The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ulang tahun Reynaldi



"Mama memang cantik, dan baik, semasa hidupnya bahkan ia tidak pernah punya dendam dengan kita pa" ujar pria itu membuat Reyhan menyentuh jemari Reyhan yang bersandar dipundaknya.


Reyhan kini memeluk sang ayah dari belakang, ia merasakan hati Reynaldi yang seharusnya perlu ia perbaiki. Perlahan Reyhan menyentuh jemari sang ayah ia menatap manik mata lelah itu dengan senyuman.


"Ikut aku sebentar pa, aku punya sesuatu buat papa" ujar pria itu membuat sang ayah menutup album tersebut dan melepaskan kacamatanya seraya melangkah.


"Papa duduk sini sebentar" kata Reyhan yang kini mempersilahkan Reynaldi untuk duduk di ruang makan. Pria itu kini mengambil kue yang sebelumnya ia persiapkan untuk Reynaldi, sebuah kue coklat dengan tulisan 'Happy birthday papa' diatasnya dengan lilin angka yang menunjukkan bahwa pria itu bertambah semakin tua.


"Selamat ulang tahun papa, cuma ini yang bisa Reyhan kasih" ujar pria itu yang kini duduk bersanding dengan sang ayah. Hal itu membuat Reynaldi tersentuh. Pria itu beruntung memiliki putra pengertian seperti Reyhan, meskipun kesalahannya di masa lalu tak dapat ia lupakan, namun ada putranya yang selalu dekat dan memberikan semangat untuknya.


"Papa bangga sama kamu nak, terimakasih karena kamu sudah hadir dalam hidup papa. Jika saja tidak ada kamu mungkin hidup papa sudah tidak berguna lagi saat ini" perkataan itu membuat Reyhan menyentuh jemari sang ayah. Meski raut wajah Reynaldi begitu menyedihkannya, namun Reyhan tak ingin masalah yang hampir 6 tahun berlalu itu berlarut-larut.


"Udah pa, jangan difikirin lagi, aku juga bangga punya papa yang kuat dan hebat kaya papa. Tanpa papa mungkin aku bukan siapa-siapa. Sekarang, kita nyalain lilinnya dan papa tiup oke" ujar Reyhan dengan semangat membuat sang ayah mengangguk seraya tersenyum kearah putranya itu.


Setelah menyalakan lilin tersebut, Reynaldi segera meniupnya. Ada harapan besar bagi pria renta itu untuk menemukan dimana Reyna dimakamkan.


"Harapan papa, semoga Reyhan segera dapat jodoh, dan semoga kita bisa menemukan dimana makam Reyna berada" perkataan itu membuat Reyhan tanpa sengaja meneteskan air matanya. Namun sedetik kemudian ia menghapus air mata itu untuk menyembunyikannya dari pria dihadapannya.


"Amin, semoga apa yang papa harapkan segera terwujud" ujar Reyhan dengan senyuman tulusnya.


Tiba-tiba saja Reynaldi yang semula baik-baik, entah mengapa wajahnya berubah menjadi pucat dengan sedikit kerutan didahinya. Pria paruh baya tersebut seperti menahan sakitnya yang membuat Reyhan kini mulai mendekat kearahnya.


"Pa, papa kenapa pa?" pertanyaan itu mendapat balasan gelengan dari Reynaldi, ia tak ingin membuat putranya khawatir karena keadaannya.


"Nggak apa-apa kok, papa baik-baik aja" ujarnya yang kini mulai bangkit dan membalikkan tubuhnya. Namu tanpa disangka Reynaldi malah terjatuh seraya menahan sakit di dadanya membuat Reyhan berhambur menolong sang ayah.


"Pa, papa kenapa pa, Reyhan bakal bawa papa ke rumah sakit" ujar pria itu seraya mengangkat tubuh sang ayah untuk membawanya ke rumah sakit.


***


Ia tersenyum pada gadis yang kini tengah terlelap dalam mimpinya. Seharian mereka mencari persiapan untuk pesta pertunangan lusa. Namun ada hal mengganjal dalam hati Yasya tatkala Reyna semakin berubah, tatapannya, kelembutannya yang tiba-tiba hilang.


Yasya sampai tak habis fikir, apakah Reyna memang orang yang sama? atau malah ia salah orang saja. Yasya menghela nafasnya, tiba-tiba saja Reyna yang tadinya tertidur kini menggeliat seraya menatap manik mata Yasya yang meliriknya.


"Sya? aku udah tidur berapa lama?" tanya gadis itu yang kini bangkit dan memijit pelipisnya yang sedikit terasa pening. Ia baru ingat jika tadi ia mencoba dress untuk pesta pertunangan mereka. Namun ketika sadar gadis itu malah bangun dalam pangkuan Yasya.


"Masih setengah jam kok" kata Yasya yang mulai bersikap tak biasa pada Reyna membuat gadis itu menatap Yasya dengan tatapan penuh tanya. Reyna menghela nafasnya, ia menggeleng dengan cepat seraya memperhatikan arloji ditangannya dan betapa terkejutnya ia mendapati hari mulai beranjak sore.


Tiba-tiba mata gadis itu membelalak, ia bahkan tak sadar dengan apa yang ia lakukan sedari tadi. "Nggak mungkin!" ujar Reyna sedikit berteriak membuat Yasya mengerem mendadak mobilnya.


"Sya! kamu kenapa sih" kata Reyna yang kini menatap kesal pada Yasya yang tiba-tiba menatapnya tak percaya.


"Nggak mungkin apa Rey?"pertanyaan itu membuat Reyna menggeleng, ia masih belum menerima apa yang ia jalani kali ini. Namun Yasya tak mengatakan apapun, pria itu madih terpaku menatap Reyna dengan tatapan rindunya. Entah apa yang Yasya fikirkan, namun ia yakin dihadapannya adalah Reyna, Reyna yang begitu ia cintai.


Pria itu segera memeluk Reyna dengan erat, ia tak bisa mengungkapkan apa yang ia rasa. Namun setidaknya Reyna yang kini adalah miliknya.


"Sya? kenapa?" pertanyaan ambigu itu membuat Yasya yang semula memejamkan mata kini membukanya kembali, namun sedetik kemudian ia kembali memeluk erat gadisnya.


"Nggak apa-apa sayang, aku cuma kangen aja sama kamu" kata Yasya seraya meraih jemari Reyna untuk digenggamnya.


Meskipun Reyna tak tau apa yang sedang terjadi, namun ia yakin bahwa ada sesuatu yang salah dalam dirinya, gadis itu membalas pelukan Yasya dengan erat. Ia merasa tidur seharian tanpa sadar, namun keanehan seperti terjadi padanya. Tubuhnya terass sakit untuk dia rasakan.


Sesampainya di apartemen, Reyna merebahkan tubuhnya di sofa dengan Yasya yang kini menyusulnya untuk duduk berdampingan dengannya. "Sya, kita udah persiapin semua kan? nggak ada yang kurang?" pertanyaan itu membuat Yasya mengangguk, pria itu mengacak rambut gadis dihadapannya dengan gemas.


"Udah dong, kan kamu sendiri yang milih dekor sama kue kita" perkataan Yasya membuat Reyna tertegun. Bagaimana mungkin dirinya memilih semua itu sedangkan ia tengah tertidur pulas tanpa mengingat apapun dalam dirinya.


Tiba-tiba saja pandangan Reyna mendadak kosong, fikirannya masih tak bisa berfikir dengan jernih. Ia memijit pelipisnya seraya berfikir tentang apa yang terjadi padanya.