The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kesan pertama



Jemari lembut gadis itu yang seolah bergetar meraih cangkir coklat yang baru saja ia pesan. Reyna menyesapnya tanpa mau memandang sosok pria dihadapannya yang menatapnya dengan intens.


Menit berlalu tanpa ada kata di keduanya membuat Reyna merasa canggung. Ia beralih melirik Hengky yang kini masih menatapnya dengan tak percaya.


"Apa kabar Ky?" tanya gadis itu membuka suara. Terlihat Hengky memincingkan matanya seraya menyunggingkan senyum yang penuh arti.


"Sebenernya apa yang terjadi sama kamu Rey? kamu sengaja memalsukan kematian kamu sendiri?" kata-kata Hengky membuat Reyna terdiam sesaat. Ia bahkan tak tau apa yang dipikirkan Hengky padanya, namun belum menebaknya saja Hengky sudah berkata buruk padanya. Apalagi membayangkan apa yang dipikirkan pria itu, hanya akan membuat dirinya sakit hati.


Reyna mengangkat dagunya tanpa mau menatap Hengky yang kini masih menunggu jawaban dari Reyna. Wajah gadis itu terlihat datar dengan bibirnya yang menunjukkan garis lurus tersebut.


"Kayanya, ada hal lain yang lebih penting deh daripada ini. Aku permisi dulu" kata Reyna seraya bangkit tanpa memperdulikan Hengky yang kini masih bertahan dengan tatapannya yang penuh dengan tanya.


"Permisi" ujar Reyna seraya hendak melangkah, namun belum sempat beberapa langkah gadis itu berjalan, tangan Hengky langsung meraih lengan Reyna.


Tanpa disadari Reyna menghempaskan tangan pria itu dengan kasar.


"Kamu belum jelasin ke aku Rey, terus kamu mau pergi gitu aja?, oh wow, apa jangan-jangan emang bener, kamu memalsukan kematian kamu sendiri" Reyna menghela nafasnya. Matanya terlihat memerah menahan amarah. Gadis itu tampak dalam emosi yang memuncak, ia menatap mata Hengky yang kini menjurus padanya.


Plakkkk


Satu tamparan keras mendarat dipipi pria itu. Reyna bukanlah Reyna yang dulu, ia bahkan tak memperdulikan tatapan orang-orang disekitarnya yang menatap heran pada keduanya.


"Jaga ya mulut lo! lo nggak tau gimana kehidupan gue. Gue nyesel Ky ketemu sama orang kaya lo, semakin gede otak lo ternyata semakin kecil. Kecewa gue sama lo" ujarnya seraya meneteskan air mata. Gadis itu kemudian pergi tanpa permisi, ia meninggalkan Hengky yang kini masih tak menyangka dengan apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat.


Kata-kata Reyna membuat batinnya tersadar, ia merenung sejenak memikirkan dan mencerna kata-kata gadis itu yang kini telah pergi dari tempatnya.


Jujur saja, ia mengatakan hal demikian karena ia terlalu terluka atas kepergian Reyna dulu. Ia terlalu kehilangan hingga membuat batinnya terguncang selama lima tahun terakhir.


Dan setelah melihat keadaan Reyna yang kembali ia merasa seperti dipermainkan. Dan bodohnya setelah bertemu dengan gadis itu ia malah melontarkan kata-kata yang menyakiti perasaan dia. Padahal Hengky tidak pernah tau Reyna dimana, bagaimana keadaannya? tapi dengan kata-katanya yang lancang itu membuat Reyna merasa tersakiti.


Hengky mengacak rambutnya frustasi, setengah dari nyawanya kini seolah kembali dengan kedatangan Reyna yang tiba-tiba.


***


Reyna kini telah tiba di apartemennya, ia menaruh bingkisan yang ia bawa tersebut diatas meja makan. Gadis itu beralih menuju kamarnya. Matanya masih memerah dengan ingatannya yang tertuju pada kata-kata Hengky yang begitu menyakitkan untuknya.


"Kamu belum jelasin ke aku Rey, terus kamu mau pergi gitu aja?, oh wow, apa jangan-jangan emang bener, kamu memalsukan kematian kamu sendiri."


Gadis itu bahkan tak habis fikir dengan apa yang dikatakan oleh Hengky ketika pertama kali bertemu dengannya.


Reyna kini duduk diatas ranjang, ia menaikkan kakinya dan memeluk lututnya. Matanya kini tak tahan memanas dan mengeluarkan air mata. Rasanya sakit itu begitu menjalar, apa yang difikirkan orang lain ketika mengetahui bahwa dirinya masih hidup? apakah mereka menyesal pernah bertemu dengan Reyna? ataukah mereka berharap seharusnya Reyna meninggal saja.


