The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Sahabat kecil Kanaya



Btw pasti banyak yang nggak suka sama si Novi, tapi author mau kasih bocoran gambarnya, ada yang nggak mau? tapi author maksa wkwkwkwk. Jangan dihujat ya, karena Novi juga manusia biasa, bukan boneka 😂.


Canda guys ☺️



______________________________________________


"Gara-gara lo, Kanaya nungguin lo sampek malem dan dia pulang ujan-ujanan. Lo nggak tau Rey dia sakit apa?! lo mau dia mati haa?! asal lo tau Rey, Kanaya udah jatuh cinta sama lo" perkataan Edwin membuat Reyhan yang kini tersungkur membelalakkan matanya tak percaya.


Edwin masih bertahan meraih kerah Reyhan ia mencoba untuk melayangkan kepalan tangannya lagi. Namun sebuah suara mengejutkan mereka berdua.


"Reyhan!" suara itu tampak tak asing, mereka menatap Novi yang kini berlari kearah Edwin dan juga Reyhan. Novi segera mendorong tubuh Edwin sampai dirinya terjatuh diatas lantai basemen. Gadis itu buru-buru membantu tubuh Reyhan yang nampak babak belur oleh pukulan Edwin tadi.


"Kamu nggak apa-apa kan Rey? ya ampun wajah kamu lebam-lebam semua" ujar Novi yang kini mencoba untuk menolong Reyhan. Namun Reyhan hanya bisa menahan amarahnya saja. Kenapa juga Novi selalu hadir pada waktu yang tidak tepat seperti ini. Reyhan menghempaskan tangan Novi yang hendak menolongnya, namun namanya juga Novi, ia takkan menyerah semudah itu.


"Bagus, cewek lo udah dateng, sekalian aja gue tegesin. Lo nggak perlu lagi ketemu Kanaya, sampek kapanpun gue nggak bakalan ikhlas kalo lo deket-deket sepupu gue lagi!" teriak Edwin yang kini segera meraih kunci disaku celananya dan ia segera pergi dari sana menaiki motor besarnya.


***


"Nay, lo kok bisa kaya gini gimana ceritanya?" tanya Cindy yang kini duduk disamping bangsal Kanaya yang dirawat bersama dengan siapa lagi kalau bukan Luna sahabat dekatnya itu. Gadis itu tersenyum tenang, mana mungkin ia memberitahukan ceritanya yang menyedihkan kemarin hari, hanya dia seorang yang tau.


"Cuma kehujanan dikit aja kok, mungkin semalam aku lupa matiin AC jadi kedinginan deh" kata Kanaya mencoba menenangkan teman-temannya.


"Tapi kok sampe penyakit lo kambuh gitu, kalo aja Edwin nggak ngasih tau kita, pasti kita juga nggak bakalan tau ya kan Cin?" kata Luna seraya menatap Cindy membuat gadis itu mengangguk.


Kanaya mengerutkan keningnya, padahal hari sudah semakin sore tapi kakak sepupunya itu bahkan belum menjenguknya. Dia yang tau duluan tapi malah teman-temannya yang berada disini saat ini.


"Kak Edwin ngasih tau kalian? gimana ceritanya?" tanya Kanaya yang memang sedikit penasaran.


"Nggak penting kali, lo juga nggak ngabarin kita kalo lagi sakit, malah kita tau dari orang lain" ujar Cindy seraya memutar bola matanya. Kanaya hanya bisa terkekeh, mana ada waktu dirinya untuk bermain ponsel. Lagipula dari tadi pagi sampai siang dirinya tidak sadarkan diri. Tapi sudahlah, setidaknya kedua temannya itu memang peduli padanya meskipun Kanaya tak mungkin menceritakan hal itu, takut jika kedua temannya itu tambah khawatir nantinya.


"Maaf deh, aku nggak bawa ponsel soalnya" seru Kanaya membuat Cindy masih mengerucutkan bibirnya sebal. Luna hanya bisa menggeleng seraya tersenyum kecil, dibenaknya saat ini ia hanya ingin bertanya satu hal yang membuat ia penasaran sejak apa yang dikatakan Cindy tadi siang.


"Oh ya Nay, denger-denger lo pernah jalan ya sama pacarnya si Novi itu?" pertanyaan Luna membuat Kanaya menelan salivanya, kenapa jadi bahas Reyhan? padahal saat ini ia benar-benar tidak ingin mendengar namanya. Ia takut ingat akan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan itu.


"Nay? jadi bener, dia itu gebetan lo?" pertanyaan lagi dari Cindy membuat Kanaya tersentak, ia mengangkat pandangannya searaya menggeleng.


