The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Flashback : Agatha



Kamu nggak inget? atau kamu benar-benar tidak pernah ke sini sebelumnya Falery?" suara lantang itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya dan menghentikan langkahnya seketika kala ia hampir mencekik Michael yang hanya berjarak beberapa senti dari tubuhnya.


Terlihat Yasya yang kini menatap tajam kearahnya seraya mendekat dengan kemeja putih polos.


"Yasya!" teriak gadis itu seraya mendekat kearah pria yang kini tengah berdiri jauh dari tempatnya.


"Kamu baik-baik aja Sya? tapi kenapa Michael?" pertanyaan itu membuat Reyna membalikkan tubuhnya menatap Michael yang kini terduduk lemas di bawah tangga. Tak hanya itu yang paling membuat Reyna tak percaya lagi adalah kehadiran Zayn, Alfian dan juga Ajeng membuat Reyna tersentak.


"Ka, kalian?" pertanyaan itu muncul seketika dikepala Reyna, tatapannya tampak menjurus pada Zayn yang kini mendekati gadis itu dan Reyna segera berhambur memeluk Yasya yang kini tampak memegangi kedua lengan Reyna dengan kencang.


"Falery, ini aku Fay, kami sudah tau semuanya" ujar Zayn membuat Reyna menggeleng, tak mungkin semua yang berada satu ruangan dengannya mengetahui apa yang terjadi padanya. Jangankan Yasya, Reyna sendiri tidak tau tentang apa yang dia alami.


"Aku Reyna, aku bukan Falery" ujar gadis itu membuat Zayn memijit pelipisnya seraya mengacak rambutnya frustasi.


"Kamu Falery, kamu bukan Reyna. Reyna adalah orang yang lembut Fay, kenapa kamu datang? ini adalah hidupnya bukan hidup kamu nak" perkataan itu keluar dari mulut Ajeng. Ia merasa begitu sedih ketika mengetahui segalanya. Falery yang ia anggap sebagai anak sendiri dengan sikapnya yang keras dan juga kasar serta kesombongan begitu mendarah daging dalam hatinya bukanlah sifat Reyna sebenarnya.


Flashback on.


Malam ketika Yasya menemukan diary, ia buru-buru menghubungi Alfian yang tengah tertidur dirumahnya. Ia tak tau lagi harus bercerita kepada siapa, rasanya hanya Alfian yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sekaligus mengapa Reyna berubah.


Yasya menceritakan semua yang ia alami termasuk menemukan sebuah diary yang memang sengaja ia bawa sebagai tanda bukti bahwa ia tidak berbohong.


Alfian mulai mengerti, meskipun ia bukan ahli dalam psikologi, tapi ia mempunyai seorang teman bernama Agatha, seorang ahli dalam bidang psikologi yang mengerti tentang kejiwaan seseorang.


"Sya, aku cuma bisa nduga kalo Reyna sebenernya punya kepribadian ganda, memang sebelumnya dia pernah ilang ingatan. Kamu tau sendiri kan pribadi Falery seperti apa? dia kasar, ambisius, dan sombong. Aku takut Sya, kalau suatu hari nanti Falery adalah karakter yang merebut pribadi Reyna."


"Al, aku mohon sama kamu, please bantu aku. Aku sayang sama Reyna Al, aku nggak mau Reyna berubah."


Alfian mengangguk, ia masih terdiam seraya berfikir dengan keras. Beberapa kali ia menengadahkan pandangannya untuk mencoba mengingat apa yang seharusnya ia lakukan dalam kondisi seperti ini.


"Sya, aku bisa bantu kamu, aku punya temen, dia psikiater, mungkin dia bisa bantu masalah Reyna. Namanya Agatha, dia emang agak sulit dihubungi, tapi kamu tenang aja, Agatha dan aku kita satu kampus kok dulu, dia pasti mau bantu kita" perkataan Alfian membuat harapan pria itu semakin tebal. Ia hanya ingin semua kembali dengan apa yang ia harapkan.


