
"Falery ini orang Sya... lo nggak punya temen khayalan kan? lo sehat-sehat aja kan dari Florida" ucap Satya sambil mengusap kepala Yasya yang masih normal-normal saja.
"Lo apaan sih, gue nggak kaya gitu... dia model ditempat gue" dengan pandangan yang malas, pria itu menepis tangan Satya dari keningnya. Terlihat tatapan tak percaya serta heran dari Satya pada sahabatnya.
"Serius lo Sya?" tanya Satya lagi masih tak percaya.
"Lo liat nih muke gue! emang ada gue bo'ong ame lo... nggak ada faedahnya juga" ucap Yasya dengan nada kesal.
Wajah Satya mendadak pucat pasi dengan salivanya yang ia telan dengan kasar. Entah mengapa membahas soal Reyna membuat buku kuduknya berdiri.
Bahkan semuanya yang ada pada foto itu sangat mirip dengan wajah Reyna. Tiada perbedaan apapun, kecuali dirinya lebih dewasa dari Reyna yang dulu pernah ia kenal.
"Ini mah Reyna ****...! lo nggak liat apa, mirip banget *****!" ucapan dari Satya membuat Yasya merebut foto itu kembali.
"Udah gue bilang, Reyna udah meninggal, dia itu Falery... gue liat sendiri makam Reyna yang dikubur sama keluarga angkatnya" kata Yasya menjelaskan.
"Tunggu Sya... lo tau darimana soal itu semua?" tanya Satya masih tak mengerti dengan apa yang terjadi.
Yasya menghembuskan nafasnya, dirinya mencoba menenangkan fikirannya sambil memijit pelipisnya.
Pria itu mulai menceritakan bagaimana mulanya dirinya bertemu dengan Falery.
Dan berakhir dengan pertemuannya dengan Alfian di Florida.
"Apa lo bilang?! Alfian? tunangan sama si Falery ini? lo nggak salah Sya?" perkataan Satya membuat Yasya mengangkat sebelah alisnya.
"Maksud lo apa sih? lo nggak percaya sama gue... lo kira gue disana cuma mimpi apa?! gue serius kali Sat" ucap Yasya semakin sebal dengan wajahnya yang menggerutu.
"Bukan gue nggak percaya, noh gue kasih hp gue."
Satya membuka sebuah file foto di galery ponselnya dan segera memberikannya pada Yasya yang kini beralih menatap foto itu dengan pandangan terkejut.
Yasya bangkit dari tempatnya, seketika hatinya berdebar kencang. Fikirannya melayang dengan tatapan benci.
"Alfian udah nikah?" tanya Yasya dengan pandangannya yang penuh tanya.
Satya dengan santai membenahi tatanan rambutnya dan menatap Yasya dengan terkekeh.
"Gue di undang, acaranya tiga bulan lalu, dan lebih parahnya yang dia nikahin itu mantannya... hamil tiga bulan waktu itu, mungkin sekarang udah enam bulan... heran gue kapan dia buatnya" ucapan dari Satya membuat Yasya mematung seketika. Pandangannya kosong dengan beban difikirannya.
Saat ini yang ia fikirkan hanyalah Falery, Falery yang ia cintai karena mirip dengan masa lalunya. Entah bagaimana kabar gadis cantik itu saat ini.
Tanggal pernikahannya tinggal menghitung hari dan semuanya menjadi lebih rumit dari apa yang ia bayangkan sebelumnya.
Yasya bangkit kembali dengan tatapan matanya yang penuh dengan aura kebencian.
Ia melangkah hendak keluar dari ruangannya membuat sang sahabat kini ikut bangkit menyusulnya.
"Eh... lo mau kemana?" tanya Satya yang kini menatap khawatir pada sahabatnya itu.
"Rumah sakit" jawabnya singkat.
"Aduh... nih anak nggak ada bosen-bose nya bikin perkara apa... hey... Sya... tungguin gue."
***
Brakkkkk....
Suara dobrakan pintu terdengar keras kala Alfian tengah membuka berkas-berkas dihadapannya.
Dirinya terperangah saat Yasya yang kini menatapnya dengan pandangan amarah berjalan kearahnya.
