The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Spesial story 3 (Fabian)



Luna melongok keluar jendela pesawat, pandangannya tertuju pada pemandangan awan yang berada di sisi kaca jendelanya. Tinggal beberapa jam lagi, dan ia akan tiba di tanah air. Rencana liburan serta bulan madunya sepenuhnya gagal, yang ada Luna semakin merasa stress mengingat apa yang terjadi di Hawaii. Bahkan disaat seperti ini, ia masih sempat memikirkan pria yang hatinya sudah di miliki wanita lain.


Flashback on


"Oh jadi nama kamu Luna ya?" Luna hanya mengangguk dan duduk dengan tenang di samping wanita yang hendak mengantarkannya ke hotel.


"Dulu Zayn juga sering membawa teman-temannya ke pantai, tapi baru kali ini aku tau dia membawa wanita sendirian. Sudah berapa lama kamu berteman dengan dia?" tanya wanita itu seraya masih fokus dengan jalanan dihadapannya. Luna hanya menelan ludah saja, jadi Zayn tidak menceritakan statusnya yang sudah beristri?, dada Luna terasa sesak, ia seperti ingin membuka mulutnya tapi perasaannya begitu berat hingga harus memaksanya demi memastikan sesuatu.


"Ka-kamu, ada hubungan apa dengan Zayn?" wanita itu tersenyum penuh makna, sorot matanya seolah menggambarkan bahwa Zayn adalah bagian penting dalam hidupnya.


"Seperti yang kamu lihat, baik aku maupun Zayn kami saling mencintai satu sama lain" wanita itu kemudian meraih foto dari dalam dompetnya saat mobilnya berhenti tepat ketika lampu lalu lintas menyala merah. Luna hanya mampu menyembunyikan air mukanya, ia masih tidak percaya jika Zayn tidak mengatakan langsung padanya, namun saat lembar foto Zayn memeluk wanita itu terlihat jelas di depan matanya, ia baru sadar bahwa apa yang dikatakan wanita itu memanglah benar.


"Bagaimana? aku dan dia serasi bukan?" helaan nafas wanita itu membuat Luna memegang dadanya kuat-kuat, ia menahan rasa sakitnya sejak tadi, untuk mendengarkan kenyataan meskipun itu menyakitkan untukku. Setidaknya Luna tidak lagi dibodohi lagi untuk seterusnya.


"Zayn adalah pria yang sangat baik, dia perhatian, dan teramat menyayangi pasangannya. Sayang sekali, padahal aku sangat merindukannya, tapi katanya ada yang harus di urus beberapa hari ini, dia bahkan tidak sempat membawa ku ke hotel favorit kami"


"Ho-hotel?" mata Luna sudah berkaca-kaca, rasanya ia sudah tidak kuat lagi membendung semua kebenaran ini, Luna yang sebelumnya ingin mempertahankan Zayn apapun resikonya, kini energinya seolah melemah.


"Iya, oh iya, kamu bukan orang barat ya. Yah jangan terkejut jika perempuan dan laki-laki disini berhubungan meskipun belum terikat status pasangan suami istri. Itu sudah biasa, bahkan aku dengan Zayn -"


"Cukup! tolong hentikan mobilnya"


"Tapi kan, hotelnya-"


"Aku bilang hentikan!"


"Okay" Luna langsung saja keluar dari mobil itu tanpa sepatah katapun, setelah mobil itu pergi menjauh darinya ia bisa menuangkan beban yang ia rasakan, tak peduli jika ia berhenti di tempat umum, meski ada beberapa pejalan kaki yang hilir mudik memperhatikannya tapi Luna masih tidak peduli dengan hal itu. Ia menangis seraya berjalan lunglai, rasa perih di kakinya kini tak dapat mengalahkan rasa sakit di hatinya. Luna kemudian meraih ponselnya, ia menelpon Kanaya dengan suara sumbang dan tangis sesenggukan.


Flashback off.


Luna saat ini sudah berada di depan pintu lift, ia hendak menuju apartemen Kanaya. Kartu yang ia bawa saat ini adalah amanah dari sahabatnya itu untuk menggunakan apartemennya selama mungkin. Yah daripada Luna harus pulang ke rumah orangtuanya di Jogja lebih baik ia beristirahat di sini dengan tenang pikirnya. Luna hendak masuk ke dalam lift tersebut saat suara denting lift menandakan bahwa seseorang akan keluar dari lift tersebut.


"Lu-Luna!"


"Bian ya?" pria itu mengangguk seraya tersenyum, membuat Luna ikut tersenyum dan buru-buru masuk kedalam.


"Apa kabar Lun?"


