The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Tak pantas



Mobil Yasya memasuki pekarangan rumahnya. Ia tampak keluar dari mobil itu dengan tatapan malas, meskipun sebelumnya Syahbila telah mengatakan padanya untuk menjalin pertemanan, mungkin disisi lain Yasya juga masih memikirkan gadisnya yang kini entah berada dimana.


"Om Adi ada dirumah Sya?" pertanyaan itu membuat Yasya menoleh seraya membawa kedua bungkusan ditangannya tersebut.


"Nggak tau juga, masuk dulu aja gih" kata Yasya seraya melangkahkan kakinya memasuki rumah besarnya itu. Kini langkah mereka saling berdekatan, mungkin sudah lama Syahbila tidak datang ketempat itu. Asing namun begitu terkenang dalam hatinya, dulu ia sempat merasakan bagaimana indahnya pertunangan bersama orang yang paling ia cintai.


Langkah Yasya tiba-tiba terhenti begitu saja tatkala mata Reyna kini menelisik menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Reyna yang sedari tadi ternyata duduk disana menunggu keberadaan Yasya kini dikejutkan oleh sosok familiar yang berdiri berdampingan dengan Yasya.


"Sayang, kamu" perkataan Yasya terputus seketika melihat Reyna yang tiba-tiba bangkit. Berbeda halnya dengan ekspresi keduanya, kini bahkan Syahbila merasa tak percaya dengan apa yang ia lihat. Reyna yang dulu telah meninggal, kini datang dan ternyata kenyataannya ia masih hidup selama ini.


Syahbila semakin tak mengerti, dan ia baru saja menyadari bahwa Yasya baru saja memanggil Reyna dengan sebutan 'sayang'. Sebuah kata yang yang dulunya terlontar untuknya, kini mendadak menjadi milik orang lain.


Reyna melangkahkan kakinya, ia meremas tali tas yang melingkar dilengannya seraya menatap kedua orang dihadapannya dengan pandangan kecewa. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca, ia tak bisa menahannya lagi.


"Maaf, kayanya aku ganggu deh. Kalian lanjutin aja, aku permisi" kata Reyna yang kini melewati tubuh Yasya, membuat pria itu seketika menjatuhkan kedua bungkusan ditangannya seraya berusaha meraih lengan Reyna. Namun usahanya gagal kala Reyna bergerak lebih cepat darinya.


"Reyna, dengerin aku dulu" kata Yasya yang kini mencoba untuk mengejar gadisnya. Namun Reyna masih tak mau menatap Yasya, ia terus saja melangkah, menjauh meninggalkan pekarangan rumah Yasya. Secepat kilat Reyna menghentikan taksi dan segera memasukinya sebelum Yasya berhasil mengejarnya.


"Reyna! kamu dengerin aku dulu sayang" teriak Yasya yang kini seperti tiada gunanya. Gadis itu kini telah jauh dari jangkauannya. Bahkan Reyna tak kuasa jika harus menatap Yasya yang kini berusaha keras untuk mengejarnya. Reyna menangis didalam mobil itu, ia meneteskan air mata tanpa bersuara.


Flashback on.


Ingatan gadis itu kembali, tatakala dirinya tiba-tiba berada disebuah jalan dan merasakan sakit pada perutnya. Reyna baru menyadari bahwa dirinya lupa akan sesuatu dan ia baru mengetahui akan Falery yang baru saja menguasai dirinya kembali.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, gadis itu seperti melihat mobil Yasya. Ia melangkahkan kakinya perlahan karena perutnya terasa sakit, seraya mengotak-atik ponselnya dan ternyata ia mendapati pesan dan juga panggilan dari Yasya yang begitu amat banyak membuat gadis itu tercengang.


Reyna hendak melangkahkan kakinya, namun samar-samar ia melihat sosok wanita yang memeluk Yasya dari arah samping. Sedangkan posisi Reyna kini berada disebrang jalan, tampak samar-samar perempuan dengan rambut yang bergelombang itu menarik lengan Yasya membuat hati Reyna teriris.


Reyna menelan salivanya, ia hendak menegarkan hatinya dan melangkah lagi, memastikan apakah itu adalah Yasya atau hanya sekedar orang yang mirip dengannya saja. Namun belum sempat gadis itu sampai disana, laju mobil itu tiba-tiba saja membuat Reyna memperhatikan secara teliti plat nomor yang benar adalah milik Yasya.


