The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Persahabatan yang kembali



"Hahaha, jadi gitu ceritanya" ujar Reyna yang kini tengah duduk didepan halte bus yang tak jauh dari bangunan rumah sakit tempat ia bekerja.


Alfian kini tengah menyusul Reyna untuk duduk disampingnya. Mendengar cerita dari Alfian membuat tawa Reyna pecah begitu saja. Sebenarnya ada alasan mengapa Alfian begitu ditakuti oleh karyawan lain dan staf yang berada dirumah sakit.


Itu semua karena rumor yang beredar, gosip-gosip didalam rumah sakit memang selalu begitu. Ada yang bilang bahwa Alfian adalah kaki tangan Direktur rumah sakit Mitra Dharma sehingga ia banyak ditakuti oleh para manager dan bawahannya. Ada yang bilang bahwa penerus rumah sakit itu juga adalah Alfian, mengingat ia yang sering memasuki ruangan direktur dan terkadang ia juga selalu diajak kemanapun sang direktur rapat.


Padahal itu semua hanyalah rumor belaka, direktur sendiri telah mengenal baik Alfian karena dulunya beliau adalah dosennya. Semua isu tersebut hanyalah ketakutan para staf medis saja. Karena memang dari dulu Alfian adalah seorang dokter yang dingin terhadap orang yang tidak akrab dengannya.


Sedangkan untuk rapat, itu karena Alfian yang tau kondisi tentang informasi seputar pasien, dan bukan hanya Alfian tapi CEO juga diajak. Peran Alfian hanyalah sebagai dokter spesialis organ dalam, karena itu direktur sangat mempercayainya, terlebih lagi bisa dikatakan Alfian adalah muridnya terdahulu.


"Jadi, kamu udah tau kan alasan mereka kenapa aku sampai disegani kaya gitu? hehehe" ujar Alfian terkekeh.


"Pantesan aja temen-temen ku tingkahnya aneh banget gitu, taunya kemakan gosip mereka" kata Reyna seraya menepuk pundak Alfian.


"Oh ya Al, aku ada janji loh sama Yasya, makan siang bareng yuk" ujar Reyna yang kini senyum tampak terpancar di wajah cantiknya.


Namun sedetik kemudian, ekspresi dari Alfian berubah total. Pandangannya mendadak sayu dan ragu, entah mengapa rasanya masih ada ketakutan dalam dirinya menemui mantan sahabatnya itu.


"Kenapa Al? keberatan ya?" tanya Reyna membuat Alfian menggeleng, ia tampak tersenyum tipis seraya menggaruk tengkuknya.


"Enggak kok Rey, tapi kayanya aku ada urusan habis ini" kata Alfian dengan alasannya yang terlihat dibuat-buat. Dan tiba-tiba saja mobil berhenti tepat didepan mereka, tampak seorang lelaki tampan keluar dari mobil tersebut. Pandangannya tak dapat diartikan, dengan senyum yang tersungging seperti meremehkan membuat Alfian beralih bangkit dan kini mulai menelan salivanya.


Pria itu tampak ragu, ia hendak melangkah menjauh setelah sebelumnya berpamitan pada Reyna.


"Maaf Rey, aku-aku harus pergi dulu" ujar pria itu buru-buru membuat Reyna ikut bangkit dan memperhatikan Alfian yang kini nampak gusar.


"Al, kamu mau kemana?" pertanyaan itu nampaknya tak digubris oleh Alfian yang kini mulai melangkah menjauh.


"Jadi lo udah nggak mau sahabatan lagi sama gue? Lo benci sama gue Al?" tanya Yasya dengan suaranya yang lantang membuat pria itu menghentikan langkahnya seketika.


Alfian nampak diam, ia enggan untuk melangkah kembali, matanya mengerjap dan menengadah. Haruskah ia kembali? atau ia hanya bisa berdiam diri?. Sejujurnya Alfian pun tak tau apa yang difikirkan oleh Yasya saat ini. Kesalahannya di masa lalu telah melampaui batas dalam persahabatannya.


Yasya dan Reyna saling berpandangan, gadis itu meraih lengan Yasya dan mengangguk seolah memberikan sinyal pada Yasya untuk memperbaiki hubungannya dengan Alfian yang terlanjur retak sejak lama.


Flashback on.


Yasya kini tengah fokus melihat pemandangan jalan pagi tadi, pria itu melirik Reyna yang kini mulai memeluk lengannya dengan manja.


"Yasya, aku mau ngomong serius sama kamu" ujar Reyna dengan tatapannya yang menengadah menatap pria yang kini ia peluk tersebut. Pria itu menatap manik mata Reyna dengan lekat ia mencium kening Reyna dengan lembut.


"Ngomong soal apa sayang?" tanya pria itu dengan penuh kelembutan.


"Soal Alfian, aku pengen kamu baik-baik sama dia" ujar Reyna yang kini mulai menatap serius pada Yasya yang kini menaikkan sebelah alisnya.


