The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Marah



Reyhan kembali dengan perasaan kesalnya, kini dirinya sudah singgah dirumah barunya. Tepat sehari sebelum Reyna menikah mereka memang berencana untuk pindah dirumah yang lebih besar.


Reyhan menyandarkan punggungnya, ia menghela nafas lelah kala baru saja mengantarkan Kanaya pulang. Perasaannya kini berubah tak karuan akibat gadisnya yang tiba-tiba marah padanya. Sedari dirinya mengantar Kanaya gadis itu hanya diam membisu dengan tatapan dingin.


"Uhuy! ada yang baru nganterin ceweknya pulang nih" celetuk Zayn yang kini duduk ditangga seraya meledek saudaranya itu yang kini hampir stress.


"Mana mommy sama kakak lo?" tanya Reyhan seraya menelisik setiap ruang dan dapur jauh dari dirinya duduk di sofa ruang tamu.


"Pulang lah, gue kan punya rumah sendiri disini, males aja ninggalin. Sepi, mending disini ada kerjaan" kata Zayn yang kini melangkah turun dan segera duduk disamping saudaranya itu yang kini berulangkali terlihat gusar seraya memijit pelipisnya.


"Kenapa sama pacar lo? ada masalah?" tanya Zayn yang kini memegang pundak Reyhan membuat pria itu menggeleng. Bukannya ia tak mau bercerita, tapi ia sendiri tak tau apa masalah yang terjadi.


"Udah pulang Reyhan?" Reynaldi tiba-tiba datang dari kamar bawah membuat pria itu mengangguk lemah.


"Kamu punya cewek kok nggak dikenalin papa sih" Reynaldi ternyata sedari tadi menyadari jika salah satu sahabat Reyna ada yang menjalin asmara dengan putranya swtu itu. Baguslah! hal yang dikhawatirkan oleh dirinya kini sudah berkurang, tinggal keberanian Reyhan untuk mempertemukan calon mantunya itu padanya.


Tiba-tiba saja Reyhan menepuk jidatnya, ia baru ingat akan janji yang diutarakan oleh Kanaya tadi sore. Kalau saja papa tidak menyinggungnya bagaimana ia bisa ingat. Tamatlah riwayat Reyhan kali ini, pantas saja Kanaya begitu marah padanya. Jadi ini toh yang menjadi problemnya sedari tadi.


Reyhan seperti orang bodoh saja, ia bangkit dan hendak menuju atas ke kamarnya. Bagaimana mungkin ia sampai lupa hal sepenting itu.


"Aku mau ke atas dulu" kata Reyhan seraya melangkah menjauh dari dua pria yang kini hanya terdiam dengan pandangan heran.


"Kamu kenal sama ceweknya Reyhan?" bisik Reynaldi pada Zayn yang kini masih mengamati pergerakan Reyhan menaiki tangga.


"Kenal sih nggak pa, cuma tau aja. Kayanya ada masalah deh sama pacarnya" kata Zayn menambahi, melihat dari gerak-gerik Reyhan yang amat murung setibanya ia dirumah.


"Tuh si Reyhan aja udah punya cewek, kapan kamu mau nyusul, inget! udah tua kamu. Papa sama mommy kamu juga pengen gendong cucu, kalo kamu nggak bisa cari cewek biar papa yang cariin" ujar Reynaldi yang membuat Zayn malas saja. Ngapain juga harus membahas hal ini, dikira dirinya tidak laku apa. Memang kalau masalah jodoh papanya ini selalu protektif terhadap anak-anaknya. Memang Zayn tidak tua-tua amat sih, masih seumuran dengan Reyhan. Tapi namanya juga orang tua, pasti cerewet kalau masalah pasangan.


"Hah?! enggak ah, mana ada jodoh-jodohan, aku nggak mau buru-buru juga kok pa, umur ku juga nggak tua-tua amat" protes Zayn dengan muka cemberutnya yang membuat Reynaldi menggeleng dibuatnya.


"Enak kamu ngomong gitu, nanti kalau kamu udah ketuaan, nggak ada yang mau sama kamu selain nenek-nenek" ejek papa membuat Zayn membulatkan matanya. Apakah separah itu bayangan papanya untuk masa depannya. Miris sekali jika harus menikahi nenek-nenek.


