
Reyna mengacak rambutnya frustasi, ia tak menyangka jika ada masalah besar antara Zayn dengan istrinya hingga nyaris membuat mereka berpisah. Tentu saja hal itu akan menimbulkan masalah besar jika diketahui oleh keluarga besar mereka.
"Mas!" ujar Reyna setibanya Yasya dari rapat siang ini, semenjak mereka menikah Reyna memang sudah berjanji akan memanggil Yasya dengan sebutan 'mas'. Memang membutuhkan waktu untuk bisa terbiasa dengan panggilan tersebut, apalagi dirinya sudah pernah pindah ke Amerika yang kebiasaannya jauh berbeda dengan negara asalnya. Kini rasa canggung itu seolah berubah menjadi hal istimewa dan menambah keharmonisan di antara keduanya.
"Gimana? kamu siap tinggal beberapa hari di apartemen Kanaya dengan Luna?" Reyna mengangguk, padahal ia tidak ingin jauh-jauh dari Yasya. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi memperbaiki hubungan Zayn dengan Luna agar kesalahpahaman mereka cepat terselesaikan. Reyna langsung bangkit dan memeluk suaminya, pria yang baru saja melepaskan jasnya itu kemudian membalas pelukan sang istri yang begitu erat memeluk tubuhnya.
"Aku pasti bakal kangen banget sama kamu mas"
"Iya yah, padahal tiap malam aku pasti rutin minta jatah, gimana dong kalo kamu nggak ada nanti, apa kita video call aja?" Reyna langsung mencubit perut Yasya dan melepaskan pelukannya. Ia mengerut sebal saat ia tengah serius namun Yasya membuat candaan di tengah kegelisahannya.
"Aduh sakit, bencana sayang becanda" ujar Yasya seraya berteriak kecil kesakitan.
***
Luna membuka pintu untuk menikmati senja, ia melongok melihat kearah luar balkon seraya tersenyum tipis, seketika Luna mengingat kembali lembayung senja setelah melakukan hubungan dengan Zayn di Hawaii. Perasaan yang sama, seolah pinggangnya masih dipeluk dengan erat dari belakang oleh pria bertubuh besar itu. Bayangannya pun buyar saat ia perlahan menyadari kenyataan tak seindah ekspetasi, rasanya ia masih tak menyangka jika honeymoon spesial itu berubah menjadi mimpi buruk untuknya. Ia juga tidak menyangka jika Zayn sudah melakukan hal demikian dengan wanita selain dirinya. Meski ia ingin mendengarkan ucapan Zayn dulu dan mencoba untuk percaya padanya, tapi bukti sudah terlihat jelas untuknya selama ini. Bahkan hatinya sendiri tak siap untuk menerima apa yang akan Zayn katakan nanti jika saja apa yang dikatakan wanita itu benar adanya.
Disaat seperti ini pun, bodohnya Luna masih sempat merindukan pria blasteran itu. Air mata Luna tanpa sadar menetes, ia memeluk erat-erat tubuhnya. Baru kali ini Luna merasakan sakit hati yang luar biasa, ia tidak menyangka jika hati jiwa dan raganya telah diberikan oleh pria yang salah.
"Zayn, kenapa kamu jahat banget sih. Kalau kamu nggak cinta sama aku, kenapa kamu menerima perjodohan ini" isak Luna seraya beberapa kali menyeka air matanya. Luna memutuskan untuk bangkit saat senja hampir berakhir dan menyisakan bayang gelap. Wanita itu kemudian berjalan kearah dapur untuk mengambil air dan segera meneguknya setelah ia membuka botol tersebut. Luna melihat isi kulkasnya yang terlihat kosong, dua hari ini ia memang tidak makan apapun selain minum air putih, mungkin karena dia merasakan stress yang teramat berat dalam hidupnya.