"Baik, kamu nggak keluar?" pria itu menggeleng, membuat Luna menaikkan sebelah alisnya. Fabian Erlangga, pria itu adalah teman Luna seangkatan sewaktu Luna berada di jenjang SMA, Luna sendiri tak menyangka jika pria ini akan berdiri disampingnya dan menyapanya. Padahal Fabian adalah pria yang mengatakan benci padanya setelah kelulusan mereka usai, hal itu di picu karena Luna menolak Bian berulangkali, karena ia beralasan tidak mau pacaran karena tidak diperbolehkan oleh kedua orangtuanya. Meski Bian memang pria yang tampan, pintar dan juga populer tapi Luna bukan gadis yang mudah untuk didekati sekalipun pria itu seperti Fabian. Terakhir kali Luna mendengar kabar bahwa Fabian meneruskan pendidikannya di Amsterdam, tapi tidak disangkanya ia akan bertemu seperti ini setelah sekian lama.


"Lun, sorry buat kesan terakhir kelulusan kita itu ya?" Luna mengangguk, ia bahkan sudah tidak mengingat hal itu lagi. Ia cukup memaklumi sikap Fabian yang memang menyukainya kala itu. Siapa yang tidak mengenal Luna, gadis cantik nomor dua setelah dirinya yang menjadi bintang kelas populer seangkatan. Mereka pun sering di sandingkan sebagai ketua dan wakil kelas karena kepopulerannya, cantik dan tampan ditambah dengan kecerdasan akademik non akademik yang mereka miliki sudah menjadi titik kesempurnaan saat mereka berada ditengah-tengah kerumunan para murid-murid.


Berulangkali Fabian menembak gadis yang tidak ia sukai hanya karena ingin membuat Luna cemburu, namun alih-alih cemburu Luna malah cuek saja dan tidak perduli dengan siapa Fabian berhubungan.


"Ya nggak apa-apa, kamu tinggal disini?" tanya Luna basa-basi saat ia masih menunggu suara lift berdenting kembali.


"Hem, lantai tujuh, kamu?" Luna terdiam sejenak, lalu ia tersenyum dan menggeleng.


"Aku cuma numpang sebentar di tempat temen ku"


"Lagi ada masalah ya sama keluarga?" Luna diam seketika, bahkan saat suara lift berbunyi menandakan ia sudah sampai di lantai yang ia tuju. Saat pintu lift terbuka Luna langsung keluar tanpa mengatakan apapun, namun langkahnya terhenti saat lengannya diraih oleh pria dari belakang.


"Sorry Lun, gue nggak maksud. Gue cuma pengen temenan lagi sama lo, boleh kan?" Luna terdiam sejenak, statusnya sudah tidak lagi lajang, ia masih memiliki suami meskipun ia tak tahu bagaimana takdir mereka kedepannya mengingat apa yang ia lalui beberapa waktu lalu. Luna bimbang, perasaannya campur aduk. Netra coklat itu menatapnya dengan ketulusan, wajahnya yang tampan dengan rambut yang di poni menyerupai oppa Korea, kulit putih, hidung bangir, mata lebar yang mengintimidasi dengan bibir pink tipisnya, siapa yang tidak tertarik dengan penampilan Bian. Yah, terkecuali Luna karena dari awal tidak ada kesan yang membuatnya tertarik dengan pria itu.


"Oke" hanya itu jawaban Luna, sejujurnya ia tidak ingin seperti ini, bersikap dingin pada Fabian. Tapi pikirannya saat ini memaksanya untuk bersikap demikian meski tak ingin. Luna langsung berjalan dan berangsur pergi saat lengannya sudah tak lagi di raih oleh Bian, pria itu hanya menatap Luna dengan pandangan yang sulit di artikan, seolah rindu dan bimbang menjadi satu.


Luna berjalan lunglai seraya menarik kopernya, setibanya ia di kamar Kanaya wanita itu langsung ambruk di atas kasur seraya menatap langit-langit kamar. Rasanya Luna begitu teramat lelah, saking lelahnya ia bahkan sejenak memikirkan tentang Zayn, wanita itu kemudian meraih ponsel yang berada di kantung celananya dan menulis pesan untuk sahabatnya yang mungkin kini tengah menunggu kabar darinya.


Luna menghela nafasnya, selama beberapa Minggu kemudian ia akan tinggal di apartemen itu, setelah semua terlewati ia tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, akankah Luna melayangkan surat gugatan cerai, atau malah kembali pada Zayn dan melakukan perjanjian pernikahan untuk tidak mengurusi masalah hidup masing-masing. Meski pada akhirnya Luna yang akan menderita, tapi ia sendiri bimbang untuk memilih antara perasaan ataukah reputasi keluarganya yang dipandang terhormat.


