The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Perpisahan



"REYNA!!!" suara teriakan itu terdengar menggema ditengah Falery menunggu panggilan untuk memasuki ruangan pesawat.


Gadis itu melihat ke kanan dan kiri. Matanya mengerjap beberapa kali, ia melangkah kembali keluar dari ruangan tersebut.


Rambutnya yang lurus dikuncir dengan kacamatanya yang menghiasi matanya membuat gadis itu nampak menutupi kecantikannya.


"Kau mau kemana Fay?" pertanyaan dari Lilia bahkan tak digubris olehnya. Entah mengapa hatinya berkata lain.


"Aku seperti mendengar suara Yasya" gumamnya sembari mencari keberadaan pria itu yang kini entah memang benar suaranya atau hanya khayalannya saja.


Pandangannya berkeliling, namun ia harus kecewa tatkala ia tak menemukan seseorang yang ia cari. "Mungkin aku hanya berhalusinasi, mana mungkin dia kemari" ujar Falery sembari menunduk hendak melangkah kembali.


Namun sedetik kemudian tangannya terasa dicekal oleh seseorang membuat gadis itu membulatkan matanya. Pandangannya seolah terkunci beberapa saat untuk memutar tubuhnya sembari menatap pria yang kini tengah terengah-engah dengan keringat yang terlihat sebesar bulir jagung di dahinya.


"Yasya" kata Falery tak menyangka, bahkan Yasya lebih tak menyangka lagi akan menemukan Falery secepat ini. Ia takut akan kehilangan gadis itu sekali lagi jika tidak secepatnya menemuinya.


Yasya memeluk erat tubuh gadis itu, tak dihiraukannya pandangannya orang-orang yang mengarah pada mereka. Yasya begitu bahagia, air mata haru ia tumpahkan begitu saja tanpa malu.


"Akhirnya aku menemukanmu sayang, aku begitu cemas, aku begitu takut Reyna" Falery menaikkan sebelah alisnya, tanpa sadar ia membalas pelukan dari pria itu. Pria yang tidak bisa ia pungkiri bahwa ia sangat merindukannya.


Tak sadar air mata gadis itu menetes begitu saja. Pandangannya masih tak percaya dengan keberadaan pria yang kini memeluknya. Andaikata ia akan pergi begitu saja, ia tak tau harus mengungkapkan apa padanya suatu hari nanti ketika mereka bertemu.


"Aku harus pergi Yasya" ujar Falery dengan suara seraknya membuat Yasya tertegun seketika pria itu melepaskan pelukannya pada gadis yang kini menatapnya dengan pandangan sayu.


"Kemana Reyna? kau tenang saja, kemana pun kau mau aku akan selalu menemanimu asalkan kau tak meninggalkan ku" ujar Yasya yang kini menyentuh wajah gadis itu dengan lembut.


Pandangan mata yang teduh, sekelebat kesedihan yang juga dirasakan Yasya bercampur rasa lega karena menemukan cintanya terpancar indah pada pandangannya kepada Falery yang kini tersenyum lembut meski air mata menetes dipipinya.


"Aku tidak ingin membuat mu bermasalah lagi Yasya. Dari awal seharusnya aku tidak hadir diantara kalian berdua, seharusnya aku pergi setelah ingat semuanya. Aku tau Yasya sebenarnya kau juga begitu mencintai Sarah. Kau melamarnya didepan umum, kau bersikap lembut padanya dan kau pasti punya pandangan masa depan bersamanya. Tidak seperti aku, aku hanya sekedar singgah dalam hatimu dan cepat atau lambat kau pasti akan melupakan ku" ujar gadis itu panjang lebar sembari melepaskan jemarinya dari genggaman tangan pria dihadapannya.


"Reyna."


"Yasya, meskipun aku bukan bahagia mu. Tapi aku sangat bersyukur karena kau telah hadir sebelum kepergian ku, setidaknya aku masih bisa mengingatmu untuk yang terakhir kalinya" bahkan Yasya belum sempat melanjutkan perkataannya namun Falery menghentikan kata-katanya.


Yasya mengepalkan tangannya, ia tak tau lagi harus menjelaskannya darimana agar Falery bisa memahami isi hatinya. Gadis itu membalikkan tubuhnya, ia menatap arah ruang tunggu dengan pandangannya yang sayu.


