The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Mencintai dalam sepi



Mentari pagi semakin meninggi, begitupun kegiatan yang harus Falery jalani setiap harinya.


Gadis itu melenguh kasar kala bus yang biasa ia tumpangi belum juga datang.


Tiba-tiba fikirannya melayang mengingat dimana malam itu ia bersama Zayn.


Flashback on.


"Kak, kau harus berjanji, untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk mommy dan kak Alan" ujar Falery dengan kesungguhannya.


"Tapi kenapa Fay?" tanya Zayn dengan pandangannya yang begitu sendu.


Falery menghembuskan nafas beratnya, diraihnya pundak sang kakak yang sepadan dengan tingginya.


"Jangan ada masalah lagi karena aku, aku tidak ingin membuat kak Alan membenci kak Grace, apalagi Louis masih sangat kecil."


Flashback off.


Semenjak saat itu Falery semakin bimbang dengan fikirannya. Berulangkali Zayn menghubunginya dan menanyakan soal kabar tentang dirinya.


'Apa kak Zayn telah mencintai ku?' batinnya gusar.


Suara dering ponsel membangunkan lamunannya yang kini berada tepat didepan halte.


Buru-buru ia mengangkat panggilan itu tanpa memperdulikan siapa yang menelfon sepagi ini.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, sebuah panggilan mengejutkan dari sebrang sana membangunkan nyawa Falery yang kini telah kembali pada fikirannya sendiri.


"Fay, kau ada dimana?" suara Zayn menggema tepat di telinga Falery. Entah mengapa, kini nada yang ditinggalkan pria itu membuat Falery berfikir ada yang aneh dengan kakak angkatnya.


"Aku berangkat kerja kak" kata Falery pada sang kakak yang berada jauh disebrang sana.


"Baiklah, akan aku jemput."


Tubuh Falery yang sebelumnya tenang, kini mulai bergetar dengan pandangannya yang mengarah pada jalanan.


"Tidak perlu, aku berangkat sendiri saja, lagi pula sebentar lagi bus ku akan datang" kata Reyna mengelak.


"Baiklah, kalau begitu aku jemput siang, kita makan siang bersama ya" lanjut Zayn membuat gadis itu mendengus.


Falery membelalakkan matanya. Antara bingung harus menolak dengan cara apa.


"Ah, i, iya kak."


Tiba-tiba saja, kendaraan umum yang ia tunggu kini telah sampai didepan matanya, yang melaju dari arah utara untuk menjemput orang-orang yang kini tengah menunggu kehadirannya.


"Sudah dulu kak, aku berangkat dulu, bus ku sudah tiba," ucap Falery sembari menutup ponselnya.


***


Sebuah nafas berat, berhembus keras disebuah ruang direktur perusahaan G-Force. Pandangan pria itu mengarah pada pemandangan diatas gedung setinggi ratusan kaki.


Ia menatap sebuah foto yang berada di tangannya. Sebuah foto yang memperlihatkan gadis cantik tengah bersua foto dengannya.


Falery memeluk lehernya dan mencium pipinya tepat kala sebelum semua ini terjadi.


"Aku sudah menantikan ingatan mu untuk kembali Falery, aku fikir dengan membuatmu bahagia untuk memilih jalan mu bersama Alfian dan melihat sifat aslinya kau akan menorehkan cintamu padaku. Tapi ternyata aku kecewa, saat kau katakan bahwa cinta mu hanya untuk Yasya."


Pandangannya sendu, bagai duri yang menusuk hatinya.


Selama ini Zayn selalu menyembunyikan perasaannya. Perasaan terlarang yang ia miliki untuk adik angkatnya, meskipun sebelumnya ia sangat membenci Falery karena kejadian yang menimpa Thomas.


Tapi perasaan itu tak mudah hilang begitu saja. Setelah mendengar semuanya, mendengar kenyataan bahwa Falery bukanlah orang yang seperti itu, ia baru menyadari betapa pentingnya Falery dalam hidupnya.


