
Derap langkah kaki gadis itu terdengar begitu suara bel pulang berdering. Langkah Reyna dengan cepat menyusuri lorong demi lorong rumah sakit yang terlihat masih ramai. Kebetulan hari ini dirinya lembur, terlihat jam dinding yang menunjukkan malam akan semakin larut.
"Rey, pulang bareng yuk" tiba-tiba saja suara itu mengejutkan Reyna, ia menatap Alfian yang kini tersenyum kearahnya, namun tidak dengannya, Reyna malah terlihat datar dengan tatapannya yang begitu dingin.
"Kamu bisa nggak sih nggak usah ngagetin orang mulu" kata gadis itu seraya memalingkan wajahnya untuk kembali berjalan. Namun Alfian tak menyerah, ia tau itu adalah Falery, pria itu segera menyusul Reyna yang berjalan semakin menjauh darinya.
"Yasya bilang nggak bisa jemput kamu, jadi aku yang disuruh dia buat anter kamu sampai apartemen, Falery" perkataan Alfian membuat gadis itu tiba-tiba berhenti seketika. Ia menatap pria dibelakangnya dengan tatapan datar seraya memutar bola matanya malas.
Akhirnya kini Reyna dan Alfian telah sampai di mobil putih milik pria itu, sedari tadi Reyns hanya terdiam, ia bahkan tak mengatakan apapun sepanjang perjalanan. Sedangkan Alfian mencoba untuk mengajaknya berbicara meskipun tak ada tanggapan darinya.
Waktu berlalu begitu cepat dan kini keduanya telah sampai didepan gedung bertingkat.
"Fay, kita udah sampe nih" perkataan Alfian bahkan tak digubris gadis itu, Alfian yang merasa janggal menoleh menatap Reyna yang kini tengah tertidur pulas disampingnya.
Pria itu perlahan menggoyangkan tubuh Reyna dengan pelan. Ia takut jika Falery terbangun dan tiba-tiba marah padanya, mengingat temperamen gadis itu yang tidak bisa di kontrol.
"Fay, bangun fay, ini udah sampe" kata pria itu membuat Reyna menggeliat pelan seraya mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis itu tiba-tiba terbangun dan menatap Alfian dengan kebingungan.
"Al, aku kok bisa sama kamu?" pertanyaan itu membuat Alfian merasa sedikit lega, ternyata Reyna telah kembali. Mungkin gadis itu pingsan atau memang tertidur kelelahan hingga membuatnya terlelap sementara.
"Fa, Falery ya? dia nggak nyakitin kamu kan Al?" pertanyaan itu membuat Alfian tersenyum dan menggeleng. Begitu jauh perbedaan diantara mereka, hingga Alfian dapat melihat perbedaan itu hanya dengan gaua bicara dan juga tatapan mata.
"Nggak kok, santai aja Rey. Kamu cepet masuk gih, kayanya kecapean banget" perkataan Alfian membuat Reyna mengangguk dan bergegas untuk keluar dari kendaraannya.
"Makasih ya Al" ujar gadis itu dan mendapat anggukan dari Alfian yang kini tersenyum kearahnya.
"Iya sama-sama, kalo gitu aku duluan ya Rey" ujar Alfian yang kini kembali fokus pada setir mobil ditangannya.
Setelah mobil itu keluar dari halaman gedung bertingkat itu, kini Reyna dapat menghela nafas lega. Rasanya ia hampir tak sadar jika Falery mengambil alih tubuhnya, bahkan ia sendiripun lupa sejak kapan dan bagaimana keadaannya bisa seperti itu.
***
Keesokan harinya.
Gadis dengan rok selutut dan kemeja kerja itu turun dari apartemennya, ia melangkah menuju mobil hitam yang kini menunggunya. Sosok pria dengan kemeja biru dan dasi panjang yang membuat pria itu lebih tampan dan mempesona membuat Reyna masuk kedalamnya dengan senyuman merekah dan wajah memerah.
"Selamat pagi sayang" ujar pria itu yang tiba-tiba mendekatkan tubuhnya kearah Reyna dan mencium bibirnya sekilas membuat gadis itu semakin menunduk dan tersipu.
