The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bulan madu



Tangan Yasya menggantung di udara, disambut oleh Reyna yang kini hendak masuk kedalam mobil mereka yang dihiasi bunga-bunga. Kali ini Yasya sudah menyewa resort untuk malam pertama mereka selama satu minggu.


Disana Yasya juga mempersiapkan kejutan untuk istri tercintanya itu. Namun sebelum mereka pergi Kanaya telah mempersiapkan satu koper besar untuk perlengkapan Reyna selama mereka berada di resort untuk bulan madu.


"Makasih ya Nay" ujar Reyna sebelum mereka naik kedalam mobil.


"Santai aja, sana buruan berangkat" belum sempat kedua pengantin baru itu masuk kedalam mobil, Reyhan tiba-tiba menyerobot.


"Gue juga mau ikut dong, cuma anterin aja" kata Reyhan dengan senyuman jahilnya. Kini Yasya tak bisa mengelak, sebelumnya Reyhan sudah bilang padanya jika Reyna sudah menyetujuinya untuk menjadi supir saat Reyna akan pulang bersama Yasya nanti. Dan kesepakatan itu adalah hal terbodoh yang Yasya setujui, karena baik Reyhan maupun Zayn pasti akan merencanakan sesuatu.


Yasya hanya bisa melirik Reyna yang kini terkekeh ketika melihat kakaknya antusias dan menaiki mobil tanpa permisi itu.


"Abang kamu ganggu aja sih! lagian kamu kenapa juga setuju kalau dia bakal jadi supir kita malam ini" Reyna melirik Yasya dengan malas. Itu juga salahnya sih, tapi Reyna sudah merencanakan sesuatu dibalik itu.


"Kalo aku nggak turutin bang Reyhan, dia bakal ngerjain kamu habis-habisan sebelum kita nikah kali ini. Udah deh! aku punya kejutan buat kak Reyhan biar dia nggak nempel terus ke kita" Reyna tersenyum licik, sebenarnya Yasya sendiri tak tau apa yang difikirkan oleh gadisnya. Ia hanya menggeleng dan memasrahkan semuanya pada rencana Reyna yang tak bisa ia terka.


"Kak Reyhan ngapain disitu? katanya tadi janji mau nganterin aku pulang" kata Kanaya yang kini menatap tajam Reyhan seraya bersedekap dada. Reyhan hanya bisa menelan ludahnya kali ini. Ia benar-benar lupa pada Kanaya, sebelumnya ia berjanji pada Kanaya untuk mengantar jemput gadis itu pada saat acara Reyna kali ini.


Bahkan kini Rencananya harus gagal, apalagi Zayn juga tidak bisa menggantikannya karena ada keluarganya dari Amerika yang datang.


"Kak Reyhan turun!" protes Kanaya yang masih menatap Reyhan dengan wajahnya yang ditekuk itu.


Yasya hanya bisa menahan tawanya, sedangkan Reyna terkekeh bukan main. Ternyata ini yang Reyna rencanakan, pantas saja gadis itu begitu santai. Sebenarnya Reyna sudah merencanakannya saat pertemuan dirinya dengan Kanaya waktu di cafe itu. Ia tau yang bisa menghentikan Reyhan hanyalah Kanaya seorang.


Reyhan kini terpaksa untuk turun dan tersenyum pada Kanaya seraya menggaruk tengkuknya.


"Maaf ya sayang, aku lupa" kata Reyhan dengan tampangnya yang memelas. Tapi Kanaya tidak semudah itu untuk dibujuk. Ia masih marah pada Reyhan dan membuang muka pada pria itu.


Padahal Reyhan sebelumnya sudah berjanji padanya, jika pernikahan Reyna sudah berlangsung giliran dirinya yang akan diperkenalkan dengan Reynaldi, tapi nyatanya pria itu begitu pelupa dan lebih memilih mengganggu malam pertama Reyna dan Yasya.


"Aku kesel sama kamu kak Reyhan, kamu juga lupa sama janji kamu yang waktu itu" ujar Kanaya membuat Reyhan lagi-lagi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apa maksudnya janji itu? Reyhan kini tidak perduli lagi pada Yasya dan Reyna. Kini dirinya hanya ingin menenangkan Kanaya.


"Janji?" Kanaya membulatkan matanya, ternyata Reyhan benar-benar lupa akan janjinya. Kali ini Kanaya beralih pergi dan menghindari Reyhan yang mencoba untuk mengejarnya.


Reyna dan Yasya hanya terkekeh melihat keduanya. Senjata makan tuan dirasakan oleh Reyhan, salah sendiri macam-macam.


Dari kejauhan tampak Reynaldi dan juga Adi melambaikan tangan kearah mereka. Tersenyum, disusul sahabat dan keluarga angkat Reyna dari belakang. Reyna tersenyum melirik Yasya yang kini mengeratkan genggamannya pada Reyna yang telah merona dibuatnya.


