Reyhan menghapus jejak air matanya, ketika ia berjalan rasanya begitu berat tatakala melangkah. Ia harusnya menemui papanya usai ia menjalani operasi.