"ALFIAN... *******!"
buk buk bukkk...
Pukulan bertubi-tubi dari tangan Yasya membuat wajahnya babak belur seketika. Berulang kali Alfian mencoba untuk menghindar dan melawan, namun sepertinya amarah dari Yasya lebih kuat daripada usahanya.
"Sya! apa maksud lo..." Alfian mencoba menghindar dan melawan namun kemarahan Yasya membuat pria itu tak bisa berbuat apa-apa.
buk... buk... bukk...
Yasya tak memperdulikan perkataan Alfian yang mencoba untuk menenangkannya. Pria itu terus memukuli wajahn dan tubuh Alfian yang hampir tak bisa bangkit.
Kini Alfian ambruk seketika, dengan kakinya yang tak mampu menopang tubuhnya sendiri. Sedang Yasya kini meraih kerah Alfian dan hendak untuk memukulnya kembali.
"YASYA!! BERHENTI LO!" teriakan dari Satya membuatnya menahan kepalan tangannya untuk memukul Alfian yang kini mulai lemas tak berdaya.
"Lo gila ya Sya... ini rumah sakit woy! kalo ada masalah tanya baik-baik jangan kek anak kecil man!" ucap Satya dan segera berhambur menarik lengan Alfian untuk menolongnya.
Yasya kini tak bisa berfikir jernih, dirinya masih tersulut emosi oleh perbuatan Alfian yang benar-benar mengecewakannya. Rasanya ingin sekali dirinya menghabisi Alfian saat ini juga.
Tangan Yasya masih mengepal kuat dengan wajahnya yang merah padam.
Sedang Satya kini mencoba untuk membopong tubuh Alfian. Membantunya untuk merebahkan tubuhnya diatas bangsal tepat bersebelahan dengan meja kerjanya.
Yasya mengusap kasar wajahnya yang masih memerah untuk kesekian kalinya.
Setelah semuanya terkendali, dan Yasya berhasil menenangkan diri serta Alfian sudah ditangani oleh seorang suster. Kini Satya menengahi mereka berdua.
Hembusan nafas dari Satya menandakan kini dirinya tidak main-main lagi, dan mulai menanggapi dengan serius permasalahan yang masih tidak dimengerti olehnya.
"Gue mau kalian selesain ini baik-baik, jangan sampe ada yang mukul."
Pandangannya beralih taja pada Yasya yang kini masih menunduk.
"Terutama lo Yasya," lanjutnya lagi.
Kini Alfian bisa menebak apa yang dilakukan oleh Yasya saat Satya datang bersamanya. Tiada kebencian dari dirinya pada sahabatnya itu, karena dari awal memang dirinyalah yang salah.
Pria itu memegangi pipinya yang dibalut kasa dengan obat merah ditengahnya.
Pandangannya menjurus pada Yasya yang kini masih enggan untuk membuka suara.
"Maaf Sya... lo pasti marah karena" Alfian menjeda kata-katanya, dirinya merasa takut untuk melanjutkan perkataannya yang mungkin mampu untuk membuat Yasya tersinggung.
"Oke... gue bakal jelasin ke elo, tapi lo janji jangan motong kata-kata gue... gue tau lo bakal marah setelah gue cerita, tapi seenggaknya lo bakal tau awal sampe akhir, baru lo boleh pukul gue lagi."
Yasya kini menoleh pada Alfian, mantapnya dengan pandangan tajam mengintimidasi. Pria itu sudah tak tahan lagi dengan semua yang telah terjadi.
"Gue udah bilang... jangan pernah nyakitin Falery... lo bahkan bilang kalo lo bakal jagain dia kan! Tapi omongan lo kaya BANCI!" suara Yasya terdengar meninggi, dan menekan kata terakhir karena kekesalannya.
"Cepet ngomong!! jangan buat gue ngebunuh lo sebelum lo ngasih tau segalanya."
"Oke... gue ceritain" Alfian menceritakan semua yang ia ketahui dan ia alami dari awal lima tahun lalu. Bagaimana Reyna yang meninggal akhirnya hidup kembali, meskipun dengan keadaan kritis dan dibawa oleh keluarga angkatnya.