Reyna menghapus air matanya tatkala dering ponsel di ponselnya terdengar. Gadis itu mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


Buru-buru ia mengangkat panggilan itu seraya mencoba untuk menegarkan hatinya yang tengah kacau.


"Falery! aku rindu padamu" ujar Lilia dengan ceria disebrang sana. Gadis itu tersenyum mendengar suara gadis disebrang sana yang menyapanya.


"Lia, aku juga rindu padamu. Kau apa kabar?" tanya gadis itu dengan suaranya yang berubah menjadi ceria.


Beberapa hari ini semenjak kepulangannya dari Amerika, ia jarang sekali menelfon sahabatnya itu. Bahkan tak dapat dipungkiri selain Yasya, Lilia juga termasuk daftar seseorang yang sangat ia rindukan.


Setidaknya mendengar suara Lilia yang begitu ceria membuat gadis itu melupakan hal yang sebelumnya ia alami meskipun ia tak dapat bercerita pada siapapun.


"Aku baik, ya meskipun beberapa hari ini aku sedikit sibuk di rumah sakit. Kau sendiri bagaimana? apakah nyaman disana?" tanya gadis disebrang sana membuat Reyna menarik boneka teddy bear dibelakangnya seraya memeluknya dengan gemas.


"Aku mulai menyesuaikan diri lagi Lia, mungkin karena sudah lama tidak menginjakkan kakiku di tempat ini jadi terasa asing bagiku. Oh ya, aku sudah diterima kerja loh" seru Reyna seraya menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya yang begitu empuk.


"Oh ya? selamat ya Fay, aku jadi ikut senang. Omong-omong, tuan Michael kemarin mencari mu dirumah ku" kata-kata itu membuat Reyna terdiam seketika. Ia sempat berfikir sejenak seraya memijit pelipisnya yang sedikit pening.


Jujur, ia sendiri sudah tidak ingin berurusan lagi dengan bos dingin itu. Semenjak Michael mengatakan padanya bahwa ia menyukainya, Reyna jadi semakin ingin menjauh saja. Sejak awal Reyna selalu berfikir jika Michael sengaja mendekatinya, namun ia tepis hal itu mengingat sikapnya yang berubah-ubah. Namun setelah ucapannya tempo hari membuatnya yakin akan fikiran awalnya.


"Lia, apa kau tau, salah satu alasan aku kembali kesini adalah menghindari Michael" kata Reyna lirih saraya menatap langit-langit kamarnya dengan pandangannya yang tak dapat diartikan.


"Ada apa dengannya? kau memang sengaja menghindarinya?."


"Saat Michael mengantarku pulang, ia mengatakan perasaannya padaku" Reyna menghela nafasnya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali dan tersenyum getir mengingat hal itu.


"Apa?! Michael menyukai mu? apa kau gila?! kenapa kau dari awal tidak pernah mengatakannya padaku?" Reyna menaikkan sebelah alisnya, ia tak tau apa yang dimaksud Lilia dengan perkataannya tersebut.


Reyna bangkit, ia duduk seraya meremas sprei yang berada dibawahnya.


"Apa maksudmu Lia? memangnya ada apa dengan Michael?" tanya Reyna yang tidak sabaran.


" Falery, kau ceroboh sekali, kau bahkan tidak mengenal bos mu sendiri. Michael adalah orang yang sangat gigih, apalagi tentang cinta dan asmara. Dengar-dengar dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, dan bisa dipastikan kau adalah cinta pertamanya."


"Lalu?,"


"Falery! Michael pasti akan mencari mu. Ia adalah tipe orang yang akan mendapatkan segala yang ia mau" kata-kata Lilia bagai petir menyambar hatinya.


Gadis itu kini membelalakkan matanya seraya berfikir keras. Fikirannya melayang mengingat kata-kata kesungguhan dari Michael padanya.


"Li, Lia aku mohon padamu. Kau jangan katakan apapun soal diriku, aku disini pun sudah mengganti identitas ku" ujar Reyna dengan gugup.


"Fay, kau tenang saja, semenjak saat Michael berusaha keras mencari informasi tentang mu, aku akan selalu bungkam. Karena dari awal aku sudah curiga padanya, dia terlihat frustasi Fay, bahkan ia sampai resign dari pekerjaannya semenjak kau pergi dari negara ini. Fay, kau juga harus hati-hati disana okay, saat ini Michael adalah orang yang diam-diam berbahaya."