The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Rumah baru



Kini perlengkapan mereka telah siap untuk diangkut ke rumah yang baru. Reyhan dan Reynaldi menatap rumah besar sederhana dihadapannya, rumah dengan banyak kenangan didalamnya, namun tak ada kenangan yang tersisa dari Reyna maupun Almira.


Reynaldi memeluk pundak putranya, ia termangu sejenak seraya menggelengkan kepalanya tatakala mengingat kejadian buruk yang ia lakukan pada putri semata wayangnya.


"Pa, bentar lagi kita bakalan pergi dari tempat ini, kenangan didalamnya" Perkataan Reyhan tiba-tiba saja terhenti kala sang ayah mempererat pelukannya.


"Biar semua berlalu Reyhan, semoga dengan rumah kita yang baru membuat kita bisa melupakan masa lalu kita. Papa sadar, papa nggak seharusnya egois selama ini sama kamu. Papa banyak menyendiri, murung setiap hari, dan kurang komunikasi sama kamu."


"Pa, sebentar lagi rumah kita nggak sebesar ini, rumah kita kecil dan agak sempit. Apa papa bakal betah?" pertanyaan itu membuat Reynaldi tersenyum dan melirik anaknya sejenak.


"Betah kok, selama ada anak papa yang nemenin, karena cuma kamu yang papa punya. Papa udah ngecewain mama kamu, dengan membuat Reyna kini pergi dan nggak percaya sama dia, papa nggak mau ngecewain mama untuk yang ketiga kalinya" kata Reynaldi seraya menatap langit yang kini begitu cerah, secerah harapannya.


Namun berbeda dengan Reyhan yang kini tampak menekuk wajahnya, ia enggan untuk menampakkan betapa sedihnya ia mengingat adiknya yang kini masih hidup namun Reynaldi tak pernah tau tentang keberadaannya.


'Andai papa tau, Reyna belum meninggal pa, dia bahkan udah berkorban banyak demi papa. Tapi sayangnya dia sedang sakit, sakit akibat perilaku kita pa, maafin Reyhan karena Reyhan nyembunyiin ini dari papa. Tapi Reyhan nggak mau papa tambah sedih dan merasa bersalah' gumam Reyhan dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


***


Kini mobil pribadi milik Reyhan terparkir disebuah rumah kecil, rumah minimalis yang akan mereka tinggali berdua. Reyhan dan papanya, dengan halaman kecil yang menghiasi rumah dengan cat berwarna abu-abu itu. Yah setidaknya pindah rumah ketempat yang lebih kecil membuat mereka bisa bertahan dengan uang tabungan yang mereka miliki.


"Wah lumayan jauh juga ya kak, kakak dapet rumah ini darimana?" pertanyaan itu terlontar dari Hengky yang kini mulai membuka suara.


"Emang lo pikir gue nggak punya temen, nggak punya hp, ya carilah dari temen gue sama sosmed" ujar Reyhan yang kini menjitak kepala pria itu yang kini sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


"Aduh kak, sakit tau, jangan mentang-mentang ya lo gue panggil kak terus seenak dengkul lo main jitak-jitak gue."


"Lo berani sama gue?" pertanyaan itu membuat Hengky melotot menatap Reyhan yang kini memincingkan sebelah matanya.


"Beranilah, tinggi, tinggian gue" mendengar hal itu Reynaldi hanya bisa terkekeh mendengar celoteh mereka berdua yang kini duduk di jok depan.


"Sudah, sudah, kalian ini ya baru ngobrol sebentar sudah berantem. Kita keluar aja yuk" ajak Reynaldi yang diikuti Reyhan dan Hengky.


Setelah selesai membereskan barang-barang kini Hengky bisa merenggangkan ototnya sejenak. Maklum saja, ia juga baru kali ini merasakan bagaimana pindah rumah dengan barang-barang yang begitu banyak. Pria itu kini duduk didepan teras, ia menatap perumahan Reyhan yang begitu sederhana dari sebelumnya. Dan lebih kecil dari rumah yang mereka jual, rasa prihatin dan juga iba kini menyelimuti hati Hengky tatkala mengingat bagaimana cerita jatuh bangun yang dialami Reyhan dan papanya.