"Jaga dirimu baik-baik Yasya, bahagiakan sahabatku" ujarnya sembari melangkah lagi.


"Falery!" namun belum sempat gadis itu sampai diruang check in, sebuah suara familiar membuat gadis itu menghentikan langkahnya seketika. Disusul dengan pelukan Yasya yang kini memeluk lehernya dari belakang.


"Yasya, apa yang kau lakukan. Itu suara Sarah" ujarnya sembari memberontak membuat gadis itu lepas dari pelukan Yasya dan segera melangkah kembali.


"Falery tunggu" ujar Sarah yang kini tengah berlari kearahnya dan mencekal lengan gadis itu membuat seketika tubuh Falery terdiam.


"Kau mau kemana Fay, kau mau pergi dan tidak pamit padaku. Apakah itu yang dinamakan sahabat" ujar Sarah dengan air mata yang menggenang dipipinya.


Falery yang mendengar itu hanya terdiam, ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Sarah barusan. Sahabat? bahkan kisah diantara keduanya saja sudah tidak jelas lagi.


Mungkin Falery adalah sahabatnya tapi mengingat berapa egois Sarah karena keegoisannya berdampak pada Zayn yang hampir kehilangan nyawanya membuat gadis itu berat untuk menatap Sarah.


Ini bukan lagi soal Yasya, tapi ini soal hubungan diantara keduanya. Walau bagaimanapun kelembutan yang dimiliki Falery ada batasnya, ia juga bisa marah saat ada yang membuatnya kesal.


"Kemana kau diam Fay?" ujar Sarah yang kini mulai menghela nafasnya. Falery mengerjapkan matanya, ia melepas cengkraman tangan dari sahabatnya dan masih bertahan membelakanginya.


"Maafkan aku, aku harus pergi. Tidak ada lagi yang aku harapkan disini" ujar gadis itu dengan pandangannya yang dingin serta kekecewaan yang mendalam terhadap Sarah.


Falery melangkah lagi, tak dihiraukannya teriakan dari Sarah. Ia terlanjur kecewa dengan sahabatnya, mungkin kata sahabat itu bisa hilang seketika jika ia telah tiba ditempat tujuannya nanti.


Falery menghapus air matanya, ia kembali mengerjap. Keputusannya sudah bulat kali ini, ia harus pergi.


"Aku mencintaimu Reyna, sungguh mencintaimu. Aku dan Sarah telah mengakhiri segalanya, dan dia rela jika aku kembali padamu. Maka jangan tinggalkan aku lagi Reyna, aku mohon" ujar pria itu memohon.


Falery hanya terdiam pandangannya menjurus pada Sarah yang kini menangis sembari membuang muka. Mungkin masih ada perasaan mengganjal dihatinya, namun dibalik tangisan itu Sarah mulai tersenyum dan mengangguk kearah Falery.


"Fay kau dimana?!" Suara itu membuat lamuna Falery bangun, Lilia telah menunggunya sedari tadi. Pandangannya sayu pada Yasya yang kini masih bertahan mendekapnya.


"Lepaskan aku Yasya, aku harus pergi" ujar Falery seraya melepaskan pelukannya dari Yasya yang kini mulai menaikkan sebelah alisnya.


"Apa ini artinya kau tak mau kembali padaku?" tanya Yasya yang kini tengah menangkup kedua pipi Falery.


Gadis itu tersenyum, diraihnya tangan besar pria itu pada wajahnya.


"Kata siapa aku tak mau. Aku Reyna, Reynanya Yasya, kau pasti mengenal ku dengan baik, aku akan pergi ke Indonesia. Aku merindukan mendiang mama, aku menunggumu untuk kembali Yasya" ujar gadis itu sembari tersenyum dan mengecup punggung tangan pria itu dengan lembut membuat pemiliknya menatap haru pada Falery yang kini mulai menitikkan air mata bahagia begitupun juga Yasya yang melakukan hal yang sama.


"Pasti, pasti, aku akan menyusulmu. Kau tunggu aku Reyna, aku akan segera melamar mu ketika aku kembali" Falery tersenyum lembut, matanya yang berkaca-kaca kini dihapusnya oleh Yasya dan pria itu mengecup bibir gadis itu dengan lembut.