Luna kemudian berjalan untuk mengambil jaket lalu keluar dari kamarnya menuju minimarket terdekat. Padahal selama di apartemen Kanaya, ia sudah bertekad untuk tidak ingin keluar dari situ, dan ia memutuskan untuk membeli semua keperluannya secara online, tapi kali ini berbeda, Luna rasanya ingin keluar sendiri dan membeli beberapa roti untuknya di konsumsi.
Luna telah turun dari lantai atas, ia berjalan santai hendak keluar dari gedung itu namun langkahnya terhenti saat pria yang membawa beberapa kresek besar itu berhadapan dengannya dari arah luar. Pria itu tersenyum dan menyapa Luna, membuat wanita itu tersenyum simpul membalasnya.
"Mau kemana Lun malam-malam begini?" tanya Bian yang menghentikan langkahnya sejenak.
"Mau ke minimarket, beli makan"
"Mau di temenin? kebetulan aku tau tempat makan yang enak lo"
"Eng-enggak usah, aku cuma pengen beli roti aja kok terus balik lagi ke atas" Bian menghentikan langkah satpam yang tengah lewat, ia berbisik pada satpam itu dan memberikan dua kantung kresek yang ia bawa padanya, tak lupa ia meraih uang dari dalam sakunya untuk satpam itu.
"Kalo gitu, aku permisi dulu ya-"
"Yuk aku temenin" ujar Bian setelah satpam itu pergi dari hadapan mereka.
"Tapi, kamu kan baru belanja -"
"Aku titip ke satpam dulu, lagian nggak aman kalo cewek keluar malam-malam sendiri" Luna hanya tersenyum tipis dan mengangguk, yah ada baiknya ia tidak berjalan sendirian mengingat dulu ia pernah hampir di lecehkan oleh preman namun pria itu menyelamatkannya. Tiba-tiba angin yang sebelumnya terasa sejuk berubah dingin saat ia mengingat kejadian itu lagi, tak berselang lama kenangan-kenangan yang pernah ia lalui bersama Zayn kini terulang kembali tanpa ia sadari.
"Choco lava dan Americano"
"Makasih" Luna tersenyum tipis lalu meraih cangkir kopi dihadapannya untuk menyesapnya sejenak. Saat ini mereka berdua sudah duduk di mini cafe terdekat dan memutuskan untuk mengobrol ringan.
"Sorry, lo ada masalah ya? kok murung gitu?" tanya Bian dengan hati-hati, meski Luna sejak tadi terus tersenyum padanya, tapi wajahnya yang terlihat tengah menyembunyikan banyak masalah yang tidak dapat dihindari dari Bian sedikitpun.
"Keliatan banget ya?"
"Iya" kata Bian dengan senyumnya yang biasa ia tunjukkan pada wanita itu, meski begitu senyuman Fabian tidak pernah berubah meski wajahnya tampak terlihat lebih dewasa dari yang terakhir kali Luna lihat.
"Tapi nggak apa-apa kalau kamu nggak mau cerita, itu hak kamu. Kalau ada apa-apa hubungi aku aja ya, kayanya kamu nggak kenal orang sini. Daripada kamu nggak tahu harus minta bantuan ke siapa" Luna hanya mengangguk seraya tersenyum pada pria satu itu. Meskipun dirinya sudah mulai tenang tapi Luna tidak bisa semudah itu melupakan masalahnya.
"Luna"
"Ya?" jawab Luna saat ia memasukkan choco lava kedalam mulutnya.
"Kok kayanya kamu kurusan ya? kayanya tiga hari lalu kamu nggak sekurus ini deh?" Luna menghentikan kunyahannya dan langsung menelan makanannya. Ia menggeleng dan menyeruput lagi kopi dihadapannya.
"Muka kamu juga kelihatan pucat, kamu kenapa?"
"Aku nggak apa-apa"
"Lun-" jemari Bian tanpa sadar menyentuh jemari Luna saat mata Luna tertunduk dihadapannya. Wanita itu refleks menarik lengannya dan menatap waspada kearah Bian yang terlihat kecewa dengan perlakuan Luna.
