
Ting ting
Suara cangkir kopi yang baru saja diaduk dengan aroma yang khas membuat pria paruh baya itu tersenyum. Reynaldi kini mengangkat cangkir kopi itu, ia memang hendak sejenak bersantai sambil menikmati masa tuanya. Fikirannya tiba-tiba saja teralihkan oleh sang putra yang sudah berumur namun tak kunjung mendapatkan calon istri sampai saat ini. Pria itu menghela nafasnya, ia melangkahkan kakinya henda
menuju ruang tamu. Namun tanpa disangka pintu terbuka menampakkan wajah Reyhan yang tiba-tiba datang dan menggandeng seorang gadis disebelahnya.
"Papa" kata Reyhan yang kini tengah menyembunyikan sosok gadis itu dari balik tubuhnya yang gagah. Baru saja ia memikirkan putranya itu soal calon menantu, dan kini dirinya sudah membawa seorang wanita yang bisa ditebak akan dikenalkan oleh Reyhan padanya.
"Siapa Reyhan?" pertanyaan itu membuat Reyhan sedikit menarik lengan gadis dibelakangnya. Tatakala Reynaldi hendak melangkah ia terkejut saat menatap kedua bola mata itu.
"Papa" suara itu membuatnya yakin jika apa yang ia lihat memang benar dirinya. Reynaldi tanpa sadar menjatuhkan kopi ditangannya, suara pecahan itu bahkan tak digubris oleh dirinya yang masih mematung dengan matanya yang kini berkaca. Rasanya tak percaya, jantungnya berpacu dengan cepat saat masih terkesiap menatap pandangan Rindu dari gadis itu.
Kaki Reynaldi lunglai, bagai tak dapat menahan tubuhnya yang semakin bergetar. Rasanya tak percaya jika putrinya sendiri kini berada didepan matanya. Reyna buru-buru masuk, air matanya menetes bersamaan dengan langkahnya yang mendekat kearah ayah kandungnya itu.
Reyna memeluk Papanya, hangat, tenang dan nyaman. Beginikah rasanya memeluk seorang ayah kandung yang sudah lama Reyna rindukan? Reyna masih menangis sesenggukan seraya memeluk ayahnya dari arah samping. Sedang Reynaldi ia kini mulai membalas pelukan putrinya itu dengan air mata yang berlinang.
"Reyna, ini kamu? ini benar kamu nak? maafin papa Rey, papa" Reynaldi tak dapat melanjutkan perkataannya. Ia terlalu terbendung dalam kerinduan, tangannya menyentuh rambut hitam milik putrinya itu.
"Ini Reyna pa, papa nggak salah, papa nggak salah. Yang salah Reyna udah ninggalin kalian, maafin Reyna pa, maaf" kata Reyna seraya memejamkan matanya dengan derai air matanya yang tersisa.
Reyhan hanya bisa menatap kedua ayah dan anak itu dengan senyuman haru. Akhirnya semuanya berakhir dengan indah, dan tanpa masalah. Kini ketakutan Reyhan sudah ia lawan, semua masalah yang ada sudah terselesaikan. Lega dihati pria itu tak dapat digambarkan, ia melangkahkan kakinya mendekati kedua keluarganya yang masih tersisa itu. Tangannya terayun untuk memeluk Reynaldi dari arah samping untuk melengkapi rasa kerinduan diantara mereka bertiga.
Reynaldi merasa damai, kini semua misteri akhirnya terjawab sudah. Tak henti-hentinya ia berterimakasih kepada Tuhan atas kehadiran dan keselamatan Reyna. Rasanya benar-benar tak menyangka jika putrinya masih hidup dan kini berada dalam pelukannya. Reynaldi benar-benar bersyukur, ia selanjutnya bisa menebus kesalahannya terhadap Reyna dan akan memperbaikinya untuk seterusnya.
***
"Hallo?" suara telfon disebrang sana membuat Yasya menghentikan aktivitasnya. Senyum terulas dipipinya tatakala mendengar kabar baik dari Reyna. Nafasnya kini terdengar lega bersamaan dengan senyuman andalannya yang begitu menawan.
"Oke, nanti malam aku bakal datang kerumah papa, sekalian aku mau ngomong serius ke papa kamu, biar kita bisa cepet dapet restu" ujar Yasya yang kini mencoba menggoda gadisnya itu. Akhirnya, Reyna bisa berkumpul dengan keluarganya. Setelah beberapa lama mereka berseteru dan mengalami masalah yang cukup serius kini kedua pasangan itu dapat bernafas dengan lega.
