
Falery melangkah santai sambil membawa jas putih, dirinya bersiap untuk memasuki kantor hendak mengajak Lilia temannya makan siang.
Gadis itu beralih duduk di kantornya sambil melenguh panjang. Merasakan penat yang ia rasakan usai berjalan pagi tadi.
Gadis itu menyandarkan punggungnya pada kursi, memejamkan matanya untuk kesekian kali.
"Selamat siang dokter" sapa seorang perawat yang ia ketahui bernama Lilia berdiri diambang pintu dengan senyuman diwajahnya, ya teman dekatnya setelah bekerja di Sun Town beberapa bulan ini.
"Lilia... kemarilah... sudah kubilang jangan panggil aku sebagai dokter, aku ini teman mu."
Lilia beralih duduk tepat dihadapan temannya yang terlihat letih dengan wajahnya yang sedikit memucat.
"Baiklah... ini hanyalah bentuk formalitas saja... hehe" ucapnya sambil terkekeh.
"Fay, omong-omong coba lah melepas kacamata itu, dan gerai lah sedikit rambutmu... kau pasti akan terlihat sangat cantik" ujar Lilia dengan senyuman yang memperlihatkan wajahnya tengah berangan-angan dengan tinggi.
"Tidak bisa... kau tau bukan, mataku minus" sahut Falery menimpali, membuat Lilia mengembangkan kedua pipinya dan memutar bola matanya.
"Kau bisa operasi, dan kalau kau takut, masih ada softlens untuk membuatmu melepaskannya."
"Tidak... ini saja aku sudah sangat bersyukur, lagipula aku juga tidak punya keinginan lagi untuk hidup ku" ujar Falery dengan wajah sendunya.
Lilia tersenyum kearahnya memberikan sebuah semangat untuk Falery. Mengingat kisah percintaannya yang membuat hidupnya terlanjur berubah.
"Bisakah kau melupakan pria itu Fay? cobalah mencari seseorang untuk menemani kehidupan mu suatu hari nanti."
Falery menggeleng, matanya terlihat kilatan kepasrahan dan kehampaan yang terdalam.
"Tidak... tidak akan. Sudahlah, aku lapar, bagaimana kalau steik didepan taman?" tawarnya yang kini dibalas anggukan oleh Lilia.
"Baiklah terserah kau saja" ujarnya membuat Falery segera menaruh jas di kursi kerjanya dan bangkit keluar dari kantornya bersama dengan Lilia.
Sementara itu mereka telah sampai di Cafetaria Steak. Perjalanan lima menit dengan berjalan dari rumah sakit Sun Town.
Falery tengah memilah-milah menu yang hendak ia pesan. Gadis itu segera menulis pesanan pada nota pengunjung untuk memesan.
"Kau mau pesan apa Lilia?" tanya Falery dengan pandangannya yang masih setia pada menu dihadapannya.
"Biar ku tulis sendiri, aku masih bingung" ucapnya membuat Falery menunggu sambil beralih menatap pengunjung sekitar. Diraihnya ponsel yang berbeda di tas kecil miliknya.
Gadis itu membuka beberapa chat yang masuk, tiba-tiba saja pesan dari Sarah membuatnya mengernyitkan kening.
Dibukanya pesan itu dengan hati dan juga fikirannya yang menerawang.
Sarah: besok temani aku memilih baju pengantin ya.
Mendadak gadis itu merasakan sakit di dadanya. Hatinya seolah pedih dengan kenyataan yang membuatnya tak bisa melupakan pria yang begitu ia cintai, matanya terpejam bersama kenyataan yang belum siap ia terima.
'Dulu aku pernah memimpikan hari dimana saat bahagia ku bersama denganmu, memimpikan sesuatu yang juga kau impikan, tapi semua itu seperti hanya sebuah imajinasi yang tak dapat menjadi kenyataan, impian yang aku tanam harus aku kubur dalam-dalam, bersamaan dengan bahagia mu... terimakasih Yasya atas segalanya... perhatian mu, cinta mu, perlindungan mu dan semua yang kau beri padaku. Aku takkan pernah melupakan itu selamanya' gumamnya dalam hati dengan guratan sendu di matanya membuat Lilia kini menjadi khawatir.
"Fay... kenapa? apa kau sakit? wajahmu pucat" kata Lilia curiga sambil memandangi Falery yang wajahnya tampak kusut.
Falery menggeleng, dirinya enggan menatap mata gadis dihadapannya, takut jika ia akan mengetahui isi hatinya saat matanya mulai berkaca-kaca.
"Kau yakin?" tanya Lilia memastikan.
Falery tertawa dengan senyuman palsu pada Lilia.
"Iya, aku hanya..." Falery tak bisa membendungnya lagi, air matanya jatuh begitu saja mengingat apa yang seharusnya ia lupakan selama ini.
Perih dihatinya bagai belati yang menusuk jantung dan jiwanya kala mengingat kebahagiaan dari sahabatnya menjadi luka terdalam didalam kehidupannya.
"Kau kenapa Fay? kenapa kau menangis?" tanya gadis itu membuat Falery menggeleng.
Falery mengusap air matanya, menyekanya dengan kasar sambil bersikap tenang.
"Aku hanya bahagia... sahabat ku akhirnya akan menikah sebentar lagi" ucapnya dengan suara yang terdengar bergetar, membuat Lilia tak percaya akan perkataan dari teman dihadapannya itu.
"Maaf, aku harus ke kamar mandi dulu."
Gadis itu buru-buru pergi, meninggalkan Lilia yang kini menyimpan segudang tanya yang belum terjawab oleh sifat Falery yang begitu mencurigakan.
Sesampainya di kamar mandi, Falery tak bisa menahan kesedihannya. Ia memilih untuk melampiaskannya meski hanya lewat tangisan. Setidaknya perasaannya yang gundah kini berkurang.
