The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Meninggalkan sebuah rasa



Suara dering ponsel membangunkan gadis yang kini terbangun lesu.


Gadis itu mengangkat panggilan yang berada dilayar ponselnya. Matanya masih terpejam, dengan wajah yang pucat, disisi lain suara seraknya menandakan bahwa tubuhnya yang tengah lemah dan tak berdaya.


"Hallo" kata Falery yang masih sedikit menguap sambil sesekali mengucek matanya.


"Nona Gilbert, kami dari pihak hotel... kenapa kau semalam pergi begitu saja. Kami mencari mu dimana-mana, tapi apa yang kau fikirkan."


Falery memutar bola matanya, dirinya menghembuskan nafas panjangnya.


"Maafkan aku, aku semalam tidak enak badan."


"tapi kau bisa mengatakannya, tidak perlu membatalkan secara sepihak dan..." Falery segera mematikan panggilan itu, tak dihiraukannya tanggapan orang lain padanya. Dengan malas dirinya meraih sebuah bantal untuk menutup kedua telinganya.


Sedetik kemudian, panggilan itu berbunyi lagi. Gadis itu merasa kesal dan hendak membentak crew yang mencoba untuk menelfonnya kembali. Bisa-bisanya telfon sepagi ini dan melayangkan kata-kata yang membuat orang akan semakin mual.


"SUDAH KUBILANG... AKU SEDANG SAKIT! JANGAN MENELFON KU LAGI!" teriaknya dengan suara lantang. Falery hendak mematikan panggilan itu namun suara disebrang sana membuatnya berhenti seketika.


"Fay... kau sedang sakit? kau sakit apa?" suara seorang gadis yang ia kenal membuat Falery tertegun, dirinya melihat sekilas layar ponsel yang menunjukkan nama Sarah disana. Mata yang semula tertutup dengan rapat kini terbuka dengan lebar.


"Sarah... maaf, aku, aku tidak apa-apa" ucapnya dengan terbata-bata.


"Aku baru saja mengantarkan Yasya ke bandara, setelah ini aku akan langsung ke rumah mu okay, kau tenang saja."


Falery mengernyitkan keningnya, dirinya masih bertanya-tanya, kenapa Yasya ke bandara. Apa ini berhubungan dengan??


"MALAM DIMANA SAYA AKAN BERPISAH DENGANNYA UNTUK BEBERAPA BULAN KEDEPAN..."


Falery tersentak, gadis itu langsung bangkit dan terperanjat setelah mendengar kata-kata dari Sarah. Ia baru sadar dengan apa yang dikatakan oleh pria itu semalam.


"Yasya? ke bandara? dia mau kemana?" tanyanya dengan perasaan panik.


"Oh aku lupa memberitahumu, Yasya akan kembali ke Indonesia pagi ini."


"AAPA?!" Falery menutup mulutnya, kali ini dirinya harus bersikap biasa. Tak boleh membuat Sarah curiga padanya.


"Iya, Yasya hari ini akan pergi, pesawatnya akan terbang satu jam lagi."


Falery terdiam dengan tenggorokannya yang tercekat. Dirinya buru-buru mencari sebuah alasan untuk mengakhiri panggilannya dengan Sarah.


"Sarah, sudah dulu... aku hari ini ada panggilan wawancara, jika aku terus mengobrol dengan mu maka aku akan terlambat, aku tutup telfonnya dulu."


tut...


Falery buru-buru melempar ponselnya ke sembarang tempat. Dirinya menggigit bibir bawahnya karena gugup.


Tak tau lagi apa yang akan terjadi, kini harapannya hanya ingin bertemu dengan Yasya untuk terakhir kalinya.


"Yasya... apa yang harus aku lakukan?" gumamnya kebingungan.


Tanpa pikir panjang gadis itu langsung pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk keluar. Tak butuh waktu lama gadis itu selesai dengan jaket dan juga jeans serta topi yang menutupi rambut panjangnya.


Buru-buru dirinya turun dari apartemen dan menaiki taksi.


Falery hanya berharap semoga pesawat yang ditumpangi oleh Yasya belum sempat terbang sebelum dirinya tiba disana.


