The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Malam yang hangat



"Yasya," suara Reyna yang tiba-tiba membuat gerakan wajah pria itu yang hampir mengecup bibir Reyna terhenti. Terlihat wajah pria itu kini berubah menjadi kesal membuat Reyna terkekeh.


"Apa?" tanya Yasya ketus, membuat Reyna tak bisa menahan tawanya lagi.


"Kita belum makan malam loh, hehehe aku udah siapin dessert buat kita makan" seru Reyna membuat pria dihadapannya memutar bola matanya dan mengangguk patuh.


"Ayo ah, kamu pasti laper kan" kata Reyna seraya memeluk lengan pria itu dengan lembut dan mengajaknya ke ruang makan.


Terlihat ditengah meja cheesecake dengan toping blueberry diatasnya membuat siapa saja pasti tak bisa menahan dan membayangkan bagaimana manisnya cheesecake tersebut.


"Sayang, kamu tau aja selera aku" kata Yasya yang kini mengacak rambut Reyna dan beralih duduk hendak menyambut makanan dihadapannya. Reyna dengan lihai memotong cheesecake tersebut dan ia berikan pada Yasya.


"Terimakasih" ujar Yasya yang kini tersenyum pada Reyna yang tengah berdiri dihadapannya. Pria itu semakin terpesona oleh kecantikan gadis itu yang begitu alami, bahkan tanpa makeup sekalipun Reyna bak bidadari yang sengaja Tuhan berikan untuknya.


Hidung kecil yang bangir, mata lebar dan pipi yang kemerah-merahan alami membuat pria mana saja pasti akan jatuh cinta pada Reyna.


Ketika ia melihat Reyna dulu sewaktu masih sekolah, ia masih seperti anak-anak. Namun sekarang pemandangan ini seperti sebuah keindahan yang sangat rugi jika tidak ia nikmati. Reyna yang tumbuh dewasa, dengan wajahnya yang masih sama namun lebih dewasa dari sebelumnya membuat gadis itu tampak matang untuk Yasya.


Reyna beralih duduk dihadapan Yasya, ia bahkan tak menyadari sepasang mata tengah memperhatikannya dengan senyuman sedari tadi. Gadis itu mengunyah dessert yang baru saja ia potong.


"Yasya, kamu tau nggak ini sengaja aku pesan buat, ka-mu" kata Reyna terbata setelah ia memergoki Yasya yang kini menahan kepalanya diatas meja seraya menatapnya dengan senyuman.


"Yasya sayang" kata Reyna yang kini tersenyum seraya menahan kepalanya menggunakan satu tangan yang ia tahan diatas meja membuat pria dihadapannya tertegun dan terperanjat seketika.


"Panggil aku lagi dong" kata Yasya dengan nada sok imutnya membuat Reyna membulatkan matanya seraya beralih kearah cheese yang ia kuyah, dan tiba-tiba saja Yasya menarik dagu gadis itu dan mengecup bibirnya.


Reyna seketika tepaku, ia merasakan hangat meski chess yang ia makan terasa dingin di mulutnya, matanya memejam dan seketika Yasya menelan cheese dari mulut Reyna yang baru saja dikunyah oleh gadis itu.


"Makin manis" kata Yasya membuat Reyna masih terpaku dengan tatapannya yang terkunci pada sosok Yasya yang kini mengerlingkan sebelah matanya.


Reyna tersenyum, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia masih tak menyangka dengan apa yang barusan Yasya lakukan padanya. Rasanya seperti ada kupu-kupu melayang diperutnya.


"Suapin aku dong sayang" bujuk Yasya yang kini menatap Reyna dengan senyuman andalannya dan penuh manja itu. Gadis itu dengan senang hati menyuapi pria dihadapannya, namun gerakan Reyna terhenti kala Yasya menggeleng.


"Katanya mau disuapin?" tanya Reyna yang kini mulai menghela nafasnya. Ia tak tau lagi apa yang hendak dilakukan oleh pria dihadapannya, sifat nakal dan manjanya itu selalu muncul sejak mereka berjalan-jalan tadi. Namun Reyna sendiri tak dapat memungkiri bahwa Yasya memanglah pria yang sangat hangat dan penuh kelembutan.


"Pakek ini" seru Yasya seraya menyentuh bibir Reyna, seketika wajah gadis itu merona. Tak ingin mengalah, gadis itu memutar bola matanya dan membuang muka.


"Nggak mau! makan atau aku tinggal tidur" kata Reyna dengan kesal membuat Yasya mengerucutkan bibirnya dengan manja.


