
Suara dering ponsel Falery menggema diruang makan.
Gadis itu menghentikan aktivitas makan spaghetti kala ia melihat nomor tidak dikenal menelfonnya.
Hari minggu membuatnya malas untuk melakukan sesuatu. Jika saja dirinya masih menjadi dokter saat ini, mungkin sedikit-sedikit ia bisa menengok anak-anak yang selalu ia rindukan sepanjang hari.
Tangannya mulai bergerilya, mengangkat panggilan dari sebrang sana. Entah siapa Falery pun tak tau.
"Halo," kata Falery sambil meneguk air didalam gelas yang berada disampingnya.
"Reyna" suara itu membuat Falery tersentak hingga hendak mematikan panggilan, namun seperti sebuah isyarat, Yasya dengan segera memohon padanya.
"Kumohon dengarkan aku dulu Reyna, setelah itu kau boleh mematikannya jika kau tak setuju" ujar Yasya dengan emosinya yang menggebu.
"Reyna, ini untuk terakhir kalinya, bisakah kita bertemu? ada hal yang ingin aku bicarakan padamu. Aku mohon berikan satu kesempatan lagi untukku" ujar Yasya didalam telfon dengan kesungguhannya.
Gadis itu kini hanya bisa menghela nafas. Fikirannya menerawang entah kemana. Kini Falery bisa berfikir jernih perihal masalahnya yang tak kunjung selesai.
"Baiklah, aku akan menuruti apa yang kau mau. Dan ingat, ini yang terakhir" ujar Falery tegas dan dengan segera menutup ponselnya.
Sudah sekitar lima menit menunggu, Falery tak kunjung sampai di tempat mereka janjian.
Restoran dengan ornamen sederhana menemani siapapun yang datang berkunjung untuk menikmati makanan musim semi.
tap... tap... tap...
Pria itu mendongak kala suara langkah kaki seorang gadis mendekat kearahnya. Dan kini sampailah Falery tepat dihadapannya.
Gadis itu duduk dengan penampilannya yang begitu berbeda dari biasanya. Membuat Yasya kini terpana oke kecantikan Falery yang ia rindukan sejak lama.
"Kau memakai soflen?" tanya Yasya yang hanya dibalas anggukan oleh gadis dihadapannya.
"Cepat, apa yang ingin kau bicarakan Yasya" kata Falery dengan tegas.
"Hay" suara familiar terdengar ditelinga Falery dan kini ia mulai bangkit untuk membalikkan tubuhnya menatap manik mata sang sahabat.
"Sa, Sarah" Falery mengerutkan keningnya, ia tak tau harus bicara apa kali ini.
"Kau memakai soflen Fay? hem sudah ku katakan bukan jika kau memakai soflen pasti akan sangat cantik" ujar Sarah dengan senyum sumringah sambil melirik kearah Yasya yang kini hanya duduk berdiam.
"Terimakasih" balasnya kaku.
"Oh iya, Yasya bilang kau mengajak kita bertiga bertemu. Benarkah?" ujar Sarah lagi membuat gadis itu tersentak dan segera duduk disusul oleh sahabatnya yang kini mulai tersenyum kearah mereka secara bergantian.
"Aku," ujar Falery menggantung.
"Bukan Falery yang ingin meminta kita bertemu, tapi aku Sarah" kata Yasya menyambar, membuat Falery membulatkan kedua matanya.
"Kau?, apa yang ingin kau bicarakan Yasya? apa kau ingin melanjutkan hubungan kita?" tanya Sarah dengan harapannya yang begitu besar.
Falery hanya bisa menghembuskan nafas kasarnya. Ia berharap apa yang dikatakan oleh Sarah memang menjadi niat dari Yasya.
"Sarah, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku tidak mencintaimu, aku hanya mencintai satu orang Sarah" ujar Yasya membuat kedua gadis dihadapannya menatapnya dengan pandangan tajam.
Falery hanya terdiam, ia memalingkan wajahnya dan mempererat remasan jemarinya.
