The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Hati yang ikhlas



Malam pun semakin larut, kini Reyna dan Yasya telah selesai dengan acara makan malam mereka.


"Gimana?, enak makanannya?" tanya Yasya membuat Reyna mengangguk seraya tersenyum hangat pada pria dihadapannya.


"Enak kok, makasih ya Sya" ujar gadis itu seraya melemparkan pandangannya kearah lain. Namun seketika pandangannya terhenti kala ia melihat sosok pria yang kini masuk kedalam restoran tersebut membuat Reyna kini mengalihkan pandangannya.


Gadis itu sedikit melirik pria tersebut yang terasa familiar untuknya, disusul pria paruh baya yang kini berjalan berdampingan dengan pria tersebut membuat Reyna memejamkan matanya tanpa mau melihat sosok tersebut.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Yasya yang kini mulai menatap Reyna yang tengah gugup dengan gelengan darinya.


Reyna tak bisa menahannya, sementara dua pria itu kini mulai masuk dan menuju meja gadis itu membuat Reyna bangkit seketika.


"Yasya, aku, aku mau ke toilet sebentar ya" ujar Reyna buru-buru tanpa menghiraukan panggilan dari pria itu. Seketika Yasya kembali dalam fikirannya yang berkelut, ia menatap pengunjung yang datang untuk memastikan pandangan dari gadis itu.


Yasya curiga dengan apa yang dilihat Reyna, matanya seolah ketakutan dengan gugup. Ia berfikir sejenak seraya memegangi pelipisnya. Namun setelah ia menatap setiap orang disana ia baru menyadari satu hal yang membuat dirinya juga nampak terkeju.


Reyhan dan Reynaldi, kini tengah menikmati makan malam ditempat yang sama tepat bersebrangan dengan meja yang ia pesan. Pantas saja Reyna menghindar, ternyata ini adalah alasannya. Namun Yasya tak habis fikir dengan hal itu, ia sebenarnya hendak menyinggung soal keluarganya, namun mengingat sepertinya hati Reyna masih belum sembuh sepenuhnya pria itu akhirnya bungkam dan membiarkannya sampai pada waktu dan tujuan yang tepat.


Walau bagaimanapun, mereka adalah keluarga kandung Reyna. Meskipun mereka menyangkal dan menolak gadis itu, tapi hanya sedikit berbicara pasti akan membuat mereka mengerti.


Sedang kini jauh dibalik sana terlihat Reyna yang kini tengah mengintip dengan tatapannya yang khawatir dan bimbang. Bahkan ia masih enggan untuk memberi tahu Yasya tentang apa yang baru saja ia lihat. Gadis itu memegangi dadanya yang bergetar kala melihat Reyhan yang tersenyum kepada Reynaldi.


Sudah sangat lama mereka tak saling bertemu, seperti menyisakan rindu bagi Reyna didalam hatinya. Namun rasa itu kemudian harus ia tepis dengan segera. Ia juga menatap sang ayah yang kini sudah tidak muda lagi, kantung mata hitam serta guratan lelah terpancar diwajahnya yang semakin renta membuat Reyna ingin mengetahui bagaimana kabar keluarganya tersebut.


"Bang Rey, papa" gumam gadis itu dengan suara lirihnya. Fikirannya masih menerawang dengan pandangannya yang masih tak bisa lepas dari keluarga satu-satunya itu.


Reyna meremas ujung tas yang ia bawa, rasanya sakit ketika mengingat masa lalu yang terjadi padanya. Hal berharga yang Reyna berikan untuk keberlangsungan hidup ayahnya mungkin bisa membalas semua hutang yang pernah Reynaldi ucapkan pada Reyna. Dan hanya melihat sang kakak dan juga Reynaldi yang baik-baik saja, setidaknya perasaannya akan merasa tenang.


Reyna memberanikan dirinya untuk melangkah, ia mendekati meja yang berada Yasya disana. Saat ini pelayan tengah datang ke meja dua lelaki tersebut membuat Reyna bisa menemukan celah untuk pergi dari tempat itu dengan segera.


"Yasya, pulang yuk, aku udah capek banget nih" ajak Reyna seraya menarik lengan Yasya dengan manja, dan tentu saja membelakangi Reynaldi dan Reyhan.


Yasya mengangguk, ia tau apa maksud Reyna. Rasanya mungkin tidak nyaman untuk berada satu tempat dengan keluarganya dulu.


Ia menghargai keputusan Reyna, tapi untuk itu, masih banyak pertanyaan Yasya yang mengganjal di hatinya. Ia juga hendak membuat Reyna bahagia, salah satunya mengembalikan keluarganya yang tengah jauh darinya.


Walau bagaimanapun, Reynaldi dan Reyhan berhak tau tentang kehidupan Reyna sekarang. Apapun yang ingin mereka lakukan pada Reyna, perduli ataupun tidak, tapi setidaknya harusnya ia mencoba untuk mengatakan sebuah kebenaran.