"Hiks.... hiks..." suara tangis gadis itu menggema didalam toilet wanita. Falery kini bisa merasakan betapa sakitnya kenyataan yang sesungguhnya dengan hanya membayangkan hilangnya Yasya dalam hidupnya namun tidak dengan hatinya.
Berulang kali dirinya selalu menghibur diri dalam kepedihan yang ia rasakan. dengan menjadi sahabat anak-anak dari Sun town yang membuatnya melupakan segala yang ia rasa.
Rasanya mungkin tidak akan sesakit ini jika bukan Sarah yang menjadi tunangan Yasya. Mungkin rasanya juga tidak akan sesakit ini jika ia mengingat peristiwa yang pernah ia alami dalam hidupnya.
Ia mungkin terlalu egois, membiarkan hidupnya penuh dengan luka yang menjalar dalam tubuhnya.
Namun ia tak bisa hidup bahagia diatas penderitaan orang lain, hatinya tak bisa melihat orang yang ia sayangi terluka olehnya.
Suara dering ponsel membuat gadis itu buru-buru menyeka air matanya, membiarkan suaranya kembali tanpa serak yang berarti.
"Halo" gadis itu mencoba untuk tenang.
"Fay... maafkan aku, aku harus pergi sekarang juga, dokter Romi menelfon, seorang anak mengalami kecelakaan, aku harus kembali."
Falery mencoba untuk menghembuskan nafasnya.
"Baiklah, kau kembalilah, aku akan makan sendiri nanti" ucapnya membuat Lilia beberapa kali harus meminta maaf meski Falery memaklumi. Segera ia matikan panggilan itu dan keluar dari toilet.
Dakk...
"Ahhh...." belum sempat ia sampai di mejanya, gadis itu tak sengaja menabarak seseorang yang ia yakini lebih tinggi darinya, membuatnya terjatuh dan ambruk dilantai.
Falery baru menyadari bahwa kacamata yang ia kenakan terjatuh, saat penglihatannya memburam.
Gadis itu meraba-raba lantai disekitarnya.
Namun sebuah tangan memberikannya topangan untuk bangkit dan menerima kacamata yang diberikan oleh orang asing dihadapannya.
"Terimakasih" ujarnya seraya mengenakan kacamata dan mendongak menatap pria yang lebih tinggi darinya.
Falery mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mengimbangi cahaya yang masuk melalui retinanya.
Gadis itu menatap pria dihadapannya dan langsung terkejut dibuatnya. Sebuah pandangan datar yang selama ini ia kenal berada tepat dihadapannya.
Memandangi wajahnya tanpa henti dengan bungkam tanpa mengucap kata sedikitpun.
"Bo. bos..." kata Falery gugup dan langsung menelan salivanya mengingat apa yang terjadi pagi tadi.
"Kau makan siang di sini juga?" gadis mengangguk ragu, dirinya tak berani menatap Michael yang kini tidak berhenti untuk menatapnya.
"Emmm.. bos, maaf untuk yang pagi ini... uhuk" Falery berdehem untuk bersiap melanjutkan kata-katanya dengan perasaan yang tidak nyaman.
"Terimakasih untuk pagi ini" ujar gadis itu membuat pria dihadapannya mengangguk dan menyunggingkan senyum kecilnya.
Lagi-lagi Falery dibuat heran dengan sikap dan sifat bosnya satu ini.
Menurut rumor yang beredar, si bos Michael adalah pria dengan sifat esnya yang sangat mustahil untuk mencair.
Tapi sepertinya rumor itu terpatahkan oleh sifatnya kali ini meski hanya pada gadis berkacamata itu.
"Bos um. bagaimana kalau aku traktir sebagai tanda terimakasih" Michael menatap datar Falery lagi, membuatnya celingukan dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Baiklah, lupakan apa yang aku katakan."
"Smoke beef steak" ucapnya membuat Falery mengangkat sebelah alisnya.
"APA?!" kata Falery dengan nada tinggi mengulangi perkataannya.
"Kau bilang ingin mentraktirku... pesankan aku smoke beef steak" ujarnya dengan tatapannya yang datar lagi. Membuat Falery tersenyum dan mengangguk.
Ditengah makan, Michael tak mengatakan sepatah katapun, begitupun Falery yang beberapa kali melirik pria dihadapannya dengan heran.
Ada rasa canggung yang mengusik jiwa gadis itu, perlahan dirinya mulai membuka suara untuk mencairkan suasana.
"kau juga sering makan siang disini?" tanya Falery dan hanya dibalas gelengan singkat oleh Michael yang kini fokus pada makannya.
"Jadi ini baru pertama kalinya kau datang kesini?" tanya gadis itu lagi yang tak menyerah untuk mengajak pria dihadapannya bicara.
"Tentu saja" ujarnya yang kali ini menatap Falery.
"Bagaimana rasanya bos?" tanya Falery antusias dengan senyuman ramah darinya.
"Lumayan" balasnya singkat membuat Falery menggaruk rambutnya. Antara bingung ingin membahas apa dan bingung oleh sifat Michael yang berubah-ubah.
'Lumayan katanya? kehidupan orang kaya memang sulit dimengerti' gumam Falery dalam hati sambil terus mengunyah daging yang ada dimulutnya.
"Apa yang sedang kau fikirkan?" pertanyaan itu membuat Falery tertegun membulatkan matanya. Gadis itu menggeleng dengan tatapannya yang enggan ia juruskan pada Michael.
Falery hanya menggeleng ia enggan untuk mengajak pria dihadapannya bicara, mengingat caranya menjawab pertanyaan darinya membuat gadis itu mendengus pelan tanpa bersuara.