Malam itu juga, Alfian menemani sahabatnya menemui Agatha, seorang psikiater handal namun sedikit tertutup karena kemampuannya yang luar biasa. Sekitar pukul 22.30 mereka berdua nekat menemui Agtaha dirumahnya yang jaraknya hampir menempuh satu jam perjalanan dari kediaman Alfian.


"Ta, ada hal penting, dan gue butuh bantuan lo" pertanyaan itu membuat Agatha menggaruk kepalanya seraya mengerjapkan matanya dan menguap membuatnya nampak terlihat masih begitu mengantuk.


"Aelah Al, bantuan apa sih, kenapa nggak ngechat atau telfon aja. Lo nggak liat ini jam berapa? untung anak gue nggak kebangun gara-gara lo" kata Agatha yang kini menatap Alfian dengan tatapan kesal membuat Alfian tertawa kecil.


"Hehehe, maaf deh, habisnya lo susah dihubungin jadi gue ke rumah lo aja sekalian. Please bantuin gue Ta, kenalin ini Yasya" ujar Alfian membuat Agatha mengangguk.


"CEO perusahaan Ferdiansyah kan. Udah tau gue, ada masalah sama dia? pobhia, bipolar, depresi?" pertanyaan itu membuat Yasya seketika menggeleng.


"Bu, bukan, bukan saya yang sakit tapi calon istri saya" kata Yasya dengan nada seriusnya membuat Agatha mengangguk dan mulai mencerna kata-kata Yasya dengan serius.


"Kenapa nggak diajak kesini?" pertanyaan itu membuat Yasya menggeleng dengan raut sedikit pasrah, ia menatap Alfian yang tengah mengangguk untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Saya akan jelaskan dari awal" kemudian Yasya menceritakan awal dari semua akar masalah yang terjadi, ia menceritakan pengalaman buruk yang dialami Reyna serta peristiwa yang membuat ia hampir tak bernyawa. Yasya menceritakan betapa Reyna berubah semasa ia menjalani kehidupan barunya saat ia hilang ingatan.


"Dan ini, saya menemukan sebuah buku diary dibawah kolong kasurnya" ujar Yasya membuat Agatha beralih menerima buku tersebut dan perlahan membacanya.


Agtaha menggeleng, ia menatap Yasya dan Alfian bersamaan. Matanya mengerjap seraya menghela nafas untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.


"Dia pasti punya dua kepribadian, awalnya dia bisa mengontrol karakter Falery, tapi karena mungkin Falery lebih sering keluar dari pada Reyna, Falery bisa mengendalikan Reyna" Terlihat Agatha menelan salivanya seraya mengangguk menatap kedua pria dihadapannya.


"Alter ego, dia bisa menyakiti dirinya sendiri jika dia mau, dia akan berubah dengan karakter yang berbeda. Aku lihat dari kasus Reyna, dia punya masa lalu yang membuat dia trauma. Dia bisa menjadi seseorang yang 360 derajat berbeda dari karakter aslinya."


"Tapi pasti bisa sembuh kan Ta?" pertanyaan dari Alfian membuat Agatha mengangguk.


"Pastinya bisa, tapi cuma Reyna sendiri yang bisa melawan Falery, dengan gitu dia bakal hidup dengan normal. Memang nggak salah kalau dulunya waktu Reyna hilang ingatan ia jadi lebih agresif dengan sifat yang berbeda, karena itu untuk melindungi dirinya. Perasaan yang ia pendam ingin melawan, rasa sakit, dan juga dendam itu menjadi karakter baru seperti Falery" lanjut Agatha panjang lebar membuat dua pria dihadapannya


mengangguk.


"Gini aja, besok aku lagi kosong job, kalian bisa bawa Reyna ketempat ku" ujar Agatha membuat Alfian dan Yasya saling berpandangan.


Tak ada yang dapat dilakukan lagi selain membuat Reyna sembuh dari penyakitnya. Yasya sangat berharap apa yang terjadi padanya tidak berpengaruh terhadap masa depan gadis itu.