The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ingatan demi ingatan



Interior cafe yang begitu hangat ditemani alunan musik didalamnya membuat hati gadis itu begitu tenang.


Reyna kini tengah menikmati malamnya, gadis itu sengaja datang ketempat dimana ia pertama kali bertemu dengan Yasya. Mengenangnya saja membuat gadis itu tersenyum merekah dengan pipinya yang semakin menghangat.


"Silahkan dinikmati mbak" ujar seorang pelayan wanita yang mengantarkan secangkir coklat hangat untuknya membuat gadis itu tersenyum sembari kembali mengangguk.


"Makasih" ujarnya seraya menatap coklat tersebut. Mata coklatnya menerawang jauh, mengingat kala pertama kali ia bertemu dengan guru yang menyebalkan sekaligus cinta pertamanya.


"Udah lama banget nggak kesini, tapi tempatnya masih sama kaya dulu" kata Reyna yang kini mulai menyesap coklat tersebut sambil menghirup aroma vanila didalamnya.


Tiba-tiba saja suara ponselnya berdering, tanda pesan masuk. Dengan segera gadis itu membuka aplikasi messenger.


Iryasya: Sayang.


Begitu pesan masuk ia baca gadis itu hanya bisa tersenyum hangat dengan pipinya yang merah merona.


Belum sempat gadis itu membalas sebuah panggilan video dari sebrang sana membuat jantungnya berdegup kencang. Gadis itu mencoba untuk menghilangkan kegugupannya dengan menghela nafas.


Dengan tangan yang bergetar gadis itu menggeser panggilan untuk terhubung dengan Yasya yang kini tengah berada di negara Paman Sam.


"Hay" ujar Reyna yang kini tengah tersenyum pada Yasya dibalik panggilan video yang berlangsung di ponselnya.


"Hay, aku kangen kamu" ujar pria itu membuat Reyna kembali menyembunyikan rona diwajahnya.


"A, aku juga. Kamu apa kabar?" tanya gadis itu yang kini mulai bisa mengontrol emosinya.


"Baik, baik banget karena bentar lagi aku bakal ketemu sama kamu" ujar pria itu yang kini mulai membuat Reyna tersipu akan kata-katanya.


"Oh ya, aku ketempat ini lo" kata Reyna sembari menunjukkan pada kamera suasana cafe yang membuat pria disebrang sana tersenyum lembut.


"Itu tempat kita ketemu pertama kali kan? kamu masih inget? dan coklat panas juga?" tanya pria itu yang disusul Reyna mengangkat secangkir coklat untuk ditunjukan pada Yasya.


"Inget, apapun tentang kamu aku nggak bakalan lupa Sya. Dan melupakannya pun mungkin aku nggak akan sanggup, saking indahnya" ujar gadis itu yang kini mulai tersenyum manis membuat mata pria disebrang sana berkaca.


"Ingatan kamu adalah kehidupan ku Reyna. Seandainya kamu nggak ingat, mungkin hidupku akan selamanya berhenti untuk berputar" ujar pria itu yang kini mulai tersenyum pada gadis dibalik layar laptopnya.


Hatinya merasa lega, jantungnya yang biasa berpacu lebih cepat kini mulai bisa ia kendalikan melalui perasaannya yang kini mulai sembuh dengan perlahan.


Begitupun Reyna, mungkin banyak masalah yang terjadi padanya. Namun ia akui, sekuat apapun ia berlari, maka cintanya tak akan pergi. Cintanya kekal untuk Yasya, pria yang dulunya adalah guru magang ditempat ia mengemban ilmu.


"Yasya, aku mencintaimu" ujar Reyna yang kini tersenyum sembari menahan dagunya diatas meja.


"Kalo gitu kita sehati, karena aku juga cinta sama kamu, dari dulu sampe nanti" ujar Yasya dengan senyuman andalannya.


"Wait for me Reyna, I'll come for you."


"I'll wait for you Yasya, take care of yourself" kata Reyna mengakhiri panggilan itu dengan senyumannya yang mengembang.


Meskipun selalu ada fikiran dalam hatinya pada kakak dan juga ayah kandungnya. Terlebih lagi mengingat keluarga angkatnya yang berada di Florida.