"Maksudmu apa Yasya?! apa kau lupa, kita sudah sepakat tentang ini? dan siapa orang yang telah menggodamu" kata Sarah dengan air matanya yang berlinang.
Yasya menggeleng, ia menghela nafasnya dalam-dalam.
"Tidak ada yang menggodaku Sarah, dia adalah cinta sejati ku... Reyna Malik" ujarnya tegas sambil menatap Falery yang kini hanya menunduk lesu tanpa mau membuka suara.
"Reyna? jadi, Reyna adalah cinta mu Yasya? hahaha, lelucon apa ini!" Teriak Sarah membuat seluruh pengunjung menatap ke arah mereka.
Sarah bangkit dan menarik lengan Falery yang kini mulai mendongak dengan air matanya yang berlinang.
"Hiks, Sarah, dengarkan aku dulu" kata Falery dengan lemas membuat Yasya mengernyitkan keningnya dan ikut bangkit menatap tajam Sarah.
"Sarah, lepaskan Reyna!" teriaknya membuat Sarah menghempaskan lengan Falery.
"Aku baru ingat, kau pernah bercerita tentang cinta pertama mu bukan? kau pernah menceritakan bagaimana kau sangat mencintainya dan dia juga sangat mencintaimu sebelum kau hilang ingatan. Katakan Fay, dia bukan Tasya kan?!" Ujar Sarah dengan suaranya yang semakin meninggi.
"Hiks, maafkan aku Sarah, maafkan aku" tak ada yang dapat dikatakan lagi selain Falery hanya bisa menangis.
"Jadi begini balasan mu terhadap ku Fay, aku menganggap mu sebagai saudara ku, dan kau malah merebut pria yang sangat aku cintai?" ujar Sarah panjang lebar dan hanya dibalas gelengan dari Falery.
"Sarah, kita harus bicara, hiks... dengarkan aku, kumohon."
Falery memegang kedua tangan gadis itu dan langsung dihempaskan oleh sahabatnya sendiri. Hati Falery bergetar, ia merasa bersalah dengan kehadirannya.
Gadis itu melirik Yasya yang kini mengerutkan keningnya sambil menatapnya tanpa henti.
"Jelaskan padanya Yasya, kita hanyalah sebuah masa lalu, aku dan kau tidak seharusnya bersama. Karena yang seharusnya bersanding denganmu itu adalah Sarah" kata Falery dengan nafasnya yang terengah.
Yasya menggeleng, ia menolak untuk berbohong pada perasaannya sendiri. Baginya jujur lebih baik daripada harus berbohong diawal dan Sarah yang menjadi korbannya.
"Kau lihat sendiri kan Fay, hiks, dia begitu mencintai mu. Bukankah kau juga begitu ha?."
Falery menggeleng dengan cepat.
"Sarah, aku..," kata-katanya terpotong kala Sarah hendak melayangkan tamparannya pada Falery.
Namun dengan sigap, Yasya meraih tangan Sarah untuk menghalangi pukulan darinya.
"Aku kecewa padamu Fay, mulai detik ini, hubungan persahabatan kita putus" ujar Sarah lalu kemudian berlari keluar meninggalkan mereka yang kini masih terdiam dengan isakan kecil dari Falery.
"Sarah..! dengarkan aku" teriaknya yang tak digubris oleh sahabatnya yang kini berlari menjauh keluar dari restoran tersebut.
"Yasya, apa yang kau lakukan? kenapa kau bertindak nekat. Cepat Yasya kejar dia, jelaskan jika semuanya hanya gurauan darimu."
"Aku tidak bisa Reyna, aku hanya mencintaimu. Ini yang seharusnya aku lakukan dari dulu" kata Yasya membuat Falery mengusap wajahnya kasar.
Ia dengan segera berlari menyusul Sarah yang kini berlari entah kemana.
Hati Yasya bergetar, ia tak ingin melukai siapapun. Namun jujur lebih baik daripada menyesal di kemudian hari.
Ia beralih menatap Falery yang kini punggungnya mulai menghilang dari pandangannya.
Pria itu akhirnya memutuskan untuk menyusul kedua sahabat itu yang berlari entah kemana.