The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Nasi bungkus



Reyhan kini melangkahkan kakinya keluar dari gedung perkantoran itu, ia memilih untuk cepat pergi dari tempat itu sebelum Reyna maupun Zayn mengenalinya.


Ia berinisiatif untuk pergi ke warung makan terdekat, biasanya jika ia pulang dari kantor atau dari luar, ia akan membeli sebungkus makanan penuh untuk ayahnya. Namun kali ini kadar keuangannya semakin menurun, ia juga telah menjual mobil kesayangannya demi menghemat pengeluaran. Tak hanya itu, kini Reyhan yang semula membelikan ayahnya makanan yang lumayan mewah, sekarang ia hanya bisa membeli nasi bungkus dari warteg murahan.


"Berapa buk?" tanya pria itu yang kini mengambil bungkusan putih berisi nasi bungkus untuk dirinya dan sang ayah.


"Empat puluh ribu aja mas" jawab ibu-ibu warteg itu membuat Reyhan menyodorkan uang lima puluh ribuan untuk diberikan pada sang penjual. Setelah ia mendapatkan makanan, Reyhan bergegas kembali kerumahnya. Bahkan untuk kendaraan saja ia tak berani mengeluarkan banyak ongkos, jadilah kini ia menaiki sebuah bus yang biayanya cukup terjangkau daripada harus naik taksi.


Bau kendaraan menyengat di hidung pria tampan itu, ia tak biasa naik bus yang padat seperti ini. Untungnya saja ia tak membawa tas jadi ia tidak kesulitan untuk membawa barang.


'Kayanya harus beli motor deh, biar nggak kaya gini terus' batin Reyhan yang kini menahan sesak didalam kendaraan tersebut.


Sesampainya dirumah Reyhan baru bisa menghela nafas lega, maklum tidak terbiasa. Reyhan memasuki rumahnya, ia tersenyum pada sang ayah yang kini tengah membaca buku ensiklopedia seraya duduk di ruang tamu. Kini pria itu ikut duduk berhadapan dengan sang ayah, ia meletakkan bungkusan nasi tersebut dihadapan Reynaldi.


"Cuma nasi bungkus pa" kata Reyhan seraya menahan dagunya dimeja. Reynaldi hanya bisa menggeleng, baginya apa yang diberikan oleh anaknya adalah rejeki yang tidak boleh disepelekan begitu saja, mengingat yang bisa ia lakukan hanyalah menunggu Reyhan untuk pulang dari pekerjaannya.


"Jangan bilang cuma, ini rejeki. Kamu bawa pulang cuma kerupuk sama sambel, papa pasti makan kok" kata Reynaldi seraya membuka bungkusan itu.


Reyhan hanya bisa tersenyum tipis, sebenarnya ia ingin memberikan lebih pada papanya. Ia ingin membuat hari tua Reynaldi jauh lebih berarti, mungkin memang benar apa kata papanya, bahwa kita tidak boleh meremehkan makanan hanya karena kita tidak terbiasa makan makanan yang seperti itu. Tapi dalam benaknya, hatinya seperti teriris kala Reynaldi menyantap makanan dihadapannya.


Sepotong paha ayam panggang dan juga sayur pakcoy kesukaan Reynaldi. Meskipun terlihat nikmat kala pria itu menyantap makanannya, namun Reyhan hanya bisa meringis tatakala mengingat nasibnya yang berubah 360° dari sebelumnya.


"Gimana interview kamu Rey? lancar?" pertanyaan itu membuat Reyhan mengangguk seraya tersenyum pada sang ayah.


"Lancar kok pa, Reyhan diterima."


"Bagus, setelah itu kamu harus cari mantu buat papa, biar kamu nggak kesepian terus" perkataan Reynaldi sontak membuat Reyhan memutar bola matanya malas.


"Buat apa cari pasangan kalo Reyhan udah ada papa, lagian Reyhan belum ada rencana."


"Kamu nggak akan tau, kalo kamu nggak niat nikah mending taruh papa di panti jompo. Papa nggak mau jadi beban buat kamu seumur hidup, sedangkan kamu nggak ada kesempatan buat bahagia."


"Papa nih ngomong apa sih! nggak usah ngaco deh, aku nggak mau taruh papa di panti jompo, aku juga udah bahagia kok sama papa" kata Reyhan tegas membuat Reynaldi sejenak menghentikan aktivitasnya makannya. Pria itu menatap putranya dengan tajam.


"Bukan bahagia itu yang papa maksud, kamu bakal nyesel kalo kamu nggak nikah Rey, papa udah peringati kamu, kalo sampek kamu nggak nikah, buat apa papa hidup. Kenyataannya papa nggak bisa liat anak papa satu-satunya punya keluarga" kata Reynaldi seraya bangkit meninggalkan Reyhan yang kini menghela nafas beratnya.


