
Flashback on.
"Reyna bangunlah, ini aku, aku Zayn, aku mohon jangan pergi secepat ini."
Isakan Zayn disusul oleh pelukan sang ibu kala pria itu mengguncang tubuh gadis itu yang kini terbaring lemah diatas bangsal.
Sudah dua puluh menit berlalu, namun Zayn tidak mau pergi dari tempat itu.
"REYNA JANGAN PERGI" teriaknya lagi.
"Nak, kita harus ikhlas ya" ucap Ajeng sambil mengelus punggung sang putra yang kini tertunduk lesu dengan air matanya yang mengalir deras membasahi pipi pria tampan blasteran itu.
"Ka... kakak Zayn" ucapan lembut dan terbata itu keluar dari mulut Reyna yang kini membuka matanya. Membuat Zayn mengulas senyum kebahagiaan yang teramat meyakinkan untuknya, Zayn bangkit beserta Ajeng yang kini menutup mulutnya tak percaya.
"Reyna, kamu bangun nak, mommy akan panggilkan dokter" ucap Ajeng seraya bergegas dari sana, membuat Zayn tersenyum terharu sambil tanpa henti mengeluarkan air mata bahagia.
"Reyna, aku tau kau tidak akan pergi."
"Kakak.... ternyata kau bisa menangis juga" ucap Reyna sambil tersenyum manis dengan nafasnya yang sedikit tersengal.
"Dokter!" teriakan dari Zayn membuat Alfian dan Ajeng yang kini berada dibelakangnya berlari dan segera menghampiri Reyna yang tengah terbaring lemah tak berdaya.
Alfian segera memasang selang oksigen itu lagi, memeriksa denyut nadi gadis itu dan dengan cepat memberikan suntikan untuk menstabilkan keadaan Reyna.
"Bagaimana perasaan mu sayang?" pertanyaan dari Ajeng diblaas gelengan kecil dari Reyna.
Reyn telah bangkit dari masa kritisnya, kini ia menjalani berbagai pengobatan termasuk tulang belakangnya yang hampir remuk seluruhnya, kini tinggal operasi yang akan dilakukannya karena benturan keras dikepalanya. Namun sebelum operasi yang akan dilakukannya di Amerika, ia masih ragu untuk meninggalkan negara ini.
Pria itu mendorong kursi roda Reyna, melangkahkan kakinya di tanah pemakaman tempat ibu dan neneknya bersemayam.
"Ma.... Reyna ada disini, Reyna sudah sembuh, dan sekarang, Reyna akan pergi dari kehidupan papa. Kewajiban Reyna untuk menjaga papa sudah gugur, dan aku akan membuka lembaran baru bersama keluarga baru ku. Maafkan Reyna ma, gara-gara aku, nenek meninggal."
Tangisan gadis itu pecah melihat batu nisan sang nenek yang tercipta beberapa minggu lalu setelah wanita renta itu menghembuskan nafas terakhirnya karena menerima kabar buruk dari cucu satu-satunya itu.
"Ssttt.... jangan sedih, masih ada kakak disini, kau harus berjuang Reyna" Reyna mengangguk dengan air mata yang masih menetes deras.
"Reyna, apa kita sebaiknya tidak memberitahu Iryasya?" Reyna tersentak, ada rasa rahu dalam hatinya untuk pria itu, pria yang sangat ia cintai meskipun ia ingin meninggalkan kenangan dari pria itu. Matanya terpejam, siap untuk melupakan masa lalunya yang kelam.
"Kak, aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku sudah cukup membuatnya menderita karena aku, aku nggak mau dia susah karena aku. Mereka semua cukup tau bahwa Reyna sudah tiada" ucap Reyna dengan menghapus jejak air matanya yang tersisa.
Zayn menunduk, tubuhnya berlutut memegang kedua tangan sang adik yang kini berusaha tegar dihadapannya.
"Lalu keluarga? papa dan Reyhan."
"Jangan katakan apapun kak, kakak harus janji, jangan mengatakan apapun tentang aku, ini adalah janji kita, biarkan aku hidup dengan tenang kak."
"Reyna, walau bagaimanapun mereka adalah keluarga mu, Yasya dan kamu adalah dia orang yang saling mencintai. Fikirkan keadaan ini baik-baik, jangan hanya memaksakan egomu saja" ucapan dari Zayn ibarat angin berlalu bagi Reyna. Hidupnya sudah terkesan hancur, apalagi keadaannya saat ini membuatnya rak mampu untuk memberikan dan berharap lebih apda masa lalunya.
"Cukup masa lalu yang menjadi mimpiku, aku nggak mau mengingatnya lagi" kata Reyna membuat Zayn menyerah. Berulang kali pria itu meyakinkan diri Reyna, namun gadis itu tetap bersikeras untuk meninggalkan masa lalu itu meskipun seharusnya dirinya harus menghadapi kenyataan yang diberikan Tuhan kepadanya.