The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Memperkenalkan



Kanaya menatap pantulan wajahnya dicermin, niat hati ingin marah pada Reyhan kini ia urungkan, mengingat betapa manisnya kejutan yang pria itu berikan padanya sepagi ini. Sebuah boneka beruang coklat terpantul bersamaan dengan wajahnya yang berada diatas ranjangnya membuat gadis itu senyum-senyum sendiri dibuatnya.


Kali ini Kanaya ingin berdandan yang cantik, karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan calon mertuanya. Biar saja Reyhan menunggu agak lama, tapi yang pasti Kanaya tidak ingin momen pertamanya ini sia-sia.


Kanaya memoleskan lipstik berwarna pink peach dibibirnya, tak lupa riasan tipis dengan blush on senada membuat penampilannya kali ini semakin dewasa dan tampak natural.


Ia juga tak lupa mengenakan dress berwarna biru muda sampai ke lutut. Terakhir, Kanaya menjepit poninya sedikit dan membiarkan rambutnya tergerai.


Kini Kanaya siap, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan segera berjalan cepat untuk menemui Reyhan yang tengah di jamu oleh kedua orangtuanya.


Seketika Reyhan terkesima, gadis cantik yang kini berdiri dihadapannya akan menjadi istrinya kelak. Reyhan benar-benar beruntung, andai saja papa dan mama Kanaya tidak ada diruang tamu ini. Pria itu pasti akan membisikkan sebuah kata manis pada ratu cantiknya itu.


"Kak Reyhan ayo berangkat" ajak Kanaya membuat Reyhan bangkit dan tersenyum pada Kanaya. Kedua orang tua Kanaya pun ikut bangkit. Rasanya mereka sendiri juga tidak percaya jika putri tunggal mereka akan menikah sebentar lagi.


"Om, tante kami berangkat dulu ya" pamit Reyhan membuat papa dan mama Kanaya mengangguk dan tersenyum.


"Hati-hati dijalan loh, jangan ngebut-ngebut" nasihat papa Kanaya membuat Reyhan mengangguk dan menyalami mereka bergantian.


"Semoga lancar ya nak Reyhan, salam dari kami buat papa kamu" pinta mama Kanaya membuat Reyhan mengangguk, disusul Kanaya yang kini menyalami orangtuanya itu.


Setelah selesai berpamitan, Reyhan segera mengajak Kanaya untuk naik motornya. Tak lupa pria itu juga memakaikan helm untuk pacar tercintanya itu.


"Maaf ya karena aku nggak bawa mobil, kamu nanti jadi kepanasan deh" kelu Reyhan membuat Kanaya terkekeh dibuatnya. Apa-apaan Reyhan ini, bukannya ia sudah biasa mengajak Kanaya jalan dengan motornya. Lagipula ia menerima Reyhan apa adanya, walaupun jalan kaki sekalipun gadis itu mau-mau saja asalkan Reyhan tetap berada disisinya.


"Apaan sih kak, bukannya udah biasa ya kita jalan pakek motor?" kata Kanaya disela Reyhan mengendarai motornya. Kanaya memeluk perut Reyhan dengan erat, aroma wangi khas parfum pria itu bahkan membuat Kanaya nyaman.


"Iya, tapi aku kan sebenernya punya mobil"


"Asalkan sama kakak, aku jalan kaki pun mau kok" seru Kanaya membuat pria itu melirik sedikit kearah gadisnya yang tengah semakin erat memeluk perutnya. Kebetulan sekali lampu merah, Reyhan tersenyum senang memiliki Kanaya yang mampu menerimanya apa adanya. Ia mengelus punggung tangan Kanaya yang menempel pada perutnya.


"Pacar aku udah jago gombal ya sekarang" seru Reyhan seraya mencubit hidung mancung Kanaya membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya sebal. Kanaya dengan gemas mencubit pipi Reyhan dan menariknya membuat pria itu mengaduh kesakitan.


"Aduh sayang, sakit tau!"


tin tin tin


Suara klakson berbunyi nyaring tepat dibelakang motor Reyhan yang masih terhenti meski lampu hijau sudah menyala. Bahkan ia sampai tidak memperhatikan rambu yang ada dihadapannya dan kendaraan sisi kiri dan kanannya yang sudah melaju beberapa detik yang lalu.


"Woy! cepet jalan dong!" teriak seseorang yang menaiki mobil dibelakang membuat Reyhan terkekeh dan segera menancap gasnya.


Kanaya sempat terkejut, ia segera memegangi helmnya dan perut Reyhan bersamaan.