***


Malam menjelang, membuat Reyna yang lelah seharian menatap layar laptop dihadapannya merasakan pusing yang luar biasa. Gadis itu akhirnya daoat menyelesaikan pekerjaannya meskipun tak secepat yang ia kira. Yang jelas kini tubuh Reyna terasa remuk, akibat lelah fisik maupun fikiran.


"Mau pulang bareng?" pertanyaan dari Zayn membuat Reyna tanpa ragu mengangguk seraya tersenyum mengisyaratkan persetujuan dari gadis itu.


Kini langkah Reyna dan Zayn menuju basemen, mereka hendak kembali ke rumah. Seraya berjalan santai Zayn dan Reyna berbincang-bincang mengenai perkejaan, hitung-hitung menambah wawasan Reyna yang baru saja menginjakkan kakinya lewat bisnis yang ia jalani demi meneruskan perusahaan Mamanya.


"Kak sebentar, ada chat kayanya" ujar Reyna seraya merogoh tasnya sebelum ia naik kedalam mobil hitam tersebut.


"Dari siapa Rey?" Reyna menepuk jidatnya. Pasalnya ia hampir lupa jika malam ini harusnya ia makan malam bersama Yasya.


"Aku lupa kak, aku ada janji sama Yasya buat makan malam" kata Reyna yang kini mengerutkan keningnya. Dengan senyum tulus Zayn mengangguk seraya mempersilahkan Reyna untuk masuk kedalam mobilnya.


"Kan ada kakak, aku anterin sampe tempat kalian janjian" kata Zayn membuat mata Reyna kini berbinar dan tersenyum hangat oada kakak angkatnya itu.


Sesampainya di sebuah restoran, gadis itu bergegas untuk memasuki restoran yang telah mereka sepakati. Kini gadis itu memasuki restoran bernuansa klasik itu, ia mencari keberadaan seseorang yang tak kunjung ia temukan lewat pandangannya.


"Nona Reyna Malik?" tanya seorang wanita yang kini bisa Reyna tebak ia adalah seorang pelayan ditempat restoran tersebut.


"Iya, saya Reyna" kata Reyna membuat sang pelayan tersenyum seraya memberi hormat. Reyna semakin tak mengerti, ia bahkan belum menemukan batang hidung Yasya sama sekali.


"Mari ikuti saya, meja anda disebelah sini" kata pelayan itu membuat Reyna mengikuti langkahnya. Kini gadis itu duduk tepat menghadap pada panggung didepannya.


Gadis itu tampak menunggu seseorang yang kini tak kunjung datang, bibirnya mendadak mengerucut dengan tangannya yang bersedekap dada. Padahal jelas tertulis di pesannya bahwa Yasya sudah menunggunya.


"Hay" suara asing seorang wanita membuat Reyna menoleh seketika. Ia mendongak menatap Syahbila yang tiba-tiba duduk berhadapan dengan Reyna. Wajah Reyna semakin ditekuk, ia hendak bangkit namun lengannya dicekal oleh wanita itu.


'Astaga! kenapa Yasya bersikap kaya gini, bukannya dia pengen ketemu aku, tapi kenapa yang datang malah Syahbila' kata Reyna dalam batinnya.


"Aku mohon Rey, kamu duduk dulu, ada yang perlu aku jelasin ke kamu dan ini penting. Penting buat kamu dan juga Yasya" kata wanita itu membuat Reyna beralih duduk namun masih bertahan untuk membuang muka.


"Kenapa Yasya nggak dateng? dan kenapa malah kamu yang ada disin?" pertanyaan itu membuat Syahbila menggeleng, ia masih berharap Reyna bisa tenang dan mengontrol emosinya sesaat.


"Kamu nggak perlu tau itu, yang paling penting kamu harus dengerin penjelasan aku dulu."


"Aku perlu tau, karena yang ngajak aku kesini itu Yasya, bukan orang lain. Kalau memang dia nggak niat ketemu sama aku, mendingan aku pergi dari sini, aku masih banyak urusan" kata Reyna seraya bangkit. Langkah gadis itu dengan kesal melangkah menuju pintu keluar, namun belum sempat ia sampai di ambang pintu langkah Reyna tiba-tiba terhenti tatkala mendengar suara indah yang kini memanggil namanya.


"Reyna Sayang" ujar seorang pria dengan suaranya yang memenuhi seluruh ruangan restoran. Bahkan bukan hanya Reyna yang kini terpaku namun seluruh pengunjung kini terkejut oleh aksi Yasya yang berdiri di atas panggung.