Seolah mengatakan perpisahan terindah untuk kesempatan agar bisa kembali lagi. Falery membalas ciuman itu dengan lembut sembari memeluk tubuh pria dihadapannya.


"Aku mencintaimu Yasya" ujar Falery yang kini memeluk erat tubuh pria itu.


"Aku juga sangat mencintaimu Reyna" balas Yasya dengan pelukannya yang semakin erat.


Kini Falery bisa pergi dengan tenang, ia bersyukur untuk terakhir kalinya ia bisa mendapatkan perpisahan yang ia inginkan. Bahkan rasanya tak sabar untuk menantikan Yasya kembali.


Falery melangkahkan kakinya dengan senyuman, tak ayal ternyata Lilia telah berada disana menyaksikan dua insan manusia yang saling mencinta. Lilia ikut tersenyum dengan pandangannya yang mengarah pada Falery.


"Kau sudah siap?" pertanyaan dari Lilia membuat Falery tersenyum dan mengangguk. Sebelum gadis itu keluar menuju lapangan, langkahnya terhenti dan membalikkan tubuhnya untuk menatap Yasya yang kini berlari kearahnya.


"Aku pasti akan merindukanmu Reyna" Falery mengangguk.


"Titip salam pada keluarga ku dan juga kak Zayn ya. Walaupun kini kami bukan siapa-siapa tapi mereka telah merawat dan juga menyelamatkan hidupku" ujar gadis itu membuat Yasya mengangguk dan segera mencium kening Falery dengan lembut.


"Pasti, kau hati-hati ya. Kalau sudah sampai jangan lupa hubungi aku" ujar Yasya dengan senyuman.


Falery hanya mengangguk. Gadis itu tersenyum kembali dan melangkah kembali. Tak lupa ia memeluk Lilia sembari menarik kopernya.


"Kau harus sering-sering menghubungi ku ya" ujar Lilia setelah pelukannya yang terakhir kalinya. Falery tersenyum ia menatap sahabatnya dengan pandangan sayu. Sejujurnya gadis itu tak rela jika harus kehilangan sahabat seperti Lilia.


"Falery, maafkan aku" ujar gadis dibelakang Yasya yang kini mulai menunduk dengan pandangannya yang penuh penyesalan membuat Falery hanya tersenyum sembari memeluk Sarah.


"Aku memang tak bisa memaafkan mu atas kejadian yang menimpa kak Zayn. Tapi walau bagaimanapun, kau tetap sahabatku Sarah. Sebelumnya kau yang menampung ku setelah aku keluar dari keluarga Gilbert" Falery melepaskan pelukannya. Ia menatap Sarah yang kini mulai mengangkat pandangannya.


"Kau pernah bilang, aku bahkan seperti saudaramu. Aku masih ingat itu, dan hal itu takkan pernah hilang dari dalam hidupku. Kuharap kau menemukan cinta sejatimu" ujar Falery yang kini menepuk pundak gadis itu dengan lembut.


Pandangannya menengadah, Falery mulai mengikhlaskan segalanya. Ia mulai melangkah kembali dan tersenyum kearah mereka. Pelepasan yang mengharukan juga keikhlasan yang ia harapkan kini menyatu.


Tiada lagi keraguan akan dirinya untuk pergi dari negara itu. Meski bertahun-tahun ia hidup disana, tapi Falery menyadari bahwa itu bukanlah tempatnya.


Ia bahkan mengirimkan surat resign untuk Michael. Pria itu, pria yang baik meski hanya hadir sementara dalam hidup Falery. Baginya Michael bukanlah bos yang galak, bahkan ia bisa lembut terhadap Falery.


Meskipun gadis itu belum siap menerima kenyataan bahwa Michael juga menyukainya. Dan untuk keluarganya, mungkin kini keberadaan Falery tidaklah berarti untuk mereka kecuali jika mereka telah mendesak Grace untuk bicara.


Entahlah, kini Falery memasuki pesawat. Ia masih menatap langit negara itu untuk terakhir kalinya. Senyumnya terulas dengan pandangannya yang sayu.


"Selamat tinggal kak Zayn, Mommy, dan juga kak Alan. Maafkan aku karena belum sempat berpamitan."


Gadis itu menaiki tangga kembali langkahnya ringan tanpa hambatan.