Yasya hanya terdiam, ia mengangkat pandangannya menatap langit-langit taksi dan mulai menelaah kata-kata Reyna.


"Ada alasannya?" tanya Yasya yang kini mulai membuka celah untuk permintaan Reyna yang terasa berat untuknya.


Yasya kini mulai merenung, ia memikirkan setiap kata-kata dari Reyna yang membuat hatinya mulai terbuka. Alfian memang adalah laki-laki bejat dan pengecut. Tapi jika tidak ada lelaki bejat tersebut, mana mungkin kebahagiannya akan hidup kembali seperti saat ini.


Terlebih dulunya Alfian adalah salah satu sahabatnya yang paling ia sayangi setelah Satya.


Flashback off.


Yasya kini melangkah dengan cepat, ia menepuk pundak sahabatnya dan segera memeluknya bagai seorang sahabat lama yang tidak pernah berjumpa.


"Lo sahabat gue Al, dan lo nggak akan pernah jadi orang asing dalam hidup gue" ujar Yasya ditengah pelukannya pada pria itu membuat Alfian kini tersenyum seraya membalas pelukan dari Yasya dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.


"Maafin gue Sya, kesalahan gue emang nggak pantes buat lo maafin. Gu, gue malu Sya ketemu sama lo, gue ngerasa nggak pantes jadi sahabat lo Sya. Maaf, maafin gue" ujar pria itu yang kini mulai menitikkan air matanya didalam pelukan persahabatan yang begitu mengharukan.


Reyna yang kini menatap pemandangan itu hanya bisa tersenyum. Ini memang harusnya terjadi mengingat masalalu yang seharusnya berlalu. Reyna hanya ingin orang yang ia sayangi berdamai tanpa ada rasa segan dan permusuhan didalamnya.


Reyna juga bangga memiliki Yasya yang kini mulai lebih matang dan dewasa. Dibalik kesedihannya setiap hari, selalu ada kebahagiaan lewat sahabat-sahabatnya yang selalu ada untuknya.


Yasya dan Alfian kini saling merangkul dan menghentikan kesedihan yang mereka rasakan. Mereka menatap Reyna yang kini bersedekap dada seolah merasakan lega yang luar biasa akhirnya dapat menyatukan mereka kembali.


"Makan siang yuk" ajak Reyna pada keduanya membuat Alfian dan Yasya mengangguk.


Mereka menaiki mobil Yasya, dengan Yasya yang menyetir. Alfian hendak masuk kedalam jok belakang namun Reyna menahannya.


Walau bagaimanapun, mereka baru saja baikan seharusnya mereka mengobrol sebentar untuk memperbaiki hubungan.


"Kamu depan aja Al, aku mau amin hp soalnya takut Yasya bete nanti" alibinya membuat Alfian menaikkan sebelah alisnya.


"Ta, tapi Rey" ujar Alfian yang kini nampak ragu, namun dengan cepat Reyna berteriak pada Yasya yang masih diam memegangi setir mobilnya.


"Sayang, aku duduk belakang ya, biar Alfian duduk depan sama kamu" teriak gadis itu membuat Yasya membuka jendela mobilnya dan tersenyum kearah mereka.


"Boleh, lagian udah lama aku nggak ngobrol sama Alfian. Udah Al, nggak usah sungkan, masuk aja" kata Yasya meyakinkan membuat Alfian menggaruk tengkuknya.


Sejujurnya Alfian masih sedikit ragu dan mengganjal. Bukan karena perasaannya pada Yasya yang buruk, namun dirinya yang terlalu hina untuk dimaafkan. Entah mengapa kesalahan yang tidak ia sengaja di masa lalu membuatnya seperti ada jarak yang membentang diantara dirinya dengan Yasya dan Reyna.


Ia sangat merasa bersalah membuat hatinya tidak percaya diri bisa kembali bersahabat dengan Yasya.


Alfian dengan ragu melangkahkan kakinya menuju jok depan dimana Yasya menyetir. Didalam perjalanan pun ia enggan untuk membuka suara karena masih terlibat kecanggungan.


"Gimana kerjaan kamu Al?" tanya Yasya yang kini mulai basa-basi ringan membuat Alfian melirik pria disampingnya.


"Lancar kok, aku lagi nanganin operasi bedah jantung pasien, ya doain aja semoga lancar" kata Alfian yang kini mulai terbuka.


"Oh ya? hebat dong, lain kali ajak Reyna masuk ruang operasi, dia dokter spesialis bedah juga, kecilnya suka masak ayam sama belah-belah ayam, Gedhe nya pengen belah orang" ujar Yasya membuat Alfian tertawa terbahak-bahak namun lain halnya dengan Reyan yang kini menatap tajam pada pria didepannya.


"Ngeselin banget sih Sya! aku nggak pernah loh masak ayam waktu kecil" ujar Reyna yang kini mulai mengerucutkan bibirnya membuat Yasya ikut tertawa dengan Alfian.