
"Hoaammmm...."
Suara menguap dan bangkitnya seorang pria kini menggema diseluruh ruangan, Yasya membelalakkan matanya tatkala dirinya menyadari keberadaannya yang tak semestinya ia pijaki.
Perlahan ingatannya mulai menerawang, mengingat kejadian semalam yang membuatnya tak sadarkan diri, bahkan kemejanya yang khas bau alkohol kini hilang entah kemana, tergantikan dengan baju sweater hangat miliknya. Yasya bangkit dengan langkah gontai, dipegangi pelipisnya yang amat pusing dan pening.
Fikirannya seperti ilusi yang tak bisa ia ingat sama sekali, ingin ia panik, namun keberadaannya kini bukanlah sebuah alasan akan merasakan hal demikian.
"Lolli.....!" teriaknya sambil membuka pintu kamarnya.
Tak lama kemudian datanglah wanita paruh baya yang berlari tergopoh-gopoh dan menunduk hormat pada tuannya.
"Tuan Iryasya, ada apa?"
"Siapa yang membawaku pulang, dan siapa yang berani menggantikan pakaian ku?."
"Izin tuan, semalam anda sedang mabuk dan dibawa oleh seorang gadis. Dia berkata kalau dia adalah rekan kerja tuan muda, saya mempersilahkan dia masuk tuan. Saya melihat gerak-geriknya, tidak mencurigakan namun sangat lembut pada anda. Dia juga yang menggantikan pakaian tuan muda."
Yasya membulatkan matanya, mencoba untuk berfikir jernih.
"Siapa namanya?"
"Mohon maaf tuan Irya, dia tidak memberitahu namanya."
"Apa kau bodoh? kenapa kau tidak menanyakan soal itu? apa kau tau resikonya jika ada orang asing masuk dalam rumah ini? apa kau mau tanggung jawab jika terjadi sesuatu haaa?! jika terjadi sesuatu, bahkan gajimu selama seumur hidup belum tentu bisa membayarnya!" ucap pria itu dengan kesal sambil hendak meninggalkan Loli yang kini menahan langkah Yasya.
"Tuan, mohon maaf atas keteledoran saya, saya berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan saya lagi."
Yasya masih membelakangi tubuh Loli sambil berkata dengan nada sinis.
"Baiklah, tapi katakan seperti apa gadis yang kau bicarakan itu?!"
Loli mengangguk sambil memperlihatkan wajahnya yang begitu takut dan gugup.
"Tuan... yang saya lihat, gadis itu cantik, putih, matanya lebar dan bulat, wajahnya oval dengan tahi lalat diatas bibirnya sepertinya dia juga bukan terlihat seperti orang Amerika, gadis itu terlihat seperti anak orang yang kaya, karena dia membawa tuan dengan menggunakan mobilnya, bahkan dia memakaikan jaketnya pada tuan, dia keluar malam bahkan hanya memakai sweater."
Yasya tertegun, sorot matanya sayu dengan jantungnya yang berdegup semakin kencang. Fikirannya melayang pada gadis yang sangat ia cintai.
"Tuan... dia juga berpesan untuk memberikan air lemon yang ia buat semalam."
Yasya melangkahkan kakinya tanpa menghiraukan perkataan Loli, pria itu tersenyum meski ada rasa sesak dihatinya.
Yasya kini menuruni anak tangga sambil memegangi sisinya karena langkahnya yang masih tak seimbang, pria itu membisu.
"Reyna, apa itu kau?"
Gumamnya setelah duduk dengan tenang dimeja makan. Pria itu mengetuk meja dengan jemarinya sambil berfikir keras.
"Tuan... ini air lemonnya." ucap Loli seraya menyerahkan minuman berwarna kuning itu pada Yasya yang kini beralih pada segelas air lemon dihadapannya.
Suara gitar dengan nada tenang dan damai, mengalahkan suara angin diluar musim dingin yang semakin tebal dengan saljunya yang menyelimuti jalanan beserta pepohonan di luar.
Pria itu memainkan gitar kesayangannya dengan nada apik dan lirih, hanya dapat didengar olehnya.
tok tok tok....
Suara ketukan pintu itu membuat matanya yang semula terpejam kini terbuka dengan perlahan.
"Masuk!"
Tak ada jawaban disana, namun sedetik kemudian...
ceklek....
"Apa aku mengganggu waktumu kak?" ucap gadis itu dengan polos membuat sang kakak hanya menggeleng dan tersenyum.
"Kau bisa bergabung"
Ucap Zayn pada Falery sambil menyodorkan gitarnya, membuat gadis itu melangkah masuk dan menyambut hangat gitar snag kakak.
Falery duduk disamping Zayn sambil memetik gitar itu satu persatu dengan nada indah, membuat mereka berdua terhanyut dalam permainan itu.
Falery menghentikan permainannya membuat Zayn menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kakak tidak merindukan ku?"
Zayn tersenyum sambil memeluk tubuh adiknya dengan hangat membuat Falery membalas pelukan sang kakak.
"Tentu saja aku merindukanmu Fay."
Mereka melepaskan pelukan itu bersamaan dengan kerinduan yang terlepas untuk sekian lama.
"Kak, kenapa kakak dna mommy tidak tinggal disini saja? kita tidak perlu berjauhan seperti ini. Dan seharusnya daddy juga pensiun, agar kita bisa hidup bersama dalam satu keluarga."
"Ada banyak hal yang harus kakak kerjakan disana Fay, dan mommy yang harus menemani ku. Tapi aku janji padamu, suatu saat keluarga kita pasti akan utuh dan tinggal bersama."
Falery tersenyum, tak lama kemudian matanya memejam, menunduk dengan matanya yang sayu dan menyedihkan, membuat Zayn dirundung rasa kecemasan.
"Ada apa?"
"Suatu saat nanti, ketika kalian sudah hidup bersama, maka aku akan hidup bersama dengan suamiku."
Zayn tersenyum lembut sambil memeluk punggung sang adik, dan menyentuh puncak kepalanya, memberikan kenyamanan dan juga ketenangan dalam jiwa Falery.
"Hey... jadi kau sudah siap untuk menikah dengan Alfian?."
"Bukan begitu, menunggu urusan kakak selesai itu pasti sangat lama, apalagi menunggu daddy pensiun dari pekerjaannya. Kau tau kan jika Alfian sudah melamar ku, hemmm kak."
"Heum....?"
"Alfian itu seperti apa?"
Pertanyaan itu membuat Zayn terdiam, pria itu seperti ragu akan menjawab pertanyaan adiknya yang tidak sulit jika dikatakan, namun dengan ragu ia ungkapkan.
"Kak...."
"Eh... Alfian? kau tau kan masa lalunya? jika aku bertanya padamu, akankah kau menerima dia meskipun masalalu itu?"
"Aku menerimanya kak."
Belum sempat Zayn menyelesaikan kata-katanya, gadis itu dengan yakin menghentikan suara sang kakak.
Zayn tidak dapat berkata apapun lagi, meskipun ada keraguan dihatinya, tapi ia hanya berharap Falery bahagia dengan pilihannya sendiri.
"Baiklah... jika itu keputusan mu...." ucap Zayn dengan lemah sambil tersenyum pada Falery.
"Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan padamu."
"Apa itu?"
Falery menatap wajah Zayn dengan matanya yang mengintimidasi.
"Apa kakak tau siapa itu Reyna?"
Pertanyaan dari Falery membuat pria dihadapannya itu terdiam seketika, sambil membulatkan matanya, tampak wajahnya pucat pasi dengan bulir keringat didahinya.