The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Makam



Sebuket bunga indah terulur diatas batu nisan yang begitu indah. Tangan Reyna yang semula bergerak untuk memberikan buket itu ia kemudian merengkuh tubuh abangnya yang kini sudah duduk berjongkok disampingnya.


"Waktu aku baru masuk sekolah, aku dibully sama kakak kelas aku, aku dirawat dirumah sakit dan nggak ada yang jenguk. Satu-satunya yang peduli sama aku, cuma Hengky yang tiap hari jadi pengunjung setia karena memang nenek nggak peduli. Papa bahkan juga gitu, aku pikir mama nggak peduli juga sama aku, tapi ternyata diperjalanan mama malah.."


Suara Reyna terdengar berat, ia menelan salivanya kasar seraya menahan air mata yang tak dapat ia tahan lagi kali ini. Buru-buru Reyhan merengkuh tubuh adiknya, mengusap bahu Reyna dengan lembut, meskipun begitu tak dapat menghentikan tangisan Reyna yang kini sudah pecah mengingat kenyataan terpedih dalam hidupnya itu.


"Ssst, Reyna aku tau, aku tau apa yang dialami mama, ini semua cuma kecelakaan, kita harus kuat" ujar Reyhan memberikan semangat sebisanya membuat Reyna menyeka air mata itu. Ingatan Reyna kembali saat itu, rasa perih yang ia rasakan saat menerima kenyataan pahit yang dialami oleh ibu kandungnya yang harus meninggal karena terlalu khawatir terhadap Reyna, sekaligus ingin menjemputnya dari rumah Reynaldi.


"Mama pasti bahagia sekarang, aku yakin mama pasti seneng liat kita udah kumpul kaya gini" ujar Reyhan membuat Reyna menatapnya dengan pandangan sayu. Mereka semua adalah korban, korban dari keegoisan seseorang untuk menghancurkan keluarga harmonis seperti itu. Namun baik Reyhan maupun Reyna, kini mereka sudah memutuskan untuk berjuang bersama dan tidak akan membiarkan masa lalu terulang kembali.


Namun ada hal yang sedikit mengganjal dihati Reyna. Dulu saat dirinya masih sekolah bahkan papanya tak pernah sedikitpun peduli maupun bersikap lembut padanya. Reyna merenung, pikirannya dipenuhi firasatnya sendiri. Bagaimana nanti ketika mereka pertama bertemu setelah sekian lama tak berjumpa dan terakhir kali tak berhubungan baik. Bahkan Reyna sendiri lupa bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah kandung terhadap putrinya.


"Kamu kenapa Reyna?" ditengah merenung dan terdiamnya gadis itu Reyhan merasa ada keraguan dihati adiknya. Reyhan memegang bahu Reyna, mencoba menemukan keraguan yang tersirat dimatanya kali ini.


"Bang, aku udah lama nggak ketemu papa, terakhir kali kami ketemu, hubungan kami nggak baik, aku-"


"Reyna, jadi kamu takut buat ketemu papa?" Reyna hanya terdiam seraya menatap nisan dihadapannya. Ia memang masih sedikit trauma dengan wajah ayahnya yang tidak pernah ramah padanya dulu, meskipun sekarang keadaannya berbeda tapi masih sama rasanya ketika Reynaldi dulu tak pernah tersenyum padanya, bahkan hanya menampakkan wajah dingin dan ingin memukul.


"Papa sayang sama kamu Rey, bahkan papa udah nyesel karena dia nggak pernah sadar kalo kamu emang anak kandungnya. Papa bahkan selama lima tahun terakhir selalu menyendiri di kamar, sambil nangis papa selalu merasa bersalah lihat foto kamu sama mama. Keluarga yang manis dan indah, harmonis tanpa kekurangan, begitu mudahnya papa telantarkan dan buang begitu saja. Andai dulu papa tidak gegabah dan mencari bukti sendiri, pasti semua ini nggak akan terjadi."


