
Falery merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk apartemen. Dirinya menatap langit-langit kamarnya, ada perasaan hampa dalam dirinya kala mengingat kehidupannya yang pernah tertata rapi kini seperti hancur kembali.
Dadanya seperti terasa sesak dengan tenggorokannya yang tercekat, rasanya seperti penderitaan yang tiada akhir baginya. Dulu ia pernah dipermainkan takdir, dan sekarang rasanya takdir seperti tak lelah untuk mempermainkannya lagi dan lagi.
Gadis itu bangkit, mengangkat kedua kakinya dan memeluk lututnya. Gadis itu perlahan mengeluarkan air mata yang ia tahan, air mata yang hampir setiap hari ia tumpahkan bersama dengan apa yang ia rasa.
"Hiks... papa... bang Rey? aku sangat merindukan kalian" Falery menangis dengan lirih, rasanya seperti ada yang mencabik-cabik jantungnya saat semua rasa sakit itu ia tumpahkan lewat air mata dalam kesendirian.
Yasya menatap foto dibalik pigura yang ia pajang dalam kamarnya. Seorang gadis cantik berambut panjang seperti tersenyum kearahnya. Yasya ikut tersenyum, dirinya perlahan mengingat setiap janji manis yang ia buat untuk Reyna.
Gadis yang paling ia cintai dan tak dapat tergantikan oleh waktu.
Sebuah penyesalan yang tak dapat ia ulang kembali. Kini ia harus menyimpannya dalam-dalam.
Tiba-tiba, fkirannya beralih kepada Falery, wajahnya yang sangat cantik dan mirip seperti Reyna walau sedikit lebih dewasa.
Diraihnya foto yang berada di dalam buku coklat miliknya, terlihat samar-samar foto yang sengaja ia sembunyikan.
"Kenapa kau harus mirip dengannya Falery? matamu, hidungmu, bibir mu, semuanya tak ada terkecuali kenapa kau bukan Reyna, kenapa kau hadir? seandainya kau adalah dia, aku takkan mencintaimu seperti ini, mencintaimu hanya karena kau mirip dengannya."
Yasya menghembuskan nafasnya. Entah mengapa, dirinya tak bisa berdusta pada hatinya bahwa didalamnya telah tersimpan perasaan cinta untuk Falery.
Namun sayangnya, perasaan itu harus ia tepis dan ia simpan dalam-dalam karena satu hal.
"Aku tidak ingin mencintaimu Falery, meskipun aku ingin, meskipun aku berharap, tapi aku tidak ingin egois memaksakan diriku untuk meyakinkan bahwa kau dan dia adalah satu orang yang sama."
Walau bagaimanapun, Reyna dan Falery adalah dua orang yang berbeda. Dan Yasya tidak ingin mencintai Falery hanya karena hadirnya yang mirip dengan gadis itu.
Suara hati lain berkata dalam diam, bergumam dalam angin yang sepi untuk kesekian kali.
Gadis itu menangis, merasakan perasaannya yang dirundung kesakitan.
"Hiks, maafkan aku Yasya. Aku tidak bisa mengatakannya hiks" Falery menekan dadanya kuat-kuat. Memeluk tubuhnya, dan mencoba untuk menenangkan diri, setelah guncangan yang ia terima.
Suara gemericik air terdengar disebuah kamar besar bernuansa merah. Gadis dibalik kamar mandi itu akhirnya keluar dalam keadaannya memakai kimono.
Segera ia mencari keberadaan ponselnya yang berada diatas nakas untuk mengetik sebuah nama dalam panggilan.
Tak butuh waktu lama, panggilan itupun terjawab oleh seorang pria disebrang sana.
"Hallo"
Senyum mengembang terpancar indah diwajah Sarah yang kali ini menampakkan geliat manja.
"Yasya kau dimana?."
"Aku ada dirumah, ada apa Sarah?" tanya pria itu yang membuat hati Sarah kian berdebar hebat.
"Baiklah, aku akan menjemputmu."
'Manis' kata Sarah dalam hati. Gadis itu semakin menunjukkan kebahagiaannya, kala wajahnya semakin memerah mendengar suara dari Yasya yang begitu lembut.
"Sarah" panggil Yasya yang membuat gadis itu tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Ah iya" jawabnya sambil menahan senyum.
"Kenapa diam?,"
"Tidak,aku hanya memilih baju" gadis itu menepuk jidatnya perlahan.
"Baiklah, sampai ketemu disana" panggilan pun berakhir, membuat Sarah semakin tersenyum senang. Ia tak menyangka bahwa pria yang selama ini ia idam-idamkan akhirnya akan menjadi suaminya.
Pria yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya kala dirinya bertemu dengan Yasya saat dirinya hendak menjemput Falery di hotel tepat di negara Georgia. Gadis itu berhambur membuka lemari pakaian, memilah-milah baju yang sesuai untuk kencannya siang ini.
Di tempat lain Yasya meletakkan foto-foto itu ditempat semula, dirinya menghela nafas dan bersiap untuk menemui tunangannya.
Dalam waktu sekejap dirinya telah siap untuk keluar dari mansion besar. Pria itu memasuki mobil dan mempersiapkan segalanya untuk menyambut hawa yang semakin dingin.
Yasya membuka dasbor mobil, ia baru mengingat sesuatu yang penting untuk membantu Falery.
"Berkas ini", Yasya membukanya dan menutup kembali. Walau bagaimanapun, ia hanya ingin membantu gadis itu meski tidak ada yang diharapkan darinya.
"Sebelum aku kembali, aku akan memberitahunya" ujarnya dengan tatapan mata yang serius. Kini Yasya hanya bisa memasrahkan segalanya, segala yang ia rasakan akan ia tahan meskipun rasa pasrah yang harus ia jalani.
Yasya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus jalan kota Florida yang begitu dingin ditemani salju dimana-mana.
Falery menghapus jejak air matanya yang berlinang, dirinya kini mulai merasa lega setelah air mata yang ia tumpahkan mampu membuat dirinya hanyut dalam kondisi yang ia terima.
Gadis itu melangkah menuju pintu keluar yang menjurus pada pemandangan luar. Ditatapnya salju yang memadati kota, matanya masih sembab oleh tangisannya yang baru saja usai.
Suara getar ponsel membuat gadis itu tersentak dan membuang semua fikirannya yang sempat dirundung kesedihan.
Gadis itu membuka beberapa pesan yang baru saja masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Beberapa detik kemudian senyuman mengembang terpancar indah dipipi Falery setelah membaca pesan dari rumah sakit yang pernah ia datangi dan melamar pekerjaan disana.
"Sun Town?" sebuah pesan pemberitahuan wawancara membuat gadis itu mengulas senyum bahagia, dan mampu menutupi rasa sedih yang ia rasa.
Kini tiada lagi yang ia bebankan, rasanya perlahan tapi pasti ia ingin mewujudkan impiannya melalui rasa yang ingin ia bagi.
Buru-buru Falery mengetik nama kontak dalam panggilannya, menelfon seseorang disebrang sana untuk memberitahukan suatu hal yang membahagiakan bagi hidupnya.
Tak lama kemudian panggilan itu terjawab, membuat senyum merekah dibibir Falery semakin terulas diwajahnya.
"Hallo"