Reyna sempat ragu dengan keputusan yang ia buat. Namun melihat keadaan dan juga kondisi Zayn yang membaik membuatnya harus meninggalkan kehidupan lama itu.


Setidaknya Reyna telah berpamitan meskipun lewat sepucuk surat yang ia tuliskan.


Hatinya bimbang, keraguan melanda fikirannya yang mulai melayang. Mungkin karena ia sekarang tengah sendirian. Seandainya ada Yasya yang kini berada disampingnya mungkin rasanya tidak seasing ini.


***


Langkah seorang pria kini tengah memasuki rumahnya. Terlihat sepi dengan lampu yang belum menyala. Pria tampan itu hampir terbiasa dengan keadaan ini, dimana datang hanya akan disambut kesepian.


Apalah daya, Reynaldi yang dulunya adalah pria paruh baya yang semangat bekerja dan sering keluar rumah. Kini akibat kehilangan istri dan juga anaknya ia semakin terpuruk dalam kesedihan.


Pria itu masuk tanpa permisi kedalam kamar sang ayah, perlahan ia menyalakan lampu tidur disamping Reynaldi terlelap. Reyhan menghela nafasnya sembari mengusap dadanya dengan lembut. Pertama kali ia merasakan kondisi ini, ia sempat khawatir dan cemas pada Reynaldi.


Bagaimana tidak, kedatangannya tanpa sambutan. Bahkan malam yang seharusnya lampu dinyalakan masih mati dengan keadaan rumah yang begitu gelap gulita sedang Reynaldi seperti tak mendengar apa yang Reyhan teriakan. Hal itu membuat Reyhan awalnya begitu khawatir dengan kondisi sang ayah.


Namun mungkin karena sudah terbiasa, ia jadi tau bagaimana sedihnya Reynaldi. Setiap kali ia memasuki kamarnya yang gelap, ia menemukan sang ayah tengah terbaring lelap sembari memeluk foto keluarganya yang pernah utuh dulu.


Reyhan mendekati tubuh sang ayah. Ia duduk ditepi ranjang sembari menggenggam jemari Reynaldi yang kini tengah bermimpi.


Harapannya hanya satu, ingin membangkitkan semangatnya lagi. Namun sekeras apapun Reyhan berusaha takkan mampu membuat Reynaldi bangkit dari keterpurukannya.


Reynaldi seperti Reyna, ia tersenyum meski hatinya hancur. Hatinya penuh dengan amarah dan kecewa pada dirinya sendiri, hingga ia tak mampu memaafkan kesalahannya yang telah lalu. Kesalahannya yang tidak ia sengaja.


Reyhan mengecup puncak kepala sang ayah yang sedikit ditumbuhi rambut yang mulai memutih. Ia tersenyum meski hatinya teriris melihat keadaan orang tua tunggalnya.


"Selamat malam pa, Reyhan kangen banget sama papa" ujar pria tampan itu sembari bangkit dan meninggalkan kamar sang ayah untuk kembali ke kamarnya.


Jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Namun pria itu terbiasa dengan kebiasaannya yang selalu makan sampai selarut ini.


Setelah selesai mandi dan berganti baju. Reyhan turun menggunakan kaos oblong dan juga celana pendeknya.


Pria itu membuka bungkusan yang sengaja ia bawa ketika pulang dari pekerjaannya yang membuatnya lelah sepanjang hari.


Perlahan tangannya dengan terampil memindahkan makanan itu kedalam mangkuk dan juga piring yang ia sediakan.


"Udang goreng krispi dan cumi asin" ujarnya sembari menatap kedua menu makanan tersebut. Tiba-tiba saja ingatannya terlintas seorang gadis yang menyuapinya.


Ingatannya begitu jelas membuat fikirannya teralihkan sesaat. Reyna yang ia rindukan, makanan dihadapannya mengingatkannya pada adiknya. Dimana malam sebelum ia melempar Reyna keluar dari rumahnya.


Reyna yang pulang dengan senyuman, berharap agar sang kakak akan menyambutnya malah dibalas dengan tamparan dan juga hinaan darinya.


"Reyna maafkan bang Rey" ujar pria itu sembari mengunyah makanannya dengan air mata yang merembes dipipinya.