Reyna dan Yasya melangkah keluar, gadis itu nampak sedikit memiringkan wajahnya untuk sedikit melirik Reyhan dan Reynaldi. Namun akhirnya ia hanya bisa menghela nafas seraya memejamkan matanya untuk tetap bertahan dalam situasinya saat ini.


"Pa, kayanya aku liat seseorang deh" kata Reyhan seraya menoleh menatap seorang gadis dengan tubuh tinggi semampai yang kini menggandeng lengan seorang pria disampingnya membuat pria itu bangkit dari duduknya.


"Sebentar pa, papa tunggu ya, bentar lagi Reyhan bakal balik kok" ujar pria itu seraya melangkah keluar dengan tatapannya yang madih tetap fokus pada gadis yang berambut panjang yang diikat dengan pakaiannya yang elegan membuat Reyhan semakin penasaran.


Gadis itu menaiki sebuah mobil mewah dengan seorang pria tampan yang bahkan ia tak mengenalnya. Baru pandangannya dari samping membuat matanya membelalak tak percaya.


"Rey, Reyna" gumamnya seraya melangkah semakin mendekat kearah mobil tersebut. Namun belum sempat ia meyakinkan pandangannya, mobil itu menjauh dan membelah jalanan ibukota membuat Reyhan menggeleng dengan fikirannya yang bergelut dengan hatinya.


"Mana mungkin Reyna, pasti cuma khayalan aku aja" ujar pria itu seraya kembali menemui sang ayah yang kini berada didalam sana.


Sementara itu didalam mobil, wajah Reyna tampak gusar dengan matanya yang beberapa kali mengerjap. Hal itu membuat Yasya semakin tak nyaman, pria itu menyentuh punggung tangan Reyna yang kini nampak dingin dengan perasaannya yang bercampur aduk.


"Aku tau Rey, meskipun aku nggak kenal secara pribadi dengan mereka, aku tau apa yang buat kamu khawatir dan bersikap kaya gini" ujar pria itu membuat Reyna terpaku menatapnya. Ia bahkan tak menyangka secepat ini Yasya akan tau tentang keluarganya yang coba ia hindari dari kehidupannya saat ini.


"Yasya, aku, aku" Reyna tampak menggeleng dengan hatinya yang terasa sesak. Bahkan bukannya ia membenci keluarganya, tapi masa lalu itu membuat hatinya semakin sakit dan takut untuk mengulangi yang telah lalu. Reyna telah di penuhi fikiran ketakutannya, ia bahkan merindukan keluarganya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Aku tau kamu belum siap sayang, tapi aku cuma mau nasihatin kamu. Keluarga kamu itu tetap keluarga kamu, kalo nggak ada papa kamu, kamu nggak akan jadi Reyna yang sekarang. Semua keputusan ada ditangan kamu Reyna, dan aku cuma ngasih tau kamu yang seharusnya kamu lakuin dan itu memang benar" kata-kata Yasya membuat Reyna berfikir sejenak. Ia masih bergelut dengan hatinya saat ini, entah keputusan mana yang harusnya ia ambil. Namun rasa sakit dan ketakutan itu seperti menjalar dalam tubuhnya.


Kini Reyna telah sampai didalam apartemennya, ia nampak melemparkan tasnya kesembarang tempat. Fikirannya madih menerawang meski hatinya sedikit terbuka oleh kata-kata Yasya untuknya.


Reyna kini telah usai membersihkan tubuhnya. Gadis itu kembali menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya yang begitu empuk tersebut. Fikirannya terpaku oleh ingatannya pada Reyhan dan juga Reynaldi yang tadi tak sengaja ia temui.


"Bang Rey, papa, apa kalian masih ingat aku? aku Reyna pa, aku Reyna yang papa buang, aku Reyna bang, Reyna yang abang tampar" ujar gadis itu seraya meringkuk dengan tangisannya yang menjadi.


Beberapa menit ia menangis, namun tak membuat hatinya lemah begitu saja. Ia memilih untuk menghubungi Yasya yang akan selalu menjadi penyemangat untuknya. Gadis itu menatap cincin yang tersematkan dijari manisnya dan mencium mata berlian tersebut.


Gadis itu hendak menghubungi Yasya, namun tiba-tiba seseorang dengan nomor yang tidak dikenal menelfonnya membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya.


Segera setelah itu, Reyna mengangkat panggilan tersebut.


"Halo" ujarnya masih menunggu suara disebrang sana yang membuat Reyna tampak semakin penasaran.


"Halo, Falery" ujar seseorang misterius tersebut membuat Reyna membelalakkan matanya. Gadis itu menjatuhkan ponselnya tanpa ia sadari. Reyna mematikan ponsel itu dengan segera, tubuhnya mendadak gugup dengan perasaannya yang bercampur aduk.


"Falery! Michael pasti akan mencari mu. Ia adalah tipe orang yang akan mendapatkan segala yang ia mau."


Tiba-tiba saja ingatan tentang telfon dari Lilia membuat Reyna menggigit jarinya. Gadis itu menutup rapat-rapat telinganya menggunakan bantal.


"Mike, Michael!."