"Sorry, aku khawatir. Lun, kalo boleh jujur aku masih berharap"
"Berharap apa?" tanya Luna memastikan, membuat pria itu ragu untuk melanjutkan perkataannya. Terasa aneh jika Bian mengutarakan perasaannya setelah mereka bertemu dua kali semenjak perpisahan sekolahnya dulu. Apalagi sikap Luna begitu pasif terhadapnya.
"Ber, berharap kalau kita masih berhubungan baik tanpa kamu harus bersikap dingin kaya gini" Luna menghela nafasnya, entah mengapa ia tidak bisa terbuka dengan Fabian. Mungkin karena ia tidak pernah dekat dengan pria itu sampai harus mengutarakan masalahnya, ataukah Luna merasa tidak nyaman karena masa lalu mereka yang sedikit tidak menyenangkan. Tapi yang jelas Luna menanggapi pria itu karena ia pernah mengenalnya sebelumnya.
"Sorry ya Bi, kamu bisa kok nggak perlu sok kenal ke aku kalau kamu nggak nyaman sama sifat aku. Aku benar-benar nggak apa-apa kok"
"Hey! bukan itu maksud aku, bukannya aku nggak suka kalau kamu bersikap begitu. Aku cuma khawatir" kata-kata Fabian tiba-tiba terhenti, ia semakin kehilangan alasan karena perkataan Luna barusan. Meski begitu Luna adalah sosok wanita yang sama seperti dulu, ia tak mudah di dekati sekalipun pria itu adalah Fabian. Tidak ada yang kurang darinya sedikitpun, kecuali tidak bisa melupakan Luna sampai ia mempertahankan statusnya yang single hingga sekarang.
"Oh ya, kamu hari Minggu free nggak?" kata Bian mengalihkan pembicaraan, Luna mengangguk dengan polosnya, saking banyaknya masalah Luna hanya memikirkan makan dan tidur saja sepanjang harinya. Ia tidak terpikirkan untuk melakukan sesuatu di akhir pekan, karena baginya semua hari sama saja untuknya.
"Mau nonton?"
"Aku lagi males di tempat yang rame"
"Ya udah, ikut aku aja gimana? aku punya tempat bagus buat merubah suasana. Aku jamin kamu pasti suka" Luna menggeleng, ia benar-benar malas keluar dari apartemen.
"Tempatnya nggak terlalu rame kok, kamu mau ya?" Luna diam sejenak, ia sendiri kehilangan kata-kata saat ia tidak memiliki alasan lain untuk menolak.
"Hem, oke tapi jangan Minggu ini ya. Lain kali aja, nanti hubungi aku aja kalau kamu ada waktu luang"
***
"Halo lun?"
"Bian? ngapain telpon malam-malam? kamu nggak tidur?"
"Aku belum ngantuk" Luna menaikkan sebelah alisnya, ia benar-benar sedang badmood beberapa hari ini. Tapi seolah pria itu tidak peka, ia selalu mendekati Luna setiap kali ada kesempatan. Bahkan belum ada setengah jam mereka berpisah dari mini cafe dibawah apartemen, dan Bian berhasil mendapatkan nomor Luna, kini dengan terang-terangan Fabian menghubunginya sesuka hati.
"Oh ya Bian, semenjak kita ketemu, aku belum bilang ya?"
"Bilang apa Lun?" tanya pria itu dengan suara lembutnya. Luna langsung membuang nafas, ia mendengus karena memang sengaja tidak ingin membahas pernikahannya dengan siapapun apalagi Bian yang notabenenya teman lama untuknya, terlebih ia malas jika nanti ia di tanya-tanya tentang suaminya. Tapi kali ini berbeda, Luna sudah mulai risih dengan Bian yang seolah mendekatkan diri padanya.
"Aku udah nikah" Bian menaikkan sebelah alisnya, ia sedikit terkejut dengan pengakuan Luna, Fabian terdiam cukup lama. Ia mencoba mencerna dan menelaah setiap pertemuan dengan wanita itu.
"Nggak, enggak mungkin. Aku tau kamu pasti bohong kan?"
