
Tubuh Grace kini mulai lesu dengan dirinya bersandar pada dinding jauh dari keluarganya menunggu Thomas disana.
Mata wanita itu menerawang jauh mengingat perkataan Elizabeth padanya.
Flashback on.
"Percayalah padaku kak, Falery sebenarnya ingin kau keluar dari keluarga Gilbert. Dia hanya ingin menguasai segalanya. Kau sudah memberitahu ku bukan, jika dia sebenarnya hanyalah anak angkat."
Grace masih enggan untuk mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Elizabeth meski tujuan mereka sama.
"El, cukup! aku hanya ingin ia menjauh dari keluarga ku, aku tidak ingin melibatkan keluarga suamiku."
"Kau sekarang bilang begitu, tapi kau tidak akan tau akhirnya nanti, karena Alan berhubungan langsung dengan keluarganya. Jika dia masih berada ditengah-tengah keluarga Gilbert, bagaimana kau bisa menjauhkannya dari suamimu? perlahan tapi pasti, dia atau kau yang akan keluar kita sama-sama tidak tau kak."
Flashback off.
Ada rasa penyesalan dalam dirinya kala mengingat permainannya bersama Elizabeth.
"Ke, kenapa jadi begini? apa Elizabeth membohongiku? Tuhan, apa yang telah aku lakukan."
Gumamnya sambil memerosotkan dirinya pada dinding tembok. Hatinya bimbang dengan perasaan bersalah akan perbuatannya pada Falery. Falery yang ia sangka akan menendangnya dari kehidupan bersama Alan, ternyata dirinya malah mendukung perbuatannya yang jahat.
Semerbak aroma sup menyebar dalam ruangan apartemen setelah gadis yang kini tengah sibuk memasak itu menyelesaikan masakannya yang hangat dan sederhana.
Drttt drttt...
Suara getar ponsel Falery, membuatnya mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang kini berada disaku celananya.
"Hallo,"
"Fay, kau ada dimana?" tanya seseorang disebrang sana.
"Aku ada di apartemen."
"Boleh aku kesana?" tanya pria itu spontan membuat gadis itu mengernyit.
"Tunggu, ada apa ini Al?" tanya gadis itu masih ragu.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan."
Falery melangkah ke arah sofa yang berada diruang TV. Dirinya duduk dengan pandangannya yang mengerut penasaran pada pria yang menelfonnya disebrang sana.
"Tentang apa?" tanyanya lagi yang kini mulai penasaran.
"Fay, maafkan aku! aku benar-benar minta maaf" Falery semakin tak mengerti dengan perkataan Alfian yang membuatnya semakin dipenuhi tanda tanya.
"Baiklah, kau kemarilah dulu aku akan menunggumu."
Tok tok tok...
Suara ketukan pintu terdengar ditelinga Falery yang kini tengah keluar dari kamarnya. Gadis itu melangkah mendekati pintu dan membukanya perlahan.
"Falery, " Falery mengerutkan keningnya kala Alfian kini menatap sayu sambil mengisyaratkan keberadaan Clara tidak berada dibelakangnya.
"Jadi ada masalah apa?" ucapan itu keluar setelah Falery membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi untuk Alfian dan juga Clara yang sedari tadi hanya membisu dan duduk diruang santai disusul oleh Falery yang kini duduk tak jauh dari mereka.
"Aku, aku... aku akan kembali ke Indonesia Fay."
Falery mengangguk, dirinya masih menunggu perkataan Alfian yang sempat menggantung karena keraguan yang ia buat sendiri.
"Ohh, lalu kapan kau akan berangkat?" tanyanya lagi.
"Lusa" jawab Alfian singkat masih dengan kecanggungan nya.
"Um, baguslah, hati-hati ya" entah mengapa kehadiran Clara membuat gadis itu seperti enggan untuk mengakrabi Alfian seperti biasa. Terlebih pandangannya kosong sambil memeluk lengan Alfian tanpa mau melepasnya.
"Sebenarnya bukan hanya itu Fay" Falery mengerutkan keningnya lagi. Ditatapnya kedua orang ini secara bergantian.
"Clara hamil" lanjutnya membuat Falery membelalak mata dan membungkam mulutnya. Clara menatap Falery, mereka berdua saling beradu pandang dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.
"Maafkan aku Falery! aku salah, tidak seharusnya aku melakukan itu dengan Alfian."
Falery menghembuskan nafasnya, pandangannya pasrah dan tak lama kemudian dirinya mengulas senyum pada mereka berdua.
"Selamat, selamat untuk kehamilan mu. Aku bahagia, jujur aku terkejut saat pertama kali mendengar kabar itu. Tapi, Melihat kalian yang saling mencintai, aku ikut bahagia. Aku sudah mengatakan pada Alfian berkali-kali untuk mengejar dan memperjuangkan cintanya."
Clara menatap sayu pada Alfian dan Falery secara bergantian. Dan dengan segera wanita itu mengeluarkan air mata haru sambil memeluk Alfian yang kali ini membalas pelukannya dengan hangat.
"Terimakasih Fay. Kau memang teman yang begitu baik". Falery tersenyum dan mengangguk. Dirinya menatap kedua pasangan dihadapannya ini dengan rasa haru dan tersentuh. Seandainya nasib percintaan Falery seberuntung mereka, pasti saat ini ia takkan menangis sendiri dalan kehilangan yang tak berarti baginya.
Falery merindukan keluarganya. Begitupun keluarga yang berada di Indonesia, mengingat Alfian yang akan kembali. Mungkin kini tiada lagi yang dapat mendengar curahan hatinya saat sebelumnya ada Alfian yang mengetahui segalanya malah akan pergi meninggalkannya.
Waktu berlalu cukup panjang. Keberadaan Alfian dan Clara cukup membuat Falery terkejut, setelah lama berbincang-bincang. Mereka akhirnya pamit untuk kembali.
Falery mengantarkan mereka tepat didepan pintu.
"Aku akan menikah ketika aku sudah berada disana Fay. Kau harus pulang untuk menghadiri pernikahan ku" ucapan dari Alfian membuat Falery termenung.
"Pulang?"
'Bahkan aku tak punya siapa-siapa lagi disana? dan siapa yang akan aku pulangi? papa dan bang Rey tak akan mau menampung ku. Bagaimanapun, aku adalah Reyna yang sudah mati' batinnya sesak.
"Fay!".
Suara Clara membuat lamunan Falery buyar. Dirinya menatap keduanya secara bergantian.
"Maaf aku hanya" ucapan gadis itu menggantung.
"Aku mengerti, tapi jika kau mau ikut kami, kami pasti akan senang. Betulkan Ra?" Clara tersenyum dan mengangguk untuk menenangkan hati Falery yang dipenuhi kegelisahan.
"Tidak. Aku akan bertahan disini."
"Fay kau yakin? ini bukan tempatmu yang sesungguhnya" Falery mengangguk pasti, baginya dimanapun tempat ia berada kini seperti tak ada artinya. Hanya berjuang untuk dirinya sendiri tanpa mau memikirkan tujuan berikutnya.
"Tidak apa Clara. Aku terlanjur betah disini. Jangan khawatirkan aku, jika aku ada waktu pasti aku akan mengunjungi kalian" ucap Falery dengan senyuman yang menfembang untuk meyakinkan pada kedua teman dihadapannya.