The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pertemuan



Mentari pagi menyeruak, memasuki apartemen Reyna yang begitu sederhana. Gadis itu kini telah bersiap-siap untuk keluar di minggu pagi. Perlahan tangannya dengan lihai memasang lensa kontak untuk matanya yang tengah minus tersebut.


Setelah bersiap-siap, gadis itu memasuki dapur dan segera menghangatkan makanan yang sengaja ia pesan semalam.


Setelah selesai sarapan, gadis itu kini siap menjalani hari. Langkahnya ringan dengan sepatu santai. Rambutnya panjang terurai dengan tubuh tinggi semampai. Pakaiannya santai dress selutut yang begitu anggun untuknya.


Gadis itu melangkah dengan pasti, senyuman terpancar indah diwajah cantiknya. Sementara itu sembari berjalan dengan tenang gadis itu tampak menelfon seseorang.


"Hallo, udah sampe ya? oke, aku mau turun sekarang" kata Reyna dengan senyuman mengembang diwajah cantiknya.


Gadis itu tiba di bawah gedung bertingkat tersebut. Ia menaiki sebuah mobil yang menyapanya membuat gadis itu tersenyum sembari melangkah untuk memasuki mobil hitam tersebut.


~


Reyna tengah memesan jus jambu dan juga makanan dihadapannya. Pandangannya berbinar-binar seolah merindukan dendeng sapi kesukaannya ketika telah sampai di Indonesia.


Gadis itu menyedot jus jambu sembari terus tersenyum memandangi makanan enak dihadapannya.


"Kalian nggak pesen?" tanya gadis itu pada Clara dan juga Alfian yang kini tengah menatap gadis itu dengan cengiran.


Alfian tau apa yang disukai Reyna, ia pernah bercerita sewaktu masih di Florida. Jika ia kembali ia ingin menikmati makanan Indonesia yang enak-enak. Terlihat kerlingan mata Clara membuat gadis dihadapannya terheran-heran dengan apa yang coba ia katakan lewat kode-kode dari Alfian.


"Pesen kok, bentar lagi pasti juga Sampek makanannya" ujar Clara dengan senyumnya membuat Reyna tak menggubris perkataan mereka.


Gadis itu lanjut mengaduk-aduk serundeng dengan nasi sembari tersenyum puas hendak menikmati santapannya pagi itu. Tiba-tiba saja para pelayan bergerombol mengantarkan makanan untuk mereka membuat suapan pertama dari gadis itu gagal seketika.


Pelayan tersebut mengantarkan banyak sekali makanan, termasuk bakso, sate kambing, ayam panggang dan masih banyak makanan lainnya membuat mata Reyna berbinar-binar.


"Kalian serius mau habisin ini? kuat?" tanya Reyna yang kini menggeleng sembari menepuk jidatnya.


"Bukan kita yang mau habisin ini makanan, tapi kamu Rey hehehe" kata Alfian dengan tatapan jahilnya membuat Reyna membelalakkan matanya.


Memang sih dia sangat merindukan makanan tersebut. Tapi kalau sebanyak itu, apa dia mampu? Reyna semakin tak habis fikir. Di sisi lain ia sangat senang bisa mencicipi makanan Indonesia yang enak-enak. Tapi disisi lain mana bisa lambungnya menerima makanan sebanyak itu.


Gadis itu menggeleng dengan tatapannya yang semakin tak percaya dengan dua pasangan yang membuatnya semakin frustasi ini, bisa-bisanya baru bertemu mau mengerjai Reyna.


"Mohon maap nih ya, kalian mau ngasih kejutan apa mau bikin gue kejang? yang bener aja dong, masa gue di kasih makan porsi sekecamatan" kata Reyna sembari menghela nafasnya. Bagiamana tidak, semua makanan yang ia saksikan tidak lagi membuat gadis itu bernafsu malah membuat ia berulangkali membuang nafasnya.


"Hahaha, hadiah dari Alfian buat kamu Rey. Katanya pas kamu lagi ada di Florida kamu cerita pengen makan yang banyak di Indonesia" ujar Clara sembari tertawa geli melihat tingkah Reyna yang kini mulai kesal.


"Aduh Alfian, lo mau bikin gue gendut ya! ini aja gue cuma icip-icip satu suap pasti juga kenyang. Pokoknya aku nggak mau tau, makanan di meja ini harus habis, dan kalian berdua yang bantuin aku makan" ujar Reyna dengan tatapannya yang menyeringai membuat Clara dan Alfian saling melirik satu sama lain.


Setelah selesai memakan semua makanan yang berada di meja tersebut, Reyna kini bisa bernafas lega.


Padahal pagi tadi ia sudah sarapan, namun mengingat hari ini dia akan keluar bersama Clara dan juga Alfian membuatnya mengurangi porsi sarapannya.


Gadis itu menyentuh perutnya yang kini mulai mengembang saking kenyangnya. Sedang Alfian kini hanya bisa menyandarkan tubuhnya yang kini mulai kekenyangan.


"Gila, gue nggak pernah makan segini banyak. Untung ada Clara" ujar pria itu sembari melirik Clara yang kini masih asyik menyantap bakso. Tidak bisa dipungkiri bahwa semenjak wanita itu hamil ia lebih kuat makan daripada orang normal seperti biasanya. Terlebih sekarang perut Clara mulai membesar.


