
"Dad... aku sangat merindukanmu" ucap gadis itu dengan air mata yang menggenang dipipinya serta pelukan erat yang enggan ia lepas dari sang ayah.
"Falery" suara itu membuat gadis berusia 21 tahun itu mengangkat pandangannya dan dilihatnya Zayn, Ajeng dan juga Alan yang tepat dibelakang sang ayah.
Falery melepas pelukannya, wajahnya tak bisa berhenti untuk tersenyum sambil mengeluarkan air mata bahagia.
"Mommy, kak Zayn" Falery berlari menghampiri sang kakak dan juga mommy nya yang kini ia peluk bersamaan. Banyak dari teman-teman gadis itu yang terharu bahkan mengeluarkan air mata, termasuk Sarah dan juga Grace.
Seorang pria kini berdiri jauh dibelakang para mahasiswa yang akan menerima gelarnya hari ini. Dibelakangnya sebuket bunga cantik berwarna merah yang khusus dihaturkan untuk gadis yang kini tengah tersenyum di depan sana.
prokkk prokk prokk prokk prokk prokk....
Suara tepuk tangan masih terdengar sepeninggal Ajeng dan juga Zayn yang kini meninggalkan podium, menyisakan Thomas dan Falery.
"Terimakasih untuk semuanya" suara isakan masih terdengar walau pelan dari gadis yang kini berdiri bersama sang ayah, membuat gadis itu melemparkan pandangannya pada semua orang dibawah sana.
Pandangan pria itu dengannya kini tak sengaja bertemu, membuat Falery tersenyum mengembang, begitupun sang pria yang kini merasakan rasa bahagia dihatinya.
"Reyna... kali ini, aku takkan melepaskan mu, jantung ku berdetak karena mu, ini adalah sebuah kesempatan yang takkan pernah aku sia-siakan lagi dalam hidupku" ucap Yasya dengan semangat sambil dengan perlahan dirinya melangkah maju.
Gadis itu masih tak bisa mengalihkan pandangannya pada Yasya yang kini mendekat kearahnya, hatinya semakin berdebar ketika Yasya kini hampir mendekati podium.
"Falery... daddy punya kejutan untukmu."
Bisik sang ayah membuat Falery salah tingkah.
"Apa dad?" Thomas mengisyaratkan sesuatu pada pria yang berada didepannya, membuat Falery semakin tak bisa menahan rona merah dipipi cantiknya yang kini pandangannya tak bisa lepas dari Yasya yang berdiri dengan tersenyum padanya juga.
Yasya hendak melangkah lagi, namun belum sempat pria itu melangkah, tubuh besar pria didepannya yang baru keluar dari samping ruangan menghalangi pandangannya, membuat pria itu berhenti seketika.
Pria itu segera melangkah sambil membawa buket mawar besar berwarna merah muda, mendekat kearah podium dimana Falery berdiri bersama sang ayah. Mendadak pandangan gadis itu berubah begitu datangnya pria yang tak asing baginya.
"Alfian?! apa yang dia lakukan disini? gumam Yasya yang kini menatap benci pada pria yang berhasil berdiri disamping gadis pujaannya itu.
Falery merasa bingung, tatapannya sayu mengarah pada Yasya yang kali ini menahan amarahnya.
Alfian tersenyum sambil menyentuh jemari Falery yang kini dibuat lemas oleh kehadirannya.
prokkk prokk prokk prokk...
Suara siulan beserta sorakan ramai dari orang-orang disekitarnya bahkan tak dipedulikan lagi oleh Falery.
"Falery Gilbert, aku kesini untuk memenuhi janji yang pernah aku buat sebelumnya untukmu, kita sudah mengetahui perasaan satu sama lain, dan untuk itu didepan semua orang dan juga orang tua mu, aku akan menunjukkan betapa seriusnya aku padamu."
Pria itu melepaskan genggamannya dan beralih bertumpu pada satu lututnya dibawah gadis itu sambil menyodorkan mawar padanya, membuat Falery terkejut.
"Nona Gilbert, maukah kau menikah denganku. Aku berjanji akan selalu menjagamu dan mencintaimu seumur hidupku" ucapan pria itu diberi tepukan tangan lagi yang semakin ramai daripada sebelumnya.
"Dad."
Gadis itu masih menatap sang ayah, yang kini dibalas anggukan olehnya, begitu pun Falery yang kini menatap Yasya dengan wajah bingungnya.
Falery meraih bunga itu dengan berat hati, sambil mengangguk dengan pelan, membuat suasana riuh itu makin terdengar sangat kencang.
Falery kini hanya bisa pasrah dengan keadaan yang menyakitinya dengan segenap perasaannya yang kini bercampur aduk menjadi kebimbangan yang terlanjur ia terima.
Yasya kini tanpa sadar menjatuhkan bunga itu dan segera pergi dari tempatnya berdiri.
Kini tak tau lagi apa yang pria itu rasakan, ada rasa hancur yang seperti menyayat hatinya yang paling dalam.
Kini Alfian memeluk gadis itu dengan erat sambil mencium puncak kepala Falery.
Angin berhembus melewati celah jendela kamar seorang gadis yang kini menatap sayu pada buket bunga mawar merah dihadapannya.
Flashback on....
Suasana acara kelulusan yang telah usai kini berubah menjadi sepi diruangan aula. Falery melangkahkan kakinya sambil memeluk tubuhnya yang kini tampak dingin.
Sebuah mawar yang tergeletak itu ia bawa sambil ia cium aroma wanginya.
