
Sepuluh menit berlalu, meninggalkan jalanan yang penuh sesak oleh hari dimana jam kerja akan dimulai.
Suara hembusan nafas lega dari Falery membuat Michael tersenyum lagi kearahnya.
Gadis itu masih terdiam dengan tatapan gugup dan juga jantungnya yang berdegup kencang. Bukan karena apa, tapi karena hari ini adalah hari tersial yang pernah ia lalui.
"Bos... berhenti disini saja" ucap Falery membuat pria disampingnya menginjak rem secara mendadak.
"Aw...!!" teriak Falery kala jidatnya hampir mengenai kaca mobil dihadapannya.
"Maaf... hehehe aku tidak sengaja" kata Michael terkekeh membuat Falery mengerucutkan bibirnya dan segera pergi keluar meninggalkan Michael disana.
Michael Rownald, Manager rumah sakit Sun Town. Pria berperawakan atletis dengan tubuhnya yang tinggi, matanya yang hijau serta pandangan yang tegas, adalah salah satu sifat dan juga karakternya sebagai atasan.
Tak hanya itu, wajahnya yang tampan dan juga berwibawa membuatnya bak selebriti rumah sakit yang tiap hari menjadi bahan gosip serta kekaguman pada Michael.
Pria itu terkekeh sepeninggal Falery dari mobilnya. Ia menahan dagunya diatas setir mobil sambil memperhatikan punggung gadis itu yang kini tengah berjalan dengan santai sambil merapihkan dandanannya.
"Coba saja kau lepas kacamata mu itu, kau pasti akan terlihat sangat cantik" gumamnya dengan senyuman yang mengembang.
***
"Kamu nggak boleh membatalkan pernikahan ini semaumu Yasya! apa kata Jhonny nanti?! pokoknya papi nggak mau kamu kemanapun, kamu nggak boleh pergi Sya!" ucapan tegas dari Adi tak dapat mengubah fikiran Yasya, bagaimana mungkin cinta yang selama ini menjadi impiannya akan menghilang begitu saja.
Pria itu melangkah cepat sambil membawa koper keluar dari rumahnya. Kini tekatnya sudah bulat, keinginannya sudah tak dapat terbendung lagi.
Andai saja waktu dapat diputar kembali, ia pasti takkan melepaskan Falery.
"Pi...Stop pi! jangan halangi kebahagiaan ku... ini pilihan ku pi, sedangkan menikah dengan Sarah adalah pilihan papi. Sekarang, aku hanya akan menikah dengan Reyna bukan yang lainnya, jika papi tetap memaksa, maka aku nggak akan mau menuruti apa yang papi mau" ucap Yasya seraya menyeret kopernya keluar dari kamar besarnya.
Adi tak bisa menahan putranya. Entah sejak kapan Yasya bertingkah seperti itu, tergila-gila pada seorang gadis bahkan semenjak lima tahun lalu.
"YASYA! apa yang harus papi katakan pada Jhonny nanti, upacara pernikahan kalian akan berlangsung seminggu lagi, kamu tau kan gimana persiapannya!" Yasya tak perduli lagi, dirinya membalikkan tubuhnya menghadap sang ayah dengan pandangan emosi.
"Itu terserah papi, papi yang memaksaku untuk menikah dengan wanita lain, sekarang terserah ku aku mau nikah sama siapa!, bahkan aku siap kok ditendang dari rumah, aku juga nggak peduli karena kebahagiaan ku bukan terletak dari rumah mewah yang papi bangun, maupun usaha besar yang papi miliki, tapi cinta yang Yasya cari selama ini" ucapnya dan langsung memasuki mobil tanpa perduli dengan Adi.
***
"Selamat pagi anak-anak...." suara ceria terdengar dari bibir gadis cantik yang kini tengah menyapa sekitar sepuluh anak-anak yang datang untuk mendengarkan cerita dari Falery.
"Selamat pagi kakak Fairy" teriak mereka serentak dengan senyuman yang mengembang. Entah sejak kapan Falery berubah nama menjadi Fairy, mungkin karena kelembutan hati gadis itu pada wajah-wajah kecil yang ia temui setiap hari, membuat Falery seperti peri kecil penyelamat dalam kehidupan mereka yang tidak sempurna.
Mereka duduk bersimpuh dengan tikar lebar ditaman rumah sakit. Pemandangan yang hijau, dan bunga bermekaran serta taman bermain kecil disebelah mereka, menambah lengkap suasana rumah sakit anak Sun Town.
Falery kini dapat tersenyum kembali setelah beberapa peristiwa yang ia lalui sendiri.
