
Reyna terus berjalan cepat, ia segera menyusul keberadaan Sarah yang kini berjalan jauh dari tempatnya berdiri.
Hatinya merasa bersalah dengan matanya yang memerah. Tak tau lagi apa yang harus ia katakan saat berhadapan dengan Sarah nantinya. Persetan dengan apapun yang akan ia lakukan yang terpenting, kesalahpahaman ini harus ia selesaikan.
Dengan cepat gadis itu berlari menyusul Sarah yang hendak menyebrang jalan. Ia berlari sampai kini dirinya sudah berada tepat dibelakang gadis yang tengah menangis itu.
Dengan segera ia mencekal lengan sahabatnya.
"Tunggu Sarah" kata Falery yang kini membuat Sarah akhirnya berhenti dan segera menghempaskan tangan Falery.
Untung jalanan itu tampak sepi. Namun banyak mobil berlalu lalang didepan jalan.
"Apa yang ingin kau katakan? apa kau belum puas merebut Yasya dariku Falery?!."
Falery menarik nafasnya dalam-dalam, tampak bulir keringat membasahi keningnya. Ia tak menyangka akan sikap Sarah yang membuat hatinya semakin sakit.
"Maafkan aku, maaf aku tidak jujur padamu. Aku memang cinta masa lalu Yasya, aku bahkan baru menyadarinya saat aku baru ingat semuanya Sarah" ujar Falery dengan kesungguhannya.
Kini tiada lagi yang ia tutupi, ia harusnya jujur dari awal jika itu memang menyakiti Sarah, setidaknya mengatakannya dari awal bisa membuat Sarah mengerti dengan keadaan dan posisinya.
"Apa yang kau mau lagi dariku Fay? kau bisa ambil jika kau mau."
Falery semakin terisak, ia mulai menyeka air matanya.
"Oh aku tahu kenapa apa kau mengatakan padaku bahwa kau tak ingin menikah. Kau pasti menunggu saat-saat kehancuran dari pernikahan ku kan?! KATAKAN SAJA FAY!" teriakan Sarah membuat gadis itu tertunduk sambil menangis tanpa henti. Ia takut, takut akan sahabatnya yang akan pergi meninggalkannya.
Mengingat berapa besar kasih sayang mereka seperti lebih dari sekedar sahabat biasa. Bahkan dari dulu hanya Sarah yang mau dan sabar untuk menjadi sahabat untuk Falery.
"Aku tau kau marah? aku tau kau kecewa Sarah, tapi aku tidak senang melihat mu menderita. Aku sudah menolak Yasya, aku fikir ia akan mengerti apa maksud ku."
"Kau tau Fay, kau adalah penghianat paling kejam yang pernah aku kenal. Kau anggap apa aku ini Falery?!! seharusnya kau memang pergi? kenapa jika kau tau bahwa Yasya sudah menyadari bahwa kau adalah cintanya dan kau malah membiarkan dia bertemu dengan mu lagill?."
Falery tertegun, ia tak menyangka dengan apa yang dikatakan Sarah padanya. Falery adalah penghianat, begitu katanya. Kata-kata Sarah bagaikan pisau yang menembus hatinya.
"Sarah..." ucapan Falery terhenti kala Sarah dengan sengaja melangkahkan kakinya ketengah jalan saat jalanan mulai ramai.
"Jika kau memang sahabat untukku Fay, maka kau harusnya tau apa yang harus dilakukan,"
Mata Falery membelalak tajam ia menatap Sarah yang kini nekat berlari dengan mobil melintas dengan kencang.
***
Zayn kini keluar dari pusat perbelanjaan. Ia menatap langit yang seakan mendung menutup kepalanya. Aneh, padahal ini masih musim semi.
Fikirnya, seraya memasukkan belanjaan kedalam mobil tepat diparkiran yang menjurus pada jalanan.
Tak sengaja matanya menangkap dua orang gadis yang kini bertengkar tak jauh dari sebrang sana.
Terlihat sepi karena siang begini. Ia melangkah mendekat, namun ketika hendak mendekat ia baru menyadari bahwa dua gadis itu adalah Falery dan juga Sarah.
Ia juga terkejut kala Sarah berlari kearah jalanan sedang Falery kini bersiap untuk berlari mengejarnya.