Reyna segera memesan ojek, ia tak ingin didahului oleh Yasya, demi memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Sampai akhirnya Reyna sampai duluan dirumah pria itu dan mendapati mereka berdua.


Reyna kini memeluk tubuhnya sendiri, bahkan hawa dingin yang seharusnya tak terasa pada udara ibukota yang begitu panas, entah mengapa kini merasuk dalam tubuhnya, seoalah hari mengerti bagaimana sakitnya menjadi seorang Reyna.


'Sya, aku cemburu Sya, aku liat pakek mata kepala aku sendiri kalau kamu pelukan sama Syahbila. Aku pengen tau kejelasannya, tapi mengingat aku yang sekarang ini sakit dalam pengaruh Falery, entah kenapa Sya, aku rasanya pengen jauh dari kamu' gumam Reyna dalam batinnya seraya menitikkan air matanya tiada henti.


Baginya Yasya terlalu sempurna untuknya, seorang pria kaya raya yang begitu tampan menawan. Hanya bisa mendapatkan gadis dengan keterbelakangan mental seperti seorang Falery. Mau apapun penyakitnya jika itu tentang psikologi, apa kata orang nanti jika Yasya akan bersama dengannya. Ditambah lagi, kepribadiannya takkan mudah sembuh seperti penyakit pada umumnya.


***


Yasya kini kembali, tatapannya murung dengan langkahnya yang begitu lunglai. Belum sempat ia naik keteras rumahnya, namun lagi-lagi Syahbila kini berdiri dihadapannya dan menatap Yasya dengan pandangan prihatin.


"Meskipun aku nggak tau apa yang terjadi, tapi aku bisa ngerti. Maafin aku Sya, gara-gara aku, dia jadi salah faham" kata Syahbila yang kini mendapat tatapan datar dari Yasya yang tengah dirundung frustrasi.


"Kamu harus kejar dia Sya, aku yakin kalo kamu jelasin ke dia, dia pasti bakal ngerti. Kalian saling sayang kan?" kata Syahbila membuat tatapan Yasya kini berubah menjadi sedikit ada harapan disana.


"Kalo gitu, Bil, maafin aku, aku harus pergi sekarang" segera setelah itu Yasya memasuki mobilnya kembali. Ia buru-buru menghidupkan mobilnya setelah Syahbila tersenyum seraya mengangguk menatapnya.


Perlahan kendaraan Yasya meninggalkan rumah tersebut. Meninggalkan Syahbila yang kini tersenyum nanar. Walau bagaimanapun ia masih memiliki perasaan terhadap Yasya, namun ia ingat satu hal, perasaan tidak bisa dipaksakan. Begitupun dengan hati Yasya yang ternyata hanya milik Reyna seutuhnya.


Meskipun ada segudang pertanyaan yang ada dibenaknya, namun Syahbila menyadari satu hal yang membuat hatinya sedikit tenang. Ia akhirnya bisa merelakan Yasya dengan perasaan bangga.


Mungkin hadirnya hanyalah sebuah takdir sementara sebelum Yasya menemukan cinta sejatinya. Syahbila tanpa sadar menitikkan air matanya, entah merasa sedih atau bahagia. Mungkin sedikit cemburu.


Sedangkan dalam perjalanannya, Reyna mengusap air matanya tatakala dirinya telah sampai ditempat tujuan. Ia buru-buru menghapus air matanya sebelum memberikan ongkos untuk sang supir.


"Makasih pak" ujarnya, kemudian turun dari mobil itu dengan perasaannya yang masih berlarut-larut. Ia melangkahkan kakinya kembali, dengan tubuhnya yang masih terasa bergetar. Langkahnya seperti berat, namun ia tak ingin menemui Yasya terlebih dahulu. Perasaannya menyadarkannya bahwa dia tak pantas untuk pria itu muncul kembali.


Perlahan Reyna mendongak, ia menatap langit yang begitu cerah bertabur bintang. Ia menghela nafasnya dan menghembuskannya kembali sebelum akhirnya ia melangkah untuk mengetuk sebuah pintu dihadapannya.