The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ketika ketakutan datang



Reyna kini menghela nafasnya kala dirinya telah sampai di bangunan apartemen yang tak asing baginya. Ia takut untuk bertemu dengan Yasya, takut jika didalam sana ternyata keberadaan Yasya mengejutkannya.


"Rey, kita udah sampai, kamu kok ngelamun sih" perkataan Zayn tiba-tiba saja membuat gadis itu tersentak dan menyadari keberadaannya.


"Maaf kak, kalo gitu aku naik dulu ya, kakak hati-hati dijalan" ujar gadis itu seraya keluar dari mobil dan mendapat anggukan dari Zayn yang kini membuat Reyna harus berpura-pura tidak terjadi sesuatu.


Reyna kini memantapkan hatinya untuk masuk kedalam apartemennya. Hari juga sudah semakin siang pastinya Yasya sudah kembali pulang. Ia tak tau lagi harus bekata apa jika dirinya bertemu dengan Yasya nantinya.


Reyna perlahan memasuki apartemennya, ia membuka pintu tersebut tanpa bersuara. Tubuhnya bergetar kala dirinya mulai memberanikan diri untuk masuk kedalamnya. Dan seperti yang ia duga, Yasya pasti telah kembali kerumahnya. Tempat itu begitu sepi, ia juga tak mendapati sepatu Yasya yang biasanya terpampang jelas di rak sepatu miliknya.


Gadis itu kemudian melepaskan tasnya, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Gadis itu mencium aroma parfum disana, begitu familiar dan membuat Reyna begitu rindu akan kehadiran Yasya. Reyna kini memutuskan untuk segera mandi, ia berinisiatif untuk belajar mengelola bisnis sebelum dirinya terjun dalam perusahaan milik almarhum Almira.


Setelah selesai dengan acara ritual mandinya, gadis itu mengotak-atik laptop miliknya. Ia kini tengah tiduran di ranjang dengan ditemani cemilan di sampingnya. Gadis itu hendak meraih ponsel yang sebelumnya berbunyi, ia bahkan tak menyadari sebelumnya ada sebuah surat kecil diatas nakas yang membuat dirinya tergugah untuk membaca surat tersebut.


Setelah membukanya dan membacanya perlahan. Reyna mengangkat panggilan disebrang sana yang ternyata adalah Alfian. Sejenak ia menghentikan membaca surat tersebut.


"Rey, kamu ada dimana?" pertanyaan itu membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya.


"Di apartemen" kata Reyna dengan nada sedikit acuh.


"Kamu tadi malam berantem ya sama Yasya?" pertanyaan itu sontak membuat Reyna mengerutkan keningnya. Apa mungkin Yasya menceritakan masalahnya? namun dilihat dari sifat pria itu, nampaknya mustahil untuknya terlalu jujur apalagi soal hubungan mereka.


"Maksud kamu? berantem gimana?" tanya gadis itu berlagak polos. Namun akhirnya Alfian menjelaskan bahwa semalam Yasya mencari keberadaan Reyna ditempatnya. Bahkan wajahnya terlihat begitu masam dan khawatir, meskipun Yasya tidak mengatakan masalahnya, namun ia begitu paham dengan ekspresi Yasya. Seperti ada yang salah pada Yasya dan Reyna.


"Aku nggak berantem kok sama dia" ujar Reyna masih mengelak, membuat pria disebrang sana menghela nafasnya dengan kasar.


"Aku cuma sekedar cerita kok Rey, kalaupun kamu beneran berantem sama dia, aku cuma mau ngasih saran. Apapun masalah kalian pasti bisa dibicarakan baik-baik, nggak perku ngambek apalagi marah-marah karena itu bukan hal yang bijak. Tapi aku yakin kok kamu sama Yasya bakalan ngerti hal itu" perkataan Alfian secara tidak langsung seperti menohok hati Reyna. Kenyataannya dia yang marah seperti anak kecil, ia belum sempat mendengar apa yang Yasya katakan namun ia buru-buru menjauh tanpa alasan.


Reyna mengiyakan kata-kata tersebut, ia beralih menatap surat kecil tersebut. Sebuah tulisan yang lagi-lagi menyentuh hatinya. Tulisan Yasya untuk Reyna yang begitu manja.


Reyna membuka laci, ia menatap buku berwarna hitam itu dan membaca halaman demi halaman apa yang dirasakan Falery selama ini. Kehidupan Falery berbanding terbalik dengan hidupnya, penuh dengan dendam dan kebencian, bahkan sama sekali tiada kebahagiaan disana.