Yasya membukakan pintu untuk istrinya dan mempersilahkan Reyna yang masih dibalut gaun pengantin itu untuk masuk.


"Sebelum kita berangkat, aku mau kamu pakai tutup mata ini dulu" kata Yasya setelah masuk kedalam mobil menyusul keberadaan Reyna didalamnya. Ia memberikan sebuah penutup mata berwarna merah pada Reyna.


"Buat apa sih?"


"Kejutan dong!" Reyna tersenyum dan mulai mengikat penutup mata itu pada matanya. Memang Yasya tidak memberitahukan padanya perihal tempat yang hendak mereka kunjungi saat melalui malam pertama dan tujuh hari ditempat itu. Jujur saja Reyna begitu penasaran.


Tangannya mulai berkeringat dingin mengingat hal selanjutnya yang hendak mereka lalui setelah ini.


"Nggak usah gugup sayang" kata Yasya lembut dan masih fokus pada jalanan dihadapannya.


Reyna hanya bisa menyembunyikan wajahnya kali ini. Ia masih merasakan gelap dan tak bisa menebak kemana mereka akan pergi. Bertanya pun juga tidak ada gunanya karena Yasya begitu keras kepala.


Setelah setengah jam berlalu mereka berdua akhirnya sampai ditempat tujuan. Hari semakin sore ditemani sorot cahaya mentari yang berwarna keemasan.


Yasya kemudian membukakan pintu untuk istrinya, Reyna hendak turun namun Yasya buru-buru mengangkat tubuh gadis itu ala bridal style.


"Ah sayang!" teriak Reyna yang merasa terkejut akan perilaku Yasya yang tiba-tiba padanya.


Yasya masuk membawa Reyna kedalam sebuah penginapan. Pria itu menurunkan tubuh Reyna dan membukakan penutup mata darinya. Reyna perlahan membuka matanya, ia menutup mulutnya tak percaya. Ia berada disebuah resort dengan kaca jendela besar yang mengarah ke pantai. Dan pas sekali waktunya sore hari dan sunset terlihat jelas didepan matanya.


Tak hanya itu bibir pantai bahkan dihiasi begitu banyak balon dan bunga-bunga. Ada juga sebuah ranjang ditengah hamparan pasir yang mengarah pada pantai. Begitu menakjubkan dan indah menurut Reyna.


"Yasya, ini semua kamu yang persiapkan?" Reyna masih tak percaya, ia menatap langit yang hampir tenggelam di tengah lautan.


Dengan lembut Yasya segera meraih pinggang gadis itu, ia mengecup lembut leher Reyna yang jenjang dan menghembuskan nafasnya membuat Reyna kegelian dibuatnya.


"Kamu suka nggak?" tanya Yasya yang kini semakin mengeratkan pelukannya.


"Suka? Suka banget sayang. Makasih" ujar Reyna seraya menyentuh wajah Yasya dari arah samping.


Yasya segera membuka resleting Reyna dari belakang, membuat gadis itu membulatkan matanya dan terdiam sejenak membiarkan Yasya ruang untuk melanjutkan aktivitasnya. Tak lupa ia juga mengecup lembut pundak Reyna.


"Kamu mau ngapain Sya?" tanya Reyna dengan jantungnya yang hampir copot oleh kegiatan Yasya kali ini.


"Ini belum malam kan?" Yasya terkekeh, ia menghentikan aktivitasnya sejenak dan menatap mata gadisnya dalam-dalam.


"Kata siapa aku mau ngelakuin 'itu'? kita bakal main air disana? emang kamu nggak mau ganti baju?" Reyna membelalakkan matanya. Ia memalingkan wajahnya yang memerah karena perbuatan Yasya yang begitu tiba-tiba.


"Kamu kenapa nggak bilang?! aku bisa ganti baju sendiri kok!" protes Reyna sambil masih menyembunyikan wajahnya yang masih memerah.


"Nggak usah pakek baju juga nggak apa-apa kok" ujar Yasya membuat telinga Reyna semakin memanas dibuatnya.


"Apaan sih! ya pakek lah, malu tau kalo dilihat orang" kata Reyna seraya mundur satu langkah untuk menghindari tatapan Yasya yang begitu intens padanya.


"Nggak akan ada orang disini selain kita, tempat ini udah aku sewa selama tujuh hari. Jadi mau kita main di air atau diatas pantai, nggak akan ada yang tau" bisik Yasya membuat wajah Reyna semakin memanas. Gadis itu buru-buru berlari kearah kamar mandi dan menyembunyikan wajahnya yang kian memerah itu.


"Kamar mandinya dimana?" tanya Reyna yang kini menoleh ke kanan dan ke kiri membuat Yasya terkekeh dibuatnya.