"Kakak! ih!" Kanaya dan Reyhan tertawa bersamaan. Dibanding naik mobil sebenarnya Kanaya lebih menikmati untuk naik motor. Mereka bisa saling bersenda gurau seperti saat ini, tertawa lepas sambil bercerita banyak hal.


"Hey Nay! jangan main-main, nanti jatuh sayang" peringatan Reyhan bahkan tak digubris sama sekali olehnya. Ia tetap bersikukuh untuk menikmati udara ibukota meskipun terik menerpa kulitnya.


"Kak Reyhan! aku cinta kamu!" teriak Kanaya membuat mata Reyhan yang kini masih fokus menyetir membulat. Dasar Kanaya ini, apa dia tidak malu menjadi pusat perhatian banyak orang?.


"Kanaya, kamu ini" Kanaya segera duduk kembali, namun tangannya kini memeluk erat leher Reyhan membuat pria itu tersenyum dibuatnya.


"Aku juga cinta sama kamu Kanaya" balas Reyhan dengan memegang tangan Kanaya yang berada di lehernya seraya masih fokus pada jalanan dihadapannya.


***


"Aku sama Kanaya udah memutuskan bakal nikah bulan depan pa" kata Reyhan yang kini duduk disamping Kanaya seraya berhadapan dengan papanya yang baru saja menyesap teh.


"Secepet itu?!" Reynaldi tampak terkejut, guratan didahinya serta matanya yang tak percaya membuat kedua pasangan itu saling menatap.


Bahkan Kanaya hanya bisa menunduk kali ini. Ia takut papa Reyhan akan keberatan dengan keputusan yang sudah mereka ambil. Atau malah pikirannya sama anehnya dengan mama papanya tadi pagi.


Kanaya menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


"Papa nggak setuju ya?" tanya Reyhan lagi membuat Reynaldi yang semula mengerutkan keningnya, kini perlahan-lahan wajahnya mulai menghangat dan tersenyum ramah.


"Kata siapa papa nggak setuju? papa setuju lah" lanjut Reynaldi yang kini menyesap tehnya lagi membuat Kanaya mengangkat pandangannya dan melirik Reyhan yang tersenyum kearahnya.


"Yes! makasih ya pa!" teriak Reyhan kegirangan. Namun Kanaya tidak sesenang Reyhan, wajahnya masih murung dengan tatapannya yang menjadi tanda tanya bagi Reyhan.


"Om, maaf sebelumny. Saya mau bilang, kalau saya bukan dari keluarga kaya, papa saya juga cuma arsitek, dan pekerjaan saya-" Reyhan mengerutkan keningnya. Ia menatap papanya yang kini tersenyum seolah membuat Kanaya harus menghentikan perkataannya karena merasa canggung.


"Nay, kamu kok ngomong gitu?" seru Reyhan dengan tatapannya pada kekasihnya itu yang kini tidak berani mengangkat pandangannya lagi.


"Saya nggak pernah mempermasalahkan keluarga kamu nak, kalau pilihan Reyhan itu yang terbaik, saya pasti setuju. Setelah kalian nikah nanti kalian yang akan jalani, kami orang tua nggak akan ikut campur, cuma bisa mendoakan saja" perkataan Reynaldi membuat Kanaya kini mulai berani untuk mengangkat pandangannya.


Sebenarnya dari awal Reyhan mengajaknya untuk datang kerumah barunya, Kanaya agak sedikit minder. Reyhan adalah orang yang kaya raya, dia punya reputasi yang baik dan jabatan yang begitu membanggakan. Tapi mendengar perkataan dari orang tua Reyhan sendiri, kini Kanaya bisa bernafas lega.


Reyhan menggenggam jemari Kanaya untuk memberikannya kepercayaan diri. Dirinya tersenyum pada calon istrinya itu untuk memberikannya semangat.


"Kamu nggak perlu khawatir Nay, papa aku udah setuju kan? dan kedua orang tua kamu juga setuju tentang rencana kita. Kita cuma butuh restu dari mereka" Kanaya tersenyum hangat, disusul Reynaldi yang tersenyum padanya.


Benar-benar putranya satu ini sangat pintar mencari calon istri. Ia kini tidak khawatir lagi akan masa depan putranya. Baru saja tiga bulan lalu ia membujuk Reyhan mati-matian dan kini ia sudah berani membawa calonnya untuk cepat-cepat menikah.


Reynaldi menyunggingkan senyumnya, kedua anaknya sudah pintar mencari pasangan. Menantunya yang cantik dan tampan, tinggal satu lagi anak yang membuat hidupnya tak tenang. Dan sampai sekarang tak mau melepas masa bujangnya.