Reyna menghela nafasnya tatkala mengingat begitu mesranya Yasya bersama Syahbila. Ia begitu ingat Syahbila yang memeluk lengan Yasya dengan manja. Reyna tak bisa terus seperti ini, ia lebih memilih untuk menjauh dari Yasya daripada Falery menyakitinya suatu hari nanti.


Mungkin kegagalan dalam pertunangan mereka adalah suatu petunjuk dari Tuhan bahwa mereka tidak berjodoh. Apalagi Tuhan bukan sekali menguji cinta mereka, tapi berulang kali. Reyna tidak ingin berada dalam hubungan yang tidak sejalan dengan takdir.


Mungkin pada awalnya, ia akan sakit pastinya, begitupun dengan Yasya, namun di sisi Yasya telah ada Syahbila. Ia pasti bisa melupakan dirinya dengan cepat, sedangkan Reyna, ia tidak ingin egois pada orang yang paling ia cinta.


***


Reyna kini memutuskan untuk menemui Yasya, ia tak mau menggantung kisahnya. Tapi semenjak pagi, anehnya Yasya tidak menghubunginya sama sekali. Fikiran itu segera Reyna tepis, ia menggeleng seraya memperhatikan gedung perkantoran dihadapannya. Niatnya sudah bulat, tak ada lagi alasan untuk mundur.


Setelah sampai di lobi, seseorang karyawan langsung saja mengenalinya sebagai kekasih Yasya. Tak hanya membuang waktu, Reyna segera diantar memasuki ruangan CEO tepat dilantai lima belas.


"Silahkan, nona langsung masuk saja" ujar pelayan itu lalu meninggalkan Reyna sendirian disana. Ia merasa canggung, mungkin bukqn pertama kalinya ia memasuki ruangan Yasya, namun kali ini berbeda.


Reyna menghela nafasnya beberapa kali, ia tampak ragu dengan jemarinya yang sedari tadi tarik ulur dengan gagang pintu dihadapannya. Namun dengan segenap keyakinannya, Reyna kini memberanikan diri untuk membuka pintu tersebut dan ia mencoba untuk tersenyum.


Ceklek.


Reyna menatap pemandangan dihadapannya, sebuah kejutan yang membuat hati Reyna tiba-tiba sesak. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Yasya kini menindih tubuh Syahbila yang berada diatas lantai, tangannya bahkan bergelayut manja dileher Yasya.


Mata gadis itu mendadak berkaca-kaca, ia memegangi dadanya yang begitu terasa sesak dan begitu sakit. Seharusnya Reyna bahagia, namun ia sepertinya belum siap untuk menerima kenyataan secepat ini.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, namun dengan cepat Yasya bangkit dan segera memanggil namanya. Reyna hanya menoleh sekilas, ia tersenyum seraya menunduk untuk menutupi matanya yang hampir saja meneteskan air mata.


"Sayang, aku dan Syahbila" ujarnya yang kini membuat Reyna tak perduli lagi. Ia bahkan merasa asing ketika Yasya memanggilnya dengan sebutan 'sayang'.


"Maaf, kayanya aku datang diwaktu yang nggak tepat" ujar Reyna seraya melangkah menjauh. Namun dengan cepat Yasya mencekal pergelangan tangan Reyna, ia bahkan menatap Reyna dengan pandangan bersalah. Reyna kini mencoba untuk memberontak, ia masih membelakangi tubuh Yasya meskipun lengannya masih dicengkeram erat oleh pria itu.


"Aku nggak sengaja Rey, tadi Syahbila kepeleset, aku mau narik tangan dia tapi aku malah ikut jatuh" Reyna bahkan seperti tuli. Rasa cemburunya kini mengalahkan segalanya, termasuk penjelasan dari Yasya.


Gadis itu segera menghempaskan tangan Yasya dan berlari menuju lift, ia tak ingin Yasya melihat air matanya yang kini tengah menetes deras dipipinya. Sedangkan kini Yasya hanya bisa memanggil gadis itu beberapakali, sayangnya ia terlalu lambat untuk mengejar Reyna masuk kedalam lift tersebut.


"Rey, tunggu sayang, dengerin aku dulu" kata Yasya dengan suaranya yang tampak hampir putus asa. Namun ia tidak kehabisan akal, pria itu berlari menuju tangga darurat dan mencoba untuk mengejar Reyna.