
"Zayn-"
"Kamu nih gimana sih, makan pakek belepotan segala" kata Zayn yang kini menyentuh sudut bibir Luna membuat gadis itu menelan salivanya. Ia buru-buru memundurkan wajahnya dan mengusap lembut bibirnya. Luna merutuki dirinya sendiri, betapa malunya ia saat Zayn melihatnya makan es krim tadi. Jangan-jangan Zayn sekarang berpikir bahwa Luna masih seperti anak kecil.
Zayn menahan tawanya seraya tersenyum tipis melihat tingkah lucu Luna yang panik setelah dirinya mengelap sudut bibir gadis yang duduk disampingnya itu.
"Kamu kayanya lagi banyak fikiran, ada masalah ya?" tanya Zayn tiba-tiba membuat Luna menatapnya sekilas dan menggeleng. Tau darimana Zayn tentang hidupnya? memang terlihat jelas ya kalau dirinya sedang sedih?.
"Nggak ada kok" elak gadis itu dengan senyuman yang ia buat-buat.
"Kalo ada masalah cerita aja, jangan dipendem sendiri" seru Zayn yang kini membuat pandangan Luna menjadi lesu. Luna meremas anak rambutnya yang panjang terurai sampai pinggang. Ia memejamkan matanya sejenak seraya menghela nafas berat.
"Kalo nggak mau cerita juga nggak apa-apa"
"Aku anak bungsu dari tiga bersaudara, papa ku pensiunan militer" mungkin sedikit bercerita akan membuat Luna lega sejenak. Ia menatap Zayn yang kini memperhatikannya lamat-lamat, mencoba mendengarkan isi hati Luna yang paling dalam.
"Kakak-kakak aku udah nikah semua, dan itu karena perjodohan" Zayn yang semula mendengar perkataan Luna santai seraya makan es krim, kini matanya membulat. Ia menelan salivanya kasar kala Luna menyinggung soal perjodohan. Bisa ia tebak apa yang akan Luna katakan selanjutnya.
"Sebelumnya aku udah mikirin ini dari dulu, lambat laun pasti nasib aku bakalan kaya kakak ku juga. Tapi setelah papa mau ngenalin aku ke seseorang, aku jadi nggak siap" mendengar Luna berkata demikian entah mengapa Zayn merasa sedikit sesak di dadanya.
"Nggak siap atau emang nggak mau?" tanya Zayn lagi membuat Luna merasa diintrogasi saat ini. Tapi karena Zayn mau mendengarkan keluh kesah yang ada dihatinya, kenapa tidak?.
"Nggak mau" entah mengapa setelah mendengar kata itu hati Zayn kembali tenang. Resah yang ia rasakan seolah berkurang atas jawaban dari luna barusan. Zayn tersenyum tipis, ia kembali menatap Luna yang masih diselimuti rasa gundah dihatinya itu.
"Kenapa nggak mau? udah punya pilihan sendiri ya?" Luna menggeleng, kenapa lama kelamaan Zayn seperti penasaran sekali dengan kisah percintaannya ya? atau ini hanya fikiran Luna saja yang terlalu banyak berfikir?.
"Mana ada? aku emang dari awal nggak mau dijodohin kok. Cuma nggak berani aja bilang ke papa, aku juga bukan anak pembangkang sama orang tua"
"Jadi kalau kamu mau dijodohin sama pilihan papa kamu, kamu bakal mau-mau aja meskipun itu terpaksa?"
"Aku?-" Luna menggantung kata-katanya, apa yang dibilang Zayn memang benar. Tapi bagaimanapun, ia tak ingin membuat papanya kecewa. Menolak pun tak punya alasan.
Dibalik itu Zayn tersenyum seraya membuang mukanya. Berarti masih ada kesempatan untuknya. Meskipun sebelumnya Zayn sempat kesal pada gadis yang duduk disampingnya ini. Tapi melihat dirinya yang sekarang, ternyata Luna juga punya sisi lembut.
"Kalau misalkan kamu punya pacar, terus kamu coba ngenalin pacar kamu ke papa kamu. Apa papa kamu bakal tetep jodohin kamu?" Luna menatap Zayn lamat-lamat. Ia menyandarkan punggungnya seraya memijit pelipisnya.
"Ternyata nasib kita sama ya" Luna membulatkan matanya. Ia menarik tangannya agar menjauh dari Zayn. Entah mengapa, ketika Zayn menyentuh bagian tubuhnya, rasanya seperti jantungnya berdegup kencang saja.
"Maksud kamu, kamu juga dijodohin?" Zayn terkekeh, meskipun nasib mereka sama bukan berarti hidupnya terlalu mengenaskan seperti Luna. Untung saja papanya mau memberikan kesempatan untuk dirinya mencari jodoh sendiri, dan ia masih bisa menolak. Tapi dengan nasib Luna, itu lebih parah daripada bayangannya.
"Enggak sih, cuma aku disuruh cepet-cepet cari cewek, kalo nggak papa aku ngancam buat mau jodohin aku sama anak temennya" setelah perkataan Zayn tadi, tiba-tiba ide brilian muncul dikepalanya. Zayn menatap Luna dengan pandangan jahilnya membuat Luna menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu kenapa liatin aku kaya gitu?"
***
Pukul 20.30 tak terasa malam semakin larut saja. Setelah perbincangan mereka didepan supermarket tadi Zayn memutuskan untuk langsung mengantarkan Luna pulang.
Saat ini mobilnya bahkan terparkir didepan gedung apartemen yang menjulang dihadapannya. Luna melepaskan sabuk pengamannya, sebelum ia keluar ia menatap Zayn yang kini tersenyum padanya.
"Zayn" panggil Luna dengan agak sedikit ragu.
"Hem?"
"Waktu pertama kali kita ketemu, itu salah aku yang nabrak kamu duluan. Dan waktu kita ketemu buat kedua dan ketiga kalinya, aku maki-maki kamu dan ngomong kasar. Aku, aku minta maaf ya Zayn" Zayn tersenyum seraya menggeleng. Entah sejak kapan pria yang sebelumnya begitu dingin pada Luna kini sikapnya mendadak menghangat padanya.
"Udah nggak apa-apa, yang penting sekarang kita udah kenal baik-baik dan jadi temen. Itu lebih baik kan daripada harus musuhan tiap kali ketemu" Luna mengangguk, ia tersenyum pada teman barunya itu seraya hendak keluar dari mobil Zayn.
"Zayn" panggil Luna lagi sebelum ia masuk kedalam apartemen membuat Zayn menaikkan pandangannya pada Luna yang kini sudah berada di luar mobilnya.
"Makasih buat nyelametin aku, es krim sama nganterin aku pulang" kata Luna seraya tersenyum membuat Zayn tersenyum dan mengangguk. Luna kemudian membalikkan tubuhnya, namun masih beberapa langkah kakinya berjalan tiba-tiba saja Zayn memanggil namanya.
"Luna!" sontak saja Luna membalikkan tubuhnya, ia menatap Zayn yang kini masih terdiam sejenak hendak membuka suara.
"Apa?"
"Soal tadi, kalo kamu setuju, kamu bisa hubungi aku" mata Luna membulat karenanya. Ia mengangguk seraya membalikkan tubuhnya lagi, pipinya memerah begitu saja. Buru-buru Luna berlari menjauh dari Zayn yang kini terkekeh oleh tingkahnya.