"Yah, padahal kan aku cuma pengen mesra" Reyna seolah tak menggubris perkataan dari pria itu, meskipun sebenarnya ia sedikit menahan tawanya karena perilaku Yasya yang tidak seperti biasanya.


Malam semakin larut, gadis itu merapihkan tempat tidurnya dan hendak bersiap untuk tidur. Tiba-tiba saja sepasang tangan memeluknya dari belakang, gadis itu tersentak dan menghentikan aktivitasnya seketika.


Pria itu menahan dagunya diatas pundak gadis itu, hingga nafasnya terdengar jelas tepat ditelinga Reyna. Ia juga mencium leher jenjang Reyna membuat Reyna merinding.


"Aku nggak akan pulang, aku mau tidur disini" seketika wajah Reyna memerah dengan matanya yang membulat.


"Yasya! masa kamu pulang dari luar negeri nggak langsung pulang kerumah sih, emang kamu nggak dicariin?" tanya gadis itu yang madih terdiam dengan pelukan Yasya yang masih bertahan.


"Enggak kok, aku mau berduaan sama kamu."


"Tapi kita belum muhrim Sya, lagian apartemen aku cuma punya satu kamar" kata Reyna yang kini mulai melepaskan pelukan pria itu dari pinggangnya dan beralih duduk di tepi ranjang menatap pria yang kini masih tersenyum dengan santainya.


"Ya udah, kamu tidur disini aja, aku mau tidur di sofa depan" kata Reyna seraya memijit pelipisnya. Reyna semakin tak mengerti dengan sikap Yasya, ia hanya takut perbuatan mereka melewati batas mengingat Yasya yang selalu agresif terhadapnya.


Reyna kini bangkit tanpa mau menatap wajah Yasya yang kini masih tersenyum menatap gadis itu, Reyna meraih bantal dan selimut untuk ia bawa keluar kamar. Sedang Yasya hanya terdiam seraya masih tersenyum menatap tingkah Reyna yang kini mulai marah padanya.


Reyna melangkahkan kakinya keluar kamar, ia bersiap untuk memejamkan matanya tatkala melihat pintu kamarnya yang masih terbuka. Tak perduli dengan apa yang pria itu lakukan, jalan-jalan seharian membuat tenaganya terkuras.


'Nggak peka banget sih, dari tadi cuma senyam-senyum sendiri, terus aku dibiarin gitu aja buat tidur disini. Dasar cowok nggak punya perasaan' ujar Reyna dalam hatinya seraya menggerutu pelan.


Ia kini tak memperdulikan hal lain, tatapannya mulai menghitam dan kantuk seperti menerjang tubuhnya.


Namun, belum sempat gadis itu terlelap sebuah tangan kekar menggendong tubuhnya ala bridal style, tatapannya mengarah pada Yasya yang kini menatapnya dengan senyuman khasnya.


"Yasya! kamu mau bawa aku kemana?" ujar Reyna yang kini masih terkejut dalam dekapan Yasya. Pria itu menggendong tubuh Reyna menuju kamarnya.


"Mana mungkin aku biarin calon istri aku buat tidur di luar, aku nggak mau tau kamu harus tidur sama aku dikamar" kata Yasya yang kini meletakkan tubuh Reyna dengan lembut diatas ranjangnya.


Gadis itu menelan salivanya kala Yasya mendekatkan wajahnya, perlahan pria itu mencium bibir Reyna dengan lembut membuat gadis itu merasakan kehangatan.


Yasya kini masih bertahan berdiri ditepi ranjang seraya menunduk untuk memudahkan gerakannya.


Setelah beberapa menit berlalu, pria itu menghentikan ciumannya pada Reyna, dan gadis itu beralih duduk untuk menyeimbangkan nafasnya yang hampir saja habis.


Kini Yasya beralih menatap kedua paha Reyna yang putih mulus tanpa ada cacat disana. Ia menelan salivanya dengan kasar, hasrat yang ia tahan sedari tadi seperti memberontak melawan hatinya.


Pria itu kemudian beralih melepaskan kaos putih yang membungkus tubuhnya dan memperlihatkan dada bidang pria itu, membuat Reyna terkejut setengah mati.


Mata gadis itu terperanjat kala Yasya kini terlihat bertelanjang dada dan menatapnya intens seperti tak kuasa menahan gairah. Pria itu perlahan naik keranjang Reyna dan menindih tubuh gadis itu. Tatapannya terkunci pada Reyna yang nampak cantik dengan rambutnya yang tergerai.


Pria itu beralih mendekat, dan meraih tangan Reyna untuk menyentuh dada bidangnya. Setelah Reyna menyentuh dada bidang pria itu, Yasya langsung mencium leher gadis itu membuat Reyna menggelinjang.