The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Makan siang





Gimana-gimana? kalo lupa sama Reyhan dan Kanaya itu pict-nya ya guys!


kalian team mana nih kira-kira, tim-nya ReySya, atau tim-nya ReNay...


Komen di bawah ya ❤️❤️


______________________________________________


Langkah kaki Reyhan keluar dari partisipan kantornya, sebelum ia keluar untuk menuju kantin ia menghentikan langkahnya ketika telah sampai tepat di partisipan milik Kanaya. Tampaknya Kanaya masih belum selesai dengan pekerjaannya.


Matanya pun masih fokus berkutat dengan pekerjaan yang hampir saja selesai itu. Dengan antusias Reyhan memajukan tubuhnya, tangannya seperti merengkuh tubuh mungil gadis itu, tubuh mereka hampir saja seperti berpelukan jika saja Kanaya tidak menyadari hal itu. Kanaya hanya bisa menelan ludahnya seraya menghentikan aktivitasnya.


"Aku tunggu kamu didepan ya, katanya mau traktir, nggak bohong kan?" pertanyaan itu seolah membuat Kanaya kaku seketika. Dadanya kembali berdebar dengan matanya yang membulat sempurna.


Kanaya menggeleng, pipinya memerah menahan malu akan kedekatan mereka saat ini.


"Kalo gitu nanti pulang bareng yuk, aku mau ngajak kamu kesuatu tempat. Bisa nggak? atau kamu ada acara?" tanya Reyhan dengan lembut. Kanaya hanya bisa menelan ludahnya, ia takut kegugupannya akan diketahui oleh pria itu. Ia mencoba tersenyum dengan menoleh sedikit kearah Reyhan yang kini tengah tersenyum padanya.


"Bisa kak, kebetulan aku lagi nggak ada acara juga. Emang mau kemana kak?" tanya Kanaya balik membuat Reyhan mengedipkan sebelah matanya seraya mengusap puncak kepala Kanaya.


"Nanti kamu juga tau sendiri, janji ya?" tanya Reyhan sekali lagi untuk meyakinkan Kanaya. Gadis itu mengangguk dan tersenyum malu-malu. Sebenarnya ia juga penasaran, tapi berdua bersama Reyhan saja membuatnya bahagia. Tak perduli mau diajak kemana, yang paling penting ia bisa melihat senyuman Reyhan yang begitu menawan baginya.


Setelah Reyhan mendapatkan jawaban yang puas, ia akhirnya mengangguk dan bangkit. Pria itu kembali melangkah untuk keluar dari kantor, sebelum keluar melalui ambang pintu Kanaya sempat mendorong kursinya dari partisipan kantornya. Ia melihat


Reyhan yang membalikkan tubuhnya untuk tersenyum padanya. Kanaya yang menyadari hal itu hanya bisa menunduk dan kembali kedalam partisipannya. Ingin sekali ia memukul kepalanya yang bodoh itu, betapa malunya ia ketika Reyhan mendapati dirinya mencuri pandang kepadanya.


Mengingat Reyhan yang antusias duluan Kanaya semakin tak bisa menahan perasaannya. Ingin sekali ia mengutarakan perasaannya yang sempat terpendam itu. Namun fikirannya urung, senyumnya yang terulas kini membentuk lengkungan murung pada ingatannya kemarin hari.


"Sahabat? tapi kenapa kakak kaya gitu ke aku? atau cuma aku aja yang salah paham sama kata-kata dia kemarin?" Kanaya menggeleng. Ia mengingat kembali apa yang ia lalui bersama Reyhan.


Jika hanya sekedar sahabat tidak mungkin Reyhan menggandeng jemarinya kemarin, jika hanya sekedar sahabat ia tak mungkin curhat tentang semua masalahnya kepadanya. Kanaya menghela nafasnya, ia tersenyum sendiri mengingat senyuman penuh arti dari pria itu.


Segera setelah itu Kanaya kembali fokus pada pekerjaannya. Ia segera menyimpan file yang baru saja ia kerjakan. Ia tak ingin membuang-buang waktu lagi, makan bersama Reyhan adalah hal yang ia inginkan saat ini. Kanaya segera menata berkasnya, ia menata rambutnya seraya merapikan bajunya sebelum keluar dari ruangan kerjanya.


Gadis itu melangkah menuju pintu, ia bersiap untuk menyambut Reyhan yang katanya akan menunggunya. Ia membuka gagang pintu dan menariknya, ia mencari keberada Reyhan yang kini entah dimana keberadaannya. Matanya yang semula berbinar kini berubah menjadi murung dengan bibirnya yang melengkung murung itu.


"Katanya mau nungguin aku, awas aja kalau nanti ketemu di kantin" kata Kanaya dengan kesal. Ia melangkahkan kakinya menuju kantin, namun belum sempat sampai disana, ia bertemu dengan dua orang gadis yang kini tersenyum padanya.


"Eh Luna, bukannya nggak mau sih, tapi aku udah janji sama orang, maaf ya" ujar Kanaya yang kini merasa tak enak hati pada temannya satu itu.