Yasya mematikan panggilannya, sebentar lagi ia akan siap memiliki Reyna lahir dan batin. Momen itu pasti akan selalu ditunggu oleh Yasya, ia bahkan sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari setelah dirinya menemukan keberadaan Reyhan dan Reynaldi.
"Hallo" suara dari sebrang sana membuat pria itu membelalakkan matanya. Sudah begitu lama ia tak mendengar suara wanita itu yang tampak tak asing ditelinganya.
"Ada apa? kalo nggak penting nggak perlu telfon, aku lagi sibuk" kata Yasya ketus, memang ia tak mau mendengar apalagi berhubungan lagi dengan wanita itu. Wanita yang secara tidak langsung membuat dirinya berpisah dengan Reyna. Dia adalah Dian, pada saat Reyna dikabarkan meninggal bahkan Dian masih memaksa Yasya untuk menikah dengan Syahbila. Waktu itu Yasya begitu terpukul dan trauma, ia bahkan tak mau bertemu siapapun, melihat Reyna menyelamatkan nyawanya dan berguling diatas mobil membuat jiwanya terguncang. Namun ego ibunya masih saja tinggi, Dian bahkan masih memikirkan martabat dan juga harga diri keluarga.
"Nak, ini mami, kamu nggak kangen sama mami?" pertanyaan itu membuat Yasya mengerutkan dahinya. Sudah berapa lama?, kenapa juga baru sekarang menghubungi itupun saat mood Yasya bisa dibilang bagus. Dan sekarang karena wanita tak berperasaan itu Yasya kehilangan rasa senangnya.
"Kamu bukan ibu kandungku, sekarang kamu juga udah cerai sama papi" kata Yasya dengan suara tegasnya. Ya! benar sekali, Dian bukanlah ibu kandung Yasya. Dian hanyalah istri kedua Adi yang dia nikahi setelah dua tahun kematian ibu kandung Yasya. Dian adalah seorang wanita yang memang tidak bisa memiliki seorang anak, sehingga dia menganggap Yasya seperti anak kandungnya sendiri. Saat itu usia Yasya masih berumur 6 tahun dan dia juga amat menyayangi ibu tirinya itu. Namun tanpa disangka terlalu sayang dapat merenggangkan hubungan antara ibu dan anak yang sudah terjalin sejak lama.
"Maafin mami nak, tapi itu semua demi kebaikan kamu, mami sayang samu kamu Yasya."
"Stop! aku nggak mau kamu ngusik kehidupan aku sama papi lagi. Kita udah nggak ada hubungan lagi"
"Tunggu Yasya!" suara itu menghentikan jemari Yasya yang hendak mematikan telepon.
"Mami tau kamu pasti masih terpukul dengan kematian gadis itu, tapi itu nggak baik nak. Kamu juga harus nikah"
"Aku tau, kalaupun aku bakal nikah, aku juga nggak akan minta restu ke kamu" kata Yasya seraya mematikan telepon itu sepihak.
Yasya menarik rambutnya kebelakang, rasanya kepalanya mau pecah saja. Dari dulu Dian selalu mengatur kehidupannya, bahkan setelah Reyna meninggal Dian lah yang sepertinya paling bahagia untuk itu. Entah kenapa Dian begitu membenci Reyna, ia masih ingat suara jahat dari wanita yang sudah ia panggil 'mami' sejak kecil itu mengatakan perkataan yang tak sengaja Yasya dengar saat ia hendak menjemput Dian yang tengah berada diruangan Syahbila.
Flashback on.
"Apa tante?! Reyna meninggal? kenapa bisa?" tanya Syahbila dengan nada terkejut sekaligus tak menyangka. Namun tanpa disadari dari balik pintu terlihat Yasya yang tengah menguping pembicaraan keduanya.
"Ya bagus dong Bil, penghalang kamu buat nikah sama Yasya udah meninggal. Tante pasti bakal seneng kalo kamu nikah sama Yasya nanti, lagian masa Yasya mau-maunya berhubungan sama anak SMA yang nggak tau diri dan sebatang kara. Mau ditaruh mana muka keluarga om Adi nantinya" kata Dian membuat Yasya mengepalkan jemarinya.
Flashback off.