Reyna yang hidup sebagai Falery. Ia bahkan rela meyakinkan ayah dan ibunya untuk mengadopsi Reyna, agar dirinya bisa dekat dengannya. Meskipun hanya sebatas kakak, tapi selama ini ia sebisa mungkin melindungi Falery, demi semangat hidupnya, demi melupakan masalah yang ada, dan menumbuhkan rasa cinta untuknya.


"Bahkan saat aku mencoba untuk menanggung tanggung jawab untukmu kau menolak semua itu, aku tidak bisa mengatakannya Fay, bagaimana selama ini aku tersiksa berpura-pura bahagia untuk menutupi kerapuhan ku."


Zayn memijit pelipisnya. Ia mengusap kasar wajahnya, sorot matanya tak pernah lepas dari bayang-bayang Falery.


Kesalahpahaman yang ia lalui selama ini karena Grace.


"Seandainya, waktu bisa berputar kembali, dan ini semua tidak terjadi, dan jika aku juga tau kau sudah mengingat segalanya, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Fay" gumamnya dengan penyesalan yang tak berarti lagi.


***


tap tap tap....


Suara langkah Falery yang berjalan menuju ruang manager membuatnya semakin gugup.


Ia mengeratkan jemarinya, seolah heran dan takut jika terjadi kesalahan perihal pekerjaannya.


ceklek....


Gadis itu menelan salivanya kala dirinya tengah sampai diruang manager. Tantapan dingin seperti menghunus jantungnya kala Michael duduk dan melipat kedua tangannya menatap lurus sorot matanya yang datar.


glek....


Falery semakin gugup, dengan kacamata yang sedikit bergoyang oleh getaran yang ia rasakan.


"A, ada apa bos?" tanya Falery dengan perasaannya yang tak menentu.


Tiba-tiba saja Michael yang sebelumnya duduk kini beralih bangkit dan melangkah mendekati Falery.


Falery yang bingung hanya bisa terdiam dengan pandangannya yang bertanya-tanya.


"Mulai besok, kau berhenti menjadi dokter."


Tiba-tiba saja mata gadis itu membelalak dengan degup jantungnya yang semakin berlari kencang. Ada rasa tak menyangka jika ia akan dipecat, mengingat tiada masalah yang ia lakukan selama menjadi seorang dokter.


"Siapa bilang kau dipecat? mulai besok, kau akan menjadi asisten pribadi ku" kata Michael dengan nada tegas.


ceklek....


Suara terbukanya pintu dan terkejutnya Lilia menjadi saksi bisu kemurungan yang dialami Falery kala itu.


"Fay, bagaimana?" tanya Lilia dengan pandangannya yang begitu cemas melihat ekspresi sahabatnya yang kini baru saja keluar dari ruang manager.


Falery melepas kacamatanya, ia mengusap wajahnya seraya duduk disamping ruang tunggu bersama Lilia.


"Lebih buruk dari apa yang difikirkan" kata Falery dengan nadanya yang begitu lemah.


"Apa?!! jadi kau dipecat?" ujar Lilia dengan pandangannya yang begitu terkejut


Falery menggeleng, gadis itu menyandarkan punggungnya di kursi melenguh kasar sambil menampakkan wajah kecewa.


"Aku sekarang bukan dokter lagi, manager memintaku untuk menjadi asisten pribadinya"


"Untunglah ku kira kau akan dipecat" ujar Lilia yang kini bisa bernafas lega.


Falery memalingkan wajahnya, ia bangkit dan melangkah tanpa memperdulikan Lilia yang kini menatapnya dengan tatapan bertanya.


"Fay, kau mau kemana? tunggu aku" kata Lilia dengan menyusul sang sahabat.


Gadis itu memasuki ruangan pribadinya. Ia mengusap rambutnya yang kini tergerai indah.


Pandangannya kabur bersamaan dengan kacamata yang ia lepas.