Didalam mobil tiada yang dapat ia fikirkan lagi selain pria yang kini hendak pergi jauh dari hidupnya.


Perjalanan dari apartemen ke airport membutuhkan waktu setengah jam lamanya. Namun belum sampai dua puluh menit berlalu, taksi yang ia tumpangi berhenti begitu saja.


"Paman ada apa?" tanya Falery dengan wajah yang penuh kekhawatiran.


"Sepertinya ada kecelakaan didepan sana, kendaraan sepanjang jalan macet total" kata pria paruh baya itu membuat Falery menepuk jidatnya sambil berfikir keras.


"Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan Tuhan" gumamnya dengan nada cemas.


"Paman berapa lama lagi biasanya kemacetan ini akan berakhir?" pertanyaan itu membuat sang supir mengintip Falery dibalik spion mobil bagian dalam.


"Mungkin sekitar satu jam" Falery tak bisa berfikir dengan jernih, apapun yang terjadi dirinya harus bertemu dengan Yasya.


Gadis itu meraih uang sebesar $50, tanpa fikir panjang dirinya keluar dari taksi.


"Kembalian nona" Gadis itu menghentikan langkahnya sebentar dan menengok pada supir taksi.


"Ambil saja paman..." ucapnya dan langsung berlari menuju airport. Sekilas Falery melirik arloji yang menempel ditangannya.


Jam sembilan tepat penerbangan Yasya, tinggal lima belas menit lagi Yasya akan pergi untuk meninggalkannya.


Gadis itu mempercepat larinya, tak dihiraukan orang-orang yang ia tabrak. Sebagian orang mengumpat dan sebagian lagi terjatuh oleh senggolan dari Falery yang begitu keras.


"Dasar gadis kurang ajar!" ujar seorang pria yang kertasnya berserakan karena ditabrak Falery, sambil meminta maaf gadis itu masih fokus untuk berlari sekuat tenaga. Falery berbelok dan berlari lurus tepat di trotoar untuk menghindari kendaraan yang berlalu lalang.


Akhirnya sudah satu kilometer dirinya berlari dan tepat dua ratus meter didepannya airport kota Florida terpampang jelas, membuatnya semakin gencar untuk berlari.


Tak sadar dengan jalanan yang licin, Falery terjatuh dan membuat kepalanya terbentur cukup keras hingga membuat topinya terjatuh.


"Ahhhh...." banyak orang yang memandanginya, namun beberapa dari mereka membantu Falery untuk bangkit.


"Nona... kau tidak apa-apa?" Falery hanya menggeleng, dirinya segera meraih topi itu kembali dan bangkit.


"Terimakasih bibi... saya harus pergi" ucap gadis itu sambil melanjutkan larinya.


"Nona... kepalamu berdarah!" teriakan itu tak dapat didengar jelas olehnya. Gadis itu tetap berlari tanpa memperdulikan apapun.


"Yasya... tunggu aku" ujarnya ditengah pelariannya.


Suara pemberitahuan bahwa pesawat akan terbang menggema seantero airport. Membuat Falery kini mencari keberadaan Yasya diruang check in.


Namun belum sempat dirinya masuk seorang wanita beserta security menahan langkahnya.


"Maaf nona, boleh kami priksa tiket anda."


Falery seperti tak menggubris perkataan mereka, matanya hanya tertuju pada segerombolan orang yang hendak keluar dari bandara menuju lapangan pesawat. Terlihat Yasya yang kini duduk dan segera beralih berdiri untuk kemudian melangkahkan kakinya.


"Nona..." panggil security itu kembali membuat Falery menggeleng dan kembali fokus menatap para orang-orang yang berkerumun hendak memasuki pesawat mereka.


"Maaf, biarkan saya masuk, saya harus menemui seseorang, saya mohon sebentar saja. Ini sangat penting" mohon Falery dengan matanya yang tampak berkaca-kaca. Namun gelengan dari security dan juga pramugari itu membuat harapannya seperti pupus.


"Tidak bisa nona, jika anda tidak memiliki tiket, maka anda dilarang untuk memasuki ruangan ini" ucap wanita itu membuat Falery menitikkan air matanya.


