
Ceklek
Suara terbukanya pintu membuat Reynaldi tersentak, pasalnya kini dirinya tengah membaca koran dengan santai, namun tiba-tiba kehadiran Reyhan mengejutkannya dijam yang masih umumnya untuk bekerja.
"Siang pa!" ujar Reyhan masuk tanpa menatap ayahnya yang kini mengernyit bingung dengan kelakuan anak satu ini. Pasti ada sesuatu, Reynaldi menatap Reyhan yang kini menerobos memasuki kamarnya tanpa memperdulikan keberadaan dirinya.
"Reyhan!" bahkan suara lantang dari Reynaldi tsk digubris oleh putranya itu yang kini telah berada didalam kamarnya dan menguncinya dari dalam. Seperti bukan Reyhan yang biasanya, jika masalah pekerjaan pasti dirinya tidak akan semurung itu. Reynaldi hanya bisa menghela nafasnya, ia melepaskan kacamatanya yang bertengger di bagian atas hidungnya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar Reyhan yang tepat berada dibelakang sekat antara ruang tamu dan ruang keluarga.
Tok tok tok
"Reyhan, kamu kenapa nak? udah makan siang belum?" pertanyaan dari sang ayah tak mendapat respon dari dalam sana. Reynaldi menggeleng dengan suara desah nafasnya yang kini terdengar berat. Ada apalagi gerangan yang membuat putra satu-satunya itu terlihat menyedihkan hari ini, padahal mereka sudah berjanji untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu.
Reyhan kini sudah mengganti baju kerjanya dengan baju putih longgar yang biasa ia kenakan saat berada dirumah. Fikirannya melayang, ia merasa bersalah kali ini sudah mengacuhkan Papanya, tapi mau bagaimana lagi, jika ia bercerita perihal calon yang akan dikenalkan padanya kini hampir resmi menjadi istri orang lain bukankah ayahnya akan menjadi sedih nantinya.
Reyhan tak henti-hentinya menatap cincin permata yang sedari tadi ia bawa, bahkan kini dirinya duduk dikursi kerjanya seraya mengamati cincin cantik dan membayangkan jika Kanaya yang memakainya. Reyhan mengingat dimana ia hendak menjenguk Kanaya saat gadis itu berada di rumah sakit, namun apalah daya, Edwin selalu menghalangi dirinya untuk masuk. Ini semua juga salahnya, jika dari awal ia jujur pada Kanaya soal Novi, mungkin hubungan mereka takkan serumit ini.
Meskipun Reyhan tau sebenarnya maksud Novi itu apa, tapi bukan saatnya untuk menunjukkan dirinya pada Reyna. Perlahan tapi pasti, dengan posisi dan juga hak Reyhan, Novi pasti akan mengatakan pada Reyna jika kakaknya bekerja di perusahaannya sendiri. Novi hanya mengincar apa yang akan dimiliki Reyhan, bukan semata-mata menyukai dirinya.
***
Kanaya kini melangkahkan kakinya bersama dengan Angga disampingnya. Sudah seminggu ini mereka menjalani pendekatan, bahkan sudah bertemu orangtua masing-masing. Namun entah mengapa Kanaya rasanya masih berat untuk menaruh hati pada pria yang kini membawa dua kresek besar berisi sayuran dan bahan-bahan masakan lainnya.
"Kalian udah pulang? kok cepet banget? mama kira mau jalan-jalan dulu" kata mama yang kini memang tengah menggoreng ikan di dapur.
Kanaya hanya bisa menggaruk tengkuknya, ia menatap Angga yang kini tersipu untuk kesekian kalinya. Tidak bisa dipungkiri memang jika Angga tampan, tapi perasaan Kanaya hanya sekedar sahabat saja tidak lebih daripada itu.
"Nggak kok tante, nanti kasian tante malahan nunggunya lama" ujar Angga membuat Kanaya hanya bisa menggeleng.