"Ada apa dengan semua ini? kenapa aku merasa hari-hari ku semakin buruk, Tuhan... ujian apa lagi yang akan kau berikan padaku."


Falery menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya yang berada diatas meja.


Rasanya begitu berat meninggalkan anak-anak yang terlanjur ia sayangi. Terlebih penyemangat dia hanyalah tentang mimpi anak-anak itu.


Tak disangka, masalah seperti datang bertubi-tubi padanya.


Sebuah belaian menyentuh puncak kepalanya, membuat Falery menengadahkan pandangannya, menatap seseorang yang asing untuknya.


Ia memakai kacamata yang berada disampingnya.


"Bo... bos" kata gadis itu dengan perasaannya yang begitu gugup.


"Mau ikut bersama ku?" tanya Michael.


Falery mengernyitkan keningnya, ia merasa ragu untuk menjawab apa.


***


tok tok tok....


"Masuk!" suara ketukan pintu menggema diruangan Zayn, terlihat pria itu masih fokus dalam pekerjaannya yang belum rampung.


Ia menatap sekilas wanita yang kini berjalan kearahnya,dan seketika ia menghentikan aktivitasnya.


"Ada apa Zayn? kenapa kau menelfon?" suara familiar yang begitu ia dengar membuat pria itu meremas kedua tangannya sendiri.


Zayn menyeringai, tatapannya tajam dengan senyuman yang tersungging.


Ia bangkit dan melemparkan foto dirinya dengan Falery.


Prankkkkkk


"AH! ZAYN! APA KAU SUDAH GILA!" teriak Grace dengan histeris.


"Aku tanya padamu, apa kau menemuinya?!" teriak Zayn membuat Grace tersentak.


"Si... siapa maksudmu?" tanyanya lagi dengan tubuhnya yang bergetar.


"Jangan pura-pura bodoh Grace, aku sudah memperingatkan, tidak ada yang boleh menemuinya dengan alasan apapun."


Teriak Zayn dengan wajahnya yang memerah dan juga tampangnya yang begitu garang.


"Fa, Falery?!" ujarnya dengan perasaan gugup.


"Aku tau, saat kau menemuinya! JAWAB AKU... KENAPA KAU MENEMUINYA!" teriak Zayn lagi dengan pandangan tajamnya.


Grace mundur beberapa langkah, ia tak menyangka begitu bencinya Zayn terhadap Falery. Ia tak menyangka perbuatan yang selama ini ia lakukan akan berakibat fatal dan sangat membuat Zayn terlalu membencinya.


"Zayn! jangan pernah membenci Falery, dia tidak salah, seharusnya aku yang kau benci bukan dia" Grace menutup mulutnya. Ia mulai meneteskan air mata kala Zayn menatapnya dengan tajam.


"HAHAHAHA, akhirnya, akhirnya kau mengakuinya Grace. Kau tau, aku sangat membencimu! gara-gara kau, Falery hampir mati, gara-gara kau juga daddy telah pergi untuk selamanya! kau memang iblis Grace! kau tega membuat Falery mengalami trauma, kau yang menyebabkan semua ini" ucap Zayn dengan tatapan bencinya.


Grace berlutut, ia tak berdaya dengan apa yang dikatakan Zayn padanya.


'Jadi, Zayn sudah tau semuanya?' ungkapnya dalam hati.


Tak terasa air mata merembes melalui sudut matanya semakin deras ia rasakan. Tubuhnya bergetar seiring dengan kemarahan Zayn yang kini mulai membanting dokumen, dan juga komputer.


"Hiks, Zayn hentikan! hentikan Zayn!" Grace menarik tubuh Zayn yang kini mulai menunjukkan amarahnya yang begitu menakutkan.


Ia tak perduli apapun saat ini. Seharusnya dari dulu ia mengakui segalanya. Seharusnya dulu ia tak melakukan kebodohan demi egonya sendiri.



Zayn Gilbert