"Aku sama kak Reyhan nggak ada hubungan apa-apa kok, ya kita emang pernah jalan, tapi hubungan kami nggak lebih dari sekedar sahabat" ujar Kanaya menegaskan. Lengkung kecil disudut bibirnya menandakan bahwa ia baik-baik saja, tapi tidak dengan hatinya.


"Tapi kan dia ganteng Nay, masa lo nggak suka sih?" ujar Cindy yang kini memojokkan Kanaya membuat gadis itu tetap mengelak seraya masih menggeleng.


"Iya Nay, kalo lo emang suka lo bisa curhat kok ke kita, kita kan temen, masa lo nggak mau bagi beban ke gue sama Cindy?" sambung Luna membuat Kanaya tersenyum. Begitu beruntungnya Kanaya memiliki teman seperti mereka, andai saja ia bisa cerita. Namun kali ini ia harap bisa menyimpan perasaannya sendiri rapat-rapat.


"Adiknya kak Reyhan sahabat aku, dia udah meninggal 6 tahun lalu, jadi aku kenal sama kak Reyhan udah lama. Udahlah kalian nggak perlu khawatir gitu, aku juga belum mikir masalah percintaan, bodo amatlah" kata Kanaya yang kini mulai tertawa renyah disusul Cindy dan juga Luna.


"Dasar lo Nay, gue khawatir tau, kalo aja bener si Novi ngerebut gebetan lo, gue sama Cindy nggak terima" kata Luna menimpali.


Mendadak Kanaya menghentikan tawanya, memang siapa yang tidak suka ketika pria tampan mendekatimu? membuatmu nyaman seolah kamu satu-satunya. Kanaya sudah merasakannya bahwa dirinya berharga, namun sayangnya kenyataan tak sesuai apa yang ia bayangkan. Bisa jadi dirinya malah yang hendak merebut Reyhan dari Novi mengingat Reyhan memang banyak disukai para wanita termasuk dirinya juga. Namun satu hal yang ia rasakan saat ini, yang tak dapat ia katakan pada siapapun, bahwa Kanaya benar-benar mencintai Reyhan. Meskipun berulangkali gadis itu sudah dibuat kecewa, dibuat terluka sampai terjatuh seperti ini namun ia tak dapat menghilangkan perasaannya begitu saja.


Ceklek


Suara pintu terbuka membuat ketiga gadis itu menoleh, Kanaya sempat terpaku melihat Edwin yang kini membawa seseorang disampingnya. Begitupun juga Cindy maupun Luna yang kini menelan ludah mereka masing-masing.


"Nay, itu siapa? ganteng banget" ujar Cindy yang kini mulai meraih lengan Luna tanpa sadar membuat gadis itu juga tak sadar mencubit tangan Cindy yang mulai nakal kegenitan.


"Aduh, Lun apaan sih!" kata Cindy yang kini mulai memutar bola matanya kesal akibat sahabat satunya itu.


"Lo sih, liat cowok bening dikit gatel. Lo nggak liat dia ngeliatin Kanaya dari tadi" seru Luna membuat Cindy sedikit kecewa dibuatnya. Sebenarnya Kanaya biasa saja, hanya tak menyangka sahabat kecilnya itu akan datang kemari bersama Edwin. Sudah lama sekali mereka tak berjumpa, kalau tidak salah sejak Kanaya berada di bangku SMP. Dua lelaki itu mulai mendekat, sedang Luna kini menarik lengan Cindy untuk ikut bangkit.


"Eh Nay, kita pamit dulu ya, kayanya udah hampir malam nih, yuk Cin" ajak Luna membuat Cindy agak kesal saja. Padahal ia masih ingin melihat cowok itu, jarang sekali ia melihat yang bening-bening, tapi rencananya malah dikacaukan oleh sahabatnya sendiri.


"Eh gitu ya, kalo gitu makasih ya Lun, Cin" ujar Kanaya membuat kedua temannya itu mengangguk seraya tersenyum. Selesai bercipika-cipiki Luna dan Cindy kemudian keluar dari ruangan tersebut.


Sejenak lengang dan juga kecanggungan membuat Kanaya hanya bisa diam seraya tersenyum pada pria yang dibawa oleh Edwin ini.


"Kok pada diem?" kata Edwin membuat suasana yang canggung itu berubah seketika. Edwin memberikan kode pada pria itu untuk duduk disamping bangsal Kanaya. Pria itu kemudian menuruti perintah Edwin, dulunya mereka saling bermain bersama namun mungkin karena jarak yang memisahkan kini canggung dirasakan Kanaya begitupun pria itu.


"Hay, Nay! udah lama nggak ketemu ya, makin cantik aja" ujar pria itu membuat Kanaya menunduk dna tersenyum.