"Buat apa aku bohong sama kamu. Aku beneran udah nikah kok"
"Kenapa kamu nggak cerita dari awal?" Luna menarik nafasnya dalam-dalam, yah cukup wajar jika Bian mempertanyakan hal demikian, faktanya Luna memang tidak ingin membahas pernikahannya dengan siapapun.
"Aku lagi ada masalah sama suami aku, dan aku nggak mau bahas dengan siapapun termasuk kamu"
"Lun, nggak mungkin kamu udah nikah. Aku nggak percaya, bilang aja kalau kamu bohong supaya aku bisa ngejauh dari kamu. Iya kan?" Luna mendengus, ia benar-benar tak paham dengan apa yang dikatakan Bian. Luna lalu mematikan ponselnya, ia kemudian mengirim foto pernikahannya dengan Zayn sebagai bukti kalau Luna saat ini memang sudah bersuami.
Luna lalu menghempaskan tubuhnya, ia sudah pusing memikirkan masalah hidupnya, ia ingin beristirahat sejenak dan menutup matanya untuk menghilangkan semua beban di hidupnya meskipun hanya sebatas tidur. Belum sampai lima menit ia memejamkan mata, tiba-tiba suara bel pintu berbunyi membuatnya terbangun. Luna kemudian berjalan malas kearah pintu, tanpa berpikir panjang wanita itu langsung membuka pintu dan langsung mendapati Bian yang menatapnya dengan serius.
"Ada apa sih?" tanya Luna seraya mengucek matanya, pria itu langsung memeluk Luna sepihak, membuatnya terkejut hingga Luna terdiam sejenak.
"Aku nggak bisa nahan perasaan ku kaya gini Luna, aku cinta sama kamu" Luna mendorong tubuh Fabian dan menatapnya penuh amarah, padahal pria itu sudah mengetahui status Luna saat ini, namun ternyata Fabian melakukan hal nekat sampai datang ke apartemennya.
"Kamu apa-apaan sih? aku nggak terima ya sama pernyataan kamu. Aku ini sudah bersuami, dan aku ngomong gini biar kamu paham sama posisi dan status aku-"
"Aku tau, tapi kamu lagi berantem kan sama suami kamu? dan sekarang kamu tinggal di luar aja nggak di jenguk sama sekali, itu berarti suami kamu nggak peduli sama kamu Luna" Luna menggigit bibir bawahnya, emosinya seolah sudah mencapai ubun-ubun saat tanpa sadar Fabian telah menghinanya.
"Maksud kamu apa ngomong kaya gitu?"
"Lun, aku cuma-"
"Denger ya Bian, apapun masalah rumah tangga aku itu bukan urusan kamu. Kamu juga nggak berhak bersikap kaya gini ke aku, sekarang aku mau istirahat" Luna hendak membalikkan tubuhnya, namun jemari wanita itu ditarik oleh pria yang kini tersenyum sendu padanya. Seolah berharap lebih untuk mencintai Luna meski hanya sesaat.
"Luna please?" kata Bian dengan suara parahnya saat Luna menggeleng dan langsung masuk ke apartemennya.
***
Ting tong
Suara bel berbunyi, membuat langkah lunglai pria yang baru bisa tertidur di sofa itu mengucek matanya berulangkali memastikan suara bel pintu dari rumah besarnya benar-benar berbunyi, dan ternyata benar apa yang Yasya dengar. Pria itu kemudian melangkah lunglai ke arah pintu rumahnya dengan nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul.
Ceklek
"Mas Yasya!" pria itu terkejut melihat istrinya yang berdiri dihadapannya dengan ekspresi cemas.
"Lah kok balik? nggak jadi nginap di tempat Luna?" Reyna melongok kedalam rumah, ia sempat heran saat Yasya membukakan pintu dengan cepat, padahal kamar mereka berada di lantai dua. Dan benar saja tebakan Reyna, ia melihat selimut dan bantal yang tergeletak di atas sofa dan langsung menarik suaminya itu masuk kedalam.