Flashback off.
"Iryasya" Falery membolak-balik bunga itu yang kini membuat hatinya dipenuhi dengan rasa sedih.
"Aku tak tau apa yang kurasakan. Tapi mengapa, aku merasa bahagia saat kau berada disekitar ku, dan aku merasa kurang jika kau pergi dari sana" gumamnya sambil duduk dikursi rias, menyandarkan kepalanya pada kursi kayu dibelakang punggungnya.
tok tok tok....
Suara ketukan itu membuat Falery buru-buru menyembunyikan bunga itu dan bergegas untuk membuka pintu kamarnya yang sebelumnya tertutup dengan rapat.
ceklek....
"Ada Alfian dibawah sana, dia ingin bertemu denganmu. Sejak kau bertemu dengan daddy, kau jadi lupa dengan calon menantu mommy" Falery tersenyum kecut, sambil mengangguk pelan.
***
"Kenapa? kenapa nasibku selalu seperti ini? apa aku tak akan pernah bisa bersamamu Reyna!"
Prankkkkkk.....
Sebuah botol wine terlempar begitu saja, menghantam dinding berwarna putih, membuat busa-busa alkohol itu ikut keluar bersama dengan amarah dari pria yang kini telah menghabiskan hampir 20 botol minuman keras.
Pria itu terjatuh dari ranjang king size, dan kini air matanya tak dapat dibendung kembali. Hanya ingatannya bersama dengan gadis kecil yang sangat ia cintai itu yang kini menjadi bayangan dihatinya.
Sebuah kecupan dan pelukan hangat serta kasih sayang bersama dengan cinta itu yang tak mampu ia lupakan sampai detik ini.
"Reyna, kau adalah Reynaku, kau bukanlah Falery... aku yakin itu."
Wajah pria itu memerah dengan matanya yang menyala tajam, hawa dingin seperti tak ia hiraukan, jas dan mantel hangat yang biasanya menyelimuti tubuhnya, kini tak lagi ia kenakan.
Pria itu menghapus air matanya, meraih ponsel yang sedari tadi ia geletakkan begitu saja.
"Ken, bawa aku ke klub malam ini" ucap pria itu dengan smirk khasnya.
"Daddy" gadis itu melangkah dengan cepat menghampiri sang ayah yang tengah duduk disofa bersama dengan Alfian yang berada di hadapannya.
"Nak" panggilnya sambil tersenyum dan mengisyaratkan putrinya untuk duduk bersamanya kali ini.
Alfian tak bisa melepas senyum pada gadis yang sangat ia cintai itu, dengan tatapan terpaksa Falery hanya bisa tersenyum tipis pada dokter muda itu.
"Kalian sudah lama tidak berjumpa, daddy akan berikan kalian waktu untuk berbicara" ucapan dari pria paruh baya itu hanya dibalas anggukan oleh Falery, kemudian pergi untuk memberikan kesempatan bagi mereka berdua bicara.
"Fay" gadis itu hanya berdehem, entah mengapa tak ada yang dapat ia utarakan pada pria dihadapannya itu, fikirannya seperti melayang mengingat hal lain yang entah ia sendiri tak tau mengapa.
"Apa kau tak merindukan ku?" pertanyaan itu membuat Falery terbangun dari fikirannya yang tak nyaman, dengan segenap perasaannya yang mengambang, gadis itu akhirnya tersenyum tenang meski berbalikan dengan perasaannya sendiri.
"Tentu saja aku merindukanmu "
"Syukurlah... emm bagaimana dengan pekerjaan mu?" Falery terdiam, ada rasa bimbang yang kembali menyelimuti hatinya, mengingat kontrak kerjanya bersama dengan Iryasya.
"Hey, kau kenapa Fay? kau melamun? apa kau sakit?" Falery kembali sadar akan fikirannya yang kacau.
"Aku tidak apa-apa, emm pekerjaan ku baik. Kakak mengatasnamakan aku dalam proyeknya, dan aku juga akan terjun langsung menjadi model. Mungkin kakak ingin melatihku dalam dunia bisnis."
"Baguslah, kau semakin dewasa, aku jadi ingat saat pertama bertemu dengan mu, kau begitu kekanak-kanakan... hehehe."
"Benarkah?" pria itu tersenyum lembut sambil mengangguk.
drttt drttt....
Suara getar ponsel gadis itu membuat dirinya tersentak dan beralih mengangkat ponselnya yang terdapat panggilan disana.
"Sebentar Al, aku angkat telfon dulu" ucap Falery yang dibalas anggukan oleh Alfian.
Falery melangkah menjauh, membelakangi pria itu.
"Iryasya?!" ucapnya ketika melihat sebuah nama di layar ponselnya.
"Halo... tuan Yasya" suara dentuman musik yang ramai membuat Falery btak bisa berfikir jernih, apalagi suara pria itu tak kunjung ia dengar sedikitpun, entah suara musik yang terlalu keras, atau memang pria itu bekum juga membuka mulutnya untuk berbicara.
"Iryasya, kau dimana?"
"Ayo sayang, temani aku minum lagi!"
"Iya sayang" suara Yasya dan seorang wanita membuat gadis itu membelalakkan matanya dengan lebar.
"Yasya..! kau ada dimana?" Falery memutar bola matanya malas dengan rahangnya yang mengeras juga ekspresi kemarahannya pada pria disebrang sana.
tut.....
Iryasa Ferdiansyah
Falery Gilbert
Alfian Abdi Mahesa