***


Suasana yang tampak tidak terlalu ramai karena mungkin banyak orang memilih untuk weekend ditempat hiburan daripada ditempat panas seperti tengah kota.


Meskipun terbilang cukup panas, namun taman kota memberikan sensasi sejuk karena banyak sekali tumbuhan serta pohon-pohon rindang yang memang sengaja ditanam.


"Kamu pasti capek kan, panas ya? sini duduk dulu" ujar Reyna pada Clara sembari menepuk kursi panjang disebelahnya.


"Kalian mau aku beliin es krim? panas banget nih, pasti enak kalo makan es krim panas-panas kaya gini" tawar Alfian pada kedua wanita yang kini tengah duduk sambil mengipasi diri mereka dengan sebelah tangan.


"Boleh, aku rasa coklat ya" ujar Clara yang kini mulai setuju dengan usulan suaminya.


"Kamu apa Rey?" tanya pria itu membuat Reyan yang tengah terengah-engah karena kepanasan bangkit dari fikirannya yang melayang.


"Hah, aku, aku rasa vanila deh" balas Reyna yang kini mulai mengelap keringat di dahinya.


Reyna memang sudah lama tidak menginjakkan kakinya di tanah air. Namun tidak disangka, ternyata cuaca disini lebih panas daripada di Amerika. Hingga membuat buliran peluh di dahinya seperti membanjiri wajahnya.


Tinggallah Clara dan juga Reyna yang kini masih menikmati panasnya udara di ibukota. Berbeda dengan Clara yang terlihat santai, Reyna malah seperti seorang atlit yang baru saja memenangkan pertandingan.


"Kamu kayanya kepanasan banget deh?" tanya Clara yang kini mulai memperhatikan gadis itu.


"Iya nih, perasaan di Florida nggak sepanas ini deh. Aduh, mana si Alfian lama banget belinya" ujar Reyna sembari mengelap keringat didahinya yang tak henti bercucuran.


"Hahaha, kamu memang belum terbiasa aja. Mungkin kalo udah lama disini pasti nanti terbiasa sendiri kok" ujar Clara dengan senyumnya, membuat Reyna melirik dengan tatapan hangat seraya mengangguk tanda setuju.


"Iya juga sih, mungkin karena aku udah lama nggak pulang" kata Reyna yang kini mengipasi wajahnya dengan sebelah tangannya lagi.


"Udah berapa bulan Ra? USG belum? cowok atau cewek?" tanya Reyna dengan wajahnya yang begitu penasaran membuat wanita disampingnya terkekeh.


"Hehehe, udah 7 bulan Rey. Kemarin sempat USG sih, kalo masalah cewek atau cowok itu rahasia dong, kalo dikasih tau nggak surprise nantinya" kata Clara menimpali. Reyna hanya manggut-manggut saja sambil menikmati rasa panas yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.


"Semoga aja ya ibu sama bayinya sehat-sehat terus sampe persalinan, aku jadi ikutan seneng deh, berarti sekitar dua bulan lagi dong lahirannya" kata Reyna dengan senyuman mengembang membuat wanita itu tersenyum sembari mengelus perutnya yang semakin membesar.


"Amin, makasih ya Rey, padahal sebelumnya aku udah jahat sama kamu tapi kamu balas aku kaya gini. Kamu baik banget Rey" ujar Clara yang kini mulai merasa tidak enak hati sambil mendoakan yang terbaik untuk gadis itu.


Meskipun begitu Clara tetaplah merasa bersalah pada Reyna. Karenanya Reyna merasakan sakit hati dan juga tekanan batin. Karena hubungannya dengan Alfian yang dari awal memang salah membuat hatinya terasa tergugah untuk mendapatkan Alfian kembali dalam hidupnya. Jika saja mereka bersatu tidak dengan cara menyakiti Reyna, mungkin kali ini rasa bersalah itu tidak akan pernah ada dalam hati Clara.


"Kamu ngomong apa sih Ra, itu semua kan juga udah berlalu" kata Reyna yang kini melirik wanita itu kerutan didahinya.


Reyna meraih punggung tangan Clara, ia seolah memberikan ketenangan untuk wanita itu.


"Aku juga pernah punya salah Ra, dan ketika kita sudah mendapatkan kata maaf maka kesalahan itu akan hilang bersamaan dengan ikhlasnya hati kita. Jadi stop buat nyalahin diri kamu sendiri, sekarang yang terpenting kamu fikirin kesehatan kamu dan bayi kamu, karena kalian berdua adalah bahagianya Alfian saat ini" kata Reyna sambil mengelus perut Clara perlahan. Wanita itu tersenyum tenang, akhirnya beban yang mengganggu itu dapat hilang oleh kata-kata dari Reyna sendiri.


"Makasih ya Rey, semoga kamu dan Yasya bisa bahagia selamanya dan nggak akan ada lagi masalah diantara kalian" setidaknya meskipun ia tak dapat membalas begitu banyak pada gadis disampingnya. Namun ia rasa doa adalah hal terbaik yang bisa ia sampaikan pada Reyna.


Reyna oun tersenyum hangat, ia mengangguk sambil mengamini apa yang diucapkan Clara barusan.