The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bulan madu 2



Reyna menanggalkan gaunnya, kini ia hanya berselimut handuk yang menutupi bagian tubuhnya. Rasanya begitu gugup mengingat malam yang akan datang, jika Reyna bisa mengingat ulang bahkan bulan madunya ini mirip seperti film Twil*ght saja. Setelah menikah lalu bulan madu di pantai, bermain air dan melakukan 'itu'.


Pipi Reyna memanas mengingat bayangannya yang begitu liar. Ia bingung harus mempersiapkan apa, ia menatap pantulan wajahnya didepan cermin. Segera setelah itu ia membersihkan riasan pengantin yang masih menempel diwajahnya.


"Sayang, aku tunggu di pantai ya!" teriakan Yasya bahkan terdengar dari dalam kamar mandi.


"Iya!" balasnya singkat seraya masih berkutat membersihkan wajahnya itu.


Setelah selesai membersihkan wajah, gadis itu buru-buru keluar dan membuka koper besar di kamarnya. Seketika matanya membulat sempurna kala yang ia temukan hanyalah baju seksi dan lingerie yang menerawang. Reyna mengacak-acak kopernya lagi, bahkan ia hanya menemukan dua pasang celana dalam dan dua pasang bra.


Mata Reyna membulat sempurna, hah! begitu menjengkelkan Kanaya ini. Bisa-bisanya ia mempersiapkan baju seperti ini padanya. Reyna menghela nafasnya lelah, ia melirik secarik kertas diatas tumpukan lingerie dan hot pants yang menerawang itu.


'Selamat bulan madu Reyna ku sayang, ini satu koper besar kado pernikahan ku buat kamu. Nikmati ya surga dunia bersama suami, pulang nanti harus balikin modal loh. Aku pengen cepet punya ponakan hehe. Kanaya Tabitha'


Reyna semakin kesal saja, ia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berganti baju yang normal selama disini. Jangankan baju yang normal, ia harus menahan untuk tidak mengenakan celana dalam dan bra. Apa yang akan dipikirkan Yasya nantinya? Reyna kini tak habis fikir. Ia segera meraih asal baju renang seksi menerawang dan segera memakainya.


Kasihan juga Yasya sudah menunggunya selama ini. Bahkan langit sudah mulai menggelap. Untungnya kata Yasya tiada orang di pantai ini kecuali keduanya. Reyna benar-benar seperti pemeran Bella dalam film Twil*ght. Ia benar-benar malu setengah mati kali ini untuk menghadapi Yasya yang mesum itu.


"Ah! ini gara-gara Kanaya! awas aja lo kalo udah nikah sama abang gue" gumam Reyna seraya melangkahkan kakinya keluar dari penginapan itu. Ia melihat sekeliling dan terlihat Yasya yang duduk ditepi pantai seraya menatap langit senja dihadapannya.


Reyna memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya, rambutnya tergerai indah dengan angin yang menerpa kulitnya. Ia duduk disamping Yasya yang hanya memakai boxer tanpa baju atasan yang menutupi dada bidangnya.


"Kamu cantik banget sayang" puji Yasya yang hanya bisa menelan ludahnya melihat penampilan Reyna kali ini. Pakaian renang yang menggoda, dengan bra dan juga celana dalam berwarna pink yang begitu tipis dan sangat pas dikenakan oleh Reyna. Tak hanya itu bahkan bagian sensitif Reyna terlihat menonjol mengenakan pakaiannya saat ini.


"Sya, aku nggak bawa baju ganti" kata Reyna merengek seraya memeluk lututnya dan memperlihatkan bibirnya yang mengerucut.


"Loh, tadi bukannya Kanaya bawain koper ya?"


"Itu isinya lingerie semua Sya! mana daleman cuma di bawain dua lagi. Masa aku seminggu disini nggak pakek baju sih?!" protes Reyna membuat Yasya terkekeh geli. Bisa saja Kanaya ini menggoda sahabatnya.


Bahkan langit yang semakin gelap kini menjadi saksi dimana keduanya memadu cinta. Reyna bangkit, ia membalikkan tubuhnya untuk menutupi tubuhnya dari Yasya.


Yasya bahkan tak tinggal diam, ia menarik lengan Reyna untuk membawanya masuk kedalam air dipantai itu. Semakin menengah dan pria itu menatap wajah Reyna dengan seksama. Yasya menyentuh wajah gadisnya, ia mengecup lembut bibir Reyna hingga gadis itu mendesah dibuatnya.


Tak terasa hari yang semula terlihat semburat jingga dilangit sore, kini tinggallah kegelapan malam dengan bulan purnama diatasnya. Yasya masih bertahan memagut bibir Reyna dengan ganas. Ia bahkan tak segan meraba punggung gadisnya yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


"Aku cinta sama kamu sayang, kamu selamanya milikku" gumam Yasya ditelinga Reyna seraya meraih pinggang gadis itu untuk semakin melekat ditubuhnya. Reyna mengalungkan tangannya dileher Yasya, ia tersenyum seraya mencium pipi Yasya membuat pria itu membalas ciumannya dibibir Reyna yang begitu manis bagai candu.


Panas yang mereka rasakan bahkan kalah dengan hawa dingin dan air laut yang menenggelamkan pinggang mereka sampai kaki.


Yasya menarik tubuh Reyna untuk digendongnya ala bridal style. Ia segera merebahkan tubuh Reyna diatas ranjang tepat ditengah pantai menghadap lautan. Ia sudah mempersiapkan segalanya bahkan mawar diatas kasur yang semula tertata rapi membentuk hati kini berterbangan menyambut Reyna dan Yasya yang bergulat diatasnya.


Yasya mengecup tubuh Reyna dengan gemas, ia menanggalkan pakaian renang yang dipakai Reyna dan membuangnya kesembarang tempat. Tubuhnya sudah memanas kali ini. Yasya bahkan segera membuang boxer miliknya.


"Sya, disini?" tanya gadis itu yang masih ragu dan melirik kebawah untuk menatap sesuatu dibawah sana.


Wajah Reyna berubah merah, ia masih bertahan memeluk Yasya yang kini tersenyum padanya.


"Aku udah bilang kan, disini cuma ada kita berdua sayang. Karena aku pengen nikmatin ini sama kamu, kamu sabar ya, ini sedikit sakit diawal" Reyna menutup matanya, ia memejamkan matanya erat-erat saat panas membakar tubuhnya.


"Yasya!" Reyna tak tahan untuk berteriak, gadis itu menangis, meneteskan bulir air mata yang tak dapat dijelaskan.


"Sabar sayang ku" Yasya melanjutkan aktivitasnya kembali, ia membiarkan Reyna mencengkeram bahunya seraya memanggil namanya berulangkali.


Malam yang panjang mereka rasakan kala itu, dimana Yasya memintanya beberapa kali dan Reyna mulai terbiasa untuk melayani suaminya itu. Meskipun awalnya Reyna merasa sakit, namun akan kelembutan Yasya ia mampu mengimbangi permainan mereka yang membuat pelepasan dari masa gadis menjadi wanitanya semakin bahagia.