"Ky, kamu pasti capek sekali ya? mau minum apa, nanti biar om suruh Reyhan buat bikinin kamu minuman" Hengky tersenyum dan mengangguk.


"Ah om, nggak usah repot-repot om, apa aja boleh kok, nggak perlu suruh kak Rey, saya bisa bikin kalo om ngizinin" ujar Hengky yang kini menunjukkan senyum ramahnya.


"Mana boleh tamu bikin minuman sendiri, apalagi kamu udah bantu kami. Biar om suruh Reyhan aja, kamu duduk dulu sebentar" kata Reynaldi yang kini memasuki rumahnya yang bisa Hengky tebak bahwa kini Reynaldi tengah sedikit berdebat dengan anaknya itu. Bahkan kini samar-samar Hengky bisa mendengar suara Reyhan.


"Masa aku yang disuruh bikinin minum buat dia, aku masih mau dekor kamar pa. Biar dia aja deh yang bikin" ujar Reyhan membuat tatapan mengerikan dari Reynaldi bak pisau menghunus jantungnya yang kini berdebar ketakutan.


"Reyhan" ujar Reynaldi dengan suaranya yang semakin berat membuat Reyhan menelan salivanya.


"Iya, iya pa, ih yang anak kandung itu sebenernya siapa sih" kata Reyhan sedikit berbisik membuat ayahnya kini hanya bisa melirik dengan tatapan ganasnya membuat Reyhan segera berlari menuju dapurnya.


Hengky yang samar-samar mendengar perdebatan mereka hanya bisa tertawa kecil seraya menyumpahi Reyhan dalam batinnya.


"Ky, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" pertanyaan itu membuat Hengky mengalihkan pandangannya, dan sesekali tersenyum pada Reynaldi yang kini beralih duduk disampingnya.


"Eh, om, enggak apa-apa kok" ujar Hengky yang kini mulai mengangguk pada pria paruh baya yang tengah menatap taman kecil dihadapannya.


"Saya mau ngobrol sama kamu, kamu udah janji kan mau cerita tentang Reyna. Jujur saya nggak tau gimana keseharian Reyna dulunya, jadi saya mau tanya langsung ke kamu" kata Reynaldi membuat Hengky mengangguk-angguk dan mulai menarik nafasnya dalam-dalam.


"Reyna itu gadis yang baik om, dia itu lucu, kadang juga ngeselin hehehe, tapi sayangnya Reyna agak tertutup dengan masalahnya" kata Hengky yang kini mulai membuka cerita membuat Reynaldi tersenyum seraya menyimak perkataan Hengky yang masih menggantung.


"Saya kenal pertama kali sama Reyna itu waktu kita MOS, kebetulan dia satu kelompok sama saya. Mulai saat itu kita semakin deket."


"Apa Reyna pernah cerita soal keluarganya ke kamu" tanya Reynaldi yang kini membuat Hengky melirik pria paruh baya itu yang masih mempertahankan senyumnya. Bahkan Hengky sendiri tak tau apakah itu memang senyuman tulus atau senyum keterpaksaan.


"Hem, nggak pernah om, tapi dia pernah bilang kalo dia sayang sama om sama tante meskipun udah nggak tinggal seatap. Saya pernah tanya kenapa orang tuanya pisah, tapi Reyna nggak pernah mau cerita. Tapi semenjak sekolah ia nggak pernah punya masalah kok, meskipun kadang dia suka telat" kata Hengky membuat Reynaldi manggut-manggut dan masih saja bertahan dengan senyuman yang semula.


"Kelihatannya Reyna anak yang begitu periang ya? dia bahkan nggak mau membagi masalah dengan teman-temannya. Hah, Hengky, saya masuk dulu ya, kayanya saya butuh istirahat dulu" kata Reynaldi yang kini mulai bangkit membuat Hengky terdiam kebingungan.