Dering ponsel Luna membuat wanita itu bangun dari tidurnya, ia buru-buru mengangkat panggilan itu tanpa melihat layar ponselnya, dengan matanya yang masih menyipit Luna berusaha mengumpulkan nyawanya meski masih sedikit mengantuk.


"Luna!" suara itu membuat Luna terperanjat, rasanya ia begitu terkejut saat mendengar suara pekikan lantang Kanaya dari sebrang sana.


"Ih apa sih?! gue baru aja bangun tidur tau"


"Ya ampun Luna, gue kangen banget sama lo, huaaa padahal kita mau double date, tapi lo malah balik duluan"


"Hem, lo sih enak punya suami yang jelas sayang sama lo, nah gue? makan hati doang tau nggak tiap hari" suara Luna mendadak parau, membuat Kanaya merasa tak enak hati, padahal bukan maksudnya untuk menyinggung masalah yang menimpanya saat ini melainkan ia hanya ingin menghibur sahabatnya satu itu.


"Lun, kalo gue bilang Zayn itu cinta sama lo, lo bakal percaya atau nggak?"


"Nggak!" jawab Luna langsung tanpa basa-basi. Bagi Luna ia sudah mengerti dan memahami Zayn yang selama ini berada didekatnya, pria itu bersikap lembut dan hangat hanya untuk formalitas saja, sebagai contoh profesionalisme dalam bekerja. Dan hebatnya peran itu di mainkan begitu baik olehnya, seperti seolah terjadi secara natural hingga Luna mengorbankan hatinya untuk tetap bersabar sampai batas seperti sekarang.


"Bisa nggak sih kita nggak ngomongin itu lagi Nay. Jujur ya, gue kangen gue yang dulu, kangen dimana gue nggak kenal jatuh cinta, obsesi gue pengen jadi wanita karir yang meniti sukses dengan cara gue sendiri"


"Luna, lo berhak bahagia kok. Lo jangan ngomong gitu dong Nay" Luna menangis tanpa sadar, wanita itu mengingat setiap kenangan manis bahkan sebelum dirinya menikah dengan Zayn. Lalu, apa artinya bunga yang diberikan oleh Zayn waktu mereka hendak ke Jogja dulu? mengapa Zayn bersikap lembut padanya seolah ia adalah kekasihnya?, namun setelah mereka saling tau perjodohan itu Zayn berubah sikap pada Luna. Zayn yang tak banyak bicara, hanya tersenyum sesekali dan menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Apakah malam pertama dan malam seterusnya yang mereka lakukan hanya sebatas nafsu belaka yang sudah lama Zayn tidak rasakan setelah berada di Indonesia?.


***


Brakkk


Suara dokumen yang baru selesai di tandatangani oleh Yasya sengaja ia banting saat kepalanya terasa mulai pecah mengurus dua perusahaan sekaligus dalam waktu bersamaan. Bagaimana ia tidak pusing, dua saudara iparnya tengah enak-enak berbulan madu dan kini dia yang merasakan getahnya.


Ceklek!


Suara pintu ruangan Yasya tiba-tiba terbuka saat ia frustrasi setengah mati saat ini, wajahnya memerah dengan rahangnya yang mengeras akibat emosi dan pusing menjadi satu.


"Tolong ya, kalau mau masuk ketuk pintu dulu" wanita dengan baju formalnya itu menunduk dan mengangguk saat Yasya terlihat marah saat itu juga.


"Maaf pak, hal ini tidak akan terulang lagi, tapi jadwal anda siang ini rapat dengan-" Yasya tiba-tiba bangkit, ia melangkah mendekat kearah wanita itu dan langsung mengangkat dagunya, ia mendorong pintu dibelakangnya hingga pintu itu tertutup dengan sempurna, membuat wanita yang kini menatap Yasya itu terkejut bukan main.


"P-pak?"


"Ssst" satu kecupan mendarat di bibir wanita itu, membuatnya membelalakkan matanya lalu mendorong tubuh bidang Yasya yang hendak menghimpitnya di dinding.


"Ja-jangan pak" Yasya tak memperdulikan kata-kata wanita itu, ia ia buru-buru membuka kancing kemeja karyawannya itu dan langsung menggerayangi tubuhnya, membuat suara wanita itu berubah sensual. Yasya menggendong tubuh wanita itu seraya masih berciuman mesra lalu membaringkan wanita itu di atas sofa.


"Pak tolong, jangan-"


"Satu kali aja Rey, aku lagi pengen banget. Please ya, kasih ya" mohon Yasya membuat Reyna menghela nafasnya dan mengangguk untuk menyambut sentuhan suaminya itu. Padahal Reyna sudah memberikan peringatan pada suaminya untuk bersikap profesional pada waktu jam kerja, apalagi ia tengah mengandung anak pria yang kini berada diatasnya itu.