"Ngga, aku mau bantuin mama masak sebentar ya, kamu tunggu dulu aja didepan" ujar Kanaya yang kini membuat Angga mengangguk seraya membalikkan tubuhnya untuk menuju ruang tamu. Tak lupa sebelum ia duduk jauh dari pandangan Kanaya, ia sempat tersenyum menawan pada gadis pujaannya satu itu.
"Ma, mau masak apa?" pertanyaan itu sontak membuat Mama terkejut oleh kehadiran Kanaya. Ia mengira Kanaya akan menemani calon menantunya itu, taunya dia malah kemari dengan wajah tanpa dosa.
"Ma!" ujar Kanaya membuat Mamanya menoleh dengan heran karena gerak-gerik Kanaya terlihat begitu gugup dan kaku.
"Apa?" Kanaya menghela nafas beratnya, ia menarik nafasnya dalam-dalam sebelum ia mengatakan sesuatu yang begitu berat didengar oleh mamanya. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum nafasnya terhitung lagi.
"Ngomong aja Nay, mama nggak akan segalak itu kok sampek kamu takut segala" ujar Mama membuat Kanaya kini tambah yakin dengan keputusannya. Kanaya memegang pundak mamanya, ia merasa lebih siap daripada sebelumnya.
"Oh ya Nay, tadi temen kamu ada yang datang kesini, katanya dia kemarin nggak sempet jenguk kamu, namanya Reyhan."
Sontak Kanaya membelalakkan matanya, hatinya terasa bergetar ketika mendengar nama itu, nama pria yang begitu ia rindukan kehadirannya. Bahkan kini Kanaya sampai lupa jika dirinya hendak mengatakan perihal perasaannya kepada Angga.
"Ka, kak Reyhan ngomong apa ma?" tanya Kanaya dengan suaranya yang bergetar saking gugupnya.
"Nggak bilang apa-apa sih, cuma dia katanya mau sampein sesuatu yang penting ke kamu" ujar Mama yang masih sibuk dengan masakannya.
Kanaya memegang dadanya yang semakin berdebar hebat, ia bahkan berulangkali memegang keningnya yang terasa berkeringat hanya karena mendengar nama itu.
"Oh, kalo gitu Kanaya coba telfon dia dulu deh, kali aja penting" ujar Kanaya yang kini berlalu melalui mamanya. Mama hanya bisa menggeleng, kalau difikir lagi teman Kanaya yang bernama Reyhan itu tampan juga. Anaknya satu itu beruntung sekali mempunyai teman yang tampan, itu madih satu diantara ratusan karyawan dikantor tempatnya bekerja. Kalau saja Mama Kanaya masih muda, ia pasti sudah menggandeng beberapa pria.
Kanaya memasuki kamarnya, ia kini duduk ditepi ranjang seraya meremas seprai. Matanya memejam ketika sekali lagi mendengar nama itu disebutkan. Meskipun selama ini hatinya masih milik Reyhan, tapi Kanaya hanya bisa berkhayal, dan kini mimpi itu jadi kenyataan. Kanaya segera meraih ponselnya yang ia simpan didalam nakas, memang seminggu ini ia sengaja membawa ponsel satunya untuk sedikit lebih santai dan tidak memikirkan soal pekerjaan.
Ia beranjak dari ranjangnya seraya menggigit bibir bawahnya, ia mencari nama kontak Reyhan yang tertera disana. Perlahan Kanaya memegangi dadanya kuat-kuat agar nanti perasaannya tidak meledak ketika mendengar suara dari seberang sana.
Dadanya yang berdetak kencang kini seolah berdetak lebih kencang lagi ketika mendengar suara terhubung lewat handphonenya. Sejenak wajahnya mendadak kaku tatkala suara itu terdengar tepat ditelinganya.
"Halo" Kanaya hanya mampu menutup mulutnya. Ia tak percaya jika disebrang sana adalah Reyhan.
"Ka, Kak Reyhan!"