Reyna menaikkan sebelah alisnya, apa yang dikatakan oleh Reyhan memang benar. Kisah kepedihan yang mereka alami hanyalah sebuah kesalahpahaman. Semuanya adalah korban dari orang yang tidak bertanggungjawab seperti Cintya.


***


"Ma, aku udah bilang keputusan aku yang terakhir kalinya. Aku nggak mau nikah sama Angga, aku nggak cinta sama dia!" ujar Kanaya yang kini berada diruang keluarga bersama dengan Mamanya.


"Kamu kok berubah pikiran kaya gitu? memangnya kamu lagi berantem sama Angga?" pertanyaan itu membuat Kanaya frustasi. Ia memijit pelipisnya, pusing harus menjelaskan bagaimana lagi pada Mamanya kali ini.


"Aku bener-bener nggak ada masalah sama Angga kok ma! aku emang nggak cinta sama dia, selama ini yang aku jalanin, aku nggak bisa nyaman sama Angga ma, karena aku memang nggak ada perasaan sama dia."


"Tapi Angga itu baik Nay, lama kelamaan kamu juga pasti cinta kok sama dia"


"Kalo aku bilang ada yang aku sukai gimana ma? apa mama tetep mau maksain aku buat nikah sama Angga?"


Sontak saja mata Mama membulat, apa ia tak salah dengar? Mama menajamkan telinganya baik-baik.


"Maksud kamu? kamu punya pacar? siapa? kok nggak pernah cerita?" pertanyaan bertubi-tubi itu membuat Kanaya frustasi. Padahal dirinya kan masih muda, kenapa harus seperti ini juga nasibnya? dipaksa menikah dengan usianya yang masih bebas-bebasnya untuk hang out bersama teman-temannya. Ia juga bodoh, keceplosan sampai membuat Mamanya antusias, kali ini tamatlah riwayat Kanaya, ia bingung harus berkata apa selanjutnya.


"Ma, aku kan cuma tanya belum tentu punya pacar. Aku emang belum punya pacar ma, tapi aku sama Angga itu masih sama-sama muda, emang mama nggak takut kalo akhirnya kita terpaksa nikah gara-gara perjodohan ini, terus ditengah pernikahan kita nggak cocok, berantem, terus cerai, mama mau kaya gitu? mama mau anak tunggal mama ini jadi janda dengan umur semuda ini?"


Mama hanya bisa terdiam saja, apa yang dikatakan putrinya itu memang tidak salah. Apalagi Kanaya adalah putri tunggalnya, ia harus lebih selektif lagi mencarikan pasangan untuk gadis itu. Tapi dilihat dari Angga, pria yang hampir tidak ada kurangnya, siapa lagi yang lebih sempurna daripada dia.


"Ah udahlah, nanti aku bakal bilang sama papa kalo aku nggak mau nikah sama Angga. Kalo kalian tetep maksa, aku bakalan kabur aja" ancam Kanaya yang kini bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Mamanya.


Kanaya menghela nafasnya, ia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya seraya menatap layar ponsel dengan foto yang terpampang jelas disana. Seorang pria tampan yang begitu menawan, membuat hati Kanaya berdebar hanya dengan membayangkannya saja.


"Mau kakak anggap aku apa, tapi aku nggak bakalan biarin orang lain datang sebelum tau maksud kak Reyhan apa ke aku. Aku memang kepedean kak, tapi aku nggak perduli. Kalo toh pun aku bakal kecewa lagi, tapi seenggaknya kakak tau gimana perasaan aku ke kakak. Aku cinta kamu kak Reyhan" kata Kanaya seraya mencium layar ponselnya sendiri.


Lagipula jika nanti Reyhan hanya menganggapnya sebagai sahabat maupun adiknya sendiri, setidaknya Kanaya tidak menikah dengan orang yang tidak ia cintai. Kanaya sadar akan perasaannya, begitu berat untuk menerima Angga karena memang tiada perasaan untuknya. Kanaya memejamkan matanya, karena perdebatan yang tak kunjung habisnya, hari ini ia sampai harus membatalkan niatnya untuk masuk kerja.