"Sayang-" gumam Reyna seraya menarik dasi yang dipakai Yasya.


"Iya iya aku bakal pelan kok, aku inget kamu lagi hamil" ujarnya seraya tersenyum membuat Reyna ikut tersenyum dibuatnya.


Sejam berlalu, kini Reyna sudah berpakaian rapi seperti sediakala, tapi tidak dengan Yasya yang masih mengenakan kaos dalamnya dan celana panjangnya serta rambut yang acak-acakan. Reyna hendak pergi namun tangan Yasya yang nakal menarik wanita itu dan langsung duduk di pangkuan suaminya.


"Sayang, aku pusing banget nih. Aku pengen pulang" rengek Yasya seperti anak kecil.


"Ya jangan dong sayang, kan Kak Zayn sama kak Reyhan masih bulan madu, nanti gimana sama perusahaan kalau bos-nya pada kabur?"


"Aku capek, kepala ku rasanya kaya mau pecah" Reyna tersenyum, ia kemudian beralih duduk disamping Yasya dan memeluk lengan pria itu. Pasti berat menjadi Yasya saat ini, apalagi Yasya sering mengambil lembur dan pekerjaannya ia bawa ke rumah. Tapi mau bagaimana lagi, papanya juga sudah tidak bisa lagi menangani sebuah perusahaan lagi.


"Semangat ya sayang, nih kamu pegang dong perut aku" kata Reyna seraya meraih jemari Yasya dan menaruhnya tepat di atas perutnya, perut Reyna yang masih sekecil buah melon tidak terlalu nampak, tapi jika ia tengah duduk seperti saat ini ia terlihat jelas tengah hamil.


"Tuh, kerasa nggak?" sebuah tendangan kecil membuat Yasya terkejut, ia kemudian menempelkan telinganya di atas perut Reyna seraya tersenyum bahagia.


"Eh nendang, anak kita nendang sayang" ucap bahagia pria itu dengan air matanya yang tak sadar menetes. Air mata bahagia itu membuat Reyna tersenyum senang, dengan begini setidaknya beban suaminya berkurang.


"Sejak kapan anak kita mulai nendang gini? kamu kok nggak pernah ngasih tau aku?" kesal Yasya pada istrinya.


"Baru pagi tadi kok!" kata Reyna seraya memanyunkan bibirnya, sedangkan Yasya masih asyik menunggu bayinya menendang lagi dengan menyentuh dan membisikkan kata-kata manis tepat di atas perut Reyna.


"Kamu ingat ya, setiap kali kamu kerja, itu artinya kamu berjuang. Ada harta berharga, dan bukti cinta kita disini" kata Reyna seraya mengusap perutnya.


"Jadi kamu harus semangat ya sayang, ini cuma sebentar kok, selama mereka honeymoon aja" sambung Reyna membuat Yasya mengangguk seraya masih memanyunkan bibirnya, membuat Reyna gemas dan langsung mencium bibir Yasya.


"Reyna, kalo kamu gitu aku bakal minta lagi loh ya"


"Nih pake baju kamu!" kesal Reyna seraya melemparkan kemeja berwarna biru pada suaminya itu dan tepat mengenai wajah Yasya yang kini tertawa kecil.


"Nolak dosa lo!"


"Ih nggak mau, nanti kalo ketauan sama karyawan lain gimana?"


"Ya gapapa dong, kita kan emang suami istri" Reyna masih menggeleng, tiba-tiba suara ponselnya berdering membuatnya menghentikan aksi ciuman Yasya yang hendak menuju bibirnya.


"Kanaya?" Yasya menaikkan sebelah alisnya, saat Reyna menatap suaminya dengan segudang pertanyaan. Padahal Kanaya sendiri yang memberi pesan agar tidak menghubungi mereka ketika tengah berbulan madu, tapi telepon Kanaya membuat Reyna dan Yasya bertanya-tanya.


"Iya Nay, ada apa?" beberapa detik kemudian Reyna langsung bangkit dan membuat Yasya ikut terkejut meski ia tidak mengetahui apa yang terjadi.


"Heh? kok bisa?" Yasya menarik lengan Reyna, namun Reyna langsung menahan Yasya dengan memberikan kode dari jemarinya untuk diam sejenak.


"Hah ya ampun, oke-oke. Iya, gue nggak bakal bilang apa-apa kok. Ya, nanti gue kabarin ya" Reyna mematikan ponselnya, matanya menatap Yasya dan langsung mengajaknya untuk duduk di sofa kembali.


"Ada apa? kenapa sama Kanaya?" tanya Yasya dengan segenap rasa penasarannya.


"Nggak ada apa-apa kok, tapi kak Luna sama kak Zayn, mereke...."



Ini look nya Fabian ya sistaaa... ganteng kan? 🤭❤️❤️