"Janjian sama siapa? kamu kan jomblo" ujar teman satunya lagi membuat Kanaya memutar bola matanya.


"Jangan dengerin Cindy Nay, kita barengan aja yuk ke kantin" ajak Luna membuat Cindy hanya terkekeh melihat ekspresi Kanaya yang tengah sebal oleh perkataan jahilnya itu.


"Apa sih, emang si Cindy udah ada komitmen sama pacarnya. Cepet nikah dong Cin kalo emang pacar kamu serius, kalo aku sih mending cari yang serius mau nikahin daripada nggak serius macarin" ujar Kanaya membalas perkataan Cindy tadi ditengah mereka berjalan bersama.


"Ember Nay, kalo aku sih udah dikasih kepastian ya" kata Luna membuat Cindy mengerucutkan bibirnya sebal.


"Yeeee, tunggu tanggal mainnya aja, bentar lagi aku yang bakal nikah duluan" ujar Cindy penuh keyakinan membuat Luna dan Kanaya hanya bisa terkekeh seraya melangkahkan kakinya.


Sesampainya di kantin Kanaya melihat Reyhan yang kini tengah duduk sendirian dan seperti menunggu seseorang. Kanaya hanya bisa tersenyum, namun sedetik kemudian wajahnya kembali kesal mengingat Reyhan tak menepati janjinya.


"Eh, ayo Nay jalan" Kanaya kembali dalam kesadarannya. Sedang Luna dan Cindy mencari tempat duduk. Namun Kanaya hanya menggeleng, ia berniat untuk memesankan makanan saja, mengingat dirinya sudah berjanji pada Reyhan akan mentraktir dirinya tadi.


"Kalian duluan aja, aku kan ada janji. Aku pesan makanan dulu" kata Kanaya seraya berlalu pergi. Kedua temannya itu hanya bisa penasaran seraya menatap penjuru kantin. Siapa gerangan yang membuat Kanaya sampai sebegitu antusiasnya dengan teman janjinya itu.


"Buk, Siomaynya 2 mangkuk ya, sama minumnya es teh" kata Kanaya memesankan makanan untuk mereka berdua. Entah mengapa rasa kesal dan senang bercampur menjadi satu mengingat Reyhan yang hendak makan siang bersamanya. Nanti kalau Kanaya sudah sampai di meja Reyhan, pasti ia akan beelagak marah padanya. Ia kesal sekali karena Reyhan meninggalkannya, padahal sebelumnya mereka telah berjanji.


Setelah itu Siomay pun sudah siap, ia memang sengaja akan mengejutkan Reyhan nantinya. Biasanya Kanaya malas menunggu nampan makanan selesai dibuatkan, ia lebih memilih untuk menunggu di meja makan daripada harus berantrian. Namun ini beda, ini demi Reyhan.


"Makasih ya buk" ujar Kanaya seraya meraih nampan berisi dua mangkuk siomay dan es teh yang baru saja ia pesan tadi. Langkah gadis itu pasti menuju tempat dimana Reyhan tadi duduk, namun belum sempat ia sampai di meja tempat dimana Reyhan duduk, ia mendapati Reyhan tengah makan dengan disuapi seorang gadis disampingnya.


Kaki Kanaya bergetar, hatinya seperti hancur melihat pemandangan itu. Kelihatannya juga Reyhan menyambut suapan itu dengan senang seraya tersenyum hangat. Wanita itu juga terlihat cantik, dan seksi. Ia ingat wanita itu adalah Novi, Novi di kantor departemen.


Novi juga termasuk rivalnya saat dirinya masuk kedalam kantor ini dulunya. Padahal Novi adalah kakak kelasnya dulu sewaktu SMA, ia juga ingat Novi juga yang membully Reyna waktu itu. Tapi kenapa Reyhan mau saja makan bersamanya, mungkin saja Reyhan juga tidak tau.


Jantung Kanaya serasa mau copot saja, matanya yang semula mendambakan makan siang bersama Reyhan kini menjadi kecewa dan terlihat berkaca. Ia melihat kedua temannya tadi yang masih duduk dengan minuman di tangannya.


Tak lama kemudian Kanaya menghampiri mereka. Ia menyodorkan nampan tersebut kepada Luna dan juga Cindy lalu kemudian merebut jus jambu milik Cindy yang kini setengah cemberut dan setengah tidak percaya akan siomay dihadapannya.


"Wahh, gratis nih?" tanya Cindy pada Kanaya yang hanya bisa menekuk wajahnya itu. Kanaya mengangguk, tanpa sungkan Cindy langsung menyerobot mangkuk berisi siomay itu dan langsung melahapnya. Namun berbeda dengan Luna yang kini menatap temannya itu dengan sedikit prihatin.


"Kamu kenapa Nay? katanya tadi mau makan sama temen kamu?" pertanyaan itu dibalas gelengan oleh Kanaya.


"Nggak jadi, udah gih makan aja. Lagi bete tau" kata Kanaya seraya menghabiskan jus jambu itu sampai tetes terakhir.