"Morning kiss sayang" kata pria itu setengah berbisik membuat Reyna mendekatkan wajahnya dan secepat kilat membalas ciuman dibibir Yasya dengan cepat. Buru-buru Reyna menutupi wajahnya yang semakin merona, ia menarik wajahnya kembali dan tersenyum malu melirik pria yang kini tengah terkekeh itu.
"Udah ah, berangkat yuk. Udah siang loh" perkataan Reyna hanya dibalas senyuman juga tawa kecil dari Yasya yang kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan sefang untuk membelah jalanan ibukota.
Sesampainya di rumah sakit gadis itu langsung keluar dan tak lupa berpamitan pada Yasya yang kini hendak berangkat bekerja. Ia juga melambaikan tangan sebelum memasuki gedung rumah sakit tersebut.
Derap langkah kaki Reyna terdengar, ketika memasuki lorong demi lorong ia juga tersenyum dan menyapa beberapa suster disana begitupun dengan staf lain. Reyna melewati ruangan UGD, ia menyapa Tian yang kini hendak keluar dari ruangan tersebut.
Namun seketika matanya terkunci oleh sosok pria paruh baya yang kini terbaring diatas bangsal. Gadis itu menatap pria disampingnya yang tengah menunggu pria paruh baya itu yang memakai alat bantu pernafasan.
"Papa" gumam gadis itu yang kini menunduk seraya menyembunyikan wajahnya dibalik pintu. Ia juga sedikit mengintip kedalam, barangkali Reyhan melihatnya akan menjadi masalah besar nantinya.
Reyna menggeleng, jemarinya mengepal kuat dengan dadanya yang terasa bergetar. Ia menghela nafasnya seraya melangkah kembali tanpa memperdulikan apapun. Baginya tiada lagi yang dapat disampaikan maupun diutarakan. Reyna telah tiada untuk mereka, jadi untuk apa Reyna kembali kesana.
Reyna memasuki ruangannya, ia kembali mengerjakan beberapa file penting dan juga rapat yang harus ia hadiri hari ini juga perihal operasi yang harus mereka lakukan esok hari.
Namun bukan malah fokus, ingatannya kembali pada sang ayah yang kini keadaannya pun ia tak tau. Ia menatap gusar file yang ada ditangannya, beberapa kali ia membuka dan menutup file tersebut namun hasilnya nihil. Ia tak dapat berkonsentrasi walaupun hanya satu detik.
Mengingat posisinya dulu dan menghubungkannya dengan keadaan Reynaldi yang sekarang membuatnya merasa sakit dan seperti tidak diadili. Dulu bahkan Reyna tak pernah ada yang menjenguk saat ia dibully maupun sakit. Ia mungkin hanya ditinggalkan uang administrasi lalu ditinggal begitu saja. Ia hanya mengandalkan apa yang menjadi kemampuannya saat itu. Ketika mengingat hal itu rasanya begitu sakit, perih menjalar di sekujur tubuhnya.
"Dokter Reyna" suara seorang lelaki bahkan tak ia dengar walau tepat didepan matanya. Ia masih berdebat dengan hatinya hingga tak sadar ada orang lain yang kini hendak menemuinya.
"Dokter" ujar pria itu lagi kesekian kali hingga membuat Reyna terperanjat dan buru-buru bangkit untuk menatap dokter Rudi yang kini masuk tanpa permisi dihadapannya.
"Maaf dok, tapi dari tadi saya sudah panggil tapi dokter sepertinya sedang melamun" ujar dokter Rudi membuat Reyna menghela nafasnya dan memijit pelipisnya.
"Oh nggak apa-apa kok dok, ada apa ya?" pertanyaan itu membuat dokter Rudi menyerahkan sebuah berkas pada gadis itu.
"Ini adalah berkas tambahan dari dokter Martin yang kemarin disuruh untuk anda periksa, jika ada yang membuat anda tidak setuju, anda boleh mengutarakannya pada rapat hari ini."
"Iya, terimakasih. Oh ya rapatnya mulai berapa menit lagi?" pertanyaan itu membuat dokter Rudi menatap arlojinya dan menatap Reyna seketika.
"Kira-kira lima menit lagi."
"Kalau gitu kita ke tempat ruang rapat, nggak enak kalau nanti banyak yang nunggu" ujar Reyna membuat dokter Rudi mengangguk.