***


Dering ponsel Kanaya tiba-tiba terdengar nyaring ditelinganya, ia yang semula menatap pantulan wajahnya dicermin kini beralih meraih tas kecil diatas nakas yang baru saja ia kenakan setelah usai datang ke acara pernikahan sahabatnya.


Kanaya menghela nafasnya, ia begitu malas kala mengetahui panggilan itu ternyata dari kekasihnya. Benar-benar kesal sekali hari ini, sudah sengaja berdandan cantik-cantik dan siap bertemu dengan calon mertua, Reyhan malah lupa akan hal sepenting itu. Masalahnya ia juga tak mau mengingatkan Reyhan, biar saja ia mengingat apa yang ia janjikan. Kanaya juga tidak mau dianggap kebelet kawin dengannya.


Kanaya membiarkan ponsel itu berdering begitu saja, ia melemparkan ponselnya diatas kasur agar suaranya tidak terlalu bising. Ia masih marah pada Reyhan, lagipula Kanaya juga sekalian ingin menguji calon suaminya itu.


Sementara itu disebrang sana, Reyhan berulangkali mencoba untuk menelfon Kanaya berulangkali. Hatinya merasa tak tenang saat ini. Reyhan bahkan tak bisa berhenti untuk bolak-balik melangkah dan menggaruk rambutnya kasar.


"Nay, angkat telfonnya sayang, please" gumam Reyhan seraya meremas jemarinya sendiri.


Sudah berapa kali Reyhan menelfon Kanaya namun hasilnya nihil, Reyhan akhirnya melepaskan jasnya dan melemparnya kesembarang tempat. Ia juga bodoh sekali, padahal ia tau Kanaya hari ini berdandan cantik untuk sekalian menemui Papanya. Tapi Reyhan malah sibuk hendak mengganggu malam pertama adiknya.


Reyhan duduk ditepi ranjangnya, dengan kasar ia melepaskan dasinya dan melemparnya ke atas kasur. Reyhan mencoba meraih ponselnya lagi, ia tak henti-hentinya menelfon gadisnya yang kini entah sedang apa.


Namun setelah setengah jam berlalu, kini kesabaran Reyhan akhirnya terbayar sudah. Kanaya mau menjawab panggilan itu meski nada dingin masih terasa ketika ia menyapa.


"Halo"


"Sayang, maaf, maafin aku Kanaya. Aku bener-bener lupa, aku janji Nay, besok aku bakal jemput kamu, kita sama-sama ketemu papa ya?" Kanaya menghela nafasnya, ternyata Reyhan mengingatnya barusan. Gadis itu menggeleng, meskipun ia lega akhirnya Reyhan ingat juga terhadap janjinya. Tapi rasanya masih kesal saja jika mengingat peristiwa hari ini.


"Aku mau tidur dulu, capek" kata Kanaya cuek membuat Reyhan mengusap kasar wajahnya.


"Nay, aku bener-bener minta maaf sayang. Aku janji deh nggak bakalan lupa lagi, besok aku jemput ya" walaupun Reyhan membujuknya tetap saja tidak merubah kekesalan dalam hati Kanaya. Namun melihat Reyhan yang memohon, kasihan juga.


"Kita obrolin besok aja ya kak, aku ngantuk" kata Kanaya seraya mematikan ponselnya secara sepihak. Reyhan hanya bisa memejamkan matanya, ia ingin marah saja saat ini. Tapi memang wajar kalau Kanaya marah, ini semua juga salahnya.


Kanaya tersenyum kecil, ia sebenarnya sudah tidak mempermasalahkannya. Toh ada hari esok yang bisa menggantikan pertemuannya dengan Reynaldi. Tapi memang Kanaya sengaja untuk mengerjai pacarnya, ia ingin melihat seberapa besar cinta Reyhan padanya saat dirinya marah seperti ini.


Kanaya yang sudah bersiap dengan piyama birunya, kini beralih berbaring menyamping di ranjangnya. Ia meraih sebuah foto dibalik bantalnya dan mencium foto itu dengan gemas.


"Selamat malam sayang, I love you" Kanaya memejamkan matanya, ia juga kemudian menaruh foto Reyhan yang baru saja ia cium itu disampingnya.