Dan benar saja saat sebuah mobil melaju kencang Falery menarik kencang lengan gadis itu membuat Sarah terjatuh disisi jalan membuatnya kini mulai aman.
Namun tak disangka, sebelum ia sampai di sisi jalan mobil yang lain dari arah yang sama melaju kencang menabrak kakak beradik itu dengan Zayn yang kini masih bertahan memeluk adiknya.
Brakkkk
Suara benturan itu begitu keras membuat Mereka terguling dengan Falery yang berada dipelukan Zayn.
"REYNAAA!!!!" teriakan dari Yasya kini berlari mendekati keduanya. Sedang Sarah kini masih terduduk dengan mulutnya yang ia tutup menggunakan tangannya.
Terlihat kepala Zayn membentur jalanan sambil memeluk Reyna yang kini berada di dekapannya. Kepala pria itu dipenuhi dengan darah yang mengalir deras, dan Falery kepalanya juga ikut terbentur.
"Ka... kak" ujarnya terbata karena rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Falery" ujar pria itu yang kini mulai merenggangkan pelukannya.
"REYNA..." teriak Yasya yang kini mulai mendekat, sedang Falery berupaya untuk bangkit.
"Kak, kak Zayn bangun" Falery menggoyangkan tubuh pria itu, yang kini setengah tidak sadar dengan apa yang ia alami.
Matanya syok akan keadaan Zayn yang tiba-tiba berada disana. Entah apa yang terjadi, ia pun tak menyadari. Bak dihipnotis ia hanya mengingat sebuah mobil menerjang tubuhnya, dan saat ia sadar ada Zayn yang kini memeluknya.
"Reyna...kau baik-baik saja" kata Yasya penuh kecemasan saat melihat keadaan Reyna yang kini memangku kepala Zayn.
"Yasya, tolong bawa kak Zayn... kepalanya berdarah, cepat.. aku mohon padamu" kata Falery memohon dengan isakannya ditengah rasa khawatirnya.
Ia bahkan begitu cemas, dengan tangannya yang bergetar. Dadanya terasa sesak dengan keadaan sang kakak saat ini.
"Baiklah" Yasya hendak membopong tubuh pria itu, namun kesadarannya kembali meski samar-samar ia dapat bicara.
"Tung... tunggu Yasya, mungkin waktu ku tidak lama lagi" Falery menggeleng dengan kuat. Pandangannya masih melirik Yasya dengan tangisannya.
"Kau ini bicara apa kak, kau masih punya banyak waktu untukku kak. Yasya, Yasya cepat bantu aku membawa kak Zayn ke rumah sakit."
Ujarnya ditengah kepanikan menghadapi situasi yang membingungkan untuknya.
"Falery... Yasya..." ujar Zayn seraya menggeleng. Tangisan dari Reyna bahkan tak terhenti, ia bahkan tak menyadari bahwa kaki, tangan dan juga kepalanya ikut terluka.
"Kakak hiks" kata Falery dengan isakannya membuat Zayn menggeleng.
Tangan penuh darah dari Zyan mengelus pipi Falery yang kini tidak berhenti untuk menangis.
"Jangan menangis adikku, maafkan kakak mu ini. Aku punya banyak salah padamu, tapi kini aku sudah menebus semuanya. Akhirnya ada saatnya aku melindungi mu" kata Zayn yang kini suaranya mulai terbata. Beberapa kali ia mengalami batuk darah, membuat Yasya dan Falery panik.
"Kak..." teriak Falery bersamaan dengan tubuh Yasya yang mendekat.
"Zayn, jangan banyak bicara lagi, aku sudah menelfon ambulans, kau pasti akan selamat" kata Yasya cemas yang kini tengah duduk disamping gadis dengan tubuhnya yang berlumuran darah.
Tak disangkanya, selemah nya gerakan Zayn kini ia tampak meraih tangan Yasya dan hendak mengatakan sesuatu.
"Re...Reyna se.. selalu mencintaimu Yasya, kau adalah masa depan untuknya" kata Zayn yang kini mulai tak sanggup lagi untuk bicara.
Reyna menutup mulutnya ia menangis tanpa henti. Tatapannya mengarah pada Zayn dan Yasya yang kini juga menatapnya.