Senyuman manja dan penuh kegembiraan terlihat begitu tulus dan polos dari anak-anak yang ia naungi untuk kesempatan hidup mereka yang telah divonis mempunyai penyakit yang sulit untuk disembuhkan.
Beberapa dari mereka memiliki kelainan seperti autisme, cacat kaki, buta, kelainan pada jantung, bahkan ada yang terkena kanker.
Hanya mengingat apa yang mereka derita membuat Falery terkadang menitikkan air mata dan lebih banyak bersyukur pada Tuhan dengan kehidupan yang Ia berikan.
Falery kini mulai bercerita, perihal kehidupannya sendiri, meski begitu Falery tak bisa curhat sepenuhnya pada anak-anak, hanya dengan menceritakan kisahnya dapat membuat mereka bisa lebih bersyukur dan menghargai hidup mereka sendiri meski banyak rintangan yang menghadang.
"Kak..." sebuah suara kecil dari anak perempuan, membuat Falery tersenyum pada Vanessa seorang gadis mungil tanpa kaki yang kini mengangkat tangan kearahnya.
"Iya Vanessa..." jawab Falery dengan senyum penuh kelembutan.
"Kenapa putri sangat baik hati, bahkan membiarkan penyihir jahat membantunya, bukankah sebelumnya penyihir itu mau membunuh Putri?."
Falery tersenyum kearah Vanessa. Diraihnya Vanessa dari tempat gadis berumur empat tahun itu dan digendongnya.
"Jadi kenapa putri sangat baik hati? dan kenapa penyihir jahat dimaafkan begitu saja?" tanyanya sambil beralih menatap Vanessa yang berada digendongnya sambil melirik anak-anak dibawahnya dengan senyuman dan juga guratan tanya darinya.
Vanessa mengangguk dengan polos.
"Anak-anak, jika ada yang menyakiti kita, kita tidak boleh membalasnya, jika ia minta maaf, maka kita harus memaafkannya, kalau kita tidak memaafkannya dan menyimpan dendam, bukankah kita sama saja dengan mereka?" terlihat mereka semua mengangguk mengerti dengan penuturan Falery.
"Berusahalah untuk melapangkan hati kita, karena Tuhan menciptakan manusia untuk saling membantu dan menjaga dunia untuk tidak saling bertengkar, sekarang kau mengerti Vanessa" wajah bulat Vanessa mengangguk dan tersenyum. Sebelum Falery menurunkan putri kecil itu, Vanessa dengan cepat mencium pipi Falery, membuat gadis itu membalas kecupannya.
"Terimakasih kak Fairy" kata Vanessa yang kini mulai paham apa yang gadis itu simpulkan padanya.
"Sama-sama sayang" jawab Falery yang kini ikut mencium pipi Vanessa dengan gemas.
."Ada yang ingin bertanya lagi..." teriak Faler disambut mereka yang saling antusias dan mengacungkan telunjuk.
"Aku kak..." kata mereka.
"Aku juga kak..." mereka saling bersahutan membuat gadis berkacamata itu tersenyum dan menanggapi mereka satu persatu.
Diantara pepohonan yang rindang, dengan gazebo ditengah taman, kini duduk seseorang pria yang tersenyum melihat pemandangan indah jauh dari tempatnya duduk.
Hanya melihat keceriaan dan juga senyuman diwajah Falery membuat Michael tak henti-hentinya menahan senyumnya.
"Mike, " satu tepukan dipundak Michael membuat pria itu menatap tajam seseorang yang kini berada dibelakangnya dan ikut duduk disampingnya.
"Apa-apaan?" kata pria itu sinis.
"Beberapa hari ini kau memandang dia? apa selera mu turun kali ini haha" ucap Romi, sahabat Michael, seorang dokter spesialis jantung.
Pria itu terkekeh saat melihat Mike menatapnya tak suka padanya.
"Bukan urusanmu" kata Michael ketus tanpa mau mengalihkan pandangannya pada Falery yang jauh dari tempatnya duduk.
"Akui saja, kau menyukai Falery bukan? kudengar dia pernah menjadi seorang model."
Michael tertegun dengan matanya yang membulat dan menatap intens pada Romi yang kini menyeringai dengan kerlingan dimatanya. Mencoba menggoda sahabatnya yang tengah jatuh cinta.
"Mo... model??" kata pria itu gugup.
"hahaha..." Romi menutup sebagian mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Takut jika sahabatnya akan marah atupun tersinggung, mengingat sikapnya yang begitu serius.
"Maafkan aku, hehe... aku takkan melanjutkan lagi" ucapnya yang kini mulai menghentikan perkataannya, membuat Michael mendengus kesal sambil menatap tajam kearahnya.
"Biklah... akan kuceritakan... hehe" lanjut Romi membuat Michael kini mulai terbiasa.