Sampai dimana Reyna yang awalnya berubah identitas menjadi seorang Falery.
Falery dikehidupan sebelumnya adalah putri bungsu dari keluarga Gilbert yang meninggal akibat kecelakaan. Karakternya mirip dengan Reyna yang lembut dan penyayang.
Itulah alasan mengapa Zayn dan juga Alan sangat menyayangi Reyna. Apalagi Thomas, ia bahkan menganggap Reyna adalah Falery yang asli, meskipun ia tau Falery yang asli telah tiada untuk selamanya, namun gadis itu adalah putri kesayangannya sampai kapanpun, bahkan melebihi kasih sayangnya pada Falery yang asli.
Ketika Reyna terbangun dari masa kritisnya dan bersiap untuk dilakukan operasi, dirinya memegang kuat jemari tangan Zayn dan mengatakan untuk menyembunyikan kehidupan yang sebenarnya dari orang-orang yang ia kenali.
Ia tau, setelah operasi kemungkinan besar dirinya akan melupakan orang-orang yang ia kenal sebelumnya, meski tidak lupa akan kemampuannya sendiri.
Ia takut ia melupakan masalah yang terjadi pada dirinya. Maka dari itu pasca operasi, keluarga Gilbert memutuskan untuk mengganti batu nisan Falery dengan nama Reyna Malik, tujuannya untuk mengubur masa lalu yang kelam serta menyembunyikan kehidupan Reyna yang baru dari orang-orang yang ia kenal dulu. Orang-orang yang telah mengecewakannya berulang kali.
Semenjak gadis itu hilang ingatan, rasanya dirinya seperti ditempat asing yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Badannya kurus kering, meski tubuhnya tidak selemah dulu. Tiada yang ia gubris selain perhatian dari Thomas, karena setiap pagi setelah Falery selesai dari terapi Thomas yang menyuapinya makan, mengajaknya bicara dan lain sebagainya.
Pernah suatu ketika saat Zayn pulang dari kerja bersama dengan sang ibu. Pandangannya menjurus pada Falery yang kini berubah menjadi gadis yang ceria dan mau untuk diajak bicara dengan sang ayah.
Mulai dari awal dirinya telah bisa berkomunikasi dengan baik, gadis itu berubah menjadi pribadi yang pemurung, dan depresi berat.
Menurut psikolog yang menangani kasusnya, gadis cantik berdarah Asia itu mengalami penyakit PTSD atau kepanjangan dari post traumatic stress disorder, dimana penderitanya mengalami traumatis yang mendalam tentang masa lalunya.
Setelah beberapa saat dirawat, Falery tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, maka keluarga Gilbert memutuskan untuk membawa Falery berobat ke psikologi profesional terbaik di Amerika.
Setelah itu dengan anjuran psikiater, Falery bisa sembuh hanya dengan satu jalan. Yaitu Hipnoterapi secara maksimal, dimana penderitanya akan di sugesti untuk melupakan semua rasa yang ia derita. Sugesti ini bukan hanya untuk melupakan rasa, namun juga bisa mempengaruhi kepribadiannya yang berbanding terbalik dengan sifat asli penderita. Sifat yang berbanding terbalik itu adalah bentuk dari penolakan serta melawan apa yang pernah ia alami di masa lalu.
Akhirnya, usai beberapa kali Falery di hipnotis dirinya berhasil sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa.
Namun disitulah keluarga Gilbert merasakan kejanggalan dan juga perbedaan yang cukup besar pada sikap dan sifat Falery yang berbanding terbalik dengan Reyna.
Bahkan mereka sangat berbeda dari cara berbicara maupun berperilaku.
Reyna yang cenderung lembut dan penuh perhatian kini menjadi Falery yang kasar dan tidak bertanggung jawab. Didukung dengan keadaan keluarganya yang berada serta keinginannya yang selalu dituruti membuatnya menjadi lebih sombong dan bersikap dingin.
Kini sikapnya itu telah hilang semenjak ia mengalami trauma yang hampir sama dalam hidupnya.
Trauma yang membuat gadis itu mengingat segalanya, tak terkecuali dengan rasa sakit dan perilakuan yang ia alami selama hidupnya.