"Aku tadi udah didepan pintu lift lantai apartemen kak Luna, tapi tiba-tiba aku nggak sengaja liat-" Reyna mulai menceritakan apa yang ia lihat setelah ia hendak keluar dari dalam lift, matanya membelalak dan refleks mengangkat ponsel yang ada di genggaman tangannya untuk merekam kejadian yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Video itupun disaksikan oleh Yasya yang kini mendengus dan menatap Reyna. Seorang pria tengah memeluk tubuh kakak ipar mereka yang baru saja membukakan pintu apartemennya.
"Kamu kenapa sih sayang pake video in segala?"
"A-aku refleks mas" kata Reyna dengan nada lemah dan wajah polosnya membuat suaminya berdecak dan menggeleng. Untung saja di video itu Luna langsung mendorong pria itu dan beberapa menit kemudian masuk kedalam, namun sialnya percakapan mereka tidak terlalu terdengar dari rekaman video itu. Namun sebelum rekaman video itu berakhir lengan Luna terlihat ditahan oleh pria itu yang terlihat frustasi.
"Jadi, kita harus gimana dong? kalau dibiarin gini terus mereka bisa cerai" ujar Reyna dengan pikirannya yang tengah kalut akan keadaan rumah tangga kaka angkatnya itu.
"Hey sayang, kamu lihat sendiri kan Luna nggak ngerespon cowok itu, malahan cowok itu yang nahan Luna"
"Iya aku tau, kak Luna nggak mungkin selingkuh. Dia kan cinta banget sama Kak Zayn, aku juga sempet denger kok apa yang dibilang kak Luna pas usir cowok ganteng itu-"
"Apa?! ganteng!" Reyna menutup mulutnya, ia menatap lirikan tajam dari suaminya yang membuatnya merinding. Mau dilihat bagaimanapun laki-laki yang menemui Luna tadi memang sangatlah tampan, tapi meski begitu bagi Reyna tidak ada pria yang lebih tampan dari suaminya.
"Maksud aku lebih ganteng kamu kok"
"Aku nggak terima ya, kamu bilang cowok lain ganteng meskipun dalam hidup kamu aku yang paling ganteng di dunia ini sekalipun" ujar pria itu seraya mendekatkan wajahnya ke leher Reyna dan langsung mengecup pundak wanita itu.
"Iya deh ampun, aku nggak bakal ngomong begitu lagi. Tapi jangan lagi dong mas, kan hari ini udah. Kamu nggak kasihan sama dedek bayinya?" Yasya langsung menjatuhkan wajahnya tepat di atas perut Reyna dan langsung mengecup perut yang sedikit membuncit itu membuat Reyna tersenyum dan menyentuh wajah suaminya.
"Sayang nya papa, jagain mama ya biar nggak genit" Reyna memutar bola matanya.
"Terus video ini gimana? aku hapus aja lah ya?" kata Reyna dengan pandangan cemasnya saat ia meraih ponsel dari tangan Yasya. Yasya sempat berpikir sejenak, ia mengangguk lemah seraya menggosok hidungnya dengan ibu jari miliknya. Saat jemari Reyna hendak menghapus video tersebut, tiba-tiba Yasya meraih ponsel itu sepihak dan menggeleng.
"Aku pikir, video ini nggak perlu dihapus deh"
"Kamu gila ya?!" saat itu hanya senyuman yang mampu Yasya tunjukkan pada istrinya, hanya saja Reyna yang tidak paham apa yang dipikirkan oleh suaminya sampai ia bangkit dan meninggalkan Reyna dengan sejuta pertanyaan di benaknya.
"Mas? maksud kamu gimana sih?" tanya Reyna saat pria itu melangkah untuk menutup pintu rumah dan tersenyum dengan bibirnya yang tersungging.
"Udah malam, besok aku jelasin. Yang penting kamu harus istirahat yang cukup, yuk kita keatas" ujar Yasya seraya menuntun Reyna untuk melangkah mengekor padanya.