"Tapi saya mohon sebentar saja."


Falery hendak menerobos, namun lengannya segera dirarik oleh security itu untuk menjauh dari sana.


"YASYA! YASYA... AKU DI SINI YASYA.! TOLONG JANGAN PERGI DULU" teriaknya, namun tiada respon dari Yasya sama sekali. Gadis itu seperti tak berdaya, berkali-kali dirinya berteriak memanggil nama Yasya namun hasilnya nihil.


Dirinya tak berdaya ketika security itu menarik lengannya hingga menjauh dari ruang tunggu.


.


"Reyna..." entah mengapa, sebelum Yasya memasuki tangga pesawat yang akan ditumpanginya dirinya seakan mendengar suara Reyna memanggilnya.


Pria itu menoleh kebelakang, namun tiada siapa-siapa disana. Hanya ada seorang pramugari dari pihak check in yang berdiri disana mengawasi keadaan.


Entah mengapa, langkahnya seperti berat. Seperti ada yang menahan jiwanya untuk naik pesawat itu.


'kenapa aku merasakan kehadiran mu Reyna?' ujarnya dalam hati.


Pria itu masih setia berdiri didepan tangga yang menyalurkannya pada pesawat.


"Tuan... silahkan naik, pesawat akan tinggal landas sebentar lagi" ujar seorang pramugari yang berada tepat diujung tangga, membuatnya mengangguk.


"Sebentar" Yasya segera berlari, kembali keruang check in untuk memeriksa seseorang disana. Namun harapannya serta merta pupus. Mungkin hanyalah perasaannya saja.


"Tidak ada orang... tapi kenapa dadaku terasa sakit?" Yasya menggeleng. Dirinya segera kembali untuk menaiki pesawat meski dengan hati yang penuh keraguan dan perasaan tanda tanya besar.


Pria itu menaiki tangga dengan perlahan sambil menengok kebelakang, barangkali harapan dan juga perasaannya sepihak dengan kenyataan.


Namun sampai dirinya duduk di kursinya dan melihat dari jendela, ia tak dapat menemukan sosok yang bisa menguatkan hatinya.


"Kenapa aku merasa sakit? apa karena aku belum berpamitan pada Falery? tapi kenapa harus dia?" pertanyaan itu kembali menghantui Yasya dalam fikirannya yang mengambang. Kini pesawat yang ditumpanginya perlahan memasuki dunia awan, terbang untuk kembali ke negara asalnya.


.


Kini Falery dapat melihat sendiri betapa penting Yasya dalam hatinya meskipun kenyataannya ia tak dapat memilikinya.


Kini gadis itu hanya dapat melihat bagaimana Yasya meninggalkannya, bahkan tanpa pesan terakhir darinya. Jika dirinya tau, ia takkan menyia-nyiakan waktu yang ada untuk menikmati kebersamaan bersama orang yang ia cintai.


Gadis itu masih setia melihat bagaimana pesawat yang ditumpangi pria itu terbang ke angkasa, menjadi seperti bintang kecil dan seperti debu lalu hilang bersamaan dengan waktu yang membuatnya menyesali kebodohannya.


"Hiks Yasya... kenapa kau tak kembali saja."


Falery masih berdiri dengan tangisannya yang menjadi, pandangannya keluar menghadap dinding kaca yang menghantarkannya langsung pada lapangan penerbangan, yang menjadi saksi dimana ia terakhir kali melihat wajah pria yang begitu ia cintai dalam hidupnya.


"Ahhhh..." tiba-tiba saja, matanya seperti berkunang-kunang, rasanya perih yang ia rasakan sedari tadi baru saja ia sadari.


Dilepasnya topi yang ia kenakan dan diusapnya bagian belakang kepalanya. Ia terkejut kala merasakan bahwa bagian kepalanya basah, dan melihat tangannya yang penuh dengan lumuran darah.


brakkkk...


Tubuh gadis itu lunglai dan ambruk seketika, merasakan darah yang semakin mengalir deras dikepalanya. Bukan hanya itu, melihat darah membuatnya semakin ingin mual dan tak sadarkan diri.