The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Traktiran dari Reyna



Setelah jam makan siang telah sampai pada waktunya, Reyna kini tengah bangkit dari kursinya. Ia baru saja selesai membereskan meja dan tugas-tugasnya. Menjadi dokter spesialis tidaklah terlalu sibuk seperti di UGD, jadwal pasien yang datang juga tidak terlalu padat seperti halnya saat ia berada di ruangan pertolongan pertama tersebut.


Kini langkah gadis itu menyusuri ruangan demi ruangan, gadis itu kini nampak masuk kedalam kantor team para dokter yang sebelumnya ia masuki.


"Permisi" seketika hawa dalam ruangan itu tampak hening kala Reyna memasukinya. Padahal ruangan nampak ramai akan adanya Tian, Darwin dan juga Dinda. Biasanya mereka juga bergurau maupun bercanda, namun saat ini Tian bangkit dan sedikit merasa canggung akan kehadiran gadis itu.


"Dokter Reyna, eh selamat ya akhirnya anda naik jabatan juga" spontan saja ucapan selamat dari Tian membuat Reyna terkekeh. Gadis itu membalas jabatan tangan dari Tian lalu tiba-tiba memeluknya.


"Nggak usah formal gitu, aku masih Reyna yang kemarin kok" ujarnya yang kini melepas pelukan tersebut dan menghampiri Dinda yang kini tersenyum kearahnya seraya menjabat tangan padanya. Tak lupa Reyna juga memeluk gadis itu dengan gemas.


"Selamat ya Reyna, akhirnya kamu naik jabatan juga" ujar Dinda yang kini tampak ceria dan begitu senang ketika Reyna telah kembali dalam dirinya.


"Maaf ya, kemarin pasti kamu takut banget ya sama aku" kata Reyna seraya melepaskan pelukannya membuat Dinda mengangguk dan tersenyum.


"Nggak apa-apa kok Rey, aku tau aja itu cuma improvisasi kamu aja kan buat ngelawan Aldo" perkataan Dinda langsung disambut hangat oleh Tian dam juga Darwin.


"Kami makasih banget sama kamu Rey, karena berkat kamu Aldo akhirnya dipecat juga. Sebenernya kita nggak mau dia sampai dipecat kaya gini, cuma dia memang terlalu semena-mena sama kita-kita yang junior. Apalagi tuh si Tian pernah hampir kena aduan kalo dia nggak mohon-mohon ke Aldo" perkara Darwin membuat Tian menatapnya tajam. Mungkin ia setengah malu mendengar apa yang dikatakan Darwin padanya.


"Sebenernya kalo kalian tau selama ini nggak ada kok yang dipecat gara-gara Aldo, mereka cuma di mutasi aja agar tidak terjadi kesalahpahaman. Manager memang udah lama mau mecat dia, tapi karena hubungan kekerabatan jadi dokter Martin belum ada kesempatan buat pecat dia."


"Wah, berarti dengan adanya kamu dokter Martin beruntung dong, soalnya kamu hebat banget Rey, kamu berani ngelawan orang kaya si Aldo itu" perkataan Darwin membuat Reyna menggaruk tengkuknya. Jika saja mereka tau yang memecat Aldo bukanlah dirinya, tapi karakter dalam tubuhnya, apakah mereka akan percaya?, sedangkan Reyna sendiri adalah seorang dokter.


"Kamu jangan ngomong gitu Rey, kamu terpilih karena emang hebat kok" kata Darwin yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Iya Rey, lagian kalo nggak ada kamu si Aldo itu bakal songong terus gayanya. Jadi kalo kamu naik jabatan kita ikut seneng kok" tambah Tian membuat Reyna kini bisa mengulas senyumnya.


"Kami udah tau kok kalo kamu itu mahasiswi terbaik lulusan University of Central Florida, salah satu kampus terbaik disana. Kami nggak iri kok sama kamu, kami malah bangga punya temen yang berbakat kaya kamu" perkataan itu dapat membuat Reyna bisa bernafas dengan lega. Satu persatu bebannya dan juga fikirannya kini menghilang bersamaan dengan waktu dan juga kenyataan yang membanggakan untuknya.


Ia menatap kawan-kawannya kali ini, senyuman bangga mereka torehkan untuk Reyna. Hal terbaik yang tidak pernah ia bayangkan ketika sampai di Indonesia yaitu tempat kelahirannya. Kini gadis itu bisa membuka lembaran baru, lewat orang-orang yang ia kenal dan juga persahabatan yang ia jalin perlahan.


"Oh ya, niat aku kesini tadi mau ajak kalian ke kantin. Karena aku udah naik jabatan, aku bakal traktir kalian semu siang ini."


"Permisi, bisa bicara dengan dokter Reyna" suara tak asing itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya. Berbeda dengan teman-temannya yang kini bersikap formal, termasuk Dinda yang tiba-tiba melepas rangkulan dari punggung gadis itu.


Padahal Dinda dan kawan-kawannya hendak menyambut hangat niat Reyna, namun Alfian malah datang membuat dokter junior tersebut terlihat sungkan.


"Eh Alfian. Oh ya temen-temen, aku juga ajak Alfian buat makan siang bareng, kita makan bareng yuk, aku yang traktir."


"Kalian nggak perlu terlalu serius sama saya, saya ini juga sahabat Reyna, jika kalian temannya juga berarti kalian juga teman saya" hal yang tidak pernah Alfian katakan sebelumnya kini terbuka. Sebelumnya orang-orang hanya mendengar rumor tentang Alfian yang bersikap dingin dan datar. Namun ketika mulai akrab hal itu hanyalah sebuah gosip semata.


"Tuh, Alfian aja udah ngomong gitu, ke kantin yuk" akhirnya satu persatu dari mereka kini bisa terbuka dengan Alfian. Terlebih Dinda yang selalu mengagumi sosoknya. Sedari tadi Dinda hanya berbisik pada Reyna perihal ketampanan Alfian yang terus bertambah. Hal itu membuat Reyna hanya bisa menahan